Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.66 (Rencana jahat Mama)


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit bogor, Almira dan Mama hanya bisa memandangi Alfaro dari kaca jendela ruang ICU. Kecelakaan itu membuat kondisi Alfaro cukup parah, luka parah di bagian tulang rusuk hingga di kepala. Membuatnya langsung mendapatkan tindakan operasi. Saat Mama dan Almira sampai di rumah sakit Alfaro sudah bisa selesai di operasi.


Dari kaca jendela itu juga Mama dan Almira saling berpelukan, dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti. Begitu banyak selang yang menempel di tubuh Alfaro dengan monitor yang terus berbunyi setiap detiknya. Almira tidak menyangka Mamanya akan mengajaknya kemari. Tapi tiba-tiba saja yang ia pikirkan adalah Arumi, kenapa Mama tidak mengajak Arumi.


"Sial, aku tidak membawa ponsel," ucap Almira seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Untuk apa kamu mencari ponsel?" tanya Mama saat menoleh kearah Almira.


"Tentu saja untuk memberitahu Kak Rumi kalau kak Al sedang sekarat di rumah sakit, apa Mama membawa ponsel, aku akan menelpon ke telepon rumah saja," ucap Almira pada Mama.


"Tidak, Mama juga tidak membawa ponsel," ucap Mama berbohong. Ia tidak akan membiarkan Arumi datang kesana, dalam situasi seperti ini, Mama bisa leluasa menjauhkan Arumi dan Alfaro.


"Lalu bagaimana ini, apa sebaiknya aku pulang saja," ujar Almira.


"Tidak, kamu tetap disini, Mama yang akan pulang," sahut Mama.


"Baiklah, tolong ajak Arumi kemari dan jangan bersikap kasar padanya, sebaiknya Mama lupakan masalah pil KB itu, kakak sangat membutuhkan Kak Rumi sekarang," ucap Almira.


"Iya, kalau begitu Mama pergi dulu."


Mama menyeka air mata yang tersisa di sudut matanya lalu melangkah meninggalkan tempat itu. Almira memandangi kepegian Mama, sedikit terbersit dalam pikirannya, kenapa Mama mau-mau saja menjemput Arumi, apa karena sang kakak sedang dalam kondisi kritis, jadi Mama telah sadar. Entahlah, Almira berharap Mama benar-benar sudah sadar.


...***...

__ADS_1


Mata Arumi mengerjap perlahan. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan Malam. Cukup lama ia tertidur karena rasa pusing yang tiba-tiba saja menyerangnya. Ia menoleh kesamping dan menggedarkan pandangan ke sekeliling ruangan namun sepertinya suaminya belum pulang.


Dengan perlahan ia Bangkit dan turun dari atas ranjang. Ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Tak ada satupun notifikasi masuk dari Alfaro. Ia pun mulai berpikir apa Alfaro begitu marah kepadanya masalah obat itu. Apalagi saat mengingat ekspresi wajah Alfaro saat pergi pagi tadi, ia semakin yakin jika suaminya itu pasti sangat kecewa padanya.


Arumi meletakkan kembali ponselnya di atas nakas lalu beranjak keluar dari kamar. Saat turun kelantai dasar suasana begitu sunyi ia seolah di tinggalkan sendirian di rumah besar itu. Kembali ia melanjutkan langkahnya menuju dapur namun tak juga menemukan Bi Ranti dan para pelayan lain. Ia hanya meminum air putih kemudian beranjak pergi dari sana.


Saat akan kembali ke lantai atas, tiba-tiba pintu utama terbuka dan Mama muncul dari sana. Mama tidak sendiri tapi ada dua orang pria lain yang mengikuti dari belakang. Arumi perlahan mundur hingga menumbur tembok saat Mama melangkah semakin mendekat kearahnya.


"Mama dari mana ... dan mereka siapa?" tanya Arumi ragu-ragu.


"Jangan banyak berbasa-basi ... mereka adalah orang-orang yang akan membawa kamu pergi jauh dari sini, karena anak saya Alfaro sudah tidak mau betemu dengan kamu lagi," cetus Mama sambil berpangku tangan.


