Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.104 ( kembali bekerja)


__ADS_3

Aril keluar dari Mobil dengan tergesa-gesa saat sampai di depan rumah Dinda. Pagi-pagi sekali ia sudah pulang dari rumah Engkong demi memberitahu kabar baik kepada kekasihnya itu.


Aril melangkah menuju teras. Tepat saat dia akan mengetuk pintu, Ibu sudah lebih dulu membuka pintu itu. Ibu tersenyum bahagia saat melihat calon menantunya itu datang dalam keadaan baik-baik saja.


"Gimana tadi malam, nak Aril kagak kenapa-napa kan?" tanya Ibu.


"Iya Bu, Engkong sudah merestui hubungan saya dan Dinda," jawabnya.


"Syukurlah ... kalau begitu temuin Dinda gih, Ibu mau ke pasar dulu," ucap Ibu yang sudah menenteng tas belanja legendnya.


"Baik Bu."


Ibu melangkah terlebih dahulu, melewati Aril setelah itu Aril langsung masuk kedalam. Di ketuk-nya pintu kamar Dinda yang memang berada tak jauh ruang tamu. Aril tahu betul pasti Dinda masih tidur sekarang.


Tok..tok..tok.


"Dinda, bangun!" seru Aril dari luar.


Setelah beberapa saat akhirnya Dinda keluar dari kamar seraya mengucek-ngucek matanya. Lengkap dengan kaos oblong berwarna kuning kesayangan dan juga joger longgar berwarna hitam. Sepertinya Dinda belum normal karena baru saja bangun, ia hanya diam seraya memicingkan matanya.


"Aril ... Aril, kamu sudah datang," ucap Dinda pada akhirnya.


Aril menggangukkan kepalanya, "Engkong sudah merestui hubungan kita."


"Serius? Aaaaakkk, aku senang sekali."


Dinda langsung melompat dan memeluk sang kekasih. Mereka saling berpelukan sambil melompat-lompat kegirangan. Karena itu berarti jalan untuk mereka bersanding di pelaminan sudah terbuka lebar.


Di tengah kebahagiaan itu. Aril tiba-tiba saja diam dan berhenti melompat. Karena ia merasakan ada yang aneh saat Dinda memeluknya, rasanya benar-benar nyata seperti tidak terlapis apa-apa.


Dinda mendongakkan kepala, tanpa melepaskan pelukannya ia melihat sang kekasih yang tiba-tiba saja diam membeku. Raut wajah Aril pun menjadi berubah.


"Kenapa, apa ada yang salah?" tanya Dinda.


Aril menelan salivanya sekuat tenaga, "Ehm, apa kamu bisa berhenti memelukku sekarang."


"Kenapa? Sepertinya Ibu juga tidak ada di rumah."


"I-itu ... kamu tidak memakai b*a ya, karena sangat terasa begitu--" Ucapan Aril terpotong saat Dinda yang reflek melepaskan pelukannya dan menyilang-kan kedua tangan di depan dadanya.


Saat tidur Dinda memang sudah terbiasa melepaskan bra-nya demi kesehatan. Karena terlalu senang mendengar kabar dari Aril, ia sampai lupa akan hal itu. Suasana tiba-tiba saja menjadi canggung antara Aril dan Dinda yang baru saja mendapatkan kabar bahagia.

__ADS_1


"Ehm, kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa di kantor." Tanpa menunggu Dinda bicara, Aril langsung mengambil langkah seribu keluar dari rumah.


...***...


Pukul sembilan pagi di WB Group.


Aril berjalan menuju ruangannya seraya memijat-mijat tekuk leher yang terasa pegal. Karena malam tadi ia dan Engkong mengobrol hingga subuh. Saat masuk ruangan, Dinda sudah berada di belakang meja kerjanya.


"Akhirnya datang juga, tadi kamu di cari Tuan Alfaro," ucap Dinda yang tetap fokus ke depan laptopnya.


Aril melanjutkan langkahnya duduk di kursi yang ada di depan meja Dinda, "Maaf ... saat sampai di rumah tadi aku ketiduran, maka dari itu sedikit terlambat."


Dinda menyodorkan sebuah map kehadapan Aril. Map itu adalah hasil laporan selama Alfaro pergi berbulan madu, "Lebih baik sekarang kamu ke ruangannya, sebentar lagi ada rapat kan? Sepertinya mood tuan Al sedang tidak bagus pagi ini."


"Baiklah." Aril beranjak dari posisinya, meletakkan tas di atas meja kerjanya lalu melangkah menuju ruang kerja Alfaro.


Aril membuka pintu ruangan itu perlahan, namun ia tidak menemukan Alfaro di kursi kebesarannya. Ia mengedarkan pandangan mencari keseliling ruangan, dan ternyata Alfaro sedang tertidur di sofa. Mata Aril yang awalnya sayu kini mendadak membulat. Karena untuk pertama kalinya selama ia bekerja sebagai sekretaris Alfaro, akhirnya ia bisa melihat Sang Bos yang tertidur di saat jam kerja.


