Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.77 (Memperbaiki semuanya)


__ADS_3

Alfaro membuka matanya perlahan. Di seberang sana di antara Vino dan Viona, Arumi masih terlelap dalam tidurnya. Malam tadi mereka bicara dari hati ke hati, mengungkapkan apa yang telah tertahan cukup lama. Pagi ini Alfaro tersenyum senang, karena nyatanya apa yang ia alami malam tadi bukanlah sebuah mimpi.


Sesaat Alfaro memandangi wajah anak dan istrinya secara bergantian. Empat tahun yang terbuang sia-sia tanpa kehadirannya di sisi anak dan istrinya. Ia merasa begitu bersalah, dan berjanji pada diri sendiri, setelah ini ia akan menghujani keluarga kecilnya itu dengan kebahagian yang berlimpah.


Sekarang giliran Arumi yang membuka matanya. Sekilas ia terlihat terseyum saat dari seberang sana, ia bisa melihat Alfaro sedang tersenyum melihat kearahnya. Tidak ia sangka semua itu benar-benar nyata. Orang yang begitu di rindukan kehadirannya kini hadir, membawa kembali harapan yang sempat pupus karena takdir yang memisahkan mereka.


Perlahan Arumi bangkit dari posisi tidurnya. Lalu memberikan kode kepada Alfaro untuk bicara di balkon kamar, agar tidak menggangu tidur si kecil. Ya, mungkin ia masih rindu hingga ingin kembali memeluk sang suami, yang tidak bisa ia lakukan di atas tempat tidur karena terhalang Vino dan Viona. Perlahan Alfaro bangkit dan mengikuti langkah Arumi.


Jendela besar menuju balkon itu terbuka. Arumi mengehentikan langkahnya tepat di depan besi pembatas. Masih sangat pagi, hingga cahaya matahari masih di selimuti kabut embun yang membuat langit terlihat buram. Alfaro yang menyusul dari belakang, dan langsung memeluk Arumi dari belakang, mendaratkan kecupan di bagian bahu hingga leher sang istri.


"Selamat pagi istri ku," ucap Alfaro tepat di telinga Arumi.


"Selamat pagi Mas," ucap Arumi seraya mengelus lembut kepala suaminya.


"Rumi," panggil Alfaro.


"Ya, kenapa?"


"Maaf," lirih Alfaro.


"Lagi? Sejak malam tadi kamu selalu meminta maaf Mas, aku sampai bosan mendengarnya," ujar Arumi.


"Entahlah, tapi aku selalu merasa bersalah saat melihat kamu dan anak-anak kita," ujar Alfaro yang meletakkan kepalanya di pundak Arumi.


Arumi terseyum namun hatinya sedikit tersentak. Apa yang di alami Alfaro saat ini, rasa bersalah yang begitu dalam adalah sebuah bukti bagaimana tersiksanya sang suami yang melewati hari-hari dengan ketidak pastian, dan ketidak berdayaan karena ia yang tiba-tiba saja menghilang.


"Saat memutuskan untuk meninggalkan kota ... di dalam pesawat aku menangis tanpa henti, saat suara mesin pesawat mulai berbunyi, aku masih tidak menyangka akan benar-benar pergi dan menghilang, mengingkari janji jari kelingking kita," ucap Arumi mengenang momen-momen pahit yang belum ia katakan kepada sang suami. Satu malam mengobrol dari hati ke hati tidak cukup untuk menceritakan semua kisah yang telah terjadi selama empat tahun, tanpa kehadiran Alfaro.

__ADS_1


"Semua orang memperhatikan ku saat itu tapi tangis ku tak juga kunjung berhenti, aku memikirkan kamu Mas, aku tidak bisa jauh darimu saat hormon kehamilan membuat ku semakin merindukan mu ... sesampainya di sini, keinginan ku kian aneh, aku ingin makan disuapi kamu, ingin tidur di pangkuan kamu ... batin ku tersiksa karena harus melewati masa mengidam yang selalu berkaitan dengan mu," jelas Arumi lagi.


Alfaro mengeratkan pelukannya. menenggelamkan wajah di ceruk leher sang istri. Rasa sesal itu kian menjadi karena setiap yang di ceritakan Arumi adalah pukulan berat untuknya. Karena Mama, karena keegoisan Mama ia dan Arumi harus mengalami hal seperti ini. Entah apa yang akan di lakukan Alfaro saat kembali ke tanah air nanti, karena untuk saat ini ia ingin fokus mengeratkan kembali hubungannya bersama Arumi dan anak-anak mereka.


"Daddy.. Daddy...!"


