Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.89 (Rencana bulan madu)


__ADS_3

Aril dan Dinda dalam perjalanan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Dinda terlihat terkekeh sendiri jika mengingat bagaimana Aril mengungkapkan perasaannya. Aril berusaha acuh tapi Dinda tidak henti-hentinya terkekeh sendiri.


"Apa kamu akan terus tertawa sepanjang jalan!" seru Aril kesal.


"Haha, aku hanya tidak menyangka kalau kamu menyukai ku .. astaga mimpi apa aku malam tadi," ucap Dinda dengan sangat antusias.


Aril baru ingat jika Dinda belum menjawab pertanyaan cintanya. Setelah ciuman itu Dinda malah mengajaknya untuk pulang. Ia pun masih merasa di gantung oleh Dinda. Ingin bertanya tapi melihat sikap Dinda, malah membuat Aril semakin malu.


Dinda menghentikan tawanya saat melihat Aril hanya diam dan terlihat murung. Ia baru ingat jika belum memberi respon atas pernyataan Aril. Ia terlalu gugup setelah ciuman itu hingga menyeret Aril untuk pulang.


"Ehm ... ka-kapan kamu akan menembak ku?" tanya Dinda ragu-ragu.


Aril menoleh sebentar kearah Dinda kemudian kembali fokus ke jalanan. Aril cukup kaget dengan pertanyaan Dinda. Menyatakan perasaan itu tidaklah mudah. Dan Dinda malah memeintanya untuk mengulang kembali. Aril benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita, kenapa harus memperjelas yang sudah di jelaskan.


"Jadi aku harus berlutut di hadapan mu, dengan sebuah buket bunga begitu?" tanya Aril memastikan.


"Iya kira-kira begitu lah ... begini ya seketaris Aril yang terhormat, tadi itu kamu hanya bilang kalau kamu menyukai ku, tapi kamu tidak bilang "Dinda mau kah kamu menjadi pacarku" seharusnya bilang begitu dong," jelas Dinda.


"Begini ya Adinda, intinya aku serius dengan perasaan ku, lagi pula kita ini sudah dewasa, tidak perlu melewati masa pacaran seperti anak remaja," ujar Aril yang tetap fokus kepada jalanan.


Tiba-tiba saja wajah Dinda kembali memerah. Ia tidak menyangka Aril akan mengatakan hal seperti itu. Setelah ciuman mereka, Dinda semakin yakin jika Aril adalah pria yang tepat untuknya. Dinda kini tersadar kenapa ia jauh-jauh mencari saat pria sebaik Aril ada dihadapannya.


"Jadi maksudnya kita akan langsung menikah?" tanya Dinda yang terlihat tersipu malu.


Aril terseyum saat mendengar kata menikah keluar dari mulut Dinda. Ia sudah membayangkan bagaimana bahagianya saat ia bangun ada yang bisa ia peluk, sarapan bersama dan melakukan segala hal bersama. Aril tidak lagi ingin berlama-lama dan ingin segera mengakhiri masa lajangnya.


Mengenal Dinda selama kurang lebih empat tahun sudah cukup untuk Aril yakin untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Dengan ragu-ragu Aril meraih tangan Dinda dan langsung menggenggamnya. Dinda terlihat kaget dengan tindakan Aril, mungkin karena ia belum terbiasa.


"Kamu sudah siap?" tanya Aril.

__ADS_1


"Untuk sekarang belum, bagaimana jika beberapa bulan lagi ... kita juga perlu memberitahu ibu ku."


triiiittt.


Aril tiba-tiba saja mengerem mendadak. Ia lupa satu hal yang harus ia lewati sebelum memulai hubungan yang lebih serius dengan Dinda, yaitu Ibu. Meski Ibu begitu baik padanya, tapi entah kenapa Aril sampai saat ini masih takut kepada Ibu Dinda, apalagi saat mengingat kejadian dimana tas belanja mendarat tepat di kepalanya.


...***...


Arumi menatap wajah kedua anaknya yang tengah tertidur. Beberapa hari lagi ia akan pergi selama satu minggu, meninggalkan buah hati yang belum sekalipun tidur terpisah darinya. Alfaro yang baru saja kembali dari ruang kerjanya, menghampiri sang istri yang duduk di tepi ranjang.


