Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.105 (Tengah malam di ruang kerja)


__ADS_3

Almira masuk kedalam Mansion. Terlihat Mama sedang menyuapi bubur kepada Vino dan Viona seraya mengobrol dengan sang kakak ipar. Langsung saja ia melangkah medekati mereka.


"Selamat sore semuanya," sapa Almira.


"Onty!!" seru Vino dan Viona saat menyadari kedatangan Almira.


"Vino sama Viona sudah sembuh ya sayang," ucap Almira seraya mengusap kepala si kembar secara bergantian.


"Sudah onty, tapi Mommy sama Oma nggak mau beliin Ino es kim," ucap Vino dengan wajah cemberutnya.


Almira hanya bisa terkekeh mendengar ucapan kedua keponakannya, "Nanti kalau Vino sama Viona sudah berhenti pilek, baru boleh beli es krim ya."


"Yaahh, lama onty," keluh viona dengan wajah cemberutnya.


"Kamu sendiri bagaimana, sudah tidak sedih lagi kan di tinggal Bima?" tanya Mama tiba-tiba.


Almira terdiam sebentar, ia hanya tersenyum seraya berpikir. Bagaimana cara menjelaskan perasaannya, sejak kemarin pun Bima sibuk dan tak membalas pesan darinya. Ini terlalu berat untuk wanita yang cintanya seakan di gantung dengan ketidakpastian.


Melihat wajah Almira yang tiba-tiba saja berubah menjadi sendu, Mama dan Arumi saling memandangi satu sama lain. Semenjak kepergian Bima, Almira lebih banyak menyendiri dan tak banyak bicara. Tangan Arumi bergerak, meraih tangan Almira yang saat ini sedang duduk di sampingnya.


"Mira kamu baik-baik saja?" tanya Arumi.


"Oh iya kak, aku baik-baik saja," jawab Almira yang tetap berusaha tersenyum.


"Bima itu orang yang pendiriannya sangat kuat, jadi kamu tidak perlu meragukan perasaannya," ujar Arumi.


"Kamu jangan sedih begitu, apa perlu kita ke Malaysia untuk bertemu Bima," ucap Mama sambil menepuk pelan pundak Almira.


"Tidak perlu seperti itu juga Ma, aku baik-baik saja," ucap Almira.


Klek.

__ADS_1


Pintu utama kembali terbuka, Arumi mengalihkan fokusnya kerah pintu dan ternyata yang datang adalah suaminya, Aril dan Dinda. Semenjak kepulangannya dari London, Arumi belum sempat menemui Dinda.


"Daddy!" Vino dan Viona beranjak dari posisi mereka dan langsung berhambur memeluk Alfaro.


"Wah pasangan baru kita akhirnya datang juga," ucap Almira saat melihat kedatangan Aril dan Dinda.


"Apa, Pasangan?" ucap Arumi yang masih nampak bingung.


"Sekarang mereka sudah resmi pacaran," sahut Alfaro.


Arumi melihat Aril dan Dinda secara bergantian. Setelah sekian tahun sahabatnya itu menyandang gelar jomblo. Sekarang ia bisa merasa lega karena nyatanya dugaannya selama ini benar, Aril lah yang akhirnya berhasil menaklukkan hati Dinda.


"Selamat ya Din, akhirnya."


"Iya Rumi, terimakasih.


"Wah jangan lupa undang Tante ya kalau kalian menikah," ucap Mama.


Almira yang duduk di hadapan Aril dan Dinda, merasa begitu iri. Andai ia dan Bima juga bisa seperti mereka. Entah kenapa, ia semakin terbawa perasaan jika melihat pasangan lain, yang bisa bersama setiap hari. Sementara ia dan Bima harus menjalani hubungan jarak jauh.


Baru beberapa hari dan kamu sudah susah di hubungi, apa kamu tidak punya sedikit saja waktu untuk sekedar membalas pesan ku? Pesan yang kamu minta untuk aku kirim tiga kali sehari, batin Almira.


...***...


Menjelang tengah malam, saat anak-anaknya sudah tidur, Arumi menghapiri Alfaro yang sudah beberapa hari ini selalu sibuk di belakang meja kerjanya. Dengan gaun tidur yang lain dari biasanya, ia melangkah sampai kedepan meja kerja suaminya.


