Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.83 (Permintaan Mama)


__ADS_3

Sepersekian detik, akhirnya Almira mendorong tubuh Bima agar menjauh darinya. Bima terjatuh kesamping Almira, masih dengan ekspresi wajah tak percaya. Bahwa akhirnya hal paling keramat di dalam dirinya sempat menegang karena sentuhan wanita yang tidak di duga-duga.


Almira berdiri dari posisinya lebih dulu. Tangannya menunjuk lurus kearah Bima yang masih terbaring di atas ranjang. Ia kesal karena ciuman pertamanya yang ingin ia jaga untuk calon suaminya kelak malah jatuh kepada seseorang yang bahkan tak pernah terlintas di fikiranya.


"Kamu kenapa bisa disini?" tanya Almira yang terlihat salah tingkah.


Bima yang tadinya sempat melamun. Sekarang mulai berdiri di hadapan gadis yang sorot matanya sama persis dengan Alfaro, "Aku tamu disini, kakak kamu sendiri yang meminta ku menginap ... dan aku tidak tau kalau ternyata ini kamar kamu."


"Baiklah aku akan menerima alasan kamu ... tapi masalah yang tadi, anggap saja tidak pernah terjadi," jelas Almira.


"Ck, masalah apa maksud kamu ... ciuman yang tadi?" tanya Bima memperjelas.


"I-itu tidak bisa di golongkan sebagai ciuman tapi itu hanyalah sebuah kecelakaan," ujar Almira terbata-bata. Almira merasa sangat. gugup tapi ia berusaha menutupinya.


"Minggir, aku mau keluar." Bima meraih kopernya lalu melangkah menuju pintu. Namun dengan cepat Almira kembali menghadang langkahnya.


"Hey urusan kita belum selesai," ucap Almira seraya merentangkan kedua tangannya di hadapan Bima.


Bima menghela nafasnya dengan berat. Almira sama saja dengan sang kakak. Selalu berhasil menguji kesabaran Bima. Ia melepaskan tangannya dari koper, lalu mendorong tubuh Almira hingga bersandar di dinding. Ia mengunci tubuh Almira hingga tak dapat bergerak.


"Urusan apa yang kamu maksud? Apa kamu mengulanginya lagi," ujar Bima yang berhasil membuat Almira refleks menggigit bibir bawahnya. Mata Bima tiba-tiba saja fokus kepada bagian bibir Almira yang membuat naluri lelakinya tiba-tiba saja bangkit. Bima hanya laki-laki biasa yang bisa bertindak di luar kendali. Namun buru-buru ia menghilangkan pikiran jeleknya itu.


Deg deg deg.


Rasanya jantung Almira akan melompat dari rongga dadanya, karena terlalu gugup. Jarak yang begitu dekat, hingga bau maskulin yang mengusik indra penciumannya. Membuat Almira tak bisa berkutik, wajahnya pun sudah memerah padam. Perasaan apa itu? Ia juga tidak tahu karena semua terjadi tanpa di duga apalagi di rencanakan.


Hahahaha.


Tiba-tiba saja Bima tertawa terbahak-bahak saat melihat raut wajah Almira yang menurutnya sangat lucu. Ia mundur perlahan menajauh dari Almira. Sementara Almira masih terdiam di posisinya karena belum bisa menormalkan diri, setelah melalui hal yang begitu mendebarkan.


"Aku hanya bercanda, tapi kamu serius sekali," ucap Bima yang berusaha menahan tawanya, "Baiklah, anggap saja yang tadi itu tidak pernah terjadi, lagi pula kalau kakak mu tau, dia bisa mengamuk kepada ku ... kalau begitu aku keluar dulu."


Bima melangkah keluar dari dalam kamar itu. Saat ia sudah berada di luar, ia langsung menghela nafas panjang seraya mengusap dada. Sejujurnya ia tadi merasa begitu gugup karena untuk pertama kalinya mencium seorang wanita. Tapi bukan Bima namanya kalau tidak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri.


Apa yang aku pikirkan tadi, bisa-bisanya aku terbawa suasana. Hampir saja aku menciumnya lagi, batin Bima.


Di dalam kamar sana Almira sedang berdiri di depan meja riasnya. Melihat bibir yang akhirnya merasakan kehangatan dari bibir seorang pria.. Meski hanya sekejap dan terkesan hambar karena tidak di sertai hasrat apalagi cinta. Tapi semuanya terasa begitu nyata.


Ya, amat nyata.


Hingga untuk pertama kalinya Almira tidak bisa mengerti apa mau hatinya saat ini.

__ADS_1


...***...


Pukul delapan malam. Bima dan Almira keluar dari dalam kamar mereka masing-masing saat mendengar suara mobil memasuki area Mansion. Suasana menjadi begitu canggung, saat mereka kembali berpapasan di depan pintu kamar.


"Mau turun ke bawah juga?" tanya Bima.


"Iya, sepertinya Mama sudah datang." Almira melanjutkan langkahnya tanpa menunggu Bima kembali berbicara. Rasanya begitu canggung untuk Almira yang kembali berhadapan dengan Bima setelah apa yang telah terjadi.


~


Sesampainya di bawah ternyata Almira dan Bima tidak salah dengar. Mobil yang membawa Mama sudah terparkir di halaman depan. Saat melihat kehadiran Bima, Vino dan Viona langsung berlari menghampiri laki-laki yang empat tahun belakangan, menggantikan sosok Alfaro.


"Uncle Bi, Yona lindu," ucap Viona yang saat ini sedang memeluk kaki panjang Bima.


