
Menjelang sore, Alfaro dan keluarga kecilnya kembali pulang ke Apartement Arumi. Vino dan Viona pun terlihat sangat senang karena setelah pulang dari rumah sakit tadi mereka mampir ke sebuah Mall untuk membeli berbagai macam mainan, yang tentunya dalam jumlah yang sangat banyak, hingga memenuhi bagasi mobil.
Arumi hanya bisa menghela nafas panjang. Saat melihat suaminya menuruti semua keinginan anak-anak mereka. Ya, Alfaro sudah berjanji pada dirinya sendiri, mulai saat ini keluarga kecilnya adalah prioritas utama. Sepanjang perjalanan, Vino dan Viona bernyanyi dengan riang gembira. Kebahagiaan Alfaro seolah kian sempurna, saat sang istri memandangi penuh cinta seperti dulu.
"Daddy, mau kecitu Daddy," ucap Viona saat mobil yang di kemudikan Alfaro melewati sebuah pantai. Pantai yang menjadi tempat ia dan Arumi bertemu lagi untuk pertama kalinya.
"Siap bos kecil." Alfaro memutar kemudinya untuk masuk ke area bibir pantai.
Arumi hanya bisa diam seraya terus terseyum saat melihat kedua anaknya bersorak gembira. Rasa sesal kembali menghinggapi Arumi, saat dulu ia hanya sibuk bekerja tanpa pernah mengajak Vino dan Viona untuk jalan-jalan atau sekedar makan di luar. Kini kebahagiaan kedua anaknya, menyadarkan Arumi jika waktu dan perhatian saat lah berharga.
Mobil terparkir di parkiran khusus yang tersedia. Tanpa menunggu waktu, Vino dan Viona yang sudah turun dari mobil. Mereka berlari menuju bibir pantai. Bagai anak burung yang terlepas dari sangkarnya, mereka kini merasa sangat bebas, menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan.
"Vino, Viona hati-hati!" teriak Arumi yang melangkah cepat menyusul anak-anaknya.
Alfaro menarik tangan Arumi agar menghentikan langkahnya, "Biarkan mereka bermain sayang, kamu tidak lihat bagaimana bahagianya mereka, kita cukup menjaganya dari sini saja."
Arumi menghela nafasnya yang terasa begitu berat, dan langsung memeluk suaminya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alfaro. Melihat tindakan tiba-tiba sang istri, Alfaro tiba-tiba saja menegang, darahnya berdesir hebat. Andai saat ini mereka di kamar, sudah pasti Alfaro tidak akan bisa menahan diri.
"Ka-kamu kenapa?" tanya Alfaro terbata-bata, sambil mengusap lembut punggung Arumi.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa bahagia karena Mas ada disini untuk aku dan anak-anak." Arumi melepaskan pelukannya, menatap mata Alfaro yang entah kenapa kembali berkaca-kaca.
"Mas, kamu menangis ya?" tanya Arumi heran.
"A-apa, tidak ... sepertinya terkena debu," kilahnya.
__ADS_1
"Empat tahun tak bertemu, kenapa kamu jadi cengeng seperti ini, dimana Alfaro yang selalu bersikap dingin dan angkuh," ledek Arumi.
"Aku sudah melewati banyak hal dan gara-gara kamu aku menjadi seperti ini," ucap Alfaro seraya mencubit hidung sang istri.
"Mommy! Daddy! cini," teriak Vino dan Viona secara bersamaan.
Alfaro dan Arumi saling menatap sesaat lalu melangkah sambil bergandengan tangan menghapiri anak-anak mereka. Senja sore ini menjadi saksi bisu, saat kepingan hati yang dulu terpisah jarak dan waktu, sudah kembali menyatu, untuk memulai hidup baru.
...***...
Almira baru saja sampai di Mansion. Ia melihat Mama sedang duduk termenung di taman belakang. Sudah beberapa hari ini Mama lebih banyak termenung sendiri. Entah apa yang di pikirkannya. Di usia yang semakin bertambah tua, Mama mulai merasa kesepian, uang yang dulu selalu berhasil membuatnya bahagia kini terasa tiada guna.
