Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.75 (Bertemu buah hati)


__ADS_3

Hujan yang tadinya begitu deras, kini berangsur redup saat mobil yang di kemudikan Alfaro sampai kedepan gedung apartement tempat Arumi tinggal. Saat-saat paling mendebarkan yang di rasa Alfaro selain jatuh cinta kepada Arumi adalah saat dimana ia akan bertemu dengan buah hatinya.


Alfaro terdiam seraya menatap lurus kedepan, masih tak ingin beranjak dari tempat duduknya. Arumi menghela nafasnya dengan berat, bukan hanya Alfaro yang merasa gugup untuk bertemu Vino dan Viona tapi ia sendiri juga masih memikirkan bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada anak-anak tentang ayah mereka.


"Ingat baik-baik, nama mereka Vino dan Viona ... aku tidak mau mereka merasa tidak dikenali oleh Daddy-nya," lirih Arumi.


"Vino, Viona ... kamu cukup pintar memberikan nama untuk anak kita," ujar Alfaro.


"Aku tidak membawa apapun untuk mereka," ucap Alfaro lagi saat menoleh ke Arumi.


"Tidak perlu repot-repot ... mereka hanya perlu tahu siapa Daddy-nya," ucap Arumi lalu beranjak turun dari mobil. Arumi berjalan lebih dulu, memasuki gedung apartement duapuluh lantai itu.


Tanpa menunggu lama, Alfaro keluar dari mobil untuk menyusul Arumi. Terasa aneh? Ya sangat aneh, saat langkah kaki itu tak lagi beriringan, tangan itu tak lagi saling menggenggam. Namun ia ingin memaksakan kehendak hati sendiri, Alfaro memilih jalan perlahan namun pasti, ia akan kembali memulihkan luka di hati sang istri.


Secara perlahan.


Hingga jarak yang membentang menyusut dengan sendirinya.


~


Arumi menelan salivanya sekuat tenaga, saat tangannya sudah memegang handel pintu, ia mencoba menyiapkan mental sebelum melihat wajah penuh kebingungan buah hatinya saat melihat Daddy mereka. Alfaro hanya bisa menatap punggung sang istri yang berdiri di hadapannya, seolah mengerti bagaimana perasaan Arumi. Ia cukup bersyukur karena Arumi masih memperbolehkannya menemui Vino dan Viona.


Cklek.


Pintu itu terbuka. Dan pemandangan yang pertama kali terlihat adalah Vino dan Viona sedang bermain di ruang tamu bersama Bi Ranti. Kaki Alfaro mulai melemas saat melihat dua anak kecil yang sedang berkutat dengan mainannya. Ia kian terkejut karena ternyata, pembantunya yang juga ikut menghilang empat tahun silam ternyata benar-benar pergi bersama Arumi.

__ADS_1


"Tu-tuan Al," ucap Bi Ranti terbatabata saat kembali melihat majikannya itu.


Melihat Bi Ranti menoleh kearah pintu. Sontak saja kedua batita itu juga melihat kearah pandangan Bi Ranti tertuju. Senyum manis kembali terpancar saat melihat keberadaan mommy mereka, saking fokusnya mereka sampai tidak melihat jika ada seorang pria di belakang Mommy mereka.


"Mommy!" Seru keduanya seraya berhambur memeluk Arumi.


Arumi berlutut lalu merentangkan tangannya, menyambut dua bocah kecil yang selalu ia rindukan di kala aktifitasnya. Namun tiba-tiba Vino dan Viona melepaskan pelukan mereka saat tersadar jika ada seseorang yang bertubuh tinggi berdiri di belakang Arumi. Mereka sampai harus mendongakan kepala untuk melihat seorang pria yang nyatanya adalah Daddy mereka.


Alfaro nampak kebingungan harus bertindak seperti apa. Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan anak kecil. Seperti dugaan, Vino dan Viona nampak ketakutan. Wajah yang mereka lihat saat ini begitu asing. Di dunia ini mereka hanya mengenal Arumi, Bi Ranti, Bima dan penjual ice cream di depan apartement.


"Mom, itu capa?" tanya Vino takut-takut seraya terus melirik kearah Alfaro.


