
Almira menghentikan mobilnya di depan restaurant milik Dave. Entahlah, ia pikir ini tempat paling aman untuk duduk menyendiri karena cukup jauh dari kantor dan rumah. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam, seorang pelayan restaurant memandunya duduk di sebuah kursi yang ada di samping jendela.
"Saya ingin segelas cappucino hangat," pinta Almira kepada pelayan restaurant itu.
"Baik Nona."
Pelayan restaurant itu melangkah pergi. Almira menoleh kearah jendela dimana tepat matahari tenggelam di ufuk barat. Tatapan terlihat kosong. Ia memejamkan matanya sejenak, mencoba menghilangkan wajah Bima yang terus saja memenuhi pikirannya. Ya, ia sadar tadi ia terlalu terbawa emosi, hingga meluapkan semua hal yang menyesakkan dada.
Apa kini ia menyesal?
Ya, mungkin.
Tapi keputusannya untuk saling merenung tidak pernah ia sesali. Mereka baru saja memulai tidak mungkin berakhir begitu saja. Biarlah waktu ini menjadi waktu mereka saling mengintropeksi diri masing-masing. Tak jauh dari tempat Almira duduk, Dave terseyum saat ia baru saja datang dan menemukan Almira sedang duduk sendiri di restaurant miliknya.
Tadinya Dave hanya ingin mengecek restaurant sebelum besok kembali ke kota asalnya. Namun karena melihat Almira duduk sendiri di sana akhirnya ia mengurungkan niat untuk menemui manager restaurant dan melangkah mendekati teman lamanya itu. Ia memang berniat untuk menemui Almira sebelum berangkat, namun ia ragu karena kehadiran Bima. Tak ia sangka Almira datang di saat yang tepat.
"Selamat siang Nona," ucap Dave saat sudah duduk di hadapan Almira.
Mata yang tadinya terpejam, kini langsung terbuka saat menyadari kehadiran seseorang di hadapannya, "Dave, kamu disini."
"Tentu saja, tumben sekali kamu mampir tidak memberitahu ku?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin sendiri."
"Kamu punya masalah coba ceritakan padaku."
Almira diam tertegun, manatap wajah Dave yang saat ini sedang menunggu jawaban darinya. Orang yang ada dihadapannya sekarang adalah orang yang dulunya selalu mendengar keluh kesahnya. Namun seiring berjalannya waktu, rasa nyaman seperti dulu tak lagi ada. Apa lagi kini pikirannya sedang kacau, sungguh Almira benar-benar ingin sendiri.
Tak lama seorang pelayan datang, meletakkan secangkir capuccino pesanan Almira. Almira menghembuskan nafasnya sebentar kemudian berdiri dari posisinya, "Sepertinya ini bukan tempat yang nyaman untuk menyendiri, aku pergi dulu."
"Duduklah dan habiskan minuman mu dulu," sahut Dave tiba-tiba, membuat Almira kembali duduk di posisinya, "Mungkin terasa tidak nyaman tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kamu," sambung Dave.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Almira langsung ke intinya.
Dave meraih cangkir yang berisi cappucino itu, ia menuangkan satu sachet gula dan langsung mengaduknya, setelah selesai ia menyodorkan cangkir itu kehadapan Almira, "Besok aku akan kembali ke kota ku ... tapi sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu yang dulu tidak sempat aku jelaskan kepadamu."
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Almira dengan nada suara yang terkesan datar.
"Saat kamu pertama kali mendukung ku di pemilihan ketua OSIS, saat itulah aku mulai menyukai kamu, kepribadian kamu yang ceria dan cerdas membuat aku melewati batas sebagai seorang teman. Tak aku sangka aku jatuh cinta pada pandangan pertama ... dan bahkan sampai saat ini perasaan itu masih sama," tutur Dave, kemudian tertunduk sesaat, "Ck tidak aku sangka, aku mengatakannya lagi di saat-saat terakhir di kota ini, maafkan aku Mira."
Almira hanya terdiam seraya terus menatap pria yang ada di hadapannya saat ini. Dave sadar pasti Almira merasa tidak nyaman, karena lagi-lagi ia mengungkapkan perasaannya yang sudah jelas-jelas tidak terbalaskan.
"Aku hanya mau berkata jujur, bukan mau membebani mu. Itu hanya perasaan ku sendiri, aku tidak meminta kamu untuk menjawabnya. Jadi, lupakan saja. Aku tidak mau kita menjadi tidak nyaman dan saling menghindari karena hal ini," jelas Dave lalu tersenyum kepada Almira.
"Maaf, karena setelah belasan tahun, hanya kata maaf yang bisa aku sampaikan," ujar Almira.
"Ya, aku mengerti. Sepertinya kamu sedang menghadapi masalah," ucap Dave kemudian menyodorkan cangkir berisi cappucino itu lebih dekat lagi dengan Almira, "Minumlah selagi hangat, masalah cinta selalu terjadi dalam percintaan. Untuk itulah aku masih sendiri sampai sekarang."
Almira akhirnya bisa sedikit tersenyum, ia meraih gelas berisi cappucino dan mulai menyeruputnya. Setelah selesai ia meletakkan cangkir itu dan kembali menatap Dave, "Aku dan Bima hanya sedang mengintrospeksi diri, tapi kamu tahu aku masih menunggunya."
"Ck, aku benar-benar iri dengannya," ucap Dave yang hanya di tanggapi senyuman oleh Almira.
~
"Jadi investor dari Jerman, bersedia menanam saham untuk cabang baru?" tanya Bima kepada Daddy-nya memastikan.
"Iya, sebenarnya Daddy juga tidak menyangka investor itu tiba-tiba saja mencari kamu, dan mereka menyetujui proposal yang kamu ajukan," jelas Daddy yang terlihat sangat antusias.
Tiba-tiba saja Bima memeluk Daddy. Membuat pria itu sampai terkejut karena tindakan tiba-tiba putra semata wayangnya itu.
"Wah bahagianya, sampai meluk Daddy seperti itu," ucap Mami yang tiba-tiba saja datang mengahampiri.
Bima melepaskan pelukannya dari Daddy dan beralih menatap Mami. Raut wajah sendunya kini berubah menjadi lebih ceria. Tadi saat kembali ia langsung menemui Mami dan mengatakan jika ia telah menyerah dengan cita-citanya dan ingin segera melamar Almira untuk menjadi istrinya.
Tak ia sangka di saat-saat paling terpuruknya. Tiba-tiba saja sebuah kejutan datang, membuat harapan yang sempat pupus untuk membangun perusahaan sendiri, kini sebentar lagi akan terwujud.
"Mi, sebentar lagi Bima akan punya perusahaan sendiri," ucap Bima dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya sayang, Mami tau."
"Daddy sudah memberitahu Mami kamu tadi," sambung Daddy.
__ADS_1
"Kalau begitu Bima mau bersiap-siap dulu Mi, Dad," ucap Bima yang terlihat sangat antusias.
"Loh mau kemana?" tanya Mami.
"Mau kembali ke Indonesia untuk menemui Almira Mi," jawabnya.
"Sayang ini sudah larut malam, memangnya kamu sudah pesan tiket pesawat," ujar Mami.
"Lagi pula besok kita harus bertemu investor itu untuk tanda tangan kontrak kerjasama," sambung Daddy.
Bima menyadarkan tubuhnya di dinding, kemudian terkekeh sendiri karena kekonyolannya, "Maaf Dad, Mi Bima terlalu antusias."
"Iya tau deh yang kebelet nikah," goda Mami.
~
Mama membuka pintu kamar Almira secara perlahan. Di lihatnya Almira yang sedang duduk di tepi ranjang seraya menatap keluar jendela yang terbuka lebar. Padahal situasi di luar sana sedang hujan rintik.
"Mira, kenapa jendelanya di biarkan terbuka seperti ini," ucap Mama seraya menutup jendela lalu melangkah duduk di samping Almira.
"Sayang, kamu kenapa marah seperti itu dengan Bima. Kamu tahu dia terlihat sedih sekali saat pulang tadi, Mama benar-benar tidak tega melihatnya ... Mama tahu kamu kecewa dengan Bima, tapi kamu tahu, tidak ada hubungan yang tidak di warnai konflik mau itu masalah besar atau kecil," tutur Mama.
Almira menutup wajah dengan kedua tangan, ia menangis tersedu-sedu di hadapan Mama. Untuk pertama kalinya setelah Almira beranjak dewasa, Mama melihat putri semata wayangnya itu menangis seperti ini. Mama membawa Almira kedalam dekapannya.
"Mira merindukannya Ma, bagaimana jika dia tidak akan kembali lagi," ucap Almira yang masih terisak-isak.
"Tenang ya sayang, Mama yakin Bima juga merasakan hal yang sama dengan kamu. Jika memang kalian di takdirkan untuk bersama, cepat atau lambat dia akan kembali untuk kamu," tutur Mama.
...🍂...
Terkadang manusia hanya bisa berencana dan menginginkan kehidupan yang sempurna selama di dunia. Tapi ia lupa jika setiap nafas yang ia hembuskan sudah di atur oleh kuasanya. Begitu juga dengan hubungan percintaan, tak ada hubungan tanpa ada kerikil tajam yang mewarnai sebagai penguat pondasi layak atau tidaknya suatu hubungan. Setiap masalah pasti ada solusi dan di setiap solusi pasti ada bahagia setelahnya. Yakin dan percaya takdir tak pernah salah menemukan alamatnya.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1