Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bonus chapter.2 (Bulan madu Almira dan Bima part.2)


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima jam akhirnya mereka sampai di sebuah pulau kecil yang ada di salah satu negara di Asia tenggara. Vila tempat mereka menginap berhadapan langsung dengan pantai dengan pasir biru yang memanjakan mata.


Suasana nampak sepi, seakan hanya ada saja di tempat itu. Tempat itu memang di rancang untuk sepasang pengantin baru, sangat privasi hingga dunia terasa milik berdua. Bima menyeret kedua koper besar itu masuk ke bagian dalam Vila bernuansa modern.


"Tempat ini bagus sekali, kita harus berenang disana nanti," ucap Almira seraya menunjuk bibir pantai yang terpampang langsung dari kaca jendela besar yang ada di ruang tamu Villa.


"Boleh saja, tapi kita harus membereskan barang-barang dulu," ujar Bima.


"Siap Bos! Hehe."


Mereka melanjutkan langkah menuju lantai dua, dimana kamar untuk mereka berada. Sesampainya di kamar, Almira kembali terpana karena kamar itu di penuhi kelopak bunga mawar dan juga lilin aroma terapi yang membuat suasana kian romantis.


"Aku merasa ini adalah malam pertama kita," ucap Bima seraya melirik sang istri.


Almira mengarahkan pandangan ke sang suami, "Maksudnya?"


"Bagaimana kalau kita bermain-main sedikit sebelum pergi ke pantai?" Bima mendekati dan langsung menggendongnya ala bridal style.


Wajah Almira nampak tegang dan bersemu merah, ia menundukkan pandangannya, tak mengucapkan apapun dan juga tak menolak. Melihat sang istri yang malu-malu tapi mau, Bima tak mau membuang waktu.


Ia membawa sang istri ke atas ranjang yang di penuhi kelopak bunga mawar. Ia mulai menciumi bagian leher hingga ke wajah sang istri.


"Sayang jangan nakal! ... Ahkk geli."


Rasa lelah karena perjalanan jauh sudah tidak di hiraukan lagi. Saat ini adalah milik mereka, dimana surga dunia tersaji dengan indah.


Lagi-lagi Bima menggila karena sesuatu yang selalu berhasil membuatnya kehilangan jati diri, demi sebuah hasrat yang harus segera tertuntaskan.


Semua ia pelajari setelah menikah, mulai dari titik sensitif hingga kenikmatan yang membuat sang istri m*ndesah karena kenikamatan. Ya, Bima memang sepolos itu, hingga Almira kadang bertanya-tanya apa sang suami tidak pernah menonton video ... ya tau lah ya, hehe.


~

__ADS_1


Setelah selesai mandi, mereka melangkah keluar di dari pintu kaca yang mengarah langsung ke bibir pantai. Tanpa alas kaki, keduanya membiarkan kaki menapaki pasir putih yang terasa lembut saat menyentuh kulit.


Tangan mereka saling bergandengan dan melangkah saling beriringan menuju bibir pantai. Cahaya jingga dari matahari yang hampir tenggelam membuat suasana kian romantis. Hembusan angin terasa hangat menerpa wajah keduanya.


Sungguh dunia seakan hanya milik mereka. Perlahan Almira melepaskan tangan mereka yang saling berkaitan. Ia berlari kecil, seraya merentangkan tangan. Ombak kecil yang menyapu kakinya seakan menjadi sensasi tersendiri.


"Mira, lihat kemari!" seru Bima yang sudah siap dengan kameranya.


Almira berbalik, membuat pose secantik mungkin, agar hasil foto menjadi kenangan-kenangan yang sempurna. Melihat sang istri yang berpose bak model profesional, Bima tak menyianyiakan kesempatan dan langsung memotret.


Setelah selesai, Almira melangkah mendekati sang suami yang saat ini sedang memeriksa hasil jepretannya, "Bagaimana apa hasilnya bagus?"


Bima mengangguk perlahan, sat dari gambar yang ia ambil semua nampak sempurna, "Cantik juga."


"Ya bagaimana, aku memang terlahir cantik," ucap Almira dengan percaya diri.


"Maksud ku pemandangannya sangat cantik," ucap Bima, membuat ekspresi wajah Almira tiba-tiba saja berubah. Tak ingin terkena pukulan dari sang istri, Bima segera berlari meninggalkan tempat itu.


