
Alfaro sampai di sebuah gedung restaurant bintang lima, bergaya modern namun dengan sentuhan etnik jepang yang sangat kental. Di lihatnya jam di tangan yang tepat menunjukkan pukul tujuh malam. Tepat jam yang di janjikan untuk makan malam bersama keluarga dari rekan bisnis mendiang ayahnya.
Sedikit-sedikit walau terasa samar, nama Gunawan Hartanto itu seakan tak asing di telinga Alfaro. Di masa silam, ia sering ikut dengan Ayah keliling dunia, mengenal banyak orang di usia belia. Tidak heran jika di umur dua puluh delapan tahun, Alfaro sudah bisa memiliki perusahaannya sendiri.
Saat masuk kedalam, tanpa repot-repot bertanya, seorang pelayan menghampirinya dan membimbing Alfaro untuk melangkah ke sebuah ruangan khusus tamu VIP restaurant itu. Pelayan membuka pintu ruangan itu. Obrolan hangat kini sedang terjalin antara dua keluarga yang sudah lama tak bertemu.
Semuanya berdiri dari posisi mereka, termaksud Mama dan juga Almira adiknya. Pria paru baya itu menghapiri Alfaro memeluk dengan tangan menepuk punggung, seakan melepas rindu dengan seorang anak kecil yang kini sudah dewasa, mapan dan berwibawa.
"Apa kabar Al, kamu benar-benar sudah banyak berubah," ucap Gunawan dengan tangan yang terus saja menepuk pundak Alfaro.
"Baik om," ucapanya singkat, lalu tersenyum kepada Gunawan. Raganya memang berada di sini, namun hati dan pikirannya terbang jauh ke sebuah tempat di mana wanita yang memenuhi pikirannya berada, apa yang di lakukan sang istri saat tidak ada dirinya, apakah dia sudah makan dan masih banyak lagi pertanyaan yang memenuhi kelapanya.
"Tampan sekali kamu Al, tante sudah dengar masalah perceraian itu dari Mama kamu, kamu sabar ya, wanita di dunia ini masih begitu banyak yang mengantri untuk kamu," ujar istri Gunawan.
"Iya Tante."
"Ayo kita duduk," ajak Mama.
"Iya ma."
Saat akan duduk, Alfaro tiba-tiba saja menangkap sesosok wanita yang juga duduk disana. Wanita itu tidak beranjak, menyambutnya seperti kedua orang tuanya.
"Bianca, perkenalkan ini adalah Alfaro anak dari rekan bisnis Daddy," ucap Gunawan.
Bianca berdiri dari posisinya, mengulurkan tangan di hadapan Alfaro, "Salam kenal, saya Bianca." Alfaro menyambut uluran tangan itu, " Saya Alfaro.
Perkenalan itu serasa singkat, sesingkat Alfaro yang langsung menarik tangannya setelah selesai memperkenalkan diri. Mereka akhirnya duduk bersama kedua orang tua yang menatap keduanya dengan tatapan penuh arti. Akankah makan malam ini ada maksud terselubung.
"Lihatlah, Bukankah mereka sangat cocok," ucap Mama tiba-tiba.
__ADS_1
Alfaro menoleh kesamping di mana Mamanya dan Almira sang adik sedang tertawa bersama orang tua Bianca. Sudah ia duga saat melihat seorang wanita muda bernama bianca itu berada disana, pasti Mamanya punya maksud tertentu.
~
Makan malam itu di penuhi dengan pujian kepada Alfaro dan juga Bianca, kedua orang tua mereka jelas-jelas sudah merencanakan ini sebelumnya. Entahlah baik Alfaro dan Bianca kedua tak bergeming, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Sebelum hal yang makin besar terjadi, Alfaro berpikir bahwa ia harus bicara kepada Bianca mengenai masalah ini. Alfaro tiba-tiba saja berdiri dari posisinya, mengarahkan pandangan kepada Bianca yang sedang mengaduk-aduk makanan hingga bentuknya tak estetik lagi.
"Bianca, bisa kita bicara sebentar."
Ucapan Alfaro itu membuat Mama, Almira, Bianca dan kedua orang tua Bianca menoleh kearahnya. Entah kenapa tiba-tiba saja Bianca terlihat antusias dan langsung berdiri dari posisinya.
"Baiklah, ada hal yang ingin aku katakan juga," kata Bianca.
