
Alfaro sedang menikmati sarapannya bersama para karyawan WB grup tapi tentu saja ia di sediakan tempat khusus. Dari jarak yang tidak terlalu jauh ia bisa melihat Arumi yang juga sedang menikmati sarapan bersama kedua temannya. Aril yang berada di samping Alfaro, mengikuti arah pandangan sang Bos, ia akhirnya mengerti apa yang membuat sang bos tersenyum-senyum sendiri seperti sekarang.
"Sudah baikan?" tanya Aril tiba-tiba, membuat Alfaro langsung menoleh kepadanya.
"Ya begitulah, terimakasih, kamu memang selalu bisa ku andalkan," ucap Alfaro pada sekertarisnya itu.
"Lalu bagaimana, apa surat perjanjian itu masih berlaku?"
"Ck, tidak ... aku tidak akan pernah membiarkan dia pergi dari ku," ucap Alfaro dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari Arumi.
"Lalu apa Tuan akan meresmikan pernikahan ini?"
"Itu lah, dia belum siap untuk mengumumkan hubungan kami, aku bisa mengerti itu, biarlah waktu yang berbicara," tutur Alfaro.
"Ya, memang tidak akan mudah menjadi wanita seorang Alfaro Wilson, apalagi jika Mama anda mengetahuinya."
Deg.
Benar juga, Alfaro terlalu larut dalam kebahagiaannya hingga ia lupa pada Mama yang mempunyai standard calon menantu yang sangat tinggi. Sarah saja yang jelas-jelas seorang disaigner terkenal dan juga berasal dari keluarga mumpuni, di tindas habis-habisan oleh Mamanya.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Aril, saat melihat bosnya itu melamun.
"Ya, aku baik-baik saja ... tapi yang kamu katakan itu benar, Mama tidak akan semudah itu menerima Arumi ... tapi perlahan-lahan aku akan membuat Mama mengerti, aku takut jika Mama tiba-tiba tau, dia akan memperlakukan Arumi sama seperti Sarah," jelas Alfaro yang tiba-tiba saja menjadi lemas.
Alfaro memandangi Arumi dari kejauhan. Pikirannya kembali kacau, ia seakan lupa jika ia masih memiliki Mama yang egois, keras kepala dan selalu mengatur hidupnya. Jauh sebelum Arumi hadir di dalam hidupnya, Sarah sudah lebih dulu merasakan, bagaimana mempunyai mama mertua sekejam Mama Alfaro, yang setiap langkah Sarah selalu di nilai salah oleh sang mertua.
__ADS_1
Apalagi jika mengenai keturunan, Mama selalu mendesak Sarah untuk segera memberinya cucu, Alfaro tidak pernah mendesak Sarah, tapi saat Sarah membutuhkan Alfaro ketika terpuruk, ia tidak ada, ia sibuk mengembangkan bisnisnya. Hal itu yang kini menjadi penyesalan terbesar Alfaro, ia baru sadar jika ternyata uang bukanlah segalanya, tapi waktu dan perhatian adalah yang utama.
Mungkin hal itu juga yang membuat Sarah stres hingga sulit untuk hamil, sampai pada akhirnya ia memilih menyerah dan mengubah haluan kepada laki-laki lain yang lebih mengerti akan dirinya, mempunyai waktu untuknya. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, Alfaro tidak akan pernah membiarkan Arumi berakhir seperti sang mantan istri.
...***...
Hari ini adalah hari terakhir acara camping tahunan perusahaan. Setelah jam makan siang selesai, para peserta tanpa terkecuali sedang bersiap-siap untuk kembali pulang dan menyambut hari esok dengan setumpuk pekerjaan yang telah menanti di meja kerja mereka masing-masing.
Arumi dan kedua teman yang baru saja ia kenal saat acara ini saling berpelukan sebagai tanda perpisahan, mungkin nantinya meskipun satu kantor, mereka akan jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Arumi sangat senang karena bisa mengenal wanita-wanita hebat seperti Risma dan Kiki.