"Ayo tangkap kalau bisa!" teriak Bima kemudian kembali berlari.


Mereka saling bermain kejar-kejaran, menyusuri bibir pantai yang di hiasi ombak kecil yang datang secara beriringan. Setelah cukup lelah, Bima berbalik seraya merentangkan kedua tangan untuk menyambut sang istri dengan pelukan.


Almira mempercepat langkahnya ia berhambur memeluk dan langsung mendaratkan satu kecupan di bibir Bima, " Itu hukuman buat kamu."


Bima tersenyum-senyum sendiri karena mendapatkan kecupan dadakan dari Almira, "Aku menyukai hukuman seperti ini," ucap Bima lalu kembali membawa Almira kedalam pelukannya. Nyaman, satu kata yang mampu menjelaskan semuanya.


~


Setelah selesai bermain air, mereka duduk berdampingan di bibir pantai. Almira menyadarkan kepalanya di pundak kokoh yang saat ini dan selamanya akan menjadi sandaran ternyaman. Pemandangan matahari terbenam menjadi momen langka yang tak bisa mereka nikmati di kota metropolitan seperti Jakarta.


"Apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Almira yang tetap fokus menatap kedepan.

__ADS_1


"Bertanya apa?" tanya Bima yang juga tetap fokus memadangi matahari terbenam.


"Apa menikah dengan ku ... kamu bahagia?" Almira lagi-lagi menayangkan hal itu, entahlah apa ia ragu, atau hanya sekedar memastikan.


"Aku binggung harus menjawab apa ... karena aku tidak lagi mengenal apa itu kesedihan setelah menikah dengan kamu." jawab Bima pada akhirnya lalu mencium pucuk kepala sang istri hingga beberapa kali.


"Wah, kamu pandai mengombal, anehnya ternyata kamu tidak punya mantan pacar ... meski kamu pernah mencintai seseorang," ucap Almira dengan nada suara yang perlahan merendah ketika menyebut seseorang yang sudah pasti adalah, Arumi.


Bima mengerti arah pembicaraan sang istri. Tak di pungkiri, Arumi adalah bagian dari masalalunya yang begitu lekat. Tentang bagaimana ia berjuang untuk seseorang yang mencintai orang lain, tentang bagaimana ia menjaga sesuatu yang akhirnya harus ia lepaskan.


Semua itu adalah bagian dari perjalanan yang tentu saja meninggalkan bekas. Tapi dari begitu panjangnya lika-liku kehidupan Bima, tak pernah ia sangka bahwa yang bediri di ujung perjalanannya adalah seorang wanita yang tak pernah ada dalam bahayagan hingga berakhir menjadi kenyataan yaitu, Almira.


"Aku pernah terjebak dalam perasaan yang salah, membiarkan diriku terbelenggu dan tidak memperdulikan sekeliling ku ... kamu ingat, sewaktu kamu mengatakan bahwa aku harus membuka mata dan melihat dunia seluas-luasnya dan saat itu juga dunia baru yang aku lihat ada pada dirimu," ucap Bima seraya terus memandangi matahari yang kian memghilang dari permukaan.


Almira menegapkan kepalanya. Mereka kembali saling menatap satu sama lain, "Terimakasih untuk semuanya, I love you very much."


"I love you to, you are my world and you are my happiness, thank you for everything honey," ucap Bima lalu kembali tersenyum kepada sang istri.


Almira kembali menyadarkan kepalanya. Ia merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia saat ini dan selamanya.


"Aku sangat bahagia!!!" teriak Bima yang menggema di udara.


"Aku sangat sangat bahagia!!" teriak Almira tak kalah kuatnya.


Jatuh cinta tidak selalu hanya sekali. Cinta terakhir bukan selalu untuk nama pertama yang menghuni relung hati. Saat kamu gagal maka akan ada kebahagiaan lain yang menanti karena terkadang semesta menitipkan yang terbaik bukan untuk kamu genggam selamanya, tapi untuk mengerti apa itu cinta dan kehilangan.


bersambung 💓


Mulai hari ini author akan update bonus chapter sebanyak 3 bab perhari dengan total 18 bab bonus chapter, lanjut siang ya kakak semuanya 😘


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊😍

__ADS_1


__ADS_2