Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.115 (Kedatangan)


__ADS_3

"Uncle Bi!!!" teriak Vino dan Viona saat Bi Ranti membuka pintu dan mendapati Bima berdiri di sana. Kedua bocah kembar itu berhambur memeluk Bima yang saat ini sedang merentangkan tangan untuk menyambut keduanya. Bima mensejajarkan diri dengan mereka, lalu mengecup kepala Vino dan Viona secara bergantian.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Bima saat melepaskan pelukannya.


"Baik uncle, sekalang Ino sudah bisa belenang loh," ujar Vino.


"Bohong uncle, Ino pakai pelampung," sahut Viona lalu menjulurkan lidahnya kepada Vino. Membuat Vino langsung mendengus kesal.


"Kenapa bilang-bilang sih!" seru Vino.


Bima hanya bisa terkekeh mendengar pertengkaran Vino dan Viona. Sudah lama ia tidak melihat hal itu, dan ternyata saat kembali bertemu, rasa rindu kepada si kembar akhirnya tercurah juga. Bi Ranti melangkah mendekat saat melihat Vino dan Viona tak juga berhenti berdebat.


"Uncle baru datang, masa sudah bertengkar," ucap Bi Ranti dengan nada lembut seperti biasa.


"Ups, sorry uncle," ucap keduanya secara bersamaan.


Bima hanya tersenyum kepada Vino dan Viona kemudian kembali berdiri dari posisinya. Ia tersenyum lalu menyalami tangan Bi Ranti, "Apa kabar Bi?"


"Baik Tuan, silahkan masuk tuan," ucap Bi Ranti.


"Iya Bi, Arumi dan Tante ada?" tanya Bima. Tadinya ia ingin menanyakan Almira, tapi ia kembali ingat, sudah pasti sang kekasih pergi bekerja pagi ini.


"Ada di dalam Tuan, Nona Arumi dan Nyonya pasti sangat senang melihat kedatangan Anda," ujar Bi Ranti.


Tanpa menunggu waktu, Bima menggandeng tangan si kembar masuk kedalam. Sementara Bi Ranti membantu Bima untuk menyeret koper masuk kedalam. Seperti yang Bi Ranti katakan, Saat Arumi dan Mama melihat kedatangan Bima. Mama dan Arumi langsung berdiri dari posisi mereka, tentu saja raut wajah keduanya sangat senang.


"Bima," ucap Arumi yang masih tak percaya jika yang duduk di hadapannya sekarang adalah Bima.


Vino dan Viona menarik tangan Bima, agar melangkah lebih cepat menuju ruang keluarga Mansion itu. Mama menyambut calon menantunya itu dengan pelukan hangat. Lalu mempersilahkannya untuk duduk.


"Kenapa kamu datang tiba-tiba tanpa memberitahu sebelumnya Bima? Almira pasti sangat senang jika tahu kamu akan datang," ujar Mama yang saat ini duduk di samping Arumi.


Bima terlihat berpikir sejenak, rasanya tidak mungkin ia mengatakan alasan konyol, kenapa tiba-tiba saja ia datang tanpa pemberitahuan, "Ehm ... itu saya hanya ada sedikit urusan Bisnis di sini."


"Oh begitu," ucap Mama seraya mengangguk perlahan.


Arumi memperhatikan wajah Bima yang begitu tegang dan cenderung pucat, ia pikir pasti Bima kelelahan, "Bima, kamu pasti sangat lelah karena baru saja sampai, kamu bisa beristirahat."

__ADS_1


"Iya terimakasih ... tapi aku ingin menemui Almira di kantor," ujar Bima.


"Nanti saja, setelah istirahat dan makan siang kamu bisa menjemputnya pulang kerja nanti, kebetulan hari ini dia di antar supir," sahut Mama.


"Oh begitu ... baiklah kalau begitu, saya akan istirahat sebentar," ujar Bima lalu beranjak dari posisi duduknya.


"Uncle ikut!" seru Vino dan Viona saat melihat Bima hendak beranjak pergi. Sontak Bima langsung menghentikan langkahnya.


"Sayang, uncle tidak mau kemana-mana, uncle cuma mau istirahat saja, nanti lagi mainnya," ucap Arumi, berusaha memberikan pengertian kepada kedua anaknya.


Vino dan Viona menundukkan kepala mereka dengan wajah cemberut yang tergambar jelas. Melihat hal itu, Bima kembali membalik posisinya, berlutut di hadapan kedua bocah itu.


"Nanti kita main lagi setelah makan siang, sekarang uncle mau istirahat sebentar ya," ujar Bima.


"Oke Uncle," ucap Vino dan Viona yang terdengar lemah.


"Anak pintar." Bima kembali berdiri dari posisinya, lalu melanjutkan langkahnya, naik kelantai dua Mansion itu. Bi Ranti sudah membawa kopernya naik, jadi Bima tidak perlu repot-repot untuk membawanya lagi.


