
"Daddy...Mommy!" Vino dan Viona berlari menghapiri Alfaro dan Arumi yang dari kejauhan sedang merentangkan tangan kepada mereka. sekitar empat belas jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di bandara internasional Soekarno-Hatta.
Mommy mainan Ino mana?" tanya Vino
"Yona juga... Yona juga," sambung Viona
"Tunggu sampai di rumah ya sayang," jawab Arumi lalu mencium kening si kembar secara bergantian.
Mama, Almira, Bima ikut menghampiri Arumi dan juga Alfaro, sementara Aril dan Dinda tidak bisa ikut menjemput karena menghandel pekerjaan di kantor. Satu minggu berada di London, membuat mereka saling merindukan, apa lagi si kembar yang selalu terbayang-bayang, selama Arumi dan Alfaro berada disana.
"Selamat datang kembali kak," ucap Almira seraya memeluk Arumi lalu berganti dengan Alfaro. Di ikuti juga oleh Mama yang juga memeluk Arumi dan Alfaro, saling melepas rindu setelah satu minggu tak bertemu.
"Bagaimana, satu minggu di London, apa ada kabar baik?" tanya Mama tiba-tiba.
"Doakan saja ya Ma," jawab Alfaro seraya melirik kearah Arumi.
Mama berharap setelah bulan madu itu, Arumi bisa kembali mengadung. Di masa tuanya, ia ingin melihat Mansion semakin ramai dengan hadirnya penerus-penerus baru keluarga Wilson.
"Selamat datang kembali," ucap Bima seraya menjabat tangan Arumi dan Alfaro secara bergantian.
Setelah selesai melepas rindu. Mereka melangkah keluar dari bandara secara bersama-sama. Karena di Mansion Bi Ranti dan pelayan lain sudah menyiapkan makan siang untuk menyambut kedatangan Arumi dan Alfaro.
Selama perjalanan, Arumi tak henti-hentinya memeluk dan menciumi kedua anaknya, begitu juga dengan Alfaro. Setelah hari ini, akan banyak momen-momen manis yang di ciptakan keluarga kecil mereka.
...**...
Sesampainya di Mansion, Bi Ranti sudah berdiri disana untuk menyambut kedatangan kedua majikannya. Arumi turun dari mobil bersama sang suami dan anak-anak mereka, sementara Mama dan Almira turun dari mobil yang di kemudikan oleh Bima.
"Selamat datang kembali Nona Arumi, Tuan Alfaro," ucap Bi Ranti, seraya menunduk hormat
kepada kedua majikannya.
"Apa kabar Bi?" tanya Arumi.
"Saya baik Nona," jawabnya.
__ADS_1
"Kami sangat merindukan masakan Bi Ranti selama berada disana," sahut Alfaro.
"Benarkah, kebetulan saya sudah masak banyak hari ini, khusus untuk menyambut kedatangan Tuan dan Nona," ucap Bi Ranti yang terlihat sangat antusias.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita makan siang bersama," ucap Mama.
...**...
Setelah makan siang hari ini, mereka berkumpul di ruang keluarga kecuali si kembar yang memilih membongkar mainan mereka bersama Bi Ranti. Ruangan itu di warnai gelak tawa karena Alfaro dan Arumi yang menceritakan tentang hal-hal apa saja yang mereka lalui saat berada disana. Mulai dari hari pertama hingga hari terakhir. Namun tawa Mama tiba-tiba saja terhenti saat Arumi bercerita jika mereka bertemu dengan Sarah dan Suaminya. Apa lagi saat Arumi menyampaikan salam Sarah untuk Mama dan juga Almira.
Ada rasa penyesalan di hati Mama, karena sebesar apapun kesalahan Sarah karena telah mengkhianati Alfaro, Mama sadar jika ia adalah salah satu penyebab mantan menantunya itu memutuskan untuk pergi. Masa itu Mama begitu keras dan menentang hubungan keduanya, hal itu juga sempat di rasakan Arumi, meski pada akhirnya restu itu telah di dapatkan.
"Mama merasa lega karena dia juga sudah hidup bahagia seperti kalian, andai Mama tahu lebih awal jika kalian bertemu dengannya, Mama pasti akan meminta kalian untuk menyampaikan permintaan maaf Mama," ujar Mama dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Tidak perlu khwatir Ma, aku sudah menyampaikan permintaan maaf untuk mewakili Mama," ucap Alfaro.
"Syukurlah kalau begitu, Mama merasa lebih lega sekarang." Mama meraih cangkir tehnya kembali, lalu menyeruputnya hingga habis.
Masih di ruangan yang sama, Bima yang sejak tadi duduk di sana, terlihat lebih banyak diam dan menyimak pembicaraan keluarga itu. Dua minggu ia berada disana, dan pada akhirnya besok ia harus kembali ke Malaysia, untuk kembali menyelesaikan pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan.
"Bima, kenapa diam saja?" tanya Mama tiba-tiba, saat melihat Bima lebih banyak termenung sejak tadi.
