
Bima melangkah dengan cepat menuruni anak tangga karena indra penciumannya mendeteksi bau hangus dari arah dapur yang terletak di lantai bawah. Ia kian panik saat melihat asap dari atas kompor dimana sang istri sedang berada disana. Dengan cepat Bima mendekat. Menyingkirkan penggorengan dari atas kompor dan langsung menyiram penggorengan itu dengan air.
"Uhuk...uhukk." Almira sampai terbatuk-batuk karena ulahnya sendiri.
"Kamu tidak apa-apa," ucap Bima dengan raut wajah khwatirnnya.
"Aku baik-baik saja ... tadinya aku mau menggoreng telur, tapi aku tidak bisa memecahkan telur itu, eh malah masuk ke minyak dengan cangkang-cangkangnya, bunyinya seperti petasan jadi aku tidak berani mendekat, akhirnya malah jadi hangus," tutur Almira dengan raut wajah cemberutnya.
Bima berusaha menahan tawanya. Ia sudah tahu, pasti Almira tidak bisa memasak. Sebagai seorang putri satu-satunnya keluarga Wilson, untuk sekedar memecahkan telur dan mengiris bawang, tentu saja tidak pernah ia lakukan. Ia hanya fokus belajar saat kuliah dulu.
"Lebih baik kamu duduk saja, biar aku yang memasak sarapan untuk kita ya." Bima menuntun sang istri menuju meja makan minimalis yang ada di dapur itu.
Setelah Almira duduk. Bima kembali ke dapur, membuka kulkas dan mengambil telur, sosis, daun bawang dan juga wortel. Untung saja bahan makanan di kulkas sangat berlimpah. Semua sudah di siapkan oleh pemilik Villa, cukup untuk satu minggu kedepan.
Aksi pun di mulai. Almira seakan sedang menyaksikan aksi dari seorang chef ternama yang sedang melakukan aksinya. Mulai dari memotong-motong wortel semua terlihat sangat cekatan hingga ia merasa malu karena sebagai seorang istri ia tak bisa memasak bahkan untuk memecahkan telur saja dirinya tidak ahli.
Aku pikir semua tidak akan berjalan baik ketika dia tahu aku tidak bisa memasak, tapi ternyata dia hanya tersenyum dan menggantikan ku, batin Almira.
Tak ingin terus berdiam diri saja. Almira beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri sang suami yang terlihat sangat serius. Ia berdiri di samping Bima seraya terus memperhatikan bagaimana seorang ahli menyelesaikan masakannya.
"Tunggu sebentar, ini akan segera selesai."
"Kamu seperti seorang chef sungguhan."
"Memasak itu soal keikhlasan, kalau dari awal kamu tidak percaya diri, maka hasilnya pun akan gagal."
"Aku tidak pernah merasakan masakan dari seorang pacar."
"Benarkah?"
Almira hanya tersenyum kepada sang suami. Ia beberapa kali menyukai seseorang tapi tidak pernah sampai menjalani hubungan pacaran.
"Iya, aku tidak pernah berpacaran selain kamu."
"Aku juga tidak pernah, itu cukup menghibur karena ternyata bukan hanya aku saja."
Bima menyajikan omelette buatannya ke atas piring. Mereka kembali ke meja makan untuk menikmati makan siang bersama.
...**...
Di lain tempat. Alfaro memijat-mijat keningnya setelah mendapat telepon jika ia harus segera berangkat ke Singapura selama kurang lebih dua minggu. Sebuah proyek pembangunan mengalami kendala, hingga ia harus turun langsung. Ia tak ingin meninggalkan sang istri tapi tuntutan pekerjaan mengharuskannya tetap pergi.
Aril yang duduk di hadapan Alfaro pun tak kalah pusingnya. Bagaimana tidak, saat rencana untuk melamar sang kekasih sudah di depan mata, ia harus berangkat keluar negeri bersama sang bos. Ia sudah bisa membayangkan ekspresi wajah Dinda saat ia mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Bagaimana caraku mengatakan hal ini kepada Arumi, apa kamu punya saran?" tanya saat ia menegapkan kepala menatap sekertarisnya.
Aril menghela nafas panjang, bagaimana ia bisa memberi saran di saat dirinya sendiri juga tengah bingung, "Saya tidak bisa berpikir sekarang Tuan, saya juga pusing. Saya sudah membooking restaurant dan memesan cincin untuk melamar Dinda, tapi kita malah harus pergi."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Akhir-akhir ini Arumi lebih sensitif, aku tidak mau dia menjadi sedih karena aku harus pergi," ucap Alfaro lalu beranjak dari tempat duduk dan memasang jasnya.
