
Pukul delapan malam waktu London Inggris, di sebuah Apartement di pusat kota. Alfaro dan Arumi baru saja selesai makan malam bersama dengan Sarah dan suami, sementara Nico anak Sarah sudah terlelap sejak tadi, karena kelelahan. Hujan salju yang kian lebat membuat orang suruhan Alfaro terkena macet di jalan, jadi akan sedikit terlambat menjemput.
Akhirnya mereka terlibat obrolan yang cukup panjang di ruang tamu rumah itu. Alfaro dan Hendry sibuk membicarakan tentang bisnis, membuat Arumi dan Sarah memutuskan untuk berpindah tempat ke dapur, sekaligus menyiapkan cemilan untuk suami mereka. Sesampainya di dapur, Arumi terpana melihat desain dapur yang sangat estetik dengan setuhan warna gold yang mendominasi.
"Dapurnya bagus sekali, rapih, bersih dan semua peralatan masaknya juga lengkap," ujar Arumi seraya menggedarkan pandangannya.
"Semenjak menikah dengan Hendry, aku jadi suka memasak karena dia suka masakan rumahan, apalagi masakan khas Indonesia," tutur Sarah.
"Oh begitu pantas saja peralatan masaknya sangat lengkap."
Sarah membuka kulkas untuk mengambil beberapa jenis buah sebagai camilan untuk Alfaro dan Hendry. Arumi dengan sigap membantu Sarah untuk mengupas buah-buahan itu. Sarah memperhatikan wanita cantik yang sekarang duduk di hadapannya. Dari luar saja ia bisa tahu jika Arumi adalah wanita yang baik, pantas saja Alfaro banyak berubah sekarang, pikirannya.
"Arumi," panggil Sarah, membuat Arumi menegapkan kepala seraya menatap Sarah yang tersenyum kepadanya.
"Iya kenapa Mbak?" tanya Arumi.
"Terimakasih," ucap Sarah singkat.
Arumi menegapkan posisinya, meletakan buah yang tadinya sedang ia kupas. Ia bingung kenapa tiba-tiba saja Sarah berterimakasih kepadanya. Sarah terseyum kecil saat melihat ekspresi wajah kebingungan Arumi karena ucapanya.
"Terimakasih untuk apa Mbak?" tanya Arumi yang merasa semakin penasaran.
"Terimakasih karena kamu sudah mengubah banyak hal di kehidupan Alfaro ... aku tidak menyangka suami kamu akan memaafkan aku dan Hendry, kesalahan ku di masalalu begitu besar, hingga tidak pernah bisa aku lupakan sampai hari ini, aku yakin semua itu karena kehadiran kamu di hidupnya, sekali lagi terimakasih," ucap Sarah dengan suara bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Arumi menjadi terharu karena mendengar ucapan Sarah. Andai Sarah tahu badai apa yang harus ia lalui agar sampai ke titik ini. Tapi ia enggan menceritakan kisah pilunya, biarlah kenangan buruk itu tertinggal di belakang, sekarang ia ingin fokus ke masa depan bersama suami dan juga anak-anaknya.
"Tidak perlu berterimakasih Mbak, semua manusia pernah melakukan kesalahan ... perpisahan itu adalah sebuah jalan agar Mbak dan Mas Al menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya dari orang lain dan dengan cara yang berbeda-beda. Begitu juga dengan pertemuan Mbak Sarah dan suami, dan juga pertemuan saya dan Mas Al, semua sudah di atur oleh takdir," tutur Arumi.
Tak jauh dari sana. Alfaro sedang berdiri di belakang tembok pembatas, tadinya ia ingin memanggil Arumi untuk pulang namun langkahnya tertahan saat mendengar obrolan Arumi dan Sarah. Ia cukup lama berdiri disana, cukup untuk mendengar ucapan Sarah dan tanggapan Arumi yang membuatnya semakin bangga mempunyai istrinya sekarang. Ia merasa bahagia karena Arumi bisa menerima masalalunya dengan hati terbuka. Setelah apa yang sudah terlewati, Arumi adalah jawaban dari keterpurukannya beberapa tahun silam.
...***...
__ADS_1
Pukul dua siang waktu Indonesia barat, Bima dan Almira sedang bermain di taman belakang Mansion bersama si kembar dan juga Bi Ranti. Bima bermain bola bersama Vino sementara Almira dan Bi Ranti duduk di kursi taman menemani Viona yang sedang bermain boneka. Hari ini Mama absen menjaga cucu-cucunya karena ia pergi menghadiri acara amal di sebuah panti asuhan.