Kedua orang tua mereka terlihat sangat senang. Karena merasa berhasil membuat Alfaro dan Bianca saling tertarik. Ya, begitulah ekpektasi kedua orang tua mereka.
Tak ingin membuang waktu, Alfaro berbalik keluar dari ruangan itu di ikuti Bianca yang menyusunya dari belakang. Mama dan kedua orang tua Bianca bersorak gembira setelah kepegian Alfaro dan Bianca.
"Benar sekali, ini pertanda jika sebentar lagi kita akan menjadi besan."Gunawan tertawa begitu kencang, mengekpresikan rasa bahagianya.
Almira yang juga berada di sana seakan di anggap tidak ada. para orang tua memang selalu punya dunia halu mereka sendiri, dunia yang tidak bisa di masuki anak muda seperti Almira.
~
Di bagian out door lantai dua restaurant berbintang itu, cahaya remang-remang dengan suasana hening yang mendominasi karena area out door restaurant itu hanya ramai saat siang hari saja, sedang saat malam hari, para pengunjung lebih memilih lokasi in door.
Alfaro dan Bianca melangkah beriringan sampai ke besi pembatas. Mereka terdiam sesaat memandangi jalan raya yang tepat berada di bawah mereka.
Bianca menoleh kepada Alfaro, sebagai seorang yang pertama kali mengajaknya bicara di tempat ini, ia bingung kenapa Alfaro tidak juga bicara. Haruskah ia dulu yang memulai.
__ADS_1
"Karena kamu hanya diam, saya akan bicara telebih dulu," ucap Bianca, menoleh kearah Alfaro seraya berpangku tangan.
Alfaro yang tadinya sedang memikirkan cara bicara kepada wanita asing di sampingnya ini, sontak saja menoleh saat mendengar ucapan Bianca.
"Bicaralah, apa yang ingin kamu katakan," ucap Alfaro yang terdengar datar.
Bianca kembali keposisinya, memegangi besi pembatas yang terasa dingin dan lembab akibat hujan rintik yang baru saja berhenti membasahi bumi. Ia menatap nanar kearah jalanan, dimana suara klason mobil yang terlibat kemacetan terdengar samar.
"Aku tau kamu juga mengerti maksud kedua orang tua kita, yang mengarah kearah perjodohan, aku ingin ... apapun yang terjadi kamu tidak boleh menerimanya, karena aku sudah memiliki pria yang aku cintai, pria yang masih aku rahasiakan dari keluarga ku, dia akan datang ke Indonesia sebentar lagi untuk melamar ku, dan aku tidak mau semua impian ku gagal hanya karena perjodohan ini," tutur Bianca yang terdengar lirih
Alfaro menyunggingkan senyumnya. Kenapa bisa kebetulan seperti ini. Ia tidak perlu repot-repot mematahkan hal yang membuatnya gelisah dan Bianca sudah melakukannya telebih dulu. Sungguh ini adalah kebetulan yang luar biasa.
"Aku tidak tau jika ternyata kita berada di situasi yang sama," ucap Alfaro yang tetap fokus menatap kedepan, dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celananya.
Bianca kurang mengerti dengan maksud Alfaro, ia menoleh kesamping di mana sekarang Alfaro sedang berdiri dengan jarak satu meter darinya.
"Apa maksud mu?"
"Aku juga sudah mempunyai wanita yang aku cintai ... kami sudah menikah secara diam-diam," jawab Alfaro yang sekarang sudah menoleh kepada Bianca.
"Apa!" seru Bianca saat mendengar jawaban Alfaro, ia pikir dirinya lah yang paling sulit jika perjodohan ini benar-benar terjadi, tapi ternyata Alfaro lebih tersudutkan lagi, "jadi kamu sudah menikah lagi?"
"Iya ... aku belum bisa mengatakan kepada Mama karena suatu alasan, tapi cepat atau lambat aku akan segera mengenalkannya secara resmi," ujar Alfaro.
"Huh, aku lega sekali ternyata kita mempunyai situasi yang sama, tapi bagaimana cara kita mengatakan hal ini kepada mereka, mungkin hari ini waktu yang tidak tepat," ucap Bianca bingung.
"Aku punya cara ... dan waktu itu sangat tepat untuk mengungkapkan semuanya," ujar Alfaro tiba-tiba.
"Benarkah, kapan?"
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