Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.107 (Ziarah makam)


__ADS_3

Vino dan Viona bergegas keluar dari dalam pintu utama saat mendengar suara mobil Daddy mereka. Tak lama Arumi dan Mama juga menyusul keluar. Saking tidak sabarnya, Vino dan Viona sudah masuk terlebih dulu ke dalam mobil.


"Kalau begitu kita langsung pergi saja," ucap Alfaro kepada Arumi.


"Iya Mas," ucap Arumi kemudian beralih menoleh kearah Mama, "Ma kami pergi dulu ya." Arumi mencium tangan mertuanya itu lalu di ikuti oleh Alfaro.


"Kalian hati-hati dijalan," ucap Mama.


"Iya Ma, Mama jangan lupa makan obat dan istirahat," ucap Alfaro.


"Iya Mama tahu."


Arumi dan Alfaro melangkah masuk kedalam mobil. Setelah semua di tempat masing-masing, Alfaro segera menginjak pedal gas dan melaju pergi meninggalkan kediaman mewahnya itu.


~


Selama perjalanan Vino dan Viona tak henti-hentinya bernyanyi. Arumi pun juga begitu, ikut bernyanyi bersama kedua anaknya, sementara Alfaro hanya bisa tersenyum seraya fokus melihat jalanan karena ia tidak tau dan tidak hafal lagu anak-anak yang saat ini di nyanyikan kedua anaknya.


Semakin lama roda mobil itu berputar Arumi semakin merasa tidak asing dengan jalan yang di tempuh sang suami. Ya jalan itu jalan menuju rumahnya. Rumah yang sudah empat tahun belakangan ini tidak ia singgahi. Apa kabar rumah itu sekarang?


"Mas, ini jalan menuju rumah ku?"


"Akhirnya kamu sadar juga ... aku sengaja mengajak kamu kesana, sudah lama sejak terakhir kali kamu datang rumah peninggalan kedua orang tuamu."


Arumi kembali terdiam, menatap nanar kearah jendela mobil, "Ya sudah lama sekali." Arumi menggerutuki dirinya sendiri karena terlalu hanyut dengan dunia barunya, hingga ia lupa gubuk tempat ia memulai kehidupan sederhana dengan kedua mendiang orangtuanya.


Bagaimana kondisi rumah itu sekarang ... mungkin rumputnya sudah meninggi dan dindingnya telah lapuk, maafkan aku Ibu..ayah, batin Arumi.


Melihat istrinya hanya diam, Alfaro menggerakkan tangannya, meraih tangan sang istri dan langsung menggenggamnya, "Kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Ya, aku baik-baik saja ... terimakasih Mas sudah mengajak ku kesana, karena semua kenangan masa kecil ku ada di rumah itu ... entah bagaimana kondisi rumah itu sekarang."


Alfaro kembali diam dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.


~


Mobil mewah itu memasuki gang yang hanya muat untuk satu mobil saja. Vino dan Viona mulai terlihat kebingungan kemana Alfaro akan mengajak mereka pergi. Vino dan Viona berdiri dari duduk mereka, mendekati Daddy dan Mommy mereka yang berada di kursi depan.


"Daddy kita mau kemana?" tanya Viona.


"Kita mau ke rumah Mommy," jawab Alfaro.


"Hah, keluma Mommy ... lumah Mommy banyak sekali," ujar Vino.


Alfaro dan Arumi hanya bisa tertawa mendengar ucapan kedua anak mereka. Mobil itu semakin bergerak masuk kedalam. Hingga akhirnya rumah itu mulai terlihat, Arumi Membulatkan matanya saat melihat halaman rumah yang begitu bersih dan juga cat rumah yang dulu memudar kini sudah di cat ulang dengan warna yang sama.


Arumi menoleh kebelakang, melihat suami dan anak-anaknya yang melangkah mendekat. Dengan cepat ia berhambur memeluk Alfaro seraya menangis penuh haru. Ia tahu pasti ini semua adalah perbuatan suaminya. Ya, semenjak Arumi menghilang, Alfaro tetap menjaga rumah itu, merenovasinya dan menjaga halaman itu tetap bersih dengan harapan Arumi bisa kembali ke sisinya dan ia bisa mengajaknya ke rumah itu.


