
Luka di pelipis kiri Aril mampu menjelaskan betapa berbahayanya sebuah tas belanja berbahan dasar Nilon ketika beralih fungsi sebagai senjata, ya mungkin sebenarnya yang paling bahaya itu adalah serangan ibu yang membabi-buta.
Lukanya sudah selesai di obati. Sebuah perban kini melekat di pelipis yang membiru dan sedikit berdarah. Dinda dan ibu kini sedang duduk di hadapan Aril, menyesal? Ya tentu saja ibu amat menyesali perbuatannya, setelah mengetahui jika orang yang ia pukuli itu bukanlah orang sembarangan. Sikap spontanitas ibu yang kadang keluar batas membuat Aril menjadi korban.
"Sekali lagi ibu minta maaf ya," ucap Ibu terdengar lemah.
"Tidak perlu minta maaf Bu, ini semua hanyalah kesalahpahaman," ucap Aril, ia benar-benar tidak tega saat melihat wanita yang bergelar ibu tertunduk lesu di depannya. Ia membayangkan jika itu adalah ibunya, sayang sekali ibunya tidak di sisinya lagi.
"Apa saya masih di terima bekerja?" tanya Dinda ragu-ragu tapi ia tetap ingin memperjelas statusnya.
"Iya tenang saja, saya orang yang profesional dalam bekerja," jawab Aril.
"Nak Aril ini baik sekali ... sudah menikah belum?" tanya ibu yang sudah mulai keluar dari alur.
"Belum Bu."
"Sudah punya pacar?" tanya ibu lagi.
"Be-belum Bu," jawab Aril yang mulai bingung dengan pertanyaan ibu Dinda.
"Pas banget kalau gitu," ucap ibu sambil menggebrak meja, membuat Dinda dan Aril terkejut bukan main.
"Ibu apaan sih," tegur Dinda pada ibunya.
"Pas apanya Bu?" tanya Aril.
"Ya Dinda juga belum punya pacar, mau jadi calon mantu ibu nggak?"
glek.
Aril menelan salivanya dengan susah payah. Apa ini, apa dia sedang di lamar oleh Ibu untuk anaknya, Dinda. Kenapa dunia tiba-tiba saja terbalik seperti ini. Dinda menekuk wajahnya sedalam mungkin, ia mengumpat tanpa suara. Ibunya selalu saja begitu, terlalu berterus terang dan responsif, hingga membuat Dinda kadang kewalahan.
__ADS_1
"Ehm ... maaf Bu saya harus kembali ke kantor sekarang, permisi." Dengan buru-buru Aril meraih map yang di berikan Dinda padanya, dan melangkah menuju pintu. Dinda pun ikut menghampiri Aril untuk meminta maaf sebesar-besarnya, atas ketidak nyamanan di awal perjumpaan mereka. Sementara ibu, hanya diam di tempatnya, seolah memberi ruang untuk Aril dan Dinda berdua saja.
"Sekali lagi saya minta maaf atas sikap Ibu saya," ucap Dinda yang benar-benar tidak enak dengan Aril.
"Iya tidak apa-apa." Aril beusaha bersikap biasa-biasa saja namun nyatanya kenapa dia jadi gugup seperti ini, ya sepertinya hatinya tersentil sedikit karena ulah ibu, "Besok kamu bisa ke kantor untuk melakukan interview, jangan sampai terlambat."
"Baik, saya akan melakukan yang terbaik," ucap Dinda dengan antusias.
Aril kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah itu. Membawa semua memory kejadian aneh yang menimpanya hari ini.
...***...
Mama dan Almira sedang keluar bebelanja di sebuah pusat perbelanjaan di ibu kota. Terlalu lama berada di Mansion membuat Mama dan Almira menjadi bosan. Dan akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan, mengelilingi ibu kota negara ini dan pesta belanja yang hanya mereka lakukan setahun sekali di Indonesia.
"Are you sure you want to buy these shoes again? (Mama yakin ingin membeli sepatu ini lagi?" tanya Almira memastikan karena seingatnya Mama sudah pernah membeli sepatu itu dengan brand yang sama di Amerika.
"Yes honey, sepatu yang itu sudah lecet, Mama tidak mau memakainya lagi," jawab Mama seraya berpose di depan cermin besar dengan sepatu high heels yang telah melekat di kaki jenjangnya.