Teriak Vino dan Viona dari dalam sana. Sontak saja Arumi dan Alfaro langsung bergegas kembali ke dalam kamar. Alfaro membawa kedua anaknya kedalam gendongan, kedua bocah itu bahkan sudah tidak perduli dengan Mommy mereka. Arumi mulai merasa tersingkirkan karena Vino dan Viona hanya memanggil Daddy-nya saja bukan sirinya.


"Ehm ... sekarang sudah tidak ingat sama mommy lagi nih," ucap Arumi seraya berpangku tangan.


"Lihat, Mommy kalian cemburu, apa Daddy pergu saja," ucap Alfaro kepada kedua anaknya.


"No Daddy, nggak boyeh pelgi, disini aja," ucap Viona yang masih dalam gendongan Alfaro.


"Mommy, kalau mau pelgi kelja, pelgi aja kan sudah ada Daddy," ucap Vino yang juga masih dalam gendongan Alfaro.


"Bagaimana kalau sekarang Vino dan Viona mandi, karena hari ini kita akan jalan-jalan," ucap Alfaro.


"Mau-mau," ucap Viona bersorak-sorai karena gembira.


"Tapi Daddy yang mandiin," pinta Vino.


"Iya," ucap Alfaro lalu mengecup pipi Vino dan Viona secara bergantian.


"Asiiikk," ucap Vino dan Viona secara bersamaan.


"Memangnya kita mau kemana Mas, hari ini aku harus masuk kantor," ucap Arumi.

__ADS_1


"Nanti kamu akan tau sendiri dan untuk apa lagi kamu bekerja, aku tidak akan membiarkan istriku kelelahan lagi," ucap Alfaro lalu beranjak pergi menuju kamar mandi bersama dengan kedua anaknya. Arumi tak bisa berkata apapun lagi, karena sepertinya ia akan berhenti dari pekerjaan yang menopangnya selama ini.


~


Alfaro keluar dari kamar setelah selesai mandi, meski tetap menggunakan pakaian yang sama karena tak ia tak membawa pakaian ganti. Sementara itu Arumi sedang bersiap-siap bersama kedua anaknya. Alfaro bisa melihat Bi Ranti sedang menyiapkan sarapan di dapur. Wanita paru baya itu begitu berjasa karena selain Bima, ia adalah orang yang selalu setia menjaga Arumi, Vino dan Viona.


Tanpa pikir panjang, Alfaro bergegas menghampiri Bi Ranti yang sedang menyiapkan makanan di atas meja makan. Melihat kedatangan Alfaro, Bi Ranti terseyum seraya menundukkan kepalanya kepada Alfaro.


"Duduklah Bi, aku ingin bicara," pinta Alfaro yang sudah lebih dulu duduk di kursi meja makan.


Bi Ranti terlihat ragu dan berpikir, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk duduk di hadapan majikannya itu, "Ada apa ya Tuan?"


"Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih ... karena Bibi sudah mendampingi istri dan anak-anak saya selama empat tahun terakhir, jika Bibi tidak ada, Arumi pasti akan kesulitan," ujar Alfaro dengan tatapan yang terlihat begitu tulus.


"Tidak perlu berterimakasih Tuan, karena bagi saya Nona seperti anak saya sendiri ... maaf jika saya lancang, tapi perlakuan nyonya kepada nona adalah alasan utama saya memutuskan untuk ikut sampai ke tempat ini," ujar Bi Ranti, mengeluarkan semua isi hatinya.


"Bi, apa bibi bisa ceritakan lebih rinci lagi, apa yang terjadi malam itu?" pinta Alfaro. Karena Arumi tidak mau atau mungkin tidak sanggup menjelaskan secara rinci bagaimana perlakuan Mama kepadanya saat itu.


Bi Ranti menarik nafas sedalam mungkin. Meski sudah berumur, tapi ingatannya masih sangat kuat. Ia masih ingat secara detail hal apa saja yang telah terjadi malam itu hingga kebohongan-kebohongan Mama yang membuat harapan Arumi untuk bertemu sang suami pupus begitu saja.


Alfaro mencengkram erat lututnya. Saat Bi Ranti mulai menceritakan semuanya. Beberapa kali ia memejamkan mata saat merasa tidak kuat atas apa yang Bi Ranti ceritakan terasa begitu menyakitkan. Alfaro menyesal untuk kesekian kalinya karena sempat percaya dengan apa yang dikatakan Mama.


Ma, apa ini akhir yang mama inginkan, membiarkan istri dan anak-anak ku terlantar di negeri orang. Saat kembali nanti aku akan memastikan Mama menyesali semuanya, batin Alfaro.


Bersambung 💓


Kelanjutan siang ini ya kakak-kakak semuanya 🌹🌹🌹🌹🤗

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2