Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.60 (Dia istriku)


__ADS_3

Bima menghentikan langkahnya saat dari jarak beberapa meter ia bisa melihat Arumi sedang memandang kearahnya. Ia terpana, melihat wanita yang memenuhi hati dan pikirannya terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Mami dan Daddy pun menoleh kearah Bima yang tiba-tiba saja berhenti.


"Bima, ayo kita sapa Alfaro dan Mamanya," ajak Mami.


"Mami dan Daddy duluan saja aku ada urusan sebentar," ucap Bima dengan tatapan yang terus saja mengarah kepada Arumi.


"Oke, nanti kamu menyusul saja ya."


Mami dan Daddy beranjak pergi. Bima juga kembali melangkah, menghampiri Arumi yang juga sedang melihat kearahnya. Hari ini, setelah pesta selesai, ia akan kembali menyatakan perasaannya satu kali lagi. Kalung itu juga ia bawa. Berharap Arumi akan menerimanya dengan senang hati.


"Hai Rumi," sapa Bima.


"Oh iya hai ... yang tadi itu siapa?" tanya Arumi.


"Oh itu orang tua ku, mereka kenal dekat dengan keluarga Wilson tepatnya mereka rekan bisnis," jawab Bima.


"Berati kamu orang kaya," sahut Dinda tiba-tiba.


"Ya tidak juga, yang kaya itu kedua orangtuaku," ujar Bima seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi selama ini kamu bekerja di WB grup untuk apa?" tanya Arumi.


"Untuk mencari jati diri dan hidup mandiri," jawabnya lagi.


"Wah keren sekali," ucap kiki kagum.


Arumi tersenyum bangga saat mendengarkan pengakuan Bima. Ia tidak menyangka Bima rela bekerja sebagai seorang karyawan biasa padahal Bima adalah anak orang berada. Mungkin di antara seribu hanya ada satu yang seperti Bima. Tapi sayang, Bima bukanlah pilihan hatinya.


"Rumi, apa nanti kita bicara sebentar setelah acara ini selesai?" tanya Bima.


"Oh itu ... baiklah." Arumi terlihat ragu-ragu, tapi ia juga tidak bisa menolak.


~

__ADS_1


Sementara di sisi ruangan lain Mama dan Almira sedang mengobrol dengan kedua orang tua Bima. Tak lama Alfaro dan Aril ikut bergabung bersama mereka. Meski Alfaro berada di sana, tapi matanya sibuk melihat ke sekeliling, mencari seseorang yang ia rindukan keberadaannya. Ia pun mulai berpikir jangan-jangan Arumi tidak datang.


"Bianca dan Bima mana?" tanya Mama kepada orang tua Bima.


"Bianca sebentar lagi datang, kalau Bima sedang mengobrol bersama temannya disana." Tunjuk Mami ke arah Bima yang sedang mengobrol dengan Arumi dan kawan-kawan.


Alfaro mengikuti arah telunjuk Mami. Akhirnya ia bisa melihat keberadaan Arumi. Namun pandangannya terhalang oleh Bima yang sedang mengobrol dengan sang istri. Cemburu? sudah pasti ia cemburu tapi setelah ini, mungkin Bima tidak lagi bisa tersenyum seperti itu.


"Loh itu bukannya kak Bianca," sahut Almira tiba-tiba saat melihat Bianca datang bersama seorang pria asing.


"Siapa pria yang di gandeng Bianca?" tanya Mama yang mulai terlihat kesal.


Bianca melambaikan tangan saat melihat kedua orangtuanya. Ia mengajak kekasihnya itu untuk menghampiri Mami dan Daddy-nya. Alfaro tersenyum saat melihat Bianca benar-benar datang dengan pria yang pernah ia katakan. Saat mereka bicara berdua di restaurant waktu itu, Alfaro dan Bianca memang berencana memperkenalkan pasangan mereka masing-masing, saat acara ulang tahun perusahaan Alfaro.


Kedua orang tua Bianca dan juga Mama Alfaro terlihat sangat terkejut saat dari jarak dekat apa yang mereka lihat benar-benar nyata. Bianca datang menggandeng tangan pria lain. Gagal sudah rencana perjodohan yang akan segera terealisasi.


"Mi..Dad, perkenalkan ini Albert pacar Bianca," ucap Bianca. Albert meyalami tangan kedua orang tua Bianca, Ia juga menyapa Alfaro yang sudah di ceritakan Bianca padannya.


"Pacar?" tanya Daddy.


Bianca memang tidak terbuka kepada kedua orangtuanya masalah percintaan. Namun kedua orangtuanya tidak pernah melarang Bianca untuk memilih pasangan hidup. Mengenalkan Bianca kepada Alfaro hanyalah sebuah referensi agar Bianca segera menikah. Jika sudah seperti ini kedua orang tua Bianca juga tidak bisa memaksakan kehendak mereka.


"Sudah satu tahun kami menjalani hubungan, tapi lima bulan belakangan kami LDR karena dia bekerja di London," tutur Bianca.


"Lalu bagaimana dengan rencana perjodohan Alfaro dan Bianca?" sahut Mama yang semakin di buat bingung dengan keadaan ini.


"Maaf Tante, tapi saya dan Alfaro sudah mempunyai pasangan kami masing-masing," ucap Bianca.


"Apa! Pasangan." Mama menoleh kearah Alfaro dengan tatapan mengintimidasi, "Apa benar yang di katakan Bianca?"


Alfaro menatap mata sang Mama sesaat dalam diam, mungkin setelah ini Mama akan murka padanya tapi keputusannya sudah bulat, suka tidak suka Mama harus belajar menerima Arumi.


"Iya Ma ... Bianca benar." Ucapan itu terlontar begitu juga. Mama hampir jatuh karena terkejut namun Almira langsung menahan sang Mama.

