
Aril mengerjapkan matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah Langit-langit ruang tamu yang di terangi lampu. Perlahan ia bangkit dari posisi tidurnya, duduk di atas sofa panjang yang ada di sana. Dinda, Ibu, Ncing dan Engkong menghapiri Aril yang saat melihatnya telah sadar.
"Kamu sudah sadar, apa ada yang sakit, pusing," ucap Dinda yang masih nampak panik.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja," ucap Aril.
"Tadi kenapa bisa pingsan, kelelahan ya?" tanya Ncing.
"Sebenarnya ... saya ada sedikit trauma dengan ondel-ondel," ucap Aril pada akhirnya.
"Kenapa lu kagak bilang, kalau sampai elu mati, kan repot urusannya," sahut Engkong tiba-tiba, yang saat ini berdiri di belakang Dinda.
"Maaf Kong, saya cuma tidak ingin mengecewakan semuanya," ucap Aril yang terdengar lemah.
"Sudah kagak apa-apa Ril, yang penting elu kagak kenapa-napa," ucap Ibu.
"Kalau gitu kita pulang sekarang aja ya," ajak Dinda yang kasihan melihat kekasihnya.
"Kagak bisa!" sahut Engkong tiba-tiba, lalu maju satu langkah lebih dekat dengan Aril, "Bawa Dinda pulang tapi Aril tetap dimari sampai besok."
"Kalau gitu, Dinda juga nggak mau pulang Bu, mau disini sama Aril," ucap Dinda.
"Turutin apa kata Engkong lu Din, ayo kita pulang," ajak Ibu.
"Nggak mau bu, Dinda mau di--" Ucapan Dinda terpotong saat Aril meraih tangannya.
"Kamu pulang saja, besok kita bertemu di kantor ya, tidak apa-apa aku akan baik-baik saja disini," ucap Aril lalu tersenyum dengan wajah pucatnya.
"Sudah sana pulang, pake motor Ncing lu aja," ucap Engkong.
Ibu menarik tangan Dinda. Rasanya Dinda masih tidak rela, membiarkan Aril di sana sendiri. Entah apa yang akan Engkong lakukan dengan Aril, namun begitulah tradisi keluarganya. Meski Aril akan menyerah sekarang, Dinda tidak apa karena memang ini terlalu berat.
Aril terseyum seraya melambaikan tangan kepada Dinda, sampai Dinda menghilang dari balik pintu. Seberat ini ia berjuang, melawan rasa takut demi sang pujaan. Ia sudah sejauh ini dan ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan membuktikan kepada Engkong kalau ia benar-benar serius kepada Dinda.
__ADS_1
...**...
Siang berganti Malam.
Setelah makan malam penuh kecanggungan, bersama Engkong dan Ncing Dinda. Aril mengikuti langkah Engkong duduk lesehan di atas tikar yang ada di teras rumah itu. Aril tak tau harus memulai pembicaraan dari mana karena Engkong juga hanya diam sejak tadi. Tak lama Ncing datang dengan sebuah nampan, berisi dua cangkir kopi hitam.
"Di minum ya Ril, jangan tegang begitu," ucap Ncing seraya menyodorkan secangkir kopi kepada Aril dan juga Engkong.
"Terimakasih Ncing," ucap Aril.
"Iya sama-sama, kalau gitu Ncing kebelakang dulu ya," ucap Ncing seraya berdiri dari posisinya.
Sekarang tinggalah Aril dan Engkong yang duduk berdampingan di sana. Setelah beberapa saat diam, akhirnya Engkong menoleh kearah Aril yang saat ini juga sedang melihat Engkong. Melihat Engkong yang menoleh kepadanya, sontak saja Aril langsung mengarahkan pandangan ke sembarang arah.
"Elu bisa mijat kagak?" tanya Engkong tiba-tiba.
Aril kembali menoleh kearah Engkong, "Bisa kong, bisa."
"Pijatin pundak Engkong .. pegel banget ini," ucap Engkong seraya memijat-mijat tekuk lehernya.
"Yang agak kuat dikit Napa, lemah amat jadi laki."
"Siap Kong." Aril mengencangkan pijatannya. Dia bukannya tidak kuat tapi ia takut Engkong kesakitan.
