Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.51 (Jalan-jalan yang gagal)


__ADS_3

Arumi sedang bersiap-siap untuk pergi bersama Alfaro ke suatu tempat yang masih di rahasiakan suaminya itu. Sementara Alfaro menunggu di raung tamu seraya memantau pekerjaannya dari sebuah tab.


Tak lama, Arumi keluar dari dalam kamar. Menghampiri sang suami yang sudah menunggu sejak tadi. Melihat sang istri yang sudah berdiri di hadapannya, ia memperhatikan penampilan Arumi yang mengenakan dres rose pink dengan motif bunga, rambut yang di biarkan terurai panjang membuat matanya tak berkedip.


"Bagaimana, apa bagus, sebenarnya kita akan kemana?" tanya Arumi, karena ia bingung, apakah penampilannya ini sudah sesuai dengan tempat yang di tuju atau tidak.


Alfaro berdiri dari posisinya, mengecup kening minimalis sang istri dengan lembut, " Apapun yang kamu pakai pasti akan terlihat cantik."


Arumi hanya tersenyum kemudian memeluk sang suami, menyadarkan kepala di dada bidang itu, seraya menikmati harum khas yang selalu membuat ia betah berlama-lama di dalam pelukan suaminya. Entahlah mungkin terlalu nyaman hingga ia lupa untuk melepaskan.


"Ehm, apa sebaiknya kita tunda saja jalan-jalan hari ini, sepertinya kamu masih ingin melanjutkan aktivitas kita malam tadi." Mendengar ucapan Alfaro, buru-buru Arumi melepaskan pelukan erat itu, melangkah kebelakang hingga beberapa langkah menjauh dari sang suami.


"Tentu saja jadi, ayo pergi." Arumi melangkah mendahului Alfaro, melihat tingkah manis istrinya, ingin rasanya ia menerkam dan membawanya ke kamar.


~


Sepanjang perjalanan, Arumi terlihat sangat senang, sementara Alfaro yang sedang menyetir tak ingin melepaskan genggaman tangan dari Arumi. Namun setelah beberapa saat Genggaman tangan itu mau tidak mau harus terlepas, karena ponsel Arumi yang tiba-tiba saja berdering tanda panggilan masuk.


Arumi terlihat terdiam saat melihat layar ponselnya. Karena panggilan telepon itu dari Almira, ia lupa jika hari ini ia sudah berjanji temu dengan adik iparnya itu untuk membatu Almira menyelesaikan skripsi yang mereka bahas tenpo hari.


"Siapa?" tanya Alfaro saat melihat Arumi hanya diam seraya memadangi layar ponselnya.


"Almira mas," ucap Arumi sambil menoleh kearah Alfaro.


"Almira? Kenapa dia menelpon?"


"Aku lupa, hari ini aku sudah berjanji dengannya untuk membahas masalah skripsi," jawab Arumi.


Mendengar ucapan Arumi, Alfaro langsung menepikan mobilnya lalu beralih menatap sang istri, " Angkat saja."


Arumi mengarahkan ponselnya di telinga saat pangilan telepon itu sudah tersambung.


"Hallo?"


[Arumi, kamu dimana? Aku sudah di jalan. Hari ini jadi kan?]

__ADS_1


"I-iya jadi kok."


[Aku jemput kamu saja ya, bagaimana?]


"Begini saja, jemput aku di depan Taman kota, aku tunggu kamu disana."


[Oh itu, oke tunggu aku.]


Arumi mematikan panggilan telepon itu lalu melihat sang suami yang menatapnya dengan tajam. Ia tersenyum sejuta watt, memamerkan deretan gigi yang tertata rapi.


"Maaf mas, sepertinya jalan-jalan kita harus di tunda dulu," ucap Arumi ragu-ragu.


"Huh, kenapa bocah itu suka sekali merepotkan orang lain. Harusnya dia di Amerika agar urusannya cepat selesai," ucapnya kesal.


"Mas, jangan seperti itu, aku tidak merasa di repotkan kok. Sekarang antar aku ke depan taman kota ya, kita masih bisa pergi minggu depan," pinta Arumi seraya mengelus punggung tangan suaminya dan ternyata cara itu berhasil membuat Alfaro luluh.


"Baiklah jika itu keinginan istri ku."