Saat sudah selesai memilih, Mama dan Almira melangkah menuju kasir untuk membayar barang belanjaan mereka yang tentunya akan bertotal ratusan juta. Seorang kasir dan pelayan toko lainnya mulai memasukkan barang belanjaan Mama ke dalam box dan juga paper bag yang berlogokan c*nnel.
Almira meraih semua paper bag itu, hingga memenuhi tangannya, dia memang hanya ikut untuk membawa barang belanjaan Mama karena ia tidak suka barang branded yang menurutnya terlalu mewah untuk anak kuliahan sepertinya.
Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran, Mama berbalik untuk pergi, ia terdiam sejenak, saat melihat wanita paru baya yang kiranya seumuran dengan Mama berdiri di sana untuk melakukan transaksi pembayaran juga. Ya Mama mengenali wanita itu, wanita itu adalah istri dari rekan bisnis mendiang suaminya.
"Anda ini Nisa kan? Istri Gunawan Hartanto," tanya Mama memastikan.
"Iya benar ... oh kamu istri mediang Ardano Willson?"
"Iya benar, lama tidak berjumpa ... kamu tinggal dimana sekarang?"
"Saya di Malaysia, hanya saja sedang mengunjungi anak saya disini?"
__ADS_1
Almira melangkah duduk di sebuah sofa yang ada di tempat itu. Ia sudah tahu, pertemuan Mama dan teman lamanya itu akan merangkai cerita yang amat panjang, jadi lebih baik ia duduk saja seraya menunggu Mama yang sedang bernostalgia.
...***...
Di tempat lain, Arumi yang sudah menyusun pakaiannya di dalam lemari, hanya bisa pasrah saat Alfaro kembali memasukkan pakaian-pakaian itu kedalam koper. Alfaro tidak akan membiarkan Arumi tinggal di rumah reok itu sendiri, jadi ia sudah memutuskan untuk membawa Arumi ke Apartement miliknya, ya sebenarnya Alfaro juga bermaksud agar ia bisa leluasa menememui Arumi.
"Mas, aku baik-baik saja disini, tidak perlu ke Apartement," ucap Arumi yang saat ini sedang duduk di sisi ranjang sambil memandangi sang suami yang sibuk memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper.
"Tidak, kamu harus ikut aku ke Apartement," ucap Alfaro tegas. Ia melangkah medekati Arumi dan duduk di sampingnya, "Aku hanya ingin lebih leluasa bertemu istri ku, memberikan yang tebaik untuk kamu dan juga calon anak kita nanti," ujar Alfaro seraya membelai pucuk kepala Arumi.
Deg
Anak? Dia ingin anak dari ku.
"Aku yakin jika kamu hamil, Mama pasti akan menyetujui hubungan kita." Tangan Alfaro mulai melingkar di pinggang ramping itu, menciumi bahu hingga ke telinga, membuat bulu kuduk Arumi berdiri.
"Anak? Mas ingin anak?"
"Ya, kenapa kamu tidak mau hamil? Jujur aku memikirkan itu beberapa hari belakangan ini."
Bagaimana jika dia tau aku selalu rutin mengkonsumsi obat kb.
"Bu-bukan begitu Mas, aku hanya kaget saat kamu membicarakan tentang anak," tutur Arumi seraya menggigit bibir bawahnya dengan kuat karena tangan Alfaro yang mulai meremas sesuatu yang membuatnya menegang.
"Aku ingin kita mempunyai anak satu atau dua, lebih bagus lagi jika dua sekaligus. Bukankah menyenangkan jika mempunyai anak kembar," ucap Alfaro lalu kembali menciumi bagian leher Arumi.
"I-iya Mas."
Mendengar jawaban Arumi, Alfaro tersenyum senang. Semoga saja harapan itu segera terwujud dalam waktu dekat. Alfaro mengakhiri aktifitas bibir dan tangannya dari tubuh Arumi, "Kita lanjutkan di apartement." Entah kenapa bisikan itu membuatnya sedikit kecewa, sepertinya Arumi sudah terhanyut dengan sentuhan Alfaro dan menginginkannya lebih dari itu, tapi justru Alfaro mengakhirinya.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍.