
Malam kian larut namun Arumi masih berdiri di balkon kamarnya. Menikmati pemandangan malam di langit Malaysia untuk terakhir kalinya. Meski sang suami belum mengatakan secara langsung, Arumi menyadari diri jika ia harus kembali bersama sang suami, meski tak ada jaminan ia akan di terima baik.
Mencoba tuk memahami. Mencari celah untuk menguatkan hati, untuk kembali berhadapan dengan sang mertua yang meninggalkan jejak buruk dalam kehidupannya. Mencoba tuk kembali memasuki, menyentuh hati Mama untuk kesekian kalinya. Andai kali ini gagal juga, Arumi belum memikirkan langkah apa yang akan ia tempuh, akankah ia kembali pergi dan menghilang?
Alfaro baru saja kembali dari kamar mandi untuk membersihkan diri. Lengkap dengan pakaian yang akhirnya telah terganti. Dari jendela besar yang terbuka, ia bisa melihat istrinya sedang berdiri seraya menatap kearah gedung pencakar langit yang ada dihadapannya. Alfaro melangkah perlahan, mengahampiri sang istri.
"Sudah malam, tidak tidur?" tanya Alfaro saat sudah berdiri di samping istrinya.
Arumi menoleh kearah Alfaro dengan raut wajah khawatirnya, "Mas ... apa aku dan anak-anak juga ikut pulang ke Indonesia besok?"
Alfaro terdiam sesaat. Setelah mendapatkan telepon dari Almira, ia juga memikirkan hal yang sama dengan Arumi. Tentu saja ia sangat ingin membawa istri dan anak-anaknya tapi ia tidak ingin mengikuti ego diri, jika memang Arumi belum siap untuk kembali, maka ia tidak akan memaksa.
"Semua keputusan ada di tangan kamu sayang ... aku mau kamu pulang atas keinginan kamu sendiri," jelas Alfaro.
"Apa Mama akan menerima aku ... atau setidaknya Mama akan menerima keberadaan Vino dan Viona?" tanya Arumi dengan penuh rasa khwatir.
Alfaro meraih tangan Arumi, menggenggamnya dengan erat, "Entah kamu percaya atau tidak, tapi aku punya firasat, jika kali ini Mama sudah berubah."
Arumi kembali melihat kedepan. Jauh di lubuk hatinya, ia masih merasa trauma atas apa yang telah dilakukan Mama kepadanya. Tapi melihat bagaimana Vino dan Viona begitu bahagia bersama Daddy mereka, ia tidak mau kembali memisahkan anak dan suaminya. Kali ini Arumi berharap kehadirannya akan di sambut dengan tangan terbuka, tanpa tatapan sinis, apalagi hinaan sadis.
"Baiklah, aku akan ikut pulang," ucap Arumi pada akhirnya.
Ucapan Arumi barusan, merupakan sebuah keputusan besar di tengah pelariannya empat tahun belakangan. Semua yang telah terlewati tanpa sosok yang dicintai memanglah begitu berat apalagi saat membiarkan buah hati tumbuh tanpa sosok laki-laki yang menghadirkan mereka ke dunia.
...***...
Pukul delapan pagi Arumi sudah bersiap-siap untuk pergi ke Bandara internasional Kuala lumpur Malaysia. Barang-barang sudah selesai di masukan kedalam koper, tidak banyak, hanya yang penting-penting saja. Vino dan Viona pun mulai bingung, mainan apa yang akan mereka bawa. Karena selain mainan yang mereka koleksi sejak lama, ada tambahan mainan baru dari Daddy mereka.
Baru saja kemarin Daddy mereka membelikan mainan-mainan yang bahkan belum sempat mereka mainkan. Tentu saja begitu sayang untuk di tinggalkan di Apartement. Alfaro mendekati buah hatinya, yang belum juga beranjak dari depan meja yang di penuhi semua mainan. Ia mulai mengerti jika anak kecil juga bisa galau meski hanya sekedar memikirkan mainan.
"Nanti sesampainya di Indonesia, Daddy akan belikan yang lebih banyak dari ini," ujar Alfaro kepada anak-anaknya.
__ADS_1
"Tapi Daddy, kacian meleka di tinggal di dicini," ujar Viona.
"Iya Daddy, mommy bilang Ino nggak boyeh buang-buang mainan, kasian mommy cali uang sampai malam," ujar Vino.
Hati Alfaro kembali terenyuh. Meski anak-anaknya masih kecil. Tapi mereka sudah mengerti bagaimana susahnya mencari uang. Tahun-tahun terlewati dengan begitu berat, padahal Daddy mereka mempunyai kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan.
