Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.72 (Bima dan Alfaro)


__ADS_3

"Kamu mau kemana Al?" tanya Mama saat Alfaro menyeret kopernya turun dari lantai atas.


"Aku ada pekerjaan di Malaysia," ujarnya singkat seraya memberikan kopernya kepada supir yang akan mengantarkan Alfaro ke bandara.


"Sarapan dulu, sudah lama kamu tidak sarapan bersama Mama," pinta Mama.


"Maaf Ma, penerbangan ku sebentar lagi," Alfaro meraih tangan Mama dan menciumnya, "Aku berangkat." Alfaro berbalik melangkah pergi meninggalkan Mama yang diam terpaku di tempatnya.


Selama empat tahun belakangan, Mama seperti kehilangan sosok anak laki-lakinya yang dulu. Alfaro tak lagi memperdulikannya, tidak lagi membalas jika Mama mengoceh padanya, diam, acuh seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Bahkan senyum sang putra sudah lama tak dilihatnya.


Pandangan Mama tak lepas dari Alfaro yang melangkah memunggunginya . Sekilas mata Mama nampak berkaca-kaca. Hembusan nafasnya terasa bergetar seiring rasa khawatir akan nasib sang putra di masa depan. Apakah akhirnya Mama menyesal? Mungkin iya, tapi Mama terlalu takut untuk mengakui kesalahannya.


~


Alfaro menatap nanar keluar jendela mobil. memandangi hiruk pikuk ibu kota yang tak membuat kesunyian di hatinya hilang. sebagaimana sayur tanpa garam, semuanya terasa hambar. Menyibukkan diri seperti orang gila sudah dilakukan, namun saat ia kembali sendiri berteman dinding kamar dan suara denting hujan, perasaan hancur itu kembali mendominasi.


Hari ini, ia melangkah pergi ketempat yang cukup jauh untuk pertama kalinya. Meninggalkan tanah yang sarat akan kenangan indah bersama seseorang yang hingga saat ini masih menduduki posisi utama di hati dan pikirannya. Dimana dia? Pertanyaan itu masih sama, namun ia sudah terbiasa, mencoba acuh walau batin tersiksa.


Sesampainya di bandara, Alfaro langsung melangkah menuju pintu keberangkatan, sudah ada seseorang disana untuk memandunya masuk ke pesawat business class yang akan membawanya terbang ke negeri Jiran Malaysia.


...***...


"Mom, ino boleh ikut ya," pinta anak laki-laki Arumi.


"Yona uga mau," regek anak perempuan Arumi.


Arumi yang sedang duduk di depan meja rias menoleh kesamping dimana kedua anaknya berada. Ia membelai pucuk kepala Vino dan Viona secara bergantian. Begitu berat untuk seorang Ibu mengabaikan permintaan anaknya, tapi apa boleh buat semua ini untuk masa depan mereka juga.


"Vino, Viona ... kalian tidak bisa ikut Mommy Mommy pergi bekerja untuk mencari uang ... ayo tebak uang untuk apa?" tanya Arumi menatap anaknya secara bergantian.


"Hmm ... buat beli es klim mom," jawab Vino seraya mengangkat tangan kanannya.


"Terus apa lagi?" tanya Arumi lagi.


"Oh Yona tau, buat beli candy," ucap Viona seraya melompat-lompat.


"Pintar anak Mommy." Arumi berlutut di hadapan kedua anaknya seraya merentangkan tangan, "Sini peluk Mommy."


Vino dan Viona berhambur memeluk Arumi. Arumi mengeratkan pelukannya saat cairan bening itu tiba-tiba saja keluar dari sudut matanya. Entah sudah berapa banyak waktu berharga yang tidak bisa ia lalui dimasa keemasan anak-anaknya.

__ADS_1


Masa dimana seharusnya seorang anak mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya. Arumi bisa kuat melalui cobaan apapun tapi saat melihat wajah polos anak-anaknya yang belum tau kejamnya dunia, meminta sedikit saja perhatian dan waktunya. Hati arumi bagai teriris, hingga tak bisa menahan sesak di dada yang bergemuruh ingin di lepaskan.


~


Tepat satu jam lima puluh menit. Akhirnya Alfaro sampai di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia. Tak jauh dari pintu kedatangan, Bianca dan Albert melambaikan tangan saat melihat kedatangan tamu mereka.


Alfaro membalas dengan melambaikan tangannya juga. Ia melangkah menghampiri kedua temannya itu. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah empat tahun. Saat pernikahan Bianca dan Albert, Alfaro tidak bisa datang karena masih dalam kondisi pemulihan pasca kecelakaan dan masa pemulihan hati karena di tinggal sang istri.


