Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.94 (Bulan madu part.2)


__ADS_3

Siang hari di langit London Inggris. Arumi berdiri di balkon kamarnya, menikmati pemandangan pagi yang tertuju langsung ke Big Ben dan Istana Westminster yang berjarak hanya beberapa kilometer saja dari Hotel tempatnya menginap. Cahaya matahari yang menerangi pagi ini tak membuat tumpukan salju itu mencair.


Jaket tiga lapis dengan syal yang melilit hingga menutupi setengah wajahnya membuat Arumi betah berlama-lama berdiri di luar sana. Ia tertegun sesaat, mengingat anak-anak yang kini jauh dari pandangan, untung saja Almira sedang setia mengirimkan Arumi foto anak-anaknya setiap saat .


Alfaro baru saja selesai berganti pakaian, karena hari ini mereka akan pergi berjalan-jalan ke kawasan salah satu ikon terkenal dari Inggris yaitu London Eye. Bentuknya bulat besar seperti wahana Bianglala yang ada di Dunia Fantasi Ancol, Jakarta.


London Eye yang disebut juga dengan julukan Millennium Wheel ini, terletak di samping Sungai Thames, pas di seberang Big Ben.


Roda besar ini akan berputar dengan pelan, dengan membawa tiga puluh dua kapsul yang menempel di sisi-sisinya. Kapsul dari kaca tersebut untuk membawa penumpang yang ingin menikmati Kota London dari atas London Eye.


Alfaro berdiri di samping sang istri. Menatap kearah yang sama, ia meraih tangan lalu menggenggamnya dengan erat. Rasanya seperti pengantin baru yang baru saja melalui malam pertama bersama. Mereka saling menatap, tatapan penuh cinta yang mampu menjelaskan segala perasaan di hati tanpa harus di jelaskan dengan kata-kata.


"Jadi ke London eye?" tanya bidan Alfaro.


"Hm, iya tentu saja, aku sudah bisa melihatnya dari sini, tapi rasanya kurang pas kalau kita tidak menaikinya," ujar Arumi.


"Kalau begitu ayo." Alfaro menarik tangan Arumi agar berjalan mengikutinya.


Alfaro dan Arumi meninggalkan kamar menuju lantai bawah. Dimana mobil yang sudah Alfaro persiapkan untuk ia dan sang istri menyusuri kota London. Sesampainya di depan lobby, Alfaro menuntun Arumi untuk masuk kedalam mobil. Namun Arumi menahan langkahnya, tidak mau masuk kedalam mobil.


"Kenapa berhenti, ayo masuk."


"Aku mau jalan kaki saja Mas, agar bisa melihat setiap sudut kota London dengan lebih jelas."


"Apa! Jalan kaki ... kamu yakin?"


"Iya yakin ... lagi pula jaraknya hanya beberapa kilometer dari sini."

__ADS_1


Alfaro berpikir sejenak. Ia tidak menyangka sang istri malah memilih jalan kaki dari pada naik mobil. Melihat wajah Arumi yang terlihat begitu yakin, ia pun tak kuasa untuk menolak. Karena ia sudah bertekad untuk menuruti keinginan sang istri selama berada di sana.


"Ya baiklah," ucap Alfaro lalu meraih tangan istrinya, " Ayo pergi."


Arumi tersenyum senang saat keinginannya di kabulkan oleh sang suami. Mereka berjalan beriringan, seraya bergandengan tangan, menyusuri seluk beluk kota metropolitan yang terkenal sebagai salah satu negara paling sibuk di dunia. Semua kebahagiaan yang kini tercipta baru sebagian kecil dari momen-momen manis yang akan selalu mewarnai hari-hari mereka.


Arumi menarik tangan suaminya, menyebrangi jalan raya yang di tutupi salju tebal hingga mobil yang belalu lalang tak sepadat biasanya. Dunia terasa hanya milik mereka, tak perduli berapa banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya, yang kini malah berkejar-kejaran seraya tertawa bahagia.


"Sayang jangan berlari nanti kamu jatuh!" teriak Alfaro saat sang istri sudah melangkah jauh mendahuluinya.