__ADS_1


"Katakan siapa dia?" tanya Mama.


"Sebentar lagi Mama juga akan tau." Alfaro melangkah menaiki panggung besar itu. Semua mata kini menoleh kearahnya, tidak terkecuali Arumi dan Bima. Arumi terseyum, akhirnya ia bisa kembali melihat Alfaro setelah dua malam berpisah. Ia berpikir Alfaro akan memberikan kata sambutan untuk membuka acara ulang tahun perusahaannya, tapi dugaan itu akan terbantahkan sebentar lagi.


Entah kenapa Aril menjadi tegang sendiri, tangan dan dahinya sampai berkeringat. Mungkin karena ia tahu betul bagaimana perjalanan Arumi dan Alfaro hingga akhirnya menjadi sebuah kisah yang nyata, bukan lagi kisah yang di setting sesuai kontrak. Sekarang Mic sudah di tangan, ia sudah bersiap untuk membuka tabir rahasia pernikahan yang menyiksa sekian lama.


"Selamat malam semuanya, di kesempatan kali ini saya Alfaro Wilson akan memberikan sebuah pengumuman penting untuk kalian semua." Alfaro berhenti sejenak, mencari keberadaan Arumi dari kerumunan orang di hadapannya. Saat mata sudah menangkap sosok Arumi yang tersenyum padanya, ia semakin mantap untuk melanjutkan kata-katanya.


"Mungkin kalian semua sudah tau, jika saya dan istri saya Sarah Wijaya sudah bercerai beberapa bulan yang lalu ... saya terpuruk cukup lama ... hingga seseorang tiba saja datang untuk menyembuhkan luka, mengisi hari-hari saya dengan senyum dan perhatian yang luar biasa."


Tadinya Arumi terlihat biasa-biasa saja saat mendengar Alfaro menyebutkan nama Sarah tapi saat Alfaro menyebutkan tentang wanita yang tiba-tiba saja datang kedalam hidupnya, ia mulai menegang, ia masih belum mengerti kenapa Alfaro mengatakan hal itu. Dinda hampir menangis haru karena menyaksikan detik-detik pengakuan cinta Alfaro.


"Wanita yang mencintai saya tanpa kondisi. Meskipun berawal dengan tidak di cintai, dia tidak apa-apa. Tidak dihargai, dia juga tidak apa-apa. Bukan tanpa status yang jelas juga dia tetap bahagia. Tapi ada suatu waktu saya sadar jika saya tidak bisa kehilangannya, saya membutuhkan dia dan ingin dia menggenggam tangan saya selamanya."


Alfaro dan Arumi memandang dalam kejauhan. Seolah hanya mereka saja di ruangan itu. Meski diam tapi hati mereka saling bicara. Air mata Arumi tiba-tiba saja keluar dari sudut matanya, karena apa dia juga tidak tahu. Melihat hal itu batin Alfaro menjadi tersiksa, matanya pun berkaca-kaca. Ingatan - ingatan tentang bagaimana ia menikahi Arumi hanya karena kebutuhan batin membuat ia amat menyesal.


"Dia adalah ... Arumi Irawan."


Mata Arumi membulat sempurna, saat Alfaro menyebutakan namanya. Seisi ruangan itu pun mendadak heboh. Mama semakin terlihat syok. Apa lagi Clara yang sempat menghina Arumi secara terang-terangan, mungkin setelah ini ia akan berlutut di hadapan Arumi.


Semua mata kini tertuju pada Arumi. Bima hampir tidak bisa menopang kakinya sendiri. Benarkah, benarkah ini nyata. Wanita yang menjadi cinta pertamanya sudah milik orang lain. Pelahan ia mundur, mundur alon-alon hingga menjauh di belakang Arumi. Kenyataan ini terlalu pahit untuk seseorang yang ingin kembali mencoba menyatakan perasaannya.


Alfaro melangkah turun dari atas panggung. Mengahampiri Arumi yang jauh di belakang. Orang-orang disana bergeser perlahan seolah memberi jalan untuk seorang pria yang akan menghampiri sang pujaan.


Satu.. dua.. tiga.


Akhirnya langkah itu terhenti saat jarak yang tersisa hanya setengah meter saja. Arumi diam terpaku tanpa bisa berkata apa-apa. Ia menatap sang suami dengan sejuta pertanyaan memenuhi pikirannya. Alfaro kembali tersenyum lalu meraih tangan kanan Arumi dan menggenggamnya dengan erat. Mic itu kembali di hadapkan di depan mulut, untuk sebuah pengakuan selanjutnya.


"Arumi adalah wanita yang mengubah seluruh dunia Alfaro Wilson, memberi cinta yang luar biasa dengan cara sederhana ... dia adalah istri ku." Alfaro meraih tekuk leher Arumi dan langsung mendaratkan ciuman di bibir merah padam itu. Arumi tak kuasa menolak karena sentuhan Alfaro pada bagian belakang lehernya selalu berhasil membuat ia tak berdaya.


Teriakan-teriakan histeris terdengar menggema di ruangan itu. Teriakan dari wanita yang iri dengan Arumi yang menjadi pelabuhan hati sang duda yang di puja-puja seluruh karyawan wanita WB grup. Bima masih berdiri di sana, sepuluh meter dari tempat Arumi dan Alfaro berada. Namun sedetik kemudian ia melangkah keluar dari tempat pesta. Jika ada orang yang paling teluka orang itu pastilah Bima.


Pengakuan luar biasa yang di lakukan di hadapan semua orang. Sekarang semua orang sudah tahu. Ini bukan berarti semuanya akan segera berakhir. Masih banyak kerikil-kerikil tajam yang akan menemani perjalanan cinta mereka.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2