Mama dan Arumi memandangi kepegian Bima sampai menghilang dari ujung tangga. Masih banyak pertanyaan yang ingin mereka ketahui, apakah kedatangan Bima ini juga berarti bahwa Bima sudah siap untuk meminang sang kekasih. Ingin rasanya bertanya tapi ini adalah hubungan Bima dan Almira, biarlah mereka sendiri yang mengatur bagaimana baiknya.


~


Pembukaan restaurant akan berlangsung pukul sepuluh pagi ini. Semenjak Almira baru sempat datang sore harinya. Dave memaklumi hal itu, karena ia mengerti jika Almira adalah seorang wanita karir yang sibuk. Sebentar ia merasa senang jika Almira datang terlambat, karena itu berarti ia bisa mengobrol berdua saja dengan Almira. Ia bahkan sudah mempersiapkan meja khusus dengan dua kursi di samping jendela besar.


"Tuan, semua sudah siap apa kita buka sekarang? Karena beberapa tamu penting sedang dalam perjalanan," ujar seorang wanita yang menjadi manager restaurant itu.


"Kalau begitu ayo kita buka," ucap Dave lalu melangkah mendekati pintu keluar.


~


Waktu pulang kerja akhirnya tiba juga. Saat ini Almira sedang berada di ruangan sang kakak untuk membahas sesuatu tentang pekerjaan mereka. Ia melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Sudah sangat terlambat untuk pergi ke acara pembukaan restaurant Dave.


Segera saja Almira berdiri dari posisinya seraya memasukkan kembali kertas-kertas yang ia bawa tadi. Alfaro yang tadinya sedang terlihat serius membaca dokumen di tangannya sontak saja mendongakkan kepala untuk melihat Almira yang terlihat sangat terburu-buru.


"Kamu mau kemana?" tanya Alfaro yang masih dalam posisi yang sama.


"Maaf kak, kita bahas lain kali saja ya .. aku ada sedikit urusan," ucap Almira sambil merapikan barang-barangnya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, apa pulang Malam?" tanya Alfaro lagi.


Almira menghentikan aktivitasnya sejenak, manatap sang kakak sedang dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan, "Aku mau ke restaurant teman ku yang aku ceritakan malam tadi." Ya, Almira sudah menceritakan semuanya kepada Mama, Alfaro dan Arumi, tentang Dave. Mama terlihat terpukul saat mengetahui jika Ayah Dave meninggal saat itu, namun Mama bisa bernafas lega saat mengetahui jika Dave dan keluarga sudah memaafkan dan berdamai dengan kenangan buruk di masalalu.


"Baiklah ... sampaikan salam ku padanya," ujar Alfaro.


"Iya kak, kalau begitu aku pulang dulu." Almira melangkah dengan cepat meninggal ruangan kakaknya. Bertepatan dengan itu juga Dinda juga hendak beranjak pulang.


"Mau pulang?" tanya Dinda.


"Oh iya Din," ucap Almira kemudian melirik kearah Aril yang masih sibuk di belakang meja kerjanya, "Loh kak Aril tidak pulang?"


Aril mengalihkan pandangannya kearah Almira, "Saya lembur hari ini bersama kakak tercinta Nona."


"Oh iya aku baru ingat, kak Al tadi bilang akan lembur malam ini."


"Kalau Begitu Dinda pulang sama aku saja, supirku pasti sudah di depan sekarang," ucap Almira kepada Dinda.


"Wah kebetulan sekali kalau begitu, kalau tidak merepotkan aku mau," ucap Dinda.


"Tentu saja tidak merepotkan, ayo." Almira menggadeng lengan Dinda. Mereka berjalan beriringan keluar dari dalam ruangan itu.


~


Sesampainya di halaman depan kantor. Almira dan Dinda sama-sama menghentikan langkah mereka saat melihat seorang pria dengan setelan casual, lengkap dengan topi dan kacamata hitam sedang bersandar di samping mobil yang sangat familiar bagi Almira, karena mobil itu adalah mobil miliknya.


Pria itu membuka kacamata hitam dan juga topinya. Bisa di bayangkan bagaimana ekspresi wajah Almira saat melihat wajah di balik kacamata dan topi itu. Matanya sampai berkaca-kaca saat tanpa di duga-duga, pria yang telah dirindukan keberadaannya, akhirnya datang juga.


"Bi-bima," ucap Almira dengan suara bergetar.


Tanpa menunda waktu, ia melangkah meninggalkan Dinda yang juga masih mematung di posisinya. Langkah Almira kian cepat saat ia sudah bisa melihat lebih jelas jika orang yang ada di hadapannya sekarang adalah Bima. Tanpa aba-aba, ia langsung melompat memeluk sang kekasih, tangannya melingkar indah di pinggang Bima.


Bima terlihat kaget, namun sedetik kemudian, ekspresi kaget itu berubah menjadi senyuman, ia mengusap lembut punggung Almira. Tak perduli di depan kantor dan di lihat banyak orang, karena rindu yang menggunung harus segera tercurahkan.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+votenya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2