"A-apa ... tidak mungkin, Mas Al tidak mungkin seperti itu, dimana Mas Al sekarang?" tanya Arumi, ucapan Mama begitu mustahil baginya.


"Sekarang dia sudah berangkat ke Amerika dan sebentar lagi Saya dan Almira akan menyusulnya, tapi sebelum itu Alfaro meminta agar kamu pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi!" hardik Mama dengan emosi yang meluap-luap.


"Dasar tidak tahu diri," ucap Mama lalu menoleh kearah dua preman yang ia sewa dari informasi yang di dapatkan dari seorang temannya. Untuk apa lagi jika bukan untuk membawa Arumi meninggalkan Mansion itu, "Bawa dia."


Dua orang bertubuh kekar itu melangkah melewati Mama lalu memegang tangan Arumi sampai Arumi tidak bisa kabur.


"Lepaskan ... lepaskan saya!!" teriak Arumi namun tak di pedulikan oleh Mama dan kedua orang itu.


Saat sampai di halaman depan, Arumi di bawa masuk kedalam mobil. Para petugas keamanan Mansion mengahampiri mereka namun tak ada satupun yang berani melawan atau membela Arumi. Mereka hanya bisa melihat Arumi di paksa masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Bawa dia pergi jauh dari sini!" seru Mama saat kedua orang itu hendak pergi dengan membawa Arumi.


"Ma, tolong lepaskan aku, aku ingin bertemu dengan Mas Al." Arumi memukul-mukul kaca jendela itu seraya berteriak kepada Mama yang berdiri di luar, Air mata Arumi akhirnya keluar juga, namun Mama tak bergeming, melihat Arumi pun tidak.


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Mansion yang menjadi saksi bisu dari kejadian yang tidak akan pernah di lupakan Arumi seumur hidupnya. Mama melihat satu persatu petugas keamanan Mansion yang menatapnnya dengan bingung.


"Jika kalian ingin terus bekerja disini, maka tutup rapat-rapat mulut dan mata kalian dari kejadian ini, jika ada yang datang dan bertanya tentang anak saya, katakan kalau dia sedang pergi ke luar negeri, tenang saja saya akan membayar kalian dengan harga yang setimpal."


...***...


Dalam perjalanan, ketempat yang Arumi juga tidak tahu akan dibawa kemana. Ia mencoba tenang dan berpikir bagaimana ia bisa lepas dari kedua pria ini. Ia harus segera kabur sebelum kedua orang ini membawanya semakin jauh. Ia memandangi punggung pria yang sedang menyetir di depannya, saat melirik kesamping, pria yang satunya lagi sedang lengah akhirnya dengan gerakan cepat Arumi menggigit punggung pria yang ada di depannya.


Aaaaakkkk.


Pria itu berteriak kesakitan. Hingga mengerem mendadak di tengah jalan sepi itu. Tidak sampai di situ saja, ia menendang alat vital pria yang ada di sampingnya hingga meringis kesakitan. Arumi tak melewatkan kesempatannya untuk kabur, ia segera turun dari dalam mobil dan berlari sekencang mungkin.


Kedua pria itu keluar dari mobil dan langsung mengejar Arumi. Tanpa alas kaki yang membalut kaki rapuhnya, ia berlari sekencang mungkin, menebus jalanan sepi itu. Situasi ini kembali terulang. Situasi yang sama saat ia di kejar-kejar rentenir saat pertama kali bertemu Alfaro.


Kenapa takdir membawanya kembali merasakan ketakutan yang sama seperti saat itu. Kehidupan Arumi bagai sebuah labirin dimana ia berlari dan pada akhirnya sampai ke titik itu lagi tanpa menemukan jalan untuk keluar.


"Berhenti!!" Teriakan orang-orang yang mengejarnya membuat Arumi berlari semakin kencang. Saat kedua pria itu tidak terlihat Arumi bersembunyi di balik semak belukar di bahu jalan. Ia menutup mulutnya dengan tangan bergetar.


Kenapa, kenapa aku harus melalui ini lagi, dimana janji kamu Mas, yang tidak akan pergi dan menghilang dari ku, aku membutuhkan kamu sekarang, teriak Arumi dalam hati.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2