Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.71 (Sebuah awal)


__ADS_3

Arumi dan Bima berdiri berhadapan di balkon apartement. Arumi menyodorkan sebuah amplop yang cukup tebal kehadapan Bima. Bima tak langsung menerima amplop itu, karena ia masih mempertanyakan apa isinya.


"Apa ini?" tanya Bima.


"Aku baru saja dapat bonus dari kantor karena tim ku berhasil mencapai target penjualan, jadi aku ingin menyicil hutang ku kepada mu," tutur Arumi.


"Hutang? Kapan kamu berhutang padaku, aku tidak bisa menerimanya," tolak Bima, baginya semua uang yang ia keluarkan untuk Arumi adalah sebuah bantuan tanpa pamrih.


"Pokoknya ambil saja." Arumi meraih tangan Bima lalu meletakkan segepok uang itu di tangan Bima, "Setidaknya bantu aku mengurangi beban pikiran karena terlalu banyak yang sudah kamu berikan, ini bahkan belum seberapa."


Setelah melahirkan, dan merawat bayi kembarnya selama satu tahun. Arumi mulai mencari pekerjaan sendiri tanpa bantuan Bima. Ia benar-benar merangkak dari Nol di negeri asing itu, diawali menjadi seorang sales penjualan properti sekarang perlahan ia sudah mulai menikmati hasil jeripayahnya setelah di angkat menjadi manager di perusahaan properti yang menawarkan jasa jual beli tanah, perumahan dan investasi dalam jumlah besar.


Dulu Bima sempat menawarkan pekerjaan di perusahaannya namun lagi-lagi Arumi menolak karena ia takut kedua orang tua Bima mengenalinya dan melaporkan kepada Mama jika ia berada disana. Sekarang ia berhasil membuktikan dengan kaki dan tangannya sendiri ia bisa menopang kehidupan kedua anaknya meski masih jauh dari kata mewah.


"Arumi ... kau--"


"Sudahlah Bima, aku bisa berdiri seperti sekarang itu berkat bantuan mu, jadi biarkan aku membalas kebaikan mu mulai sekarang," ujar Arumi lalu tersenyum kepada Bima. Bima hanya bisa terdiam seraya memandangi lekungan bibir indah yang bahkan tidak bisa ia sentuh.


Andai aku boleh egois, aku ingin kamu membalas semua yang telah ku berikan dengan hatimu, namun aku bukan tuhan yang bisa membolak-balikkan hati manusia, batin Bima.


...***...


Alfaro membuka matanya saat cahaya matahari menelusup masuk dari jendela kamar yang tak tertutup tirai. Perlahan ia bangkit duduk di atas ranjang seraya memegangi kepalanya yang masih saja terasa pusing, padahal ini sudah hari kedua setelah ia mabuk di bar malam itu.


Di lihatnya jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Perutnya pun masih terasa mual, ia memang tipe orang yang tidak kuat dengan alkohol tapi masih saja memaksakan diri. Ia menyesali diri karena terlalu terbawa perasaan hancur yang tak juga berkurang setelah sekian tahun.


Alfaro berdiri di depan wastafel, memuntahkan semua isi perutnya yang membuat kepalanya kian berdenyut. Pandangannya tiba-tiba saja tertuju pada cincin pernikahan yang masih terpasang di jari manisnya. Ia terdiam sesaat, mengusap cincin yang terkena percikan air. Cincin itu masih berkilau meski tak lagi bertemu dengan pasangannya.


~


Setelah selesai mandi, Alfaro keluar dari kamar mandi dan hendak ke walk in closet. Namun dering ponsel menghentikan langkahnya yang sudah memegang handel pintu. Ia melangkah menuju nakas lalu meraih ponselnya. Ia mengerutkan keningnya karena yang menelpon adalah Bianca. Pasti ada sesuatu yang penting hingga Bianca menelpon sepagi ini.


Setelah kejadian dimana mereka hampir di jodohkan. Kini Alfaro, Bianca dan suaminya berteman baik. Bianca sering meminta saran melalui pesan chat untuk bisnis yang sedang ia jalani di negara suaminya. Alfaro melangkah menuju balkon kamar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Membiarkan deretan roti sobek itu terpampang nyata.


"Hallo?"


[Selamat pagi Al, apa aku mengganggu?]

__ADS_1


"Tidak, aku belum berangkat ke kantor, kenapa?"


[Begini, aku dan Albert sedang berada di Malaysia sekarang, untuk meninjau lokasi tempat untuk resort dan hotel baru kami, seperti yang sudah aku katakan padamu, aku mempercayakan proyek ini kepada perusahaan mu, apa kamu bisa datang ke Malaysia untuk meninjau lokasinya bersama kami, kami sangat membutuhkan bantuan mu.]


Alfaro terdiam sejenak. Sebenarnya ia sangat sibuk belakangan ini, tapi ia juga tidak enak jika harus menolak permintaan Bianca. Apalagi ini adalah proyek besar yang di percayakan kepadanya. Sebagai teman, ia tidak kuasa untuk berkata tidak.


"Baiklah, aku akan mengatur ulang jadwal ku setelah itu aku akan langsung kesana."


[Terimakasih Al, aku dan Albert akan menunggu kabar dari mu.]


