Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.90 (Tak ingin mengungkitnya lagi)


__ADS_3

Minggu pagi di kediaman keluarga Wilson. Almira keluar dari pintu utama, dengan mengunakan kaos ketat berwarna hitam, celana pendek, sepatu kets dan juga sebuah handuk kecil yang melingkar di bagian leher belakang, siap untuk berlari pagi, seraya menikmati suasana pagi yang nampak cerah.


Cahaya matahari yang masih terhalang embun pagi. Membuat udara begitu segar, Almira berlari kecil, keluar dari balik pagar tinggi yang menutupi seluruh bagian Mansion. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat tak jauh dari pagar itu Bima yang memakai jaket hitam tengah melakukan pemanasan. Sepertinya Bima juga akan berolahraga pagi. Langsung saja Almira menghapiri Bima.


"Bima, mau lari pagi juga?" tanya Almira saat sudah berada di hadapan Bima.


Bima yang mulanya tengah membungkukkan badan, kini mulai menegapkan kepala seraya melihat wanita di hadapannya dari ujung kaki hingga ujung kelapa. Ia sampai tak berkedip, kenapa bisa di pagi hari dan mungkin belum mandi, Almira tetap terlihat cantik. Apalagi dengan pakaian ketat yang membuat lekuk tubuhnya kian jelas terlihat.


"Oh ya begitulah ... kamu juga," kata Bima seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, kebetulan sekali," ucap Almira lalu terdiam sejenak, entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu gugup jika berhadapan dengan pria yang ada di hadapannya sekarang, "Kalau gitu, ayo lari."


Almira melangkah mendahului Bima. Melihat Almira yang sudah melangkah mendahuluinya, Bima pun langsung menyusul degan cepat, hingga dalam waktu singkat bisa mensejajarkan langkah dengan Almira.


"Kamu sudah biasa lari pagi seperti ini?" tanya Bima.


"Tidak juga ... aku hanya bisa berolahraga satu seminggu sekali saja," jawab Almira.


"Apa kamu mau kita berlomba?" tanya Bima.


"Berlomba ... berlomba apa?"


Bima menahan tangan Dinda agar mengehentikan langkahnya. Sebelum menjawab pertanyaan Almira, Bima mencoba mengatur nafasnya yang mulai tersengal-sengal.


"Kamu lihat taman yang ada di depan sana," kata Bima seraya menunjuk lurus kearah depan jalanan komplek perumahan elit itu.

__ADS_1


"Terus, kenapa?" tanya Almira bingung.


"Siapa yang bisa berlari paling cepat dan sampai di sana lebih dulu itu adalah pemenangnya," tutur Bima.


"Oke, siapa takut," ucap Almira seraya mengangguk pelan.


Almira dan Bima mulai mengambil ancang-ancang. Dalam hitungan satu sampai tiga, mereka mulai berlari sekencang mungkin. Awalnya Almira unggul, namun Bima dengan cepat menyusul dan mendahuluinya. Tak mau kalah cepat Almira berusaha untuk lebih mempercepat langkahnya tapi yang terjadi malah--


"Aakkk," keluh Almira saat terjatuh di aspal hingga membuat kutut kirinya memar dan sedikit berdarah.


"Kamu terluka," ucap Bima dengan wajah yang nampak sangat khwatir saat melihat luka di bagian lutut Almira yang sebenarnya hanya luka kecil.


"Oh ini tidak apa-apa, hanya luka kecil." Almira berusaha bangkit dari posisinya dengan di bantu oleh Bima.


Saat Almira sudah berdiri. Bima malah membungkukkan badan dengan posisi membelakanginya. Almira mengerti maksud Bima yang ingin menggendongnya tapi tentu saja ia tidak bisa semudah itu menerima tawaran laki-laki yang beberapa hari ini mengusik relung hati hingga tak bisa mengusai diri.


"Tidak perlu, aku benar-benar bisa jalan sendiri," tolak Almira.


"Ayolah naik, aku pegal jika terus seperti ini."


"Baiklah aku naik ya, jangan menyesal aku lumayan berat loh," ucap Almira lalu dengan hitungan detik ia melompat keatas punggung Bima.