"Terimakasih Mas, aku pikir rumah ini sudah tidak terurus."


"Selama kamu menghilang, aku selalu kemari ... tidur di kamar mu dan aku juga meminta beberapa orang yang aku tugaskan untuk menjaga rumah ini tetap bersih."


"Mommy kenapa nangis?" tanya Vino.


"Ini lumah Mommy?" tanya Viona.


Arumi melepaskan pelukannya dari sang suami, kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan si kembar yang terlihat bingung dengan situasi yang saat ini sedang terjadi.


"Sayang ini rumah orang tua Mommy, kakek dan nenek Vino dan Viona juga seperti Oma, di rumah ini Mommy dulu tinggal sebelum bertemu Daddy," jelas Arumi.

__ADS_1


"Telus, kakek sama nenek mana Mommy, kok nggak kelual?" tanya Vino seraya menunjuk pintu yang masih tertutup.


"Yona mau ketemu Mommy, kakek sama nenek."


Arumi tak bisa membendung air matanya. Betapa sedihnya saat ia saat kedua anaknya bertanya dengan wajah polos dimana kakek dan nenek mereka. Ia kembali terbayang kedua wajah kedua orangtuanya yang sudah pergi untuk selamanya. tanpa sempat melihat betapa lucunya Vino dan Viona.


Melihat sang istri menangis di hadapan si kembar. Alfaro tak tinggal diam, ia mensejajarkan diri dengan sangat istri dan anak-anaknya, mengelus punggung sang istri, berusaha untuk memenangkannya.


"Kalau begitu ayo kita pergi tempat Kakek dan nenek," ucap Alfaro kepada Vino dan Viona, membuat Arumi kembali menegapkan kepalanya untuk melihat sang suami.


...***...


Senja menjelang, Arumi, Alfaro sampai di sebuah pemakaman umum yang tak jauh dari rumah. Alfaro menggedong Viona sementara Arumi menggedong Vino. Mereka melangkah masuk kedalam area pemakaman itu. Suasana terasa begitu sepi, namun ada saja orang yang berlalu lalang keluar dan memasuki area pemakaman.


Sesak di dada Arumi kian bergemuruh, saat dari kejauhan ia sudah bisa melihat batu nisan kedua orangtuanya. Langkahnya semakin dipercepat hingga akhirnya ia menurunkan Vino dan langsung duduk bersimpu di hadapan pusara kedua orangtuanya yang memang terletak berdampingan.


"Ayah, ibu ... Rumi datang bersama suami dan anak-anak Rumi," ucap Arumi lalu kembali menangis tersedu-sedu.


Alfaro yang mengerti situasi, memberi kode kepada kedua anaknya agar tetap diam. Ia juga ikut duduk bersimpuh di samping Arumi dengan mendudukkan Vino dan Viona di atas pangkuannya. Mata Alfaro terlihat berkaca-kaca saat melihat sang istri tertunduk menangis seraya memegangi batu nisan ayahnya.


Sementara Vino dan Viona terlihat kebingungan. Mereka ingin bertanya tapi melihat Mommy mereka yang begitu sedih, akhirnya kedua bocah kembar itu memilih diam.


Maafkan saya karena baru sempat mengunjungi ayah dan ibu ... sekarang Arumi adalah tanggung jawab saya, saya berjanji akan menjaganya seumur hidup saya. Terimakasih karena sudah menghadirkannya di dunia ini, batin Alfaro.


Ibu...ayah, Maafkan Rumi karena baru bisa datang sekarang. Setelah kepergian Ibu dan ayah, cobaan hidup yang Arumi lalui sangat berat. Sampai pada akhirnya seorang pria asing datang, mengulurkan tangan untuk Rumi, kami memulai hubungan dengan cara yang salah hingga berakhir bahagia karena kehadiran Vino dan Viona. Apa ayah dan Ibu tahu, kalau kedua anak Rumi menanyakan dimana kakek dan nenek mereka, Rumi sangat sedih karena ayah dan Ibu tidak ada disini, batin Arumi seraya terus menangis tersedu-sedu.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2