"Tuan mau kemana?" tanya Aril.
"Aku akan pulang sebentar, tolong kamu handel rapat siang ini." Alfaro beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah keluar dari ruang kerjanya.
Setelah kepergian sang Bos. Aril melangkah dengan malas keluar dari ruangan itu. Saat berada di luar, ia menghentikan langkahnya, melihat Dinda yang sedang sibuk di belakang meja. Jika ia harus pergi selama dua minggu itu berarti pernikahan pun akan semakin tertunda.
Bagaimana cara mengatakan hal ini kepadanya, batin Aril.
Selang beberapa saat, ia melanjutkan langkahnya, menghapiri Dinda, "Kamu sedang apa?"
"Biasa mengerjakan laporan," jawabnya.
Aril kembali terdiam. Ia mencoba berpikir bagaimana caranya mengatakan jika dia harus pergi besok.
"Dinda aku--"
"Eh aku dengar dari manager HRD, Tuan Alfaro akan berangkat ke Singapura besok, pasti Arumi akan sedih sekali ya, kalau aku jadi dia mungkin aku akan langsung menangis dan tidak setuju jika di tinggalkan."
Aril menelan salivanya sekuat tenaga. Niat untuk bicara pun akhirnya pupus sudah. Ia benar-benar belum siap mengatakannya tapi jika bukan sekarang kapan lagi, mengingat waktu keberangkatan ia dan Alfaro adalah besok siang.
"Oh iya tadi kamu bicara apa?"
"Ti-tidak jadi, nanti saja."
Aril beranjak dari tempatnya lalu melangkah kembali ke meja kerjanya.
~
Waktu pulang kerja akhirnya tiba juga. Seperti biasa Aril mengantarkan Dinda untuk pulang ke rumah. Ia pikir sebaiknya mencari sebuah tempat untuk bicara. Akhirnya ia memutar arah menuju sebuah danau yang ada tak jauh dari sana.
"Loh kita mau kemana?" tanya Dinda saat menoleh kearah Aril.
"Ke danau, ada yang ingin aku bicarakan," jawabnya.
Tiba-tiba saja Dinda tersenyum-senyum sendiri.
Jangan-jangan dia mau melamar ku, di tepi danau lumayan romantis juga, batin Dinda.
__ADS_1
~
Sesampainya di pinggir danau. Mereka melangkah beriringan menuju sebuah batang pohon tumbang untuk duduk seraya memandangi air danau yang terlihat tenang.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Dinda yang sudah tidak sabar.
Aril menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia menoleh kearah Dinda yang terus saja tersenyum kepadanya.
"Sebelum aku mengatakannya, aku mau kamu berjanji untuk tidak marah apalagi menangis."
"Iya aku janji, memangnya apa sih?"
"Kamu tau kan, Proyek Tuan Al mengalami kendala di Singapura."
"Iya aku tau kita kan sudah membicarakannya tadi."
"Sebenarnya bukan cuma Tuan Al saja yang pergi, tapi aku juga."
Deg.
Dinda tersentak kaget karena mendengar penuturan Aril. Bukan ucapan itu yang ia harapkan keluar dari mulut pacarnya. Jika Aril harus pergi, itu berarti mereka harus berpisah selama dua minggu.
"Kamu serius?"
"Iya untuk apa aku berbohong, aku juga tidak ingin pergi tapi mana mungkin aku membiarkan Tuan Al mengerjakan semuanya, ini adalah tugas ku."
Dinda menundukkan kepalanya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sedih dan sedikit kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus berpikir lebih terbuka, dan tidak membatasi sang kekasih.
"Din, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Aril seraya merangkul pundak Dinda.
Perlahan Dinda kembali menegapkan kepalanya. Aril terkejut saat wajah sang kekasih sudah basah karena air mata.
"Apa kalau aku bilang jangan pergi kamu akan tetap pergi?"
"Maaf, ini tugas."
"Huh, aku kira kamu akan melamar ku tadi."
"A-apa, melamar?"
Bersambung 💓
Besok 3 bab full tentang lamaran sampai pernikahan Aril dan Dinda, stay terus ya hehe.
__ADS_1
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