"Uncle tangkap ya!" seru Vino lalu melemparkan bola itu ke arah Bima. Bima berusaha menangkapnya, ia terus melangkah mundur hingga tidak sadar jika dibelakangnya ada sebuah batu besar.
Bug.
Bima terjatuh kebelakang, diatas batu-batu kerikil yang ada di dekat kolam ikan. Melihat Bima terjatuh, sontak saja Almira dan Vino menghampiri Bima, sementara Bi Ranti tetap menemaninya Viona bermain. Bima duduk seraya melihat bagian sikunya yang terluka karena terkena kerikil tajam.
"Kamu baik-baik saja," ucap Almira sambil membantu Bima untuk berdiri.
"Iya tidak apa-apa," ucap Bima.
"Uncle beldalah," ucap Vino seraya menunjuk kearah siku Bima.
Mendengar ucapan keponakannya itu, Almira langsung meraih tangan Bima untuk melihat sikunya. Ia membulatkan mata saat bagian siku Bima yang ternyata benar-benar berdarah.
"Apanya yang baik-baik saja! Ini namanya kamu terluka," ucap Almira yang terlihat sangat khwatir.
"Walaupun hanya luka kecil, tetap saja harus di obati," ucap Almira kepada Bima lalu beralih melihat Vino yang sedang bediri di dekatnya, "Vino main sama Bi Ranti dulu ya, onty mau mengobati uncle dulu."
"Oke onty." Vino berbalik pergi, mengahampiri Viona yang sedang bermain bersama Bi Ranti.
"Ayo masuk, luka mu harus di obati dulu." Almira menarik tangan Bima agar berjalan mengikutinya.
~
Di ruang keluarga, Bima dan Almira sedang duduk berdampingan. Almira membuka sebuah kotak obat yang ia ambil dari dapur. Ia mengeluarkan sebuah betadine dan juga cairan pembersih luka untuk mengobati bagian siku Bima yang terluka.
"Kemarikan tangan mu," pinta Almira.
Bima mengulurkan tangannya, kehadapan Almira, "Sebenarnya tidak perlu repot-repot, ini hanya luka kecil."
__ADS_1
"Jangan banyak bicara," ucap Almira seraya meneteskan cairan pembersih luka ke sebuah kapas, "Tahan sebentar, ini akan terasa sedikit perih."
Almira mulai membersihkan luka itu. Bima terlihat memejamkan matanya, menahan perih saat cairan alkohol itu menyentuh bagian lukanya.
"Sakit sekali ya?" tanya Almira saat melihat ekspresi wajah Bima.
Saat mendengar ucapan Almira, Bima segera membuka mata dan menormalkan ekspresi wajahnya, "Tidak, tidak sama sekali."
"Hah, kamu masih saja sok kuat," ucap Almira kemudian kembali membersihkan luka Bima, memberi cairan betadine lalu menutupnya dengan perban.
"Sudah selesai," ucap Almira seraya memasukkan kembali semua obat itu kedalam kotak.
"Sudah selesai? Kenapa cepat sekali ... bagaimana jika lukanya infeksi," ujar Bima yang masih ingin berlama-lama di samping Almira.
"Kamu ini bagaimana, tadi tidak mau di obati sekarang malah bilang kalau luka mu infeksi, kalau sampai itu terjadi cari aku, aku akan langsung mengamputasi tangan mu itu, aku ini punya tangan sakti, satu gerakan langsung putus," ucap Almira seraya memperaktekkan gaya karate-nya.
"Ck, ternyata kamu sadis juga .... baiklah, karena kamu sudah mengobati ku, sebutkan satu permintaan aku akan langsung mengabulkannya."
Almira mengulurkan telapak tangannya kehadapan Bima, "Berikan ponselmu."
Bima mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan langsung di berikan kepada Almira, "Untuk apa? Jika kamu mau aku akan membelikan ponsel baru."
Almira tidak mengucapkan apapun dan memilih fokus ke layar ponsel Bima, entah apa yang ia ketikan disana sampai Bima tak boleh melihatnya. Setelah beberapa menit, Almira mengembalikan ponsel itu kepada Bima.
"Ehm, a-aku sudah menyimpan nomor ponsel ku disitu, ya hanya untuk jaga-jaga jika ada hal mendesak ... jangan lupa chat aku, agar aku juga bisa menyimpan nomor mu," ucap Almira yang terlihat grogi, lalu beranjak pergi meninggalkan Bima.
"Manis sekali," ucap Bima seraya memadangi kepergian Almira.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1