Perlahan Aril mendekat, ia duduk bersimpuh di hadapan Alfaro, seraya melambaikan tangan. Ia berusaha menahan tawanya, karena dugaannya benar, Alfaro benar-benar tertidur. Rasanya ia ingin membiarkan sang bos beristirahat namun, mau tidak mau ia harus membangunkannya.


"Tuan...tuan." Aril menepuk pundak Alfaro hingga beberapa kali sampai akhirnya sang bos terbangun dan langsung mengubah posisinya menjadi duduk.


"Oh kau sudah datang," ucap Alfaro saat melihat Aril berada di hadapannya.


"Mungkin aku masih kelelahan karena baru pulang dari London di tambah lagi Vino dan Viona malam tadi demam tinggi, aku tidak tidur semalaman.


Flashback on.


"Sayang bagunlah, sepertinya Vino dan Viona demam," ucap Alfaro seraya meletakkan telapak tangannya di dahi Vino dan Viona secara bergantian.


Perlahan Arumi bangkit dari posisinya, duduk di atas tempat tidur seraya menyentuh dahi Vino dan Viona, "Oh iya mas panas, sepertinya mereka demam."


Alfaro mengubah posisinya duduk bersila di depan si kembar yang terlihat gelisah, "Vino, Viona, sayang kalian baik-baik saja nak."


"Daddy, Ino pusing," ucap Vino yang terdengar lemah, saat mulai terbangun, sementara Viona masih terlelap meski terlihat gelisah dan mengeluh perlahan.


"Bagiamana kalau kita bawa mereka ke rumah sakit saja," ucap Alfaro pada Arumi.


"Ini sudah pukul tiga pagi Mas, tenanglah, ini hanya demam biasa, mungkin mereka kelelahan karena bermain di taman siang tadi," ucap Arumi kemudian beranjak turun dari ranjang, "Mas tolong jaga mereka sebentar ya, aku akan mengambil air hangat untuk kompres."


"Iya pergilah."

__ADS_1


Arumi melangkah dengan cepat keluar dari kamar, sementara Alfaro hanya bisa mengusap keringat yang bercucuran dari dahi kedua anaknya. Ini adalah pengalaman pertamanya, mengurus anak yang sedang demam, jadi wajar jika ia terlihat bingung. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba Viona terbangun dan langsung menangis, di ikuti oleh Vino yang juga ikut menangis.


Huaaa....huaaaa.


Alfaro semakin panik harus berbuat apa. Ia menggedong Vino dan Viona, berusaha untuk menenangkan kedua anak batita itu.


Klek.


Pintu terbuka dan Arumi muncul dengan sebuah baskom berisi air hangat dengan dua buah handuk kecil. Tak lupa ia juga membawa obat penurun panas yang memang sudah ia persiapkan untuk Vino dan Viona sewaktu ia dan Alfaro pergi ke London. Tidak ia sangka Vino dan Viona akan demam saat mereka sudah pulang.


"Mereka menangis jadi aku menggendongnya," ucap Alfaro seraya menggedong kedua anaknya yang sudah mulai tenang.


"Sini mas, berikan Vino padaku." Arumi meraih tubuh Vino untuk menggendongnya, namun yang terjadi malah Vino menolak dan tidak mau di gendong Arumi.


"Maunya sama Daddy," ucap Vino seraya menangis tersedu-sedu.


"Maaf ya Mas, kamu jadi kesulitan begini," ucap Arumi.


"Tidak apa-apa kok, aku bisa."


Subuh itu Vino dan Viona sangat manja kepada Daddy mereka, sampai saat mau ke kamar mandi pun, mereka ingin Daddy mereka yang mengantarkan.


Flashback off.


"Jadi bagaimana kondisi si kembar sekarang Tuan?" tanya Aril seraya mengubah posisi duduk di samping sang Bos.


"Panasnya sudah turun, tapi sekarang aku sangat mengantuk," jawab Alfaro yang kembali menguap.


"Kita sama Tuan, saya juga sangat mengantuk ... apa rapatnya di undur saja menjadi siang ini," ujar Aril ragu-ragu.


Alfaro menoleh kesamping, "Memangnya yang kamu lakukan sampai kurang tidur?"


"Ehm itu ... saya menginap di rumah kakek Dinda, untuk meminta ... restu," ucap Aril yang terlihat malu-malu.


"Hah, maksudnya kamu dan Dinda sudah ... atau mungkin kalian akan menikah?" tanya Alfaro yang terlihat cukup terkejut.


"Ya begitulah, doakan saja yang tebaik untuk hubungan kami Tuan."


"Tentu saja, kalau kamu dan Dinda sampai menikah, saya akan belikan kamu rumah baru dan tiket bulan madu ke manapun kalian mau," ujar Alfaro yang membuat Aril terperangah tak percaya.


"Anda memang yang terbaik," ucap Aril seraya mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2