Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.102 (Tragedi ondel-ondel)


__ADS_3

"Engkong!" teriak Dinda saat melihat Engkongnya turun dari mobil.


Dinda dan yang lainnya mengahampiri Engkong yang saat ini sedang berkacak pinggang seraya memicingkan mata karena melihat pria asing yang berdiri di samping cucu kebanggaannya. Ya, di keluarga besar itu, Dinda adalah cucu paling tua dan juga sampai saat ini baru Dinda yang menjadi sarana, jadi wajar jika Engkong begitu menyayangi Dinda.


Apalagi untuk urusan jodoh. Pastinya Engkong mau cucunya itu mendapatkan pria yang terbaik. Dan apakah orang itu adalah Aril, meski Dinda sudah yakin, tapi bagaimana dengan Engkong? Ujian itu akan segera dimulai, untuk seorang seketaris perusahaan WB grup yang mengejar cinta gadis Betawi.


"Masih kuat aja be, si sadli kemana?" tanya Ibu, menanyakan tentang adik laki-lakinya.


"Pulang ke kampung istrinya," ucap Engkong yang tak henti-hentinya melirik kearah Aril, "Ni siapa?"


Dinda maju kedepan dan langsung menggadeng tangan Aril, membuat Engkong Membulatkan mata, "Ini calon suami Dinda, namanya Aril."


Dengan sigap Engkong melepaskan tangan Dinda dari lengan Aril. Kemudian berdiri di antara Aril dan Dinda. Aril diam tak berkedip saat melihat Engkong yang ternyata lebih sangar dari bayangannya.


"Anak perempuan, main peluk-peluk aja, kagak baek," ucap Engkong kepada Dinda lalu beralih melihat Aril, "Nih juga, main terima-terima aje lu, seneng yak di peluk cucu gua."


"Yaelah be, kayak kagak pernah muda aja," sahut Ncing tiba-tiba.


Engkong menghela nafas berat, dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Aril, "Ya udah ayo masuk dah."


~


Sesampainya di dalam Aril duduk di hadapan Engkong, sementara Ibu, Ncing dan Dinda duduk di sofa panjang yang ada di samping kiri. Engkong terdiam sesaat, seraya menyeruput kopi hitam dari sebuah mug stainless favoritnya.


Praaakkk


Tiba-tiba saja engkong menggebrak meja seraya melorotkan matanya. Membuat Aril, Ibu, Dinda dan Ncing, terperanjat kaget. Aril menelan salivanya sekuat tenaga saat telunjuk Engkong menarah lurus kepadanya. Semuanya nampak tegang karena Engkong yang diam sesaat, sampai pada akhirnya.


"Panas-panas lihat pohon pinang


pulang pasar pake baju renda


kalau mau hendak meminang

__ADS_1


punya apa lu buat si Dinda?"


Dan ternyata Engkong melemparkan pantun. Ibu, Dinda dan Ncing bisa benafas lega. Seketika juga dahi Aril mulai berkeringat. Bukan karena ia tak punya apa-apa, tapi ia terlalu gugup menghadapi Engkong. Jika masalah harta, apa yang kurang dari Aril, sekertaris sekaligus tangan kanan Alfaro Wilson, bisa dikatakan sangat mapan di usia yang baru menginjak dua puluh delapan tahun.


"Be, nak Aril ini kerja di perusahaan besar, orang kepercayaan bosnya. Kalau mobil, rumah, tanah dia punya semua," sahut Ibu tiba-tiba.


"Dasar mata duitan lu! Bukan itu maksud gua," ucap Engkong pada Ibu.


"Terus apaan Be?" tanya Ncing.


"Maksud gua, dia beneran cinta kagak sama si Dinda, hati yang bersih sama ketulusan itu lebih penting dari harta, tahta," tutur Engkong.


"Saya tulus mencintai Dinda Engkong, untuk itu saya ada disini karena saya ingin meminta restu Engkong dan keluarga," tegas Aril meski wajah yang terlihat sangat pucat dan berkeringat.


"Ck, kalau begitu buktiin," ucap Engkong kemudian kembali menunjuk lurus kearah jendela yang mengarah ke teras depan, "Tuh ondel-ondel yang ngidupin Ibu Dinda, sampe biayain kuliah Dinda, sore ini juga elu ikut Engkong atraksi ondel-ondel di balai warga."


"Apa! Ondel-ondel, saya ikut?" tanya Aril memastikan.