"Kita tetap bisa bertemu saat jam makan siang ataupun di luar kantor kan?" tanya Arumi penuh harap.
"Iya harus itu, aku senang bisa mengenal kalian, sayang sekali acara ini harus berakhir," ucap Kiki dengan wajah yang di tekuk dalam.
"Aku juga, semoga saja tahun depan kita bisa satu tim lagi," ucap Risma antusias.
...***...
Bus-bus besar itu kembali berjajar rapi di depan lokasi camping. Satu persatu para peserta naik kedalam bus sesuai dengan arahan petugas secara bergantian dan tertip aturan, tidak ada yang boleh berdesak-desakan.
Di dalam salah satu bus, Alfaro sudah duduk di deretan paling depan. Dari jendela bus itu ia melihat Arumi yang masih mengantri untuk masuk, rasanya ia ingin pergi menghampiri sang istri dan langsung menggendongnya masuk, tapi ia tidak bisa melakukan itu.
Clara baru saja masuk kedalam bus, dari kejauhan ia bisa melihat kursi di sisi kiri Alfaro masih kosong, buru-buru ia melangkah kearah Alfaro. Ia pikir ini kesempatan bagus agar bisa lebih dekat dengan sang bos. Saat ia sudah hampir sampai, tiba-tiba saja dari arah belakang, Aril langsung menarik tangannya.
"Silahkan pilih tempat duduk lain saja, Tuan Alfaro tidak bisa di ganggu oleh ulat bulu seperti kamu," ucap Aril pada Clara.
__ADS_1
"Ih apaan sih, lepaskan tanganku, dasar Sekertaris hantu, dimana-mana saja kamu selalu ada," ketus Clara lalu melangkah pergi, bukan untuk mencari kursi lain, tapi ia memilih turun dari bus itu dan mencari bus lain.
"Huh, dasar ulat bulu," ejek Aril saraya memandangi Clara yang sudah turun dari Bus.
Tak lama, akhirnya Arumi masuk kedalam bus, ia terlihat bingung saat mencari tempat duduk-duduk. Arumi heran kenapa semenjak berangkat dan pulang, ia selalu saja berlainan bus dengan teman dan juga timnya. Arumi tidak tahu saja jika ada udang di balik batu, seketaris Aril tentu saja sudah mengatur semuanya.
"Nona, Tuan Al sudah menunggu anda di depan sana," bisik Aril yang sudah menghampiri Arumi.
"Lagi? Apa tidak apa-apa jika aku duduk di sebelahnya lagi," ucap Arumi pelan.
"Tenang saja, tidak apa-apa," ucap Aril dengan percaya diri.
Arumi melangkahkan kakinya, menghampiri sang suami yang saat ini sedang menunggunya. Sebenarnya ia tidak enak dengan yang lain, ia takut jika orang-orang akan curiga padanya karena sejak datang dan pergi, ia selalu saja duduk di samping Alfaro.
Alfaro terseyum saat melihat Arumi sudah duduk di sampingnya. Ia sudah menunggu Arumi sejak tadi. Perjalanan pulang hari ini pasti akan sangat menyenangkan karena ia bisa lewati lagi bersama Arumi.
"Kamu lama sekali?" tanya Alfaro yang sudah menggenggam tangan Arumi, namun dengan sigap Arumi langsung menarik tangannya.
"Jangan disini, banyak mata yang melihat kita," ucap Arumi yang terlihat panik.
"Baiklah tapi setelah sampai di rumah aku akan langsung memakan mu," bisik Alfaro, yang membuat bulu kuduk Arumi langsung berdiri.
Para peserta camping telah masuk ke bus masing-masing. Bus-bus itu pun melaju pergi, meninggalkan kawasan wisata kampung awan yang di penuhi kenangan, kenangan yang tidak akan pernah di lupakan oleh para peserta, terutama Alfaro dan Arumi yang baru saja mengambil langkah baru dalam hubungan mereka.
Bersambung π
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers ππ
Next lanjut siang ini ya, jika tidak ada kendala πβΊοΈ