Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab:54 (Salah sasaran)


__ADS_3

Alfaro kembali ke apartement dengan hasil yang nihil. Kakinya seakan tak lagi bisa menopang tubuhnya sendiri. Saat sampai depan pintu unit apartment miliknya, ia memukul pintu hingga beberapa kali untuk meluapkan kekesalannya yang tak bisa menemukan Arumi.


Malam pun sudah larut. Rasa percuma saja jika terus mencari namun tak mendapatkan hasil yang di harapkan. Saat pintu unit apartment itu terbuka, Alfaro mengeryitkan keningnya karena lampu ruang tamu yang sudah menyala. Ia yakin terakhir kali meninggalkan apartement, lampu itu masih dalam keadaan mati.


"Jangan-jangan, Arumi."


Dengan langkah cepat, Alfaro menelusuri setiap bagian ruangan yang kemungkinan terdapat Arumi. Ya, dia harap dugaannya kali ini tidak meleset, Arumi benar-benar pulang untuk mendengarkan penjelasannya. Harapan itu pun terasa kian pupus saat memasuki kamar dan juga keluar balkon namun tak juga ada Arumi disana.


Langkahnya pun tak sampai di situ saja. Ia kembali keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia melihat dari kejauhan, lampu dapur yang menyala. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan akhirnya yang ia dapati adalah.


"Aril," ucap Alfaro aaat melihat keberadaan sekertarisnya itu disana. Sedang menikmati makanan yang ia ambil dari dalam kulkas.


"Anda sudah pulang," ucap Aril dengan mulut penuh makanan.


Alfaro melangkah duduk di kursi meja makan. Berhadapan dengan Aril yang tetap fokus pada makananya, "Kenapa kamu bisa disini?"


Aril meraih air mineral dan meneguknya hingga habis, kemudian kembali beralih menatap sang Bos, "Saya mencoba menghubungi Anda tapi tidak aktif, jadi saya datang kemari dan anda tidak ada. Saya memutuskan untuk menunggu, untung saja saya masih ingat kode pintunya."


"Apa yang membuat kamu mau menunggu selama ini, apa ada sesuatu yang penting?"


"Itu dia, Anda pasti baru saja pulang dari mencari Nona kan?"


Alfaro medekatkan wajahnya, menatap tajam kearah Aril yang tiba-tiba saja mengatakan hal yang membuatnya gelisah sejak tadi, "Dimana istriku?" tanya Alfaro langsung ke inti yang ingin ia ketahui.


"Nona sedang di rumah Dinda," jawabnya.


Mendengar hal itu, langsung saja Alfaro berdiri dari duduknya. Meraih kembali kunci mobil untuk pergi menjemput Arumi. Namun Aril langsung mencegahnya, menarik lengan Alfaro agar mengehentikan langkahnya.


"Lepaskan, aku harus pergi menjemputnya?" ucap Alfaro yang sudah berbalik menatap sekertarisnya itu dengan tajam.


"Tenanglah Tuan, Nona akan baik-baik saja disana. Lagi pula ini sudah larut malam, biarkan Nona tenang, besok pagi saya akan menemani Anda untuk menjemput Nona," jelas Aril. Alfaro tertegun sesaat. Merenungi kata-kata Aril yang ada benarnya. Ia tidak boleh terburu-buru seperti ini.


"Baiklah, besok pagi kamu temani aku ke rumah Dinda. Menginap saja malam ini, aku malas jika harus menunggu kamu datang," ucap Alfaro yang sudah kembali duduk di kursi meja makan. Meraih sebotol air mineral dan langsung meneguknya.


"Menginap? Tidur dengan anda," ucap Aril dengan tatapan menggoda.


"Hey! Apa yang kau pikirkan, disini ada kamar tamu!" Alfaro melemparkan botol minuman yang ada di tangannya ke arah Aril untung saja Alfaro dengan sigap menangkap botol yang hampir mendarat di kepalanya, cukup tas belanja ibu yang pernah mendarat di sana.


