
Pesta ulang tahun perusahaan sudah selesai di gelar. Pengumuman yang di berikan Alfaro cukup membuat semua orang tak bisa berkata-kata. Mereka tidak menyangka jika Arumi adalah orangnya, karena saat berada di kantor Arumi tidak pernah tertangkap berduaan dengan Alfaro.
Saat ini Arumi dan Alfaro sedang duduk berdampingan, dengan tangan yang saling berkaitan. Mama dan Almira juga duduk di sana, di hadapan Alfaro dan Arumi. Mama beberapa kali menghembuskan nafasnya dengan berat. Emosi itu seolah tertahankan hingga membuat dadanya terasa sesak.
"Apa kamu sedang mempermainkan Mama Al?" tanya Mama pada Alfaro namun pandangannya fokus ke Arumi.
"Tidak Ma, aku tidak pernah main-main jika menyangkut perasaan," tegas Alfaro.
"Sudah Ma, bukannya bagus jika Kak Al sudah melupakan Kak Sarah, Arumi wanita yang baik kok," jelas Almira seraya mengusap pundak Mama.
"Diam kamu! Mama tidak bicara dengan mu, ini urusan Mama, kakak kamu dan juga dia." Jari telunjuk itu mengarah lurus kepada Arumi. Arumi mengencangkan genggaman tangannya, ia benar-benar belum siap untuk situasi ini.
"Ma ... sudah cukup aku mengalah sejak dulu, biarkan aku dan Arumi bahagia. Apa Mama tidak puas telah membuat Sarah pergi meninggalkan ku," ucap Alfaro yang mulai bersikap tegas.
"Kamu membangkang Mama?" tanya Mama mendelik tajam kearah Alfaro.
"Bukan begitu Ma, aku hanya memperjuangkan hidup ku sendiri, baik aku ataupun Almira kami sudah sama-sama dewasa, Mama hanya perlu merestui tanpa harus ikut campur terlalu dalam."
"Oh begitu ... baiklah, jika itu mau kamu, Mama akan pulang ke Amerika secepatnya dan tidak akan pernah mencampuri urusan kamu lagi, dan ingat satu hal, saat kamu memutuskan untuk tidak mendengar ucapan Mama, itu berarti kamu sudah memutuskan hubungan dengan keluarga kamu sendiri," Mama beranjak pergi kemudian di susul oleh Almira.
Arumi tertunduk lesu, ternyata lebih sulit dari bayangannya. Bukti nyata seorang ibu mertua yang kejam kini terpampang nyata di hadapannya. Alfaro membawa Arumi kedalam pelukannya. Ini hanya sebuah awal dari perjuangan untuk mendapatkan restu Mama.
"Maaf, atas sikap Mama tadi," ucap Alfaro sambil mengusap lembut pucuk kepala istrinya.
"Mas, jika terus seperti ini, aku jadi merasa bersalah sama Mama kamu."
"Aku hanya ingin kamu percaya padaku, aku ingin kita sama-sama berjuang untuk cinta kita, ingat janji jari kelingking yang pernah kita lakukan, bahwa kamu tidak akan pergi dan menghilang dan begitu juga sebaliknya."
"Iya Mas, aku ingat."
Alfaro melepaskan pelukannya, menatap sang istri seraya menghapus sisa air mata yang berada di pipinya, "Kalau begitu aku punya satu kejutan lagi untuk kamu."
"Apa itu?"
__ADS_1
Alfaro memasukkan tangannya ke saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dan langsung membukanya di hadapan Arumi. Arumi terperangah melihat, dua buah cincin di dalam kotak itu.
"Maaf karena baru memberikannya sekarang, tadinya aku ingin memberikan saat pesta, tapi Mama keburu pingsan, maaf ya." Alfaro benar-benar tidak menyangka jika rencana terakhirnya saat pesta itu gagal terealisasi. Mama tiba-tiba saja pingsan setelah melihat Alfaro dan Arumi berciuman.
"Wah.. cantik sekali Mas, ini cincin pernikahan kita?" tanya Arumi yang mulai terlihat ceria.
"Ya begitulah ... harusnya aku memasangkannya di hadapan semua orang agar lebih romantis," ucap Alfaro yang kembali terlihat kesal saat mengingat rencananya yang gagal.
"Tidak apa-apa Mas, pasangkan saja sekarang." Arumi mengulurkan tangannya kepada Alfaro, menunggu untuk cincin itu terpasang di jari manisnya.
Tanpa basa-basi, Alfaro mengambil satu cincin dan langsung di pasang di jari manis Arumi. Sangat pas, padahal Alfaro hanya mengira-ngira saat memesannya di toko berlian langganannya.
Sekarang giliran Arumi, ia mengambil cincin terakhir lalu memasangkannya juga di jari manis Alfaro. Ia mensejajarkan jarinya dan jari Alfaro, yang sama-sama mengenakan cincin. Akhirnya mereka benar-benar terlihat sebagai pasangan sungguhan.