Alfaro kembali menghidupkan mesin mobil dan tancap gas meninggalkan tempat itu. Arumi benar-benar lupa jika hari ini ada janji dengan Almira. Ia menatap sang suami yang walau sudah setuju, tapi raut wajah kecewa itu tidak bisa di tutupi. Ia menjadi semakin penasaran, kemana sebenarnya Alfaro akan mengajaknya pergi, hingga Alfaro begitu kesal saat rencana itu gagal.


~


"Mas, aku harus turun sekarang nanti keburu Almira datang," ucap Arumi.


"Ehm." Alfaro berdeham seraya menunjuk pipi kanannya, sebuah kode yang tentu saja langsung di mengerti oleh Arumi.


Tak ingin membuang waktu, Arumi mengubah posisinya menghadap ke Alfaro, mendekatkan tubuhnya dan saat bibir itu hampir melekat di pipi, tiba-tiba saja Alfaro menggerakkan kepalanya dan--


Cup.


Ciuman itu meleset dari yang seharusnya di pipi dan sekarang malah di bibir. Arumi terlihat kaget dan segera menjauh dari sang suami, wajahnya kini sudah bersemu merah, meski hanya ciuman singkat, tapi sensasinya berbeda karena untuk pertama kalinya mereka berciuman di dalam mobil.


"Jangan pulang malam ya," ucap Alfaro seraya mengusap lembut pucuk kepala sang istri.


"I-iya Mas ... kalau gitu aku turun dulu."

__ADS_1


Arumi turun dari mobil, Alfaro melambaikan tangan pada Arumi sebelum akhirnya beranjak meninggalkan tempat itu. Saat mobil suami sudah bergerak menjauh, Arumi duduk di sebuah kursi taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Pemandangan hiruk-pikuk ibu kota menjadi sesuatu yang nyata dan sudah biasa ia lihat. Duduk ditempat itu sendiri, kembali mengiring Arumi pada kenangan masa lampau, dimana ia dan kedua orangtuanya sering kesana, menikmati akhir pekan meski hanya sekedar makan ice cream atau bermain ayunan.


Ayah.. ibu.. apa kabar kalian disana, apa kalian melihat aku sekarang, batin Arumi.


Tiba-tiba saja ia merasa rindu. Sejak kematian sang Ayah ia tidak pernah datang untuk berziarah ke makam kedua orangtuanya yang terletak berdampingan. Meski yang di wariskan oleh sang ayah hanyalah hutang pada rentenir, tapi itu tak membuatnya benci apalagi sampai melupakan kedua orangtuanya.


Lamunan itu buyar seketika saat suara klason mobil mengangetkannya. Ya, Almira sudah berada di sana, di dalam mobil dengan jendela terbuka seraya melambaikan tangan pada Arumi.


"Rumi, ayo!"


Tanpa pikir panjang, Arumi meninggalkan tempat itu dan melangkah masuk kedalam mobil Almira. Mobil itu berlalu pergi dan teryata Alfaro masih berada di sana, dia dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari taman kota. Melihat mobil yang membawa Arumi dan Almira sudah lewat, buru-buru ia tancap gas dan mengikutinya.


...***...


Almira dan Arumi sudah berada di sebuah cafe. Mereka memilih lokasi outdoor di cafe itu agar lebih santai saat membahas masalah skripsi yang di hadapi Almira. Pesanan makanan pun juga sudah datang, sangat banyak dan hampir memenuhi meja.


"Boleh aku lihat proposal skripsi yang sudah kamu buat," pinta Arumi.


"Oh iya, tunggu sebentar." Almira mengeluarkan laptopnya dari dalam tas yang ia bawa, kemudian menunjukkan proposal skripsi miliknya kepada Arumi.


Arumi mengambil alih laptop Amira dan mulai memeriksanya. Ia tak pernah melepaskan pandangannya dari Arumi yang saat ini nampak sangat serius. Ia bisa merasakan aura positif dari wanita dihadapannya sekarang, yang menunjukkan jika Arumi benar-benar wanita yang cerdas.


"Almira!" teriak seseorang dengan jarak sepuluh meter dari meja tempat Arumi dan Almira berada.


Sontak saja Almira dan Arumi menoleh kearah sumber suara.


"Kak Al," ucap Almira.


Arumi terlihat kaget. Untuk apa suaminya itu malah ikut menyusul kemari. Sudah Arumi duga, Alfaro tidak mungkin melepaskannya dengan begitu mudah. Alfaro berjalan mendekati meja di mana dua wanita itu berada, sekilas saat Almira tak memperhatikan, ia mengedipkan mata kepada sang istri.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers.

__ADS_1


__ADS_2