"Ino uga uncle," ucap Vino dengan antusias.


"Iya Uncle juga." ucap Bima seraya mengusap lembut kepala si kembar secara bergantian.


Almira begitu iri dengan Bima yang terlihat sangat akrab dengan kedua keponakannya. Ia sampai lupa tujuan utama turun kebawah untuk menyambut kedatangan Mama, ia malah asik memandangi Bima yang sedang bercengkrama dengan Vino dan Viona.


"Mira tolong antar Mama ke kamar," pinta Alfaro yang saat ini sedang mendorong Mama yang duduk di kursi roda.


Baru saja Almira akan mengambil alih kursi roda itu namun lagi-lagi, pria yang sama membuat hatinya menjadi kembali terusik.


"Biar aku bantu," ucap Bima saat mengambil alih kursi roda itu dari tangan Alfaro.


"Oh baiklah, terimakasih," ucap Alfaro kepada Bima. Sepertinya aura persaingan itu perlahan sudah melunak karena Bima yang belajar mengikhlaskan dan Alfaro yang belajar menerima keberadaan.


"Terimakasih ya nak Bima," ucap Mama yang masih terdengar lemah.


"Iya tante, sama-sama." Bima melangkah pergi seraya modorong Mama yang duduk di kursi roda. Almira hampir tak berkedip, memadangi Bima yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Mira," ucap Arumi saat melihat adik iparnya itu hanya diam terpaku sejak tadi.


"I-iya kak kenapa?" tanya Almira.


"Kamu mau tetap disini?" tanya Arumi.


"Tidak kak," ucap Almira lalu segera menggandeng tangan kedua keponakannya, "Ayo kita naik kelantai atas, kamar Vino dan Viona ada di atas sana," ajak Almira.


"Oke onty," kata Vino dan Viona secara bersamaan.

__ADS_1


...***...


Setelah anak dan suaminya tertidur. Arumi kembali turun kelantai bawah untuk mengecek kondisi Mama. Terbukanya hati sang mertua, membuat Arumi tak lagi ragu untuk menunjukkan perhatian dan rasa pedulinya.


Perlahan Arumi membuka pintu kamar, karena Ia takut akan menganggu tidur Mama, namun saat ia melihat ke arah tempat tidur. Mertuanya itu masih duduk bersandar di kepala ranjang dengan bertemankan cahaya remang-remang dari lampu tidur.


"Mama belum tidur," ucap Arumi saat sudah duduk di tepi ranjang.


"Eh Arumi ... Mama tidak bisa tidur," ucap Mama lalu tersenyum kepada menantunya itu.


"Jangan terlalu banyak pikiran Ma."


Arumi meraih kaki Mama yang menjulur kedepan. Di pijitnya secara perlahan agar sang mertua merasa lebih nyaman. Mama yang awalnya terkejut dengan tindakan tiba-tiba Arumi kini hanya bisa terdiam sambil memperhatikan bagaimana Arumi yang begitu perhatian padanya.


"Arumi," panggil Mama.


"Iya Ma," jawabnya saat menoleh kearah sang mertua.


"Pergilah bulan madu bersama suami mu," pinta Mama.


Arumi menatap Mama dengan pertanyaan yang menghinggapi kepalanya, "Untuk apa Ma, aku dan Mas Al kan sudah lama menikah, lagi pula sekarang sudah ada Vino dan Viona."


"Begitu banyak yang Mama sesali beberapa tahun belakangan ini. Sebagai seorang istri pengusaha sukses, kamu tidak pernah menikmati fasilitas yang seharusnya kamu dapatkan, kamu menikah dengan Al tanpa pesta yang mewah dengan status yang di rahasiakan dan kamu juga harus mengadung dan melahirkan Vino dan Viona tanpa suami mu. Semua waktu yang seharusnya kamu nikmati bersama Al, harus terbuang sia-sia karena keegoisan Mama." ujar Mama dengan suara yang bergetar.


Arumi mengalihkan pandangannya ke sembarang arah karena mata yang mulai berkaca-kaca. Ucapan Mama adalah sebuah fakta yang mengiringi perjalanan hidup Arumi sejak pertama kali memutuskan untuk menerima tawaran Alfaro menjadi istri rahasia.


Sebagai seorang istri yang dulu tak di cintai dan hanya menjadi pemuas hasrat. Kemudian saat cinta sang suami sudah di dapat. Ia kembali harus di hadapkan dengan cobaan mertua yang tidak menginginkan kehadirannya, hingga berakhir terbuang di negeri orang.


"Arumi," panggil Mama lirih seraya menyeka air matanya.


Arumi kembali menatap Mama seraya berusaha kembali tersenyum, "Iya Ma?"


"Pergilah berbulan madu, nikmati waktu kalian sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya ... bangun kembali harapan kalian yang sempat hilang di makan waktu, masalah Vino dan Viona Mama dan Almira yang akan mengurusnya," ujar Mama lagi.


Arumi meraih tangan Mama dan menggenggamnya dengan erat, "Iya Ma ... terimakasih karena sudah mau menerima ku, Vino dan Viona."


Mama hanya mengangguk perlahan dengan senyum tulus yang akhirnya bisa dilihat Arumi. Senyuman yang dulu begitu mustahil bagi seorang menantu yang di anggap sebagai benalu. Anugerah bertubi-tubi yang di dapatkan Arumi adalah hadiah dari perjuangannya melewati semua cobaan yang di pikulnya selama empat tahun.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍

__ADS_1


__ADS_2