Arumi baru saja selesai menerima panggilan telepon, ia mendengar semua keluhan Vino dan Viona, dan langsung saja ia menghapiri mereka, "Sayang ... kita, Daddy dan Bi Ranti naik pesawatnya duluan, nah mainan kalian naik pesawatnya belakangan, nanti pesawatnya keberatan kan kasian," jelas Arumi pada anak-anaknya.
"Oh gitu," ucap. Vino dan Viona secara bersamaan.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang," ujar Alfaro.
"Oh iya Mas, tadi Bima menelpon bilang tidak bisa ikut penerbangan pagi ini karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan, dia akan menyusul penerbangan sore ini," tutur Arumi.
"Oh baiklah, kalau begitu kita duluan saja," ucap Alfaro.
Bi Ranti baru saja keluar dari kamarnya dengan menyeret satu koper besar dan satu tas besar lainnya. Bi Ranti terlihat senang, akhirnya setelah sekian lama akan kembali ke tanah kelahiran.
"Tentu saja sangat siap Nona," ucap Bi Ranti yang terlihat begitu antusias.
...***...
Pesawat yang membawa Alfaro terbang meninggalkan negeri Jiran Malaysia, tepat pukul sebelas siang. Dan tepat pukul setengah satu siang mereka sampai di B**andara internasional Soekarno Hatta. Sesaat setelah keluar dari pintu kedatangan. Aril yang berada disana untuk menjemput sang Bos, terdiam membeku dengan mata yang membulat sempurna.
Bagiamana tidak. Empat tahun berlalu dan akhirnya ia kembali melihat sosok cantik yang membuat Bosnya hidup seperti zombie. Ia mengucek-ngucek matanya saat Alfaro dan keluarga kecilnya kian mendekat. Ia semakin terperangah saat melihat dua bocah kecil yang di gandeng oleh Alfaro.
"Apa kabar seketaris Aril, lama tidak berjumpa," sapa Arumi saat sudah berada di hadapan Aril.
"Selamat siang seketaris Aril," sapa Bi Ranti.
"I-ini be-benar-benar Nona Arumi?" tanya Aril terbata-bata, lalu menoleh ke arah Bi Ranti, "Ada Bi Ranti juga."
__ADS_1
"Tentu saja ini Bi Ranti dan dia Arumi istriku ... dan perkenalkan mereka adalah anak-anak ku, Vino dan Viona," jelas Alfaro.
"Hy uncle," sapa Vino dan Viona secara bersamaan.
"Apa! Anak ... bagaimana bisa setelah menghilang, dan sekarang Tuan dan Nona punya anak?" ucap Aril yang masih tak percaya.
"Nanti akan aku ceritakan saat di jalan, sekarang antar aku kerumah sakit tempat Mama di rawat," pinta Alfaro.
"Baik Tuan." Aril segera melangkah bersama Alfaro, Bi Ranti dan keluarga. Meski ia sudah tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan sang Bos, tentang bagaimana dan dimana Alfaro kembali menemukan separuh jiwa yang menghilang sekian tahun.
...***...
Mobil yang di kemudikan Aril sampai juga di parkiran rumah sakit. Aril keluar terlebih dahulu dengan wajah bahagianya karena sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Alfaro sudah menceritakan semuanya secara padat singkat dan jelas. Ia bergerak untuk membukakan pintu mobil untuk Alfaro dan Arumi.
"Saya akan mengantar Bi Ranti dan barang-barang anda ke Mansion dan setelah itu kembali ke kantor," ujar Aril saat Alfaro, Arumi dan anak-anaknya sudah turun dari mobil, sementara Bi Ranti masih berada di dalam mobil.
"Iya baiklah, terimakasih," ucap Alfaro kepada Aril.
"Sama-sama Tuan," ucapanya lalu menoleh kearah si kembar yang di gandeng oleh Arumi, "Sampai jumpa lagi, Vino, Viona."
"see you to uncle," ucap Vino dan Viona secara bersamaan.
Aril kembali masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan area parkiran rumah sakit. Sekarang tinggalah Alfaro dan keluarga kecilnya disana. Arumi mendongakan kepalanya, memandangi gedung rumah sakit yang sekarang ada di hadapannya. Ia menghembuskan nafas sejenak, tinggal satu langkah lagi dan ia akan kembali bertatap muka dengan sang mertua.
"Kamu siap?" tanya Alfaro saat menoleh kearah sang istri.
"Iya Mas aku siap."
Bersambung 💓
Next Insyaallah siang ini ya kak 🤗
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