"Yona takut," ucap Viona yang terus memeluk lengan Arumi.


Arumi mencoba menguatkan hati untuk menjelaskan kepada anak-anaknya, setelah sekian lama Vino dan Viona hanya mengetahui jika ia adalah ibu sekaligus ayah untuk keduanya.


"Daddy? Yona punya Daddy?"


"Iya sayang, Viona punya Daddy," ucap Arumi yang mulai berkaca-kaca.


Alfaro bergerak perlahan hingga sampai di samping Arumi. Perlahan ia juga ikut berlutut, mensejajarkan tubuh dengan kedua buah hatinya.


"Maafkan Daddy karena baru datang sekarang Vino ... Viona Daddy meridukan kalian," ucap Alfaro dengan suara bergetar menahan gemuruh di dadanya.


Alfaro menyeka air matanya, saat melihat kedua pasang netra coklat yang begitu mirip dengan miliknya, garis wajah yang begitu indentik dengan dirinya, semua yang ada pada kedua anaknya lebih mirip padanya dari pada Arumi. Darah memang lebih kental dari pada air. Ikatan anak dan orang tuanya begitu kuat. Meski Dunia memisahkan hingga kebelahan dunia, tidak akan merubah fakta kedua bocah itu adalah buah hatinya.

__ADS_1


"Ino boleh peyuk Daddy?" pinta Vino tiba-tiba, bocah laki-laki itu mulai melepaskan tangannya dari lengan Arumi.


Alfaro terseyum seraya merentangkan tangannya, bersiap untuk menyambut Vino dengan pelukan hangat. Dan dalam hitungan detik Vino sudah berada di pelukannya. Sementara Viona masih nampak ragu-ragu ia menatap Arumi, seolah meminta persetujuan apa ia boleh memeluk Alfaro seperti yang di lakukan Vino.


"Viona, sini peluk Daddy," ucap Alfaro seraya memadangi putri kecilnya.


Ragu-ragu kaki kecil itu melangkah mendekat, hingga akhirnya ikut memeluk Daddy-nya. Alfaro mengeratkan pelukannya, menangis dalam diam. Tangis haru karena akhirnya kebahagiaannya telah kembali bahkan kini bertambah dengan hadirnya Vino dan Viona.


Jangan tanya bagaimana Arumi saat ini. Masih dengan posisi yang sama, ia menundukkan kepalanya membiarkan tangisnya pecah untuk yang kesekian kalinya. Ia bahagia karena pada akhirnya pertanyaan kedua anaknya terjawab sudah, meski ia masih belum tahu bagaimana kelanjutan hubungannya dan Alfaro.


Dari jarak beberapa meter Bi Ranti juga tak bisa menahan harunya saat segala doa yang ia panjatkan sekian tahun kini terjawab sudah. Empat tahun hidup mendampingi Arumi, ia bisa merasakan kehampaan hati yang dirasakan Nona mudanya tanpa Alfaro di sisinya.


~


Malam kian larut. Alfaro kini berada di kamar kedua buah hatinya. Sementara Arumi dan Bi Ranti berada di luar, mereka memberikannya waktu untuk Alfaro bisa lebih dekat dengan Vino dan Viona.


Di atas tempat tidur Alfaro duduk bersandar di tengah-tengah kedua anaknya seraya terus setia mendengarkan ocehan-ocehan kedua anaknya yang begitu menggemaskan.


"Oh Daddy, ini sepelti punya mommy," ucap Vino seraya menunjuk cincin di jari manis Alfaro.


"Benarkah, tapi Daddy tidak melihat mommy memakainya," ucap Alfaro lalu kembali mengecup lembut kepala anak-anaknya secara bergantian.


"Bukan di cini Daddy," ucap Viona seraya menunjuk jari manis Alfaro, " Tapi di lehel mommy."


Awalnya Alfaro nampak bingung mendengarkan penjelasan Viona. Namun setelah beberapa saat akhirnya ia mengerti. Yang di maksud Viona adalah cincin itu terpasang di kalung yang Arumi pakai. Senyum tipis kembali menghiasi wajah Alfaro. ia mendapatkan titik terang jika Arumi masih mencintainya.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2