Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.74 (Fakta yang menyakitkan)


__ADS_3

"Rumi," lirih Alfaro seraya menatap sang istri yang nampak seperti orang ketakutan. Ia kembali melangkah namun kembali dihentikan oleh Arumi.


"Jangan mendekat," teriaknya, "Aku Amanda bukan Arumi."


"Apa! Amanda? ... kamu itu Arumi istriku," ujar Alfaro.


Alfaro semakin bingung. Kenapa istrinya menjadi seperti ini, apa yang telah dilalui Arumi hingga berubah menjadi Amanda. Itulah yang ingin Alfaro ketahui. Empat tahun berlalu, wajah cantik itu masih sama, tubuh indah yang selalu membangkitkan hasrat itu kian indah. Rindu yang menggebu-gebu dari seorang suami kesepian begitu dalam namun lagi-lagi takdir memintanya untuk menahan diri.


"Pergi dari sini, aku bukan lagi Arumi!" pekik Arumi hingga dadanya naik turun karena meluapkan semua gejolak di dada, ia mengangkat sebelah tangan yang tak lagi memakai cincin pernikahan mereka, "Lihatlah aku tidak lagi memakai cincin itu, di pantai ini aku sudah membuangnya bersama dengan kenangan buruk bersama mu."


Alfaro kembali terpaku. Ia masih bingung kenapa istrinya menjadi seperti ini. Rasa trauma itu sangat mendalam. Hingga Arumi tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Bertepatan dengan suasana sendu itu, hujan tiba-tiba saja turun membasahi bumi. Di bawah guyuran hujan, Arumi dan Alfaro saling menatap dalam diam. Hingga akhirnya Alfaro mempercepat langkahnya lalu menggedong Arumi ala bridal style dengan paksa.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!" teriak Arumi seraya memukul dada bidang Alfaro. Pukulannya melemah saat indra penciumannya mendeteksi harum khas tubuh suaminya yang selalu ia rindukan. Ya, ia masih saja selemah itu saat mendapatkan sentuhan dari Alfaro.


Alfaro membawa Arumi masuk kedalam mobil lalu di ikuti dengan dirinya. Arumi mencoba untuk keluar namun sayang Alfaro bergerak lebih cepat untuk mengunci pintu itu dengan sebuah tombol yang ada di samping kemudi.


Suasana menjadi hening sesaat. Alfaro terus melihat Arumi, sementara Arumi malah membuang muka keluar jendela. Setelah empat tahun, semua terasa begitu canggung. Meski cinta itu masih sama.


"Apa kamu kedinginan?" tanya Alfaro pada akhirnya.


"Tidak, aku hanya ingin keluar, cepat buka pintunya!" seru Arumi seraya menatap tajam kearah Alfaro.


Alfaro mencoba tenang dan tak ingin membuat Arumi semakin panik. Ia memghela nafasnya sejenak. mengontrol diri agar tidak terbawa perasaan rindu yang ingin segera memeluk sang istri.


"Di luar sedang hujan ... kenapa sekarang Arumi menjadi galak seperti ini, menggemaskan sekali," ucap Alfaro sambil tersenyum kepada Arumi.


"Ya aku memang galak, aku bukan lagi Arumi yang seperti dulu," ujar Arumi.

__ADS_1


Suasana kembali hening. Alfaro tak henti-hentinya tersenyum namun matanya berkaca-kaca. Arumi menjadi salah tingkah sendiri, ingin kabur tapi tidak bisa, ingin meluapkan semua kisah kelam di masa lalu tapi lidahnya terlalu keluh, hatinya terlalu sakit untuk mengulang kembali meski hanya lewat cerita.


"Bagaimana kalau kita mendengarkan musik." Alfaro menyambungkan perangkat bluetooth di ponselnya ke music player mobil itu. Lagu itu mulai terdengar, lagu yang pernah Arumi nyanyikan di acara camping tahunan masa itu. Alfaro punya caranya sendiri untuk mengaduk-aduk perasaan sang istri, secara perlahan, hingga hati mulai melunak.


Mendengar lagu itu, Arumi hampir tak bisa menahan tangisnya. Lagu yang dulu menjelaskan bagaimana perasaannya kepada Alfaro. Lagu yang ia nyanyikan di depan Alfaro dan semua karyawan perusahaan.


"Matikan musiknya," pinta Arumi yang terdengar lemah.


"Tidak mau," ucap Alfaro seraya menggeleng perlahan.


Tangan Arumi bergerak untuk mematikan pemutar musik, namun Alfaro langsung menyingkirkan tanganya agar menjauh dari pemutar musik itu.


"Jangan sentuh mobil orang sembarangan," ucap Alfaro lalu kembali tersenyum jahil kepada sang istri.