"Ma-mau kok, hehe." Aril tidak bisa menolak, meski pada kenyataannya, ia pernah mengalami trauma di masa kecil karena ondel-ondel. Tapi demi Dinda ia akan melakukan apapun, demi sebuah restu untuk menjalani hubungan yang lebih serius.


...**...


Pukul empat sore setelah selesai makan siang dan beristirahat sebentar. Aril, Dinda, Engkong, Ibu dan Ncing. Berangkat menuju balai warga yang tidak jauh dari rumah, mereka cukup berjalan kaki saja tanpa harus mengendarai mobil ataupun motor.


Sesampainya di tempat itu situasi sudah lumayan ramai, anak-anak bermain kesana kemari dan para orang dewasa yang sedang menyaksikan pertunjukkan ondel-ondel sebagai hiburan di saat sore menjelang.


Atraksi ondel-ondel itu sudah biasa Engkong dan para seniman lain lakukan disana, sebagai bentuk latihan, menghibur warga dan juga menjaga tradisi agar tidak tenggelam di era modernisasi, yang saat ini mendominasi isi otak anak-anak masa kini.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Dinda saat melihat wajah Aril yang begitu pucat saat ini.


"Iya tidak apa-apa," jawabnya.


Aril melanjutkan langkahnya, bersama Engkong. Sementara Dinda dan yang lainnya duduk di teras balai warga untuk menonton pertunjukan. Suara alat musik tradisional mulai terdengar mengiringi, para pemain mulai masuk kedalam patung ondel-ondel itu.

__ADS_1


"Aril, lu masuk juga dah," pinta Engkong seraya menunjuk ondel-ondel yang berukuran dua kali tinggi tubuhnya.


"Masuk kedalam ondel-ondel Kong?" tanya Aril.


"Ya dimana lagi, bisa kagak?"


"Bi-bisa Engkong."


Aril menelan salivanya sekuat tenaga, keringatnya kembali bercucuran. Ia mendongakkan kepala, memandangi ondel-ondel yang dulu di masa kecil membuatnya trauma. Kemudian ia menoleh kearah Dinda yang saat sedang meneriaki namanya untuk memberi semangat.


Akhirnya Aril beranjak dari posisinya. Mendekati beberapa orang yang akan membantunya masuk kedalam badan ondel-ondel. Dalam hitungan detik Aril berhasil masuk kedalam badan ondel-ondel itu kakinya terasa lemas, keringat mengalir deras, nafasnya terasa sesak, hingga akhirnya ia mulai hilang kesadaran.


Para ondel-ondel itu mulai berjoget-joget saat mendengar suara dari alat musik tradisional yaitu tanjidor, Gambang dan alat musik lainnya. Namun Engkong dan semua orang itu yang ada disana memadangi patung ondel-ondel yang di dalamnya terdapat Aril, yang tak juga bergerak sejak tadi.


"Itu Aril kenapa kagak bergerak?" tanya Ncing.


"Jangan-jangan keberatan kali, dia belum biasa," ucap Ibu.


Dinda tidak menjawab dan tanpa pikir panjang, Dinda menghampiri patung ondel-ondel itu untuk memeriksa kondisi Aril. Engkong pun juga ikut menyusul, dengan di bantu beberapa orang lainnya, patung ondel-ondel itu di angkat. Betapa terkejutnya Dinda dan Engkong saat melihat Aril yang terjatuh pingsan. Dinda langsung duduk bersimpuh di hadapan Aril, meletakkan kepala Aril di atas pangkuannya.


"Gimana nih, masa Dinda belum nikah udah jadi janda," ucap Dinda yang tak bisa menahan tangisnya.


"Ngomong apa sih lu! Dia cuma pingsan," ucap Engkong.


"Bawa ke pulang kermah aja deh, bantuin dong," ucap Ibu panik.


Beberapa warga membantu mengangkat tubuh Aril untuk di bawa pulang kerumah engkong. Sementara Dinda, Ibu, Ncing dan juga Engkong menyusul dari belakang. Situasi tempat itu seketika menjadi heboh karena Aril yang nyatanya punya trauma tersendiri dengan ondel-ondel.


Bersambung 💓


Maaf semuanya, baru bisa up satu bab, karena author lagi sedikit ada Masalah karena novel author yang berjudul Cinta Pelayan Setia Tuan Muda di plagiat oleh seseorang di aplikasi lain, untuk hari ini author akan up dua bab lagi mungkin sore atau malam, harap di maklumi ya kakak-kakak semua 😊


Jangan lupa like komen and votenya readers biar author makin semangat 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2