"Haha, saya bercanda Tuan, anda serius sekali. Saya ini masih normal," ucap Aril sambil terkekeh sendiri.


"Benarkah? Sudah hampir lima tahun kamu menjadi sekretaris ku tapi tidak sekalipun kamu mempunyai pacar." Alfaro bediri dari posisinya menepuk pundak Aril hingga beberapa kali, " Kau pasti sebenarnya punya kelainan itu kan?"


"Saya benar-benar masih normal!" seru Aril kesal.

__ADS_1


...***...


Arumi kembali ke kamar setelah hampir tiga jam mengobrol dengan Ibu Dinda. Sudah hampir tengah malam tapi ia masih juga belum bisa terlelap. Hati Arumi gundah gulana, memikirkan Alfaro dan kata-kata Almira yang masih terngiang di pikirannya. Sendih memang tapi ia pergi seperti ini bukan untuk lari. Tapi hanya untuk menguatkan hati sebelum mendengar penjelasan Alfaro tentang perjodohan itu.


"Rumi kamu belum tidur?" tanya Dinda yang baru saja kembali ke kamar.


"Aku nggak bisa tidur," jawabnya.


Dinda menghela nafas dengan panjang. Ia tadi baru saja menerima panggilan telepon dari Aril. Yang mengatakan jika besok Aril dan Alfaro akan datang untuk menjemput Arumi.


'Sebentar lagi Rumi, dia akan datang untuk menjemput mu', batin Dinda


Dinda naik keatas tempat tidur, berbaring di samping Arumi yang saat ini sedang menatap nanar ke arah langit-langit kamarnya.


"Tenang lah, aku yakin suami kamu nggak mungkin ngehianatin kamu semudah itu, meskipun jarang ketemu sama Tuan Al, tapi aku tau dia pria yang setia," ucap Dinda yang saat ini menoleh kearah Arumi.


"Ya, mungkin kamu benar, tapi gimana kalau ini adalah keinginan Mamanya, apa ceritanya akan menjadi berbeda," ucap Arumi yang terus saja memandangi langit-langit kamar.


"Hey... kamu kenapa jadi selemah ini." Dinda memukul pundak Arumi pelan, "Dimana Arumi yang tangguh, tidak menye-menye yang aku kenal dulu."


"Entahlah, aku juga nggak mengenal diri ku sendiri saat mulai jatuh cinta untuk pertama kali," ucap Arumi sambil menatap kearah Dinda.


"Ck, teryata Cinta buat orang kehilangan jati diri, kalau gitu aku nggak mau jatuh cinta," ucap Dinda.


"Hehe, nggak sih," ucap Dinda.


Arumi kembali keposisinya, memandangi Langit-langit kamar yang hanya di terangi cahaya lampu tidur, "Jatuh cinta itu sensasinya luar biasa, kamu akan terus memikirkannya, hatimu bergetar bahkan hanya karena mendengar namanya, dan jantung mu pun akan serasa melompat dari rongga dada saat mendapatkan sentuhan darinya."


"Masa sih? Coba jelasin rasanya lebih rinci lagi gimana saat kamu dan Tuan Al ... kamu ngertikan maksud ku, aku jadi penasaran."


"Punya pacar terus nikah, itu intinya. Pikiran kamu mesum aja," ucap Arumi sambil menatap Dinda.


"Ya Rumi, ayo cerita." Dinda menggoyangkan tubuh Arumi,. mendesak agar segera mencritakan hal yang ingin ia ketahui.


"Tau ah, aku mau tidur." Arumi menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. Ia mencoba memejamkan mata, meski tak yakin bisa terlelap.


...***...


Alfaro terbangun dari tidurnya saat mendengar suara bel pintu berbunyi. Di lihatnya jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul enam pagi. Rasanya ia masih amat mengantuk karena malam tadi ia tidak bisa tidur dengan mudah seperti biasanya saat Arumi disisinya.


"Siapa yang bertamu sepagi ini," gumam Alfaro.