Fase kehidupan seseorang selalu berubah-ubah, tidak selamanya apa yang bisa di nikmati di usia muda bisa di nikmati di usia senja. Mungkin kini Mama mulai sadar jika dia yang dulu terlalu menentang hukum alam. Hingga anak-anak menjadi sasaran, andai ia tidak mengusik kehidupan sang putra, mungkin saat ini ia sudah tersenyum bahagia seraya menemani cucu-cucunya bermain di taman belakang Mansion.
"Benarkah ... Mama sedang memikirkan kakak kamu, sudah beberapa tahun ini dia sibuk bekerja tanpa memikirkan kesehatannya, sekarang dia pergi ke Malaysia dan entah kapan dia akan pulang," ujar Mama yang terlihat lemah.
"Kak Al akan segera pulang Ma, mungkin lusa." Almira memandangi Mama yang menatap nanar ke arah depan. Ia mulai khwatir dengan kondisi Mama, jika terus seperti ini Mama bisa jatuh sakit, pikirannya.
"Mira," panggil Mama lirih.
"Iya Ma, kenapa?"
"Mama sudah terlalu banyak melakukan kesalahan kepada kamu dan Kakak kamu ... apalagi kepada Arumi." Tiba-tiba saja Mama menangis tersedu-sedu, merenungi apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Almira tentu saja begerak cepat menenangkan Mama, meski sejuta pertanyaan mulai menghinggapi karena Mama yang tiba-tiba saja menyebutkan nama Arumi.
"Apa maksud Mama ... apa yang sudah Mama lakukan kepada kak Rumi?" tanya Almira yang begitu penasaran.
__ADS_1
Mama yang Semula bersandar di pundak Almira, kini kembali menegapkan posisinya dengan susah payah. Di tatapnya sang putri yang saat ini sedang menunggu jawaban darinya.
"Mama ... Mama yang telah mengusir Arumi saat kakak kamu kecelakaan."
Deg.
Almira melepaskan tangannya dari Mama, ia berdiri dari posisinya seraya mundur beberapa langkah dengan kepala yang terus menggeleng tak percaya.
"Jadi selama ini, Mama adalah penyebabnya ... Mama mengusir kak Rumi." Almira mulai terlihat emosional, saat mengingat bagaimana Mama bersandiwara di hadapannya, "Apa Mama tidak lihat, bagaimana menderitanya Kak Al karena kehilangan istrinya."
Mama hanya bisa terdiam, tertunduk seraya terus menangisi segala perbuatannya. Apa Mama menyesal? Ya, amat menyesal, saat segala yang ia lakukan dimasa lalu kini seolah berbalik padanya. Di tengah tangis yang kian pecah tiba-tiba dada Mama terasa sesak dan sakit, pandangannya mulai memburam dan sedetik kemudian--
Bug
"Ma!" pekik Almira saat melihat Mama jatuh tersungkur ke tanah.
Mama terjatuh pingsan. Penyakit yang mulai menggerogoti di usia senja dan berbagai macam pikiran yang membuat hati tak tenang, tidur tak nyenyak dan makan tak berselera. Menjadi pemicu utama kondisi tubuh mulai melemah dan akhirnya tumbang juga. Beberapa orang pelayan berhambur menghapiri, saat mendengar suara teriakan Almira yang meminta tolong.
"Mama harus segera di bawa kerumah sakit, siapkan mobil sekarang!" hardik Almira kepada seorang pelayan. Ia panik bukan main saat melihat Mama yang tiba-tiba saja pingsan.
Bersambung 💓
Maaf karena malam tadi gk sempat up, kepala pusing banget karena memang akhir-akhir ini banyak begadang nulis dan juga kegiatan lainya dan akhirnya ketiduran, pagi-pagi bangun lihat jam lima pagi, akhirnya langsung ambil hp dan gass nulis, meski hanya satu bab. insyaallah siang ini lanjut nulis lagi ya kak ☺️☺️ Terimakasih untuk yang selalu setia menunggu update dari author Alya Aziz ❤️
Jangan lupa like+komen+votenya 🤗
__ADS_1