Harapan mereka masih tetap sama, yaitu restu Mama yang akan mengubah segalanya. Misi Alfaro pun juga tetap sama untuk membuat Arumi hamil secepatnya.
...***...
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Karena Arumi saat ini sedang bersama Alfaro. Alhasil Dinda di antar pulang oleh Aril. Cuaca dingin karena gerimis, di tambah AC mobil yang cukup kencang membuat Dinda menjadi kedinginan. Bagaimana tidak, gaun yang di pakainya saat ini adalah gaun tanpa lengan.
"A-apa ini ... apa yang akan kamu lakukan, kenapa jasnya di buka, apa kau mau macam-macam! Aku akan mematahkan tangan mu kalau--"
Bug.
Aril melemparkan jasnya tepat di wajah Dinda, membuat Dinda menghentikan celotehannya, "Pakai itu, sudah tahu tidak biasa dengan AC malah berpakaian seperti itu," ucap Aril kesal, karena niat baiknya malah di sangka yang tidak-tidak oleh Dinda.
"Ehm ... oh begitu, bilang dong aku ini orangnya gampang salah paham ... dan ini gaun mahal dari butik ternama, dasar tidak tahu model." Dinda memakai jas yang Aril berikan. Sekarang terasa lebih hangat, meski harum tubuh Aril kini melekat padanya.
"Ck, gaun apa itu, apa tidak ada model lain yang tidak harus menonjolkan belahan--" Aril menghentikan ucapannya, ia benar-benar lupa mengerem saat bicara. Ia menoleh kearah Dinda yang kini menatap tajam kearahnya.
"A-apa belahan ... belahan apa yang--" ucapan Dinda terpotong saat otaknya mulai mengerti jika belahan yang Aril maksud adalah belahan dadanya. Dengan cepat Dinda menyilangkan kedua tangannya, menutupi bagian dada yang memang sedikit terlihat.
"Dasar mesum!!!!" teriak Dinda sekencang mungkin.
__ADS_1
Aril hanya bisa memejamkan matanya sambil menutup kedua telinganya. Dalam hati ia mengumpat dirinya sendiri, kenapa ia sampai bisa mengatakan hal keramat seperti itu di hadapan Dinda.
...***...
Bianca membuka pintu kamar Bima pelahan. Ia melihat ke atas ranjang namun tak juga menemukan adiknya di sana. Ia masuk lebih dalam, menyibak tirai yang menutupi kaca jendela besar yang mengarah ke balkon. Akhirnya ia bisa bernafas lega karena Bima berada di sana dalam keadaan baik-baik saja.
Sebenarnya ia benar-benar tidak menyangka bahwa wanita yang di nikahi Alfaro adalah Arumi, gadis yang di cintai oleh adiknya. Jika saja ia tahu, sudah pasti ia tidak akan membiarkan Bima datang ke pesta itu. Saat ia sedang bahagia karena kedua orang tua mendukung hubungannya dan Albert.
Hati Bianca mendadak gelisah karena Bima yang selalu ceria dan murah senyum, kini tertunduk murung. Perlahan ia berjalan mendekati Bima, dan ikut berdiri di sisi kirinya. Bianca merebut kaleng Bir dari tangan sang adik, membuat lamunan panjang Bima buyar seketika.
"Apa ini, tidak biasanya kamu minum seperti ini," ucap Bianca sambil melemparkan kaleng Bir itu kedalam tong sampah yang ada di sana.
"Hanya sekali ini saja kak ... aku benar-benar kacau sekarang," ucap Bima saat menoleh kearah kakaknya.
"Maafkan aku Bi, aku benar-benar tidak tau kalau orang yang di maksud Alfaro adalah Arumi," ucap Bianca penuh penyesalan.
"Baik kakak tau sebelumnya ataupun tidak, itu tidak akan mengubah fakta jika dia sudah di miliki orang lain," ucap Bima.
"Kamu benar-benar mencintainya?" tanya Bianca.
"Ya aku rasa begitu tapi aku akan belajar melepas dia sekarang ... mungkin akan lama tapi kakak tau aku bukan orang yang akan kalah oleh keadaan." Akhirnya Bima bisa tersenyum kepada Bianca, meskipun segurat kesedihan itu tetap terlihat dari matanya.
"Adik ku memang luar biasa." Bianca merangkul bahu Bima dengan rasa bangga, ia tahu senyuman itu hanya untuk menutupi kesedihan mendalam yang di rasa."
"Aku akan ... berhenti dari perusahaan itu dan kembali ke Malaysia, untuk membantu Daddy di perusahaan. Ya, anggap saja aku sudah menyerah," ucap Bima tiba-tiba.
Bianca terdiam sesaat. Ucapan Bima barusan adalah ucapan yang di tunggu-tunggu keluarganya dan dia sendiri. Tapi kenapa ia tidak bahagia saat mendengarnya.
"Kamu yakin?" tanya Bianca memastikan.
Bima terdiam sesaat, kemudian menoleh kepada Bianca, "Iya kak, aku yakin."
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa Like+komen+vote ya readers 🙏😊😍.