Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.37 (Kedatangan yang mengejutkan)


__ADS_3

Menjelang sore, bus-bus itu akhirnya sampai di depan gedung WB grup. para peserta camping, secara bergantian turun dari bus itu. Perjalanan yang melelahkan, namun tentu saja tidak sebanding dengan apa yang telah di lewati bersama, menjalin keakraban sesama bagian dari perusahaan besar seperti WB grup.


Sebelum turun, Alfaro membisikkan sesuatu kepada Arumi. Ia meminta Arumi untuk menunggunya di halte bus yang tidak jauh dari kantor. Arumi hanya tersenyum dan mengangguk pelan lalu beranjak turun dari bus itu mendahului sang suami.


Bima sudah menunggu di sana, menunggu Arumi di depan lobby kantor. Ya, meskipun sudah di tolak, sepertinya Bima tidak menyerah begitu saja, ia masih terus berusaha mendekati Arumi. Saat melihat Arumi berjalan, hendak keluar dari halaman kantor, Bima dengan sigap menghapirinya.


"Rumi!" panggil Bima.


Sontak saja Arumi langsung menghentikan langkahnya, ia berbalik, memandangi Bima yang saat ini sedang berjalan kearahnya. Arumi terseyum, saat Bima sudah berada di depannya. Bima masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Aku antar kamu pulang ya?" ajak Bima.


"Ah itu ... aku tidak langsung pulang, aku harus pergi ke suatu tempat," ujar Arumi mencari alasan.


"Kemana? Biar aku antar," ajak Bima lagi.


"Emm itu ... aku harus mampir ke tempat teman ku yang ada di sekitar sini, lain kali saja ya," ujar Arumi.


"Oh begitu, baiklah," ucap Bima dengan ekspresi wajah kecewanya.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya, sampai jumpa besok."


Arumi menyeret kopernya, meninggalkan Bima yang masih berdiri di tempatnya. Arumi bukalah orang yang berbohong, tapi setelah masuk ke dunia yang di ciptakan Alfaro, ia harus sepandai mungkin mengatur kata-kata demi sebuah rahasia yang harus terjaga.


Bima berbalik pergi menuju basement. di mana mobil yang sudah ia siapkan sejak mereka berangkat ke kampung awan beberapa hari yang lalu. Perasaannya begitu campur aduk saat ini, di depan Arumi ia berusaha untuk tegar, namun pada kenyataannya, ia begitu rapuh karena Arumi adalah cinta pertamanya, cinta yang tak bisa ia dapatkan.


Setelah masuk kedalam mobil, Bima tak langsung pergi, ia membuka laci dask board mobilnya, mengambil sebuah kotak kecil berisikan sebuah kalung cantik yang sudah ia persiapkan untuk Arumi. Lagi-lagi ia menghela nafas panjang, seraya terus memandangi kalung yang tidak bisa ia berikan kepada Arumi.


Rencana itu begitu matang ia persiapkan, saat akan berangkat ke acara camping. Namun pada kenyataannya ia hanya bisa memeluk harapan kosong tanpa sang pujaan yang ia dambakan. Bima meraih ponselnya saat ia merasakan getaran di dalam saku celananya. Ternyata panggilan telepon itu dari sang mami.


"Ya, Mi?"


[Kamu sudah pulang sayang?]


"Iya, aku sedang dalam perjalanan pulang, ada apa?"


[Cepatlah pulang, mami dan Daddy sudah menyiapkan makan malam.]

__ADS_1


"Iya Mi, Sebentar lagi Bima sampai."


[Oke, Mami tunggu.]


Bima mematikan panggilan telepon itu. Ia kembali menoleh ke kotak cincin yang ada di genggaman tangannya lalu meletakkan kembali kotak itu di dalam laci dask board mobil. Bima menyalakan mesin mobil dan melaju pergi, meninggalkan basement gedung utama WB grup.


Saat akan keluar dari halaman gedung kantor, Aril yang sedang mengobrol dengan salah satu petugas keamanan, secara tidak sengaja melihat Bima sedang mengemudikan mobil Mercedes-Benz Maybach Exelero berwarna hitam itu keluar dari halaman gedung. Ia mengeryitkan keningnya, ia jelas melihat Bima di dalam mobil itu.


Bukannya dia laki-laki teman Nona, bagaimana bia seorang karyawan biasa mempunyai mobil semahal itu, apa aku hanya salah lihat, batin Aril.


...***...


Arumi beberapa kali melihat jam di tangannya. Hampir setengah jam ia duduk di halte itu sendiri, tapi Alfaro belum datang juga, hari sudah mulai gelap, dan langit terlihat sangat mendung sore ini, hingga matahari tak lagi menyapa sebelum terbenam.