"Hah, berat apanya? Kamu hanya seringan kapas," ucap Bima seraya melirik wajah Almira yang kini bertumpu di pundaknya. Wangi khas Almira begitu terasa hingga Bima mencoba mengatur ulang nafas yang mulai tak beraturan karena gugup.


"Kenapa diam, ayo jalan katanya tidak berat," ucap Almira.

__ADS_1


"Oke siap ya." Dalam hitungan ketiga, Bima berlari sambil menggedong Almira.


Almira tertawa senang sepanjang kaki Bima yang terus melangkah menuju taman yang kini tinggal berjarak dua puluh meter dari mereka. Mendengar tawa lepas Almira, membuat hati Bima merasakan sebuah sensasi berbeda. Karena baru kali ini ia bisa sedekat ini dengan seorang wanita.


Dulu, ia hanya bisa menghibur Arumi tanpa bisa menyentuhnya walau seujung rambut. Masa itu ia berusaha masuk, berusaha menggantikan posisi Alfaro, namun sekeras apapun ia berusaha Arumi tak juga berpaling.


Sekarang di sisi Almira. Jiwanya lebih lepas, hatinya terbuka luas untuk menyambut kebahagiaan yang ingin ia rajut dengan seseorang, masih dengan rasa yang sama tapi dengan orang yang berbeda.


Mungkin saat ini, Bima dalam proses mendalami perasaannya kepada Almira. Tak perlu terburu-buru, karena sejauh apapun kamu berusaha lari, jika dia yang di gariskan takdir untuk mu, maka kamu akan kembali ke titik itu lagi.


...***...


Sejak malam, setelah memutuskan perjalanan bulan madu mereka akan pergi ke London Inggris. Pagi ini Arumi terlihat sibuk memainkan ponselnya, mencari beberapa keperluan di media online untuk perjalanan yang akan tiba sebentar lagi. Alfaro yang saat ini tengah bermain dengan Vino dan Viona di sofa kamar nya, hanya tersenyum saat melihat Arumi yang begitu antusias.


"Mas, sekarang di London cuacanya bagaimana?" tanya Arumi seraya melangkah medekati anak dan suaminya.


"Disana sedang musim dingin, musim dingin berlangsung selama empat bulan, dari enam belas November sampai delapan belas Maret, dengan suhu tertinggi harian rata-rata di bawah sebelas derajat celcius. Bulan terdingin dalam setahun di Kota London adalah Februari, dengan rata-rata terendah empat derajat dan tertinggi sembilan derajat Celcius," jelas Alfaro seraya merakit mainan robot miik Vino.


Mendengar penjelasan sang suami. Arumi tidak menyangka jika suaminya itu tahu banyak tentang kota London. Arumi yang saat ini masih berdiri, perlahan terberingsut duduk di samping Alfaro, sambil mengelus pucuk kepala Viona yang nampak sangat serius dengan mainan boneka barunya.


"Mas tau banyak tentang London ya," ucap Arumi yang berhasil membuat Alfaro mengehentikan aktivitasnya dan menoleh kesamping, dimana Arumi sedang duduk.


"Oh itu ... tentu saja, aku sering melakukan perjalanan bisnis kesana," jelas Alfaro berbohong. Ia tertegun sesaat, memadangi wajah ceria sang istri dan juga anak-anaknya, rasanya begitu tidak penting untuk mengungkit masa lalu di tengah kebahagiaan keluarga kecilnya.


Baginya tidak ada gunanya lagi menjelaskan apa yang sudah berlalu. Ia dan mantan istrinya hanyalah sebuah cerita yang telah usai sebelum waktunya, menggantung tanpa ada akhir yang harus kembali di lanjutkan. Arumi adalah segalanya bagi Alfaro, kembali mengungkit kisah yang telah lalu hanya akan mebuat coretan tak berarti pada cerita yang tengah tertulis indah.

__ADS_1


"Daddy! kok mainannya belum selesai cihh," oceh Vino saat melihat Daddy-nya melamun.


"Oh iya, maafkan Daddy, sekarang Daddy lanjutkan lagi."


__ADS_2