Suasana menjadi hening sesaat. Karena kabar ini begitu mendadak, apalagi untuk Almira yang beberapa hari ini menjalin kedekatan dengan Bima. Arumi juga terlihat diam tanpa menanggapi ucapan Bima. Selama empat tahun, ia sudah banyak merepotkan Bima, dan ia tidak tahu bagaimana cara untuk membalasnya.
Di tengah keheningan yang tercipta, Almira tiba-tiba saja berdiri dari posisinya, "Maaf semuanya, aku harus ke kamar ku sekarang, permisi." Almira melangkah dengan cepat, menaiki tangga menuju lantai dua. Bima pun tak tinggal diam, ia juga berdiri dari posisinya.
"Bima mau kemana?" tanya Mama saat melihat Bima yang juga hendak melangkah pergi.
"Maaf Tante, saya harus kembali ke kamar, permisi." Bima melangkah dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Arumi, Alfaro dan Mama, memadangi kepegian Bima dan Almira hingga menghilang di ujung tangga.
"Ma, apa ada sesuatu yang telah terjadi kepada mereka semenjak aku dan Arumi pergi?"
"Sepertinya begitu, beberapa hari ini mereka terlihat sangat dekat dan juga sangat kompak saat menjaga Vino dan Viona."
__ADS_1
~
Di depan pintu kamar Almira, Bima diam sesaat, mengatur nafas kemudian memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu. Ia tahu Almira pasti kesal padanya, karena tiba-tiba saja ia mengatakan akan pulang ke Malaysia.
Tok...tok.. tok.
"Mira, apa aku boleh masuk." Bima menunggu, namun tak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu itu. Bima mengintip kedalam, ia bisa melihat Almira sedang duduk di tepi ranjang, sambil menatap keluar jendela besar yang sedang terbuka.
Perlahan Bima melangkah, duduk di samping Almira. Namun Almira masih diam dengan raut wajah penuh kesedihan. Bima menoleh ke samping, ia mencoba berpikir keras, bagaimana membuat gadis yang duduk di sampingnya sekarang mengerti dengan situasi yang mengharuskan mereka terpisah jarak dan waktu.
"Kenapa kamu tidak bilang lebih awal kalau kamu akan pulang," sahut Almira tiba-tiba, membuat Bima sedikit terkejut.
"Maaf, aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan semuanya, karena beberapa hari ini aku terlalu menikmati hari-hari bersama kamu, Vino dan Viona," ujar Bima.
Almira menoleh kearah Bima yang saat ini juga sedang menatapnya, "Kalau begitu pergilah." Almira berdiri dari posisinya, hendak keluar dari kamar, namun Bima langsung menahan tangannya dan membawa Almira kembali duduk di sampingnya.
"Kamu marah?" tanya Bima.
"Untuk apa aku marah, memangnya aku siapa, kalau mau pergi, pergi saja!" Almira berusaha menahan tangisnya, meski Bima bisa melihat dengan jelas, mata Almira yang mulai berkaca-kaca.
Bima meraih tangan kanan Almira, menggenggamnya dengan erat seraya berusaha tersenyum meski ia juga begitu berat untuk pergi setelah melewati hari-hari yang begitu singkat namun amat berharga bersama Almira. Bima merasa jika ini saatnya ia harus mengutarakan perasaannya kepada Almira, meski nantinya ia tetap harus kembali ke Malaysia.
"Sebelum pergi, aku ingin kamu tahu ... jika aku menyukai mu, aku ingin hubungan kita bisa lebih dari sekedar teman," ujar Bima.
Perlahan Almira mengangkat kepalanya, menatap Bima dengan perasaan campur aduk. Ia senang karena akhirnya mendengar hal yang selama ini ia tunggu, tapi rasa sedih itu juga tak bisa di bendung karena itu berarti, ia harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Bima.
"Aku berjanji, setelah perkejaaan ku selesai aku akan kembali lagi untuk menemui kamu ... itu hanya jika kamu bersedia untuk menunggu, aku tidak akan memaksa, semua tergantung pada mu."
Almira menganguk pelahan dengan derai air mata yang akhirnya tak tertahankan, "Iya aku bersedia ... tapi jika kamu ketahuan tidak setia, aku akan menyusul kamu sampai ke Malaysia! Kamu ingatkan aku punya tangan sakti, hanya dengan satu gerakan, aku akan langsung memutuskan tangan wanita yang mencoba menggoda kamu," tutur Almira yang masih terisak-isak.
Bima tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Almira, karena itu berarti Almira juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Tangan Bima bergerak perlahan menyeka air mata yang membasahi wajah cantik wanita yang mulai hari ini resmi menjadi kekasihnya.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu yang sedikit terbuka, Mama, Alfaro dan Arumi sedang mengintip mereka sejak tadi. Mereka mencoba mengintip tanpa bersuara, namun baik Mama, Arumi ataupun Alfaro tak bisa menahan senyum yang terukir jelas di wajah mereka masing-masing.
Bersambung 💓
__ADS_1
Terimakasih karena sudah selalu setia menunggu update dari author, next 2 bab lagi untuk hari ini, 🙏😇
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