Menyadari kedatangan seseorang, Alfaro mengangkat kepalanya, melihat wanita yang malam ini semakin mempesona di tengah kesibukannya. Cobaan apa lagi ini, pikir Alfaro, saat melihat sang istri yang memakai lingerie meski tidak terlalu terbuka dan tidak menerawang tapi berhasil membuat fokusnya menjadi buyar.


"Kenapa Mas?"


"Kamu kenapa memakai pakaian itu?"

__ADS_1


"Oh tadi aku masuk ke walk in closet, dan ternyata pakaian tidur ku yang dulu, masih tergantung disana, jadi aku pakai saja ... Mas sedang mengerjakan apa?"


"Oh ini hanya beberapa berkas saja, kemarilah."


Arumi melangkah medekati suaminya. Dan dengan satu gerakan Alfaro langsung membawa Arumi kedalam pangkuannya, Arumi duduk menyamping seraya membelai wajah suami yang di tumbuhi bulu halus, menambah aura karismatik yang semakin membuat ia terpesona.


Arumi nampak terkejut, tapi ia paham jika suaminya pasti merindukanya dan begitu juga dengan dirinya. Semenjak bulan madu itu, Arumi selalu ingin dekat dengan suaminya, karena saat di kamar, mereka tak leluasa karena terpisah di antara Vino dan Viona.


"Kamar yang ada di samping kamar kita itu kosong, bagaimana jika kamar itu kita jadikan kamar Vino dan Viona."


"Mereka belum pernah tidur terpisah dariku Mas, mungkin akan susah untuk membujuk mereka."


"Mungkin jika di dekorasi dengan gambar yang lucu dan menarik mereka akan suka ... jujur aku selalu merindukan saat bisa tidur sambil memeluk kamu di tambah lagi jika aku sedang menginginkannya.


Alfaro menciumi lengan Arumi dengan tangan yang sudah menempel di pinggang sang istri. Mereka saling menatap hingga saling melempar senyum. Arumi mendekatkan wajahnya dan dengan berani mencium suaminya terlebih dahulu, bagaimana hasrat Alfaro tidak timbul jika sang istri yang tiba-tiba saja menjadi agresif.


"Bagaimana jika disini saja," ucap Alfaro saat melepaskan ciuman itu.


Arumi beranjak dari pangkuan suaminya, "Selesaikan dulu perkejaaan mu Mas, baru kamu boleh membicarakan hal itu," ucap Arumi lalu melangkah menuju sofa, dan langsung membaringkan tubuhnya disana.


"What!" ucap Alfaro tak percaya, Arumi selalu berhasil membuatnya tersiksa. Namun ada benarnya juga, jika mereka langsung bercinta, sudah di pastikan pekerjaannya tidak akan selesai.


Alfaro kembali fokus ke layar laptopnya. Namun matanya tak henti-hentinya melirik kearah sofa di mana sang istri sedang berbaring terlentang sambil membaca sebuah buku. Ia berusaha untuk tetap fokus dan tidak tergoda, tapi saat matanya tak bisa di kontrol.


Akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya. Berjalan dengan cepat menuju sofa ruang kerja. Karena terlalu fokus ke buku yang ada di yang ada di tangan, Arumi tak tidak sempat bertindak, suaminya sudah lebih dulu menindih tubuhnya.


"Mas, kenapa tidak selesaikan pekerjaan dulu," ucap Arumi yang terlihat kaget karena Alfaro yang terus menciumi bagian pundak hingga ke lehernya.


Alfaro menghentikan sejenak aktivitasnya, menatap wajah sang istri yang saat ini sudah bersemu merah, "Kamu sangat menggoda, bagaimana aku bisa menahannya." Tanpa menunda waktu ia kembali menyatukan bibirnya dan Arumi.


Malam itu, di ruang kerja yang biasanya terasa sunyi, saat ini terdengar suara eluhan dari keduanya. Mau dimanapun itu saat hasrat sudah membuncah dan ingin tersalurkan, apalagi sang istri yang begitu terlihat menantang maka terjadilah yang harus terjadi. Mungkin setelah ini akan hadir kembali penerus keluarga Wilson selain Vino dan Viona.

__ADS_1


Bersambung 💓


__ADS_2