Alfaro mengerti pasti Arumi begitu berat untuk meninggalkan anak-anak, meski hanya beberapa hari. Meskipun pada kenyataannya, Vino dan Viona tidak masalah jika Mommy dan Daddy mereka pergi beberapa hari. Arumi berbalik saat menyadari kedatangan suaminya, ia tersenyum karena akhirnya sang suami sudah selesai dengan pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum mengambil cuti beberapa hari.


"Sudah selesai Mas?" tanya Arumi yang saat ini berdiri dari posisinya.


"Iya sudah, sayang sekali anak-anak sudah tidur padahal aku masih ingin bermain bersama mereka," kata Alfaro seraya megusap pucuk kepala sang istri.


"Mas kita akan bulan madu kemana?" tanya Arumi.


"Aku juga bingung Mas, aku tidak tau tempat yang bagus," ucap Arumi.


"Emm, kalau begitu, ayo ke perpustakaan," ajak Alfaro yang sudah meraih tangan Arumi agar mengikuti langkahnya.


"Untuk apa Mas?" tanya Arumi yang mulai penasaran, karena satu-satunya tempat yang belum pernah ia kunjungi di Mansion itu adalah perpustakaan.


Alfaro tak menjawab dan terus menarik tangan sang istri keluar dari kamar. Maksudnya mengajak sang istri untuk pergi ke perpustakaan, karena di dalam sana banyak buku yang membahas tentang keindahan negara-negara dari berbagai benua.


~


Sesampainya di dalam perpustakaan, Arumi tak henti-hentinya berdecak kagum saat melihat ruangan itu di penuhi dengan ratusan ribu atau mungkin jutaan buku yang berjajar rapi di dalam rak. Ia berjalan mendahului Alfaro, menyentuh buku-buku itu sepanjang kaki melangkah.

__ADS_1


"Mas, kamu sudah membaca semua buku ini?" tanya Arumi yang terus melangkah melewati rak-rak itu.


"Belum, ini semua koleksi ayah ... beliau sangat gemar membaca, hingga di sisa hidupnya, ini adalah semua buku yang sudah ia baca," tutur Alfaro.


Arumi menghentikan langkahnya saat ia sampai di sebuah sofa besar berbahan buludru berwarna merah maroon. Ia duduk di sana seraya menggedarkan pandangan ke sekeliling perpustakaan itu. Tak lama Alfaro menyusul dengan membawa sebuah buku yang cukup besar.


"Itu apa Mas?" tanya Arumi saat melihat sang suami meletakkan sebuah buku besar di hadapannya.


"Buku ini berisi tempat-tempat indah di seluruh dunia, kamu bisa memilih tempat yang mana saja kamu mau," ucap Alfaro yang saat ini sudah duduk di samping sang istri.


"Benar ya, aku pilih nih," ucapnya seraya medelik tajam kearah sang suami.


"Iya, pilih saja," ucap Alfaro sambil merangkul Arumi.


Arumi meraih buku itu dan di letakkan kertas pangkuannya. Ia mulai membuka dan melihat satu persatu gambar yang tercantum di dalamnya. Arumi terlihat bingung karena semua nampak sangat indah. Sementara Alfaro memilih duduk bersandar seraya memainkan rambut panjang Arumi dengan telunjuknya.


Mata Arumi tak berkedip saat melihat tempat wisata yang berada di London Inggris. Tempat itu bernama Big Ben mampu mencuri perhatiannya. Big Ben adalah nama sebuah lonceng besar di tengah menara jam yang terletak di sebelah utara Istana Wetminer, London. Big Ben juga menjadi salah satu ikon kota London yang patut dikunjungi dan sayang jika terlewatkan.


Percuma berlibur ke London jika tidak berkunjung ke sana. Menara yang masih berdiri kokoh ini merupakan peninggalan masa lalu yang masih terawat dengan baik dan menjadi salah satu tempat wisata di London yang terkenal.


"Mas, lihat ini," ucap Arumi seraya menepuk paha Alfaro.


Alfaro menegapkan posisinya, matanya melihat sebuah gambar yang di tunjukkan oleh Arumi. Sesaat ia terlihat diam saja, entah apa yang ia pikirkan saat membaca kata London di buku itu.


"Mas, aku mau kesini, sepertinya sangat menarik," ucap Arumi yang entah kenapa menjadi begitu manja.


"Oh itu ya ... baiklah kita akan kesana." Alfaro tidak bisa menolak keinginan sang istri. Meski kota itu adalah tempat yang dulu sekali tak ingin ia kunjungi.


"Terimakasih Mas, aku jadi tidak sabar," ucap Arumi yang begitu antusias.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2