"Iya sama-sama."


Alfaro mematikan Panggilan telepon itu. Ia pikir dengan terbang ke Malaysia ia bisa melupakan sejenak beban pikirannya dengan suasana baru di negeri tetangga. Setelah mengakhiri panggilan Ia kembali masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian, sebenarnya ia sudah terlambat untuk bertemu klien pagi ini.


~


Sementara Alfaro masih belum bersiap-siap. Aril sudah datang untuk menjemputnya. Jika Aril menjemput sang Bos itu berarti mereka ada rapat di luar kantor. Aril melambaikan tangannya saat melihat Almira keluar dari pintu utama dengan pakaian rapi. Setelah lulus dari universitas di Amerika, sekarang Almira juga bekerja di perusahaan sang kakak sebagai direktur keuangan.


"Tuan Al sudah bangun kan?" tanya Aril memastikan.


"Mungkin sebentar lagi kak ... oh iya apa kita bisa bicara sebentar?" pinta Almira.


Almira mendekat lalu melirik ke kanan kiri, siapa tahu saja Mama tiba-tiba berada disana, setelah memastikan situasi sudah aman ia kembali melihat Aril. Aril semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan Almira sampai adik bosnya itu bertingkah aneh seperti sekarang.


"Jadi begini kak, aku masih menyelidiki tentang hilangnya Bi Ranti, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seseorang yang dulu menjadi tukang ojek langganan Bi Ranti."


"Terus, bagaimana?"


"Bapak itu bilang, terakhir kali ia mengantar Bi Ranti empat tahun yang lalu itu ke bandara, katanya Bi Ranti mau keluar negeri," jelasnya lagi.


"Apa bapak itu bilang, di negara mana?" tanya Aril.


"Itu dia, bapaknya lupa ... memang sih bapak itu sudah tua jadi wajar jika beliau lupa," ujar Almira.


"Huh, itu sama saja bohong Nona," ujar Aril.


"Hey apa yang kalian lakukan disitu!" seru Alfaro dari ambang pintu utama.

__ADS_1


Aril dan Almira melirik kebelakang dimana Alfaro berada. Sepertinya pembicaraan mereka harus di akhiri sekarang, karena Alfaro yang sedang melangkah medekati mereka.


"Selamat pagi Tuan?" sapa Aril.


"Apa yang sedang kalian bicarakan, sepertinya serius sekali?" tanya Alfaro seraya memicingkan matanya.


"Ahaha, tidak ada apa-apa kak, aku hanya berdiskusi dengan kak Aril tentang pekerjaan," sahut Almira tiba-tiba.


"Betul sekali," ucap Aril membenarkan ucapan Almira.


Bukan tanpa alasan Aril dan Almira merahasiakan masalah ini. Sudah cukup Alfaro kecewa dengan hasil pencarian yang sia-sia. Mereka ingin menemukan bukti yang kuat barulah mereka akan memberitahu Alfaro. Sejak empat tahun yang lalu, mereka sudah curiga jika Bi Ranti mungkin saja pergi bersama Arumi.


"Baiklah kalau begitu Kita berangkat sekarang Tuan, klien pasti sudah menunggu," ucap Aril memecah keheningan yang sempat tercipta.


Tanpa mengatakan apapun, Alfaro masuk kedalam mobil lalu di susul oleh Aril yang masuk ke bagian kursi kemudi. Saat mobil itu menghilang dari balik pagar yang menjulang tinggi, barulah Almira bisa bernafas lega.


"Huh, selamat-selamat." Almira mencoba menormalkan diri setelah sempat menegang. Lalu ia berlalu menuju garasi mobil.


~


Perjalanan menuju restaurant untuk bertemu klien terpantau lancar, tidak ada kemacetan yang berarti. Alam pun seolah mendukung dengan cahaya matahari yang entah bagaimana tidak terlalu menyegat kulit tapi tetap terasa hangat.


"Bagaimana dengan jadwal ku untuk seminggu kedepan?" tanya Alfaro seraya memeriksa pekerjaan di sebuah tab miliknya.


"Untuk sementara ini hanya ada beberapa rapat, kunjungan kerja ke kantor cabang, bertemu klien dari Australia, pengecekan data bulanan dan ... sepertinya masih banyak Tuan," tutur Aril.


"Kamu handel semuanya, aku akan pergi ke Malaysia besok, pesankan aku tiket," ujar Alfaro seraya memijat-mijat kepalanya yang masih terasa berat.


"Malaysia untuk apa Tuan ... apa anda mau liburan?" tanya Aril penasaran.


"Bukan, Bianca dan suaminya akan meninjau lokasi proyek hotel dan resort di Malaysia mereka meminta ku datang untuk memeriksa lokasi yang akan mereka beli," tutur Alfaro.


"Oh begitu, baiklah saya akan pesankan tiket pesawat hari ini juga," ujar Aril yang tetap fokus menatap kedepan.


Takdir berikutnya telah dimulai, untuk sepasang anak manusia yang terpisah sekian lama. Bagiamana cara takdir memisahkan dan bagaimana cara takdir menyatukan, setiap takdir punya cara tersendiri. Cukup jalani sampai titik yang ditentukan.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2