Arumi berbalik menatap suaminya, dengan tawa yang tak henti-hentinya tercipta. Ia melompat-lompat dengan kedua tangan yang melambai kepada sang suami. Alfaro terseyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ia bahagia, hari ini bisa melihat tawa lepas istrinya yang mampu mengalihkan dunianya.


Dia yang saat ini berada dihadapan ku, wanita yang mengubah segala sisi hidup yang dulu terasa hampa. Jangan hilangkan dia lagi dari dunia yang hanya berwarna dengan kehadirannya, batin Alfaro.


...***...


Untung saja situasi saat mereka datang cukup sepi. Hingga tak membutuhkan waktu lama untuk mereka bisa naik ke capsul roda berputar itu. Roda mulai berputar saat Arumi di rangkul suaminya. Dari atas sana, mereka bisa melihat Sungai Thames yang membentang dan juga Big Ben yang ada di seberang sana.


"Kamu suka?" tanya Alfaro seraya menciumi kepala sang istri.


"Sangat, terimakasih Mas." Arumi memeluk suaminya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang yang tertutup jaket tebal.


"Seharusnya aku yang berterimakasih, karena kamu mau kembali lagi, setelah apa yang harus kamu lalui bersama anak-anak kita," ucap Alfaro seraya menepuk lembut pundak sang istri, "Di sini, di tempat ini ... aku ingin memulai apa yang sudah kita lewatkan, aku ingin tertidur di pangkuan mu, aku ingin makan di suapi oleh mu, menghabiskan waktu seharian penuh dengan memeluk mu dan masih banyak hal yang belum kita lakukan sejak kita menikah."


Arumi menatap nanar kearah langit, dimana salju turun dengan teratur. Ia mengingat kembali bagaimana cara takdir mempertemukan mereka dan bagaimana cara takdir memisahkan mereka. Semua yang telah mereka lewati adalah bagian dari cerita cinta yang di penuhi ujian sebelum akhirnya kembali bersama.


"Aku sangat mencintaimu ... sangat mencintaimu hingga rasanya aku hampir gila karena sempat kehilangan kamu," ucap Alfaro kemudian melepaskan Arumi dari pelukannya, mereka saling menatap, hingga akhirnya Alfaro mendaratkan ciuman manis di bibir sang istri.

__ADS_1


Hujan salju di langit London Inggris, menjadi saksi bisu momen-momen indah yang tengah di rajut Alfaro dan Arumi. Cinta yang telah terikat dengan keyakinan yang sama kuat bahwa badai sekuat apapun tidak akan bisa memisahkan mereka lagi.


~


Setengah jam lamanya, Alfaro dan Arumi melewati momen-momen romantis didalam sebuah kapsul roda yang berputar. Akhirnya mereka turun, melanjutkan kembali perjalanan ke berbagai tempat di sepanjang pinggir Sungai Thames.


"Kita mau kemana lagi Mas?" tanya Arumi.


"Bagaimana kalau kita ke restaurant pizza yang ada di sekitar sini," ajak Alfaro.


"Pizza, baiklah sepertinya lezat." Arumi menggenggam tangan suaminya. berjalan beriringan menuju sebuah restaurant Pizza yang tidak jauh dari sana.


~


Saat mereka hampir sampai ke tempat tujuan. Langkah mereka langsung terhenti saat melihat seorang bocah laki-laki duduk sendirian di sebuah kursi di pinggir sungai. Bocah laki-laki itu terus menangis tanpa henti, seraya terus berteriak memanggil ibunya.


"Mas sepertinya anak itu terpisah dari orang tuanya."


"Sepertinya begitu."


"Ayo kita hampiri."


Arumi melangkah mendahului Alfaro. Ia Iangsung berlutut di hadapan bocah laki-laki yang terus menagis tanpa henti. Arumi begitu terenyuh saat mendengar bocah laki-laki itu memanggil-manggil Ibunya. Ya, sebagai seorang Ibu, ia bisa merasakan kesedihan anak laki-laki itu.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+votenya ya kakak, bunda semua 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2