"Udah berapa lama pacaran sama Dinda?" tanya Engkong.
"Baru beberapa minggu Kong," jawab Aril.
"Masih baru, kok bisa mau langsung ngelamar aja?" tanya Engkong lagi.
"Kami memang baru mejalani hubungan pacaran, tapi saya dan Dinda sudah kenal dekat selama empat tahun ... untuk itu saya tidak mau menunda waktu untuk meresmikan hubungan kami Kong," tutur Aril yang terus melanjutkan pijatannya.
"Dinda itu cucu Engkong yang paling berharga, sejak lahir dia kagak tau siapa bapaknya, karena Ibu Dinda yang di tinggal suami kawin lagi. Sejak kecil Dinda selalu nanya mana bapaknya, kalau Engkong denger Dinda bilang begitu, rasanya pengen Engkong susul tuh laki-laki biadap yang udah telantarin Dinda sama ibunya, pengen Engkong bejek-bejek. Engkong kagak mau Dinda ngalamin hal yang sama dengan Ibunya," tutur Engkong, wajah garang yang biasa terpancar kini berubah menjadi sendu.
__ADS_1
Aril hanya terdiam seraya mendengarkan. Ia baru tahu jika ternyata kekasihnya itu mempunyai masalalu yang begitu berat. Di telantarkan oleh ayah sendiri itu lebih menyakitkan dari pada di tinggal pergi untuk selamanya. Karena Aril sebagai anak yatim-piatu, setidaknya menyimpan kenangan kedua orangtuanya sebagai kenangan indah, sementara Dinda harus menyimpan kenangan buruk tentang bapak yang pergi meninggalkannya demi perempuan lain.
"Kalau memang elu mau serius sama Dinda, Engkong cuma pesen ... jangan pernah lukai hati Dinda, jangan pernah lu buat nangis dia dan jangan pernah main tangan, setia. Udah itu aja hal yang paling penting," sambung Engkong lagi.
"Siap Engkong, saya berjanji tidak akan menyakiti Dinda, saya akan membuat dia selalu bahagia dan mencintai Dinda sepenuhnya," tegas Aril.
"Ck, bisa aje lu ... anak muda jaman sekarang pada pinter-pinter milih perempuan ya, Dinda itu gadis paling cantik di daerah sini, karena banyak yang godain makanya Engkong suruh pindah, sekalian biar deket sama tempat dia kuliah dulu," ujar Engkong.
"Iya Kong, Dinda memang cantik, sangat cantik," ucap Aril seraya membayangkan wajah Dinda saat sedang tersenyum kepadanya.
Praaakkk.
Lagi-lagi Engkong asal menggebrak, hingga membuat lamunan indah Aril, buyar seketika, "Kalau cantik, kenapa elu baru nembak Dinda sekarang, hampir aja elu keduluan orang ... sebenarnya anak pak lurah demen banget sama Dinda, nanyain Dinda Mulu kalau ketemu."
"Ma-masa iya Kong?"
"Kagak sih, becanda doang, Hahaha." ucap Engkong lalu terkekeh sendiri.
"Huh, saya kira serius Kong ... berarti sekarang Engkong sudah merestui hubungan kami?" tanya Aril ragu-ragu.
"Iya, Engkong restuin."
"Yessss!" seru Aril tiba-tiba, membuat Engkong terperanjat kaget.
"Gila lu ya!" seru Engkong seraya menoleh kebelakang.
"Maaf Kong, saya terlalu senang ... mau di pijat lagi?"
Engkong kembali ke posisinya, membelakangi Aril, "Boleh dah, pegel bener ni pundak."
Aril melanjutkan memijak pundak Engkong seraya terus tersenyum sendiri. Ia tidak sabar menunggu esok hari, bertemu Dinda dan mengatakan semuanya. Mendengar cerita engkong tentang kehidupan Dinda di masa lalu membuat Aril semakin ingin meresmikan hubungan mereka secepat.
Tidak di sangka, Dinda yang selalu nampak ceria, ternyata melewati masa kanak-kanak tanpa sosok ayah yang seharusnya menjadi panutan, ternyata meninggalkan. Meski begitu, Dinda tumbuh dengan baik di tengah-tengah keluarga besar yang begitu menyayanginya.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+votenya readers 🙏😊