Saat kesadarannya mulai pulih, Alfaro beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu. Dari layar CCTV yang menempel di depan pintu bagian dalam pintu, ia melihat jika orang yang ada di luar adalah Mama dan adiknya Almira. Tanpa pikir panjang ia langsung membuka pintu.

__ADS_1


"Mama kenapa kemari pagi-pagi sekali?" tanya Alfaro saat pintu sudah terbuka, melihat sang Mama yang menatap tajam kearahnya dan juga Almira.


Mama tak menjawab pertanyaan Alfaro. Ia dan Almira melangkah masuk melewatinya. Alfaro pun segera menyusul Mama yang sudah masuk lebih dulu.


"Dimana dia?" tanya Mama tiba-tiba.


"Apa maksud mama?" tanya Alfaro bingung.


"Kamu sudah jarang pulang ke rumah pasti karena kamu punya wanita simpanan kan? Siapa wanita itu! Apa Sarah yang kembali lagi?" tanya Mama kesal.


Alfaro tak langsung menjawab ia tertegun sesaat. Melihat Alfaro yang hanya diam tanpa menjawab, Mama semakin curiga. Mama lansung berjalan menuju kamar, untuk mencari apa yang ia curigai.


Alfaro menatap Almira dengan tajam seolah meminta penjelasan kenapa Mama tiba-tiba saja jadi seperti ini. Almira hanya mengangkat bahu yang juga tak tahu menau.Ya, Mama penasaran kenapa Alfaro jarang pulang ke Mansion, ia berpikir jangan-jangan Alfaro mempunyai wanita simpanan atau mungkin Sarah, mantan istri yang kembali lagi.


Mama mencari ke kamar utama tapi kamar itu kosong. Tapi Mama tak menyerah disitu saja. Ia keluar dari kamar itu dan beranjak menuju kamar tamu.


"Ma, sudahlah, pulang saja sekarang," ucap Alfaro yang mengahadang langkah Mama.


"Mama tidak akan pulang sebelum menemukan apa yang Mama cari." Mama menggeser tubuh Alfaro lalu kembali melanjutkan langkahnya. Alfaro dan Almira pun segera menyusul.


Mama meraih hendel pintu dan langsung membukanya. Matanya membulat sempurna saat melihat seseorang sedang tertidur di atas ranjang dengan di tutupi selimut hingga ke ujung kepala. Almira pun juga nampak terkejut, ia pikir dugaan Mama benar, jika Al mempunyai wanita simpanan.


"Apa kamu mau mengelak lagi? Siapa dia!" Mama menatap Alfaro dengan mata memerah seraya menunjuk kearah ranjang.


"Ma tenang dulu, dia--"


"Ah sudahlah, lihatlah bagaimana Mama akan mencabik-cabiknya."


Mama berjalan mendekati ranjang dan dengan gerakan cepat ia menarik selimut itu hingga terjatuh ke lantai.


Huaaaaaaa!


Teriak Almira lalu menutup matanya saat yang didapati adalah Aril yang masih tertidur tanpa mengenakan baju dan celana panjang, tubuhnya hanya di balut dengan boxer saja. Mama diam terpaku, saat ekspektasinya tak sesuai kenyataan. Ia pun mulai menduga-duga jangan-jangan Alfaro sudah berpaling arah dengan menyukai sesama jenis. Alfaro hanya bisa mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, karena Mamanya pasti berpikir yang tidak-tidak.


"Ada apa ini ribut sekali," ucap Aril yang baru saja bangun dari tidurnya, ia bangkit dan duduk di atas tempat tidur, dengan kondisi yang belum normal. Matanya pun masih setengah terbuka.


"Kamu ... dia, kalian berdua," ucap Mama terbata-bata, seraya menunjuk Alfaro dan Aril secara bergantian. Mama memijat tekuk lehernya karena merasa tekanan darahnya tiba-tiba saja naik dan sedetik kemudian Mama jatuh pingsan.


"Mama!" Alfaro segera menghapiri sang Mama yang sudah tidak sadarkan diri.


Bersambung 💓


Sampai di sini dulu ya kakak-kakak semua, author lagi mau pergi shopping dulu😁🤭

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2