Keheningan yang membelenggunya, membuat Arumi hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia menatap nanar kearah jalan yang hanya di lewati beberapa kendaraan saja. Dalam pikirannya ia merenung, setelah apa yang ia dan Alfaro lalui, langkah apa yang harus ia lakukan sekarang, meskipun ia bahagia karena rasa yang tak tepuk sebelah tangan. Tapi jujur saja ia masih bingung harus apa dan bagaimana, karena Alfaro bukanlah pria biasa. Ya, Alfaro menerimanya tapi bagaimana dengan dunianya apa juga akan menerima Arumi?


Arumi tersadar dari lamunannya, saat mobil mewah milik Alfaro membunyikan klakson. Alfaro turun dari mobil dan langsung menghampiri Arumi, Arumi pun segera beranjak dari duduknya untuk menyambut orang yang sejak tadi ia tunggu kedatangannya.


"Maaf aku lama, ada beberapa berkas yang harus aku ambil di kantor," jelas Alfaro yang sudah mengambil alih koper milik Arumi.


"Ayo naik, sepertinya akan turun hujan." Alfaro meraih tangan Arumi dan membawanya masuk kedalam mobil. Alfaro meletakkan koper Arumi ke bagasi lalu ikut masuk kedalam mobil.


~


Baru separuh perjalanan, dan akhirnya turun hujan. Sejenak Arumi seperti merasakan deja vu saat hujan kembali turun dengan gemuruh petir yang mengiringi. Hujan yang ada dalam benaknya saat ini, adalah hujan yang mempertemukan ia dan Alfaro waktu itu.


"Apa Mas ingat saat pertama kali menemukan ku?"


"Ya, tentu saja ... hujan yang mebawa kamu untuk ku, membawa kamu untuk ku," jawab Alfaro.


"Tiba-tiba saja aku ... teringat masa-masa penuh ketakutan itu, saat harus terus berlari dari kejaran lintah darat," tutur Arumi dengan wajah sendunya.


Alfaro menggerakkan tangannya, menggenggam tangan Arumi dengan erat, "Aku tidak akan pernah membiarkan kamu merasakan hal itu lagi seumur hidup mu." Mereka saling berpandangan kemudian saling melempar senyum. Semoga saja apa yang harapkan, akan berjalan sebagaimana mestinya.


~


Mobil Alfaro memasuki area Mansion. Saat mobil sudah terparkir di depan teras utama, Arumi dan Alfaro turun secara bergantian. Dari arah pintu utama, tiba-tiba saja Bi Ranti keluar menghapiri Arumi dan Alfaro dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Bibi kenapa?" tanya Alfaro saat melihat wajah Bi Ranti yang terlihat sangat panik.


"I-itu di dalam ada ...."


"Ada apa Bi?" tanya Arumi yang semakin penasaran.


"Nyonya besar dan Nona Almira datang," ucap Bi ranti pada akhirnya.


Alfaro dan Arumi saling melihat satu sama lain. Raut wajah Arumi tiba-tiba saja memucat. Ini terlalu tiba-tiba, ia bahkan belum siap untuk situasi ini.


"Kak Al!" seru Almira seraya berhambur memeluk sang kakak. Dari arah belakang Almira, Mama juga ikut menghampiri sang putra.


"Kak Al aku rindu," ucap Almira saat sudah dalam dekapan sang kakak.


"Kepala Mama masih pusing karena baru juga tiba, kamu kenapa ikut acara tidak penting seperti itu sih," keluh Mama seraya memijat-mijat kepalanya.


"Ini acara penting Ma, acara perusahaan ku."


Mama mengerutkan keningnya, saat melihat Arumi yang berdiri di belakang Alfaro. Wajah yang tentunya sangat asing untuk Mama dan Almira. Arumi hanya bisa diam dengan perasaan gugup yang mulai menghinggapi.


"Al, Dia siapa?" tanya Mama pada Alfaro


"Dia ... dia adalah ...."


"Dia siapa kak?" tanya Almira yang tidak sabar menunggu jawaban sang kakak.


"Saya keponakan Bi Ranti Nyonya," sahut Arumi tiba-tiba, Alfaro menoleh kebelakang, melihat Arumi dengan penuh tanda tanya. Bukan hanya Alfaro tapi Bi Ranti pun tak menyangka, Arumi akan mengatakan hal itu.


"Keponakan Bi Ranti? Lalu kenapa kamu bisa datang bersama anak saya?" tanya Mama dengan tatapan yang mulai mengintimidasi.


"Sa-saya, bekeja di perusahaan Tuan Al dan saat pulang saya membantu Bi Ranti d rumah ini, saya berterimakasih kepada Tuan Al yang sudah memberikan saya tumpangan hari ini," Tutur Arumi dengan sekuat hati.


Alfaro mencengkram erat kedua tangannya. Rasanya hatinya begitu sakit saat harus membiarkan Arumi mengatakan hal itu. Tapi ia juga tidak bisa mengelak jika sang Mama memang belum boleh mengetahui status Arumi sekarang, karena jika Mama tahu sudah pasti sang Mama akan mengamuk pada Arumi. Sekarang hanya ada satu pilihan yaitu Merahasiakannya dari sang mama demi melindungi Arumi tetap di sisinya.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2