Arumi terperangah tak percaya, "Hah, apa kamu selalu sekasar ini sejak dulu?"


Suasana kembali hening sesaat. Mereka larut dengan pikiran mereka sendiri. Sepertinya sikap konyol Alfaro mampu membuat Arumi terlihat lebih tenang. Arumi kembali menatap Alfaro saat ia sadar tidak seharusnya ia setenang ini.


"Aneh ... pasti ada yang salah dengan diriku, harusnya aku membenci mu, harusnya aku tidak setenang ini sekarang setelah apa yang kamu dan Mama perbuat padaku," ucap Arumi saat kembali memberanikan diri menatap netra coklat sang suami.


Alfaro yang mulanya duduk bersandar, kini menegapkan badannya. Menatap sang istri yang saat ini mulai membuka isi hati yang ingin Alfaro dengar sejak tadi.


"Kamu pergi begitu saja, membiarkan ku di perlakukan seperti hewan dan di buang di jalanan oleh Mama, aku benar-benar membenci mu," ucap Arumi yang tak bisa lagi menahan perasaannya.


Deg.


Bagai tersambar petir di siang bolong, fakta yang dibeberkan Arumi benar-benar memukul batin Alfaro. Jadi selama ini Mama adalah penyebab Arumi menghilang. Ia seperti orang bodoh selama empat tahun karena keegoisan Mamanya sendiri.

__ADS_1


"Kamu sudah salahpaham ... aku tidak pergi meninggalkan mu, tapi aku terlibat kecelakaan hingga koma beberapa hari. Kamu pikir kamu saja yang tersiksa, aku juga. Saat aku sadar dan Mama bilang kamu menghilang, aku seperti orang gila karena ingin menemukan mu," tutur Alfaro yang terlihat emosional.


Arumi menyunggingkan bibirnya. Mengetahui fakta bahwa ia dan Alfaro di permaikan oleh Mama, membuat ia semakin sadar bahwa Mama begitu membencinya hingga berbuat sejauh ini. Ia pikir kembali ke pelukan Alfaro hanya akan membuatnya mengulang kembali kenangan buruk yang tak bisa ia lupakan hingga saat ini. Mungkin ia sudah kebal, tapi bagaimana dengan Vino dan Viona, ia tidak mau kedua anaknya merasakan penolakan seperti yang ia alami.


"Semuanya sudah terlambat ... aku sudah bahagia dengan hidupku sendiri, terlalu berat untuk aku mengulang semuanya, aku harap kamu mengerti," ujar Arumi dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti.


Alfaro mendekat, mengusap air mata yang membasahi wajah sang istri, "Aku tidak akan memaksa, tapi aku hanya ingin bertanya satu hal ... apa kamu masih mencintai ku?"


Arumi hanya diam seraya menatap sang suami dengan begitu lekat. Ingin rasanya ia berteriak jika ia masih amat mencintai sang suami. Namun lagi-lagi ego behasil menguasai diri.


"Tidak, aku sudah tidak mencintai mu lagi," ucapnya dengan lugas.


Alfaro menggeleng tak percaya. Jawaban itu bukanlah jawaban yang ia ingin dengarkan dari mulut Arumi, "Tidak mungkin."


"Empat tahun menjadi orang tua tunggal, membesarkan anak-anak tanpa mu, aku belajar banyak hal, jika semuanya bisa ku lakukan sendiri tanpa seorang laki-laki" ucap Arumi, tanpa sadar ia kembali membuka sebuah rahasia yang membuat Alfaro kembali tercengang.


"Anak-anak? Apa maksudmu."


"Saat aku diusir oleh Mama dan saat itu juga aku mengetahui bahwa aku sedang hamil, hatiku kian hancur saat mengetahui bahwa janin di rahim ku ada dua ... Mereka tumbuh dengan baik meski hidup sederhana," jelas Arumi.


Alfaro menarik rambutnya ke belakang lalu memukul setir mobil hingga beberapa kali. Ia marah kepada dirinya sendiri karena membiarkan Arumi dan anak-anaknya melalui masa sulit bertahun-tahun. Alfaro kembali menoleh kearah Arumi yang masih mamandanginya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tahu kamu pasti sangat membenciku ... tapi apa aku boleh bertemu mereka, anak-anak kita," pinta Alfaro yang terdengar lirih, hingga tanpa sadar buliran bening itu keluar dari sudut matanya.


Arumi bisa merasakan ketulusan dari permintaan Alfaro. Ia tidak ingin menjadi orang tua yang egois. Meski hatinya masih trauma namun setidaknya Vino dan Viona harus tahu siapa ayah mereka.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2