Bianca dan Albert menetap di London Inggris dan ini juga kedatangan pertama mereka ke Malaysia selama empat tahun terakhir. Mereka sudah tahu tentang menghilangnya Arumi dari hidup Alfaro tapi mereka tidak tahu pasti penyebabnya. Ingin rasanya bertanya tapi mereka tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah pribadi Alfaro. Sekarang melihat Alfaro dalam keadaan baik-baik saja mereka sudah senang.


"Apa kabar Al?" Albert mengulurkan tangannya dan langsung di sambut baik oleh Alfaro, "


"Baik, lama tak bertemu." Alfaro beralih melihat Bianca yang saat ini tengah berbadan dua, "Akhirnya, sebentar lagi kalian punya Baby."


"Iya Al, akhirnya setelah beberapa tahun menunggu aku hamil juga," ucap Bianca dengan senyum sumbringah.


Andai kamu tidak menghilang, pasti sekarang kita juga sudah punya anak atau setidaknya kamu juga sudah hamil seperti Bianca, batin Alfaro.


"Ayo kita pergi, kedua orangtua ku sudah menunggu dirumah, kamar tamu saja sudah di bersihkan untuk menyambut kedatangan mu," ajak Bianca.


"Aku tidak mau merepotkan, aku akan menginap di hotel saja," tolak Alfaro.


"Jangan sungkan Al, kamu itu adalah tamu kami," ucap Albert seraya menepuk pundak Alfaro pelan.


...***...


Siang berganti malam.


Di kediaman keluarga Hartanto. Alfaro sedang menikmati makan malam bersama keluarga Bianca. Disana ada Bianca, Albert, dan kedua orang tua Bianca. Sementara Bima belum pulang dari kantor.


"Bagaimana kabar Mama kamu Al?" tanya Mami Bianca.


"Baik Tante," jawabnya.


"Kenapa kamu tidak datang waktu pernikahan Bianca, padahal kami menunggu kamu dan istrimu," ujar Daddy Bianca.


Alfaro terdiam sesaat. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana. Sementara di hadapannya, Albert dan Bianca saling memandang satu sama lain. Mereka mengetahui fakta bahwa Alfaro kecelakaan dan Arumi menghilang sewaktu mereka sudah di London Inggris. Mereka lupa memberitahu kedua orangtuanya dan juga Bima.


"Jadi begini Dad, waktu itu Alfaro kecelakaan parah dan ... istrinya menghilang," tutur Bianca yang terlihat ragu.

__ADS_1


"Astaga, kenapa kamu baru bilang Bi." Daddy beralih menoleh kearah Alfaro, "Maaf ya Al, kami tidak tau tentang masalah yang kamu hadapi."


"Iya om tidak apa-apa."


Karena pembahasan itu, kini wajah Alfaro nampak sendu. Bianca dan Albert menjadi merasa bersalah karena telah membuka luka lama yang belum kering selama empat tahun.


"Aku pulang!"


Suara yang tiba-tiba saja terdengar, membuat Alfaro mengangkat kepalanya, memutar kepala untuk melihat siapa yang datang. Bima yang baru saja tiba, menghentikan langkahnya saat pandangannya menangkap sosok pria yang terakhir kali ia temui di sebuah restaurant empat tahun yang lalu.


"Bima sini, kenapa berdiri di situ," sahut Mami.


"Kamu pasti kaget ya, mantan Bos kamu datang," sambung Bianca.


Tatapan mata Bima tak pernah lepas dari Alfaro. Ia mencengkram erat tas yang ada ditangannya seraya kembali melangkah menuju ruang makan keluarga. Alfaro berdiri dari duduknya saat Bima semakin mendekat kearahnya.


Sekarang mereka saling berhadapan. Tatapan mata itu masih sama seperti empat tahun yang lalu. Tatapan penuh rasa persaingan yang begitu sengit. Bima tak juga bergeming, hingga akhirnya Alfaro mengulurkan tangannya terlebih dulu.


"Apa kabar, sudah lama tidak bertemu," ucap Alfaro dengan tangan yang terulur kedepan, menuggu untuk disambut.


"Baik, saya berharap anda juga baik-baik saja empat tahun belakangan ini," ucap Bima seraya menyambut uluran tangan Alfaro, dan beberapa saat kemudian segera dilepaskan.


Dada Bima begitu sesak saat kembali berhadapan dengan pria yang telah melukai hati Arumi. Ia marah, benci hingga ingin rasanya mendaratkan satu pukulan saja di wajah pria dihadapannya ini. Alfaro merasa heran karena Bima yang terlihat tidak suka saat melihat kedatangannya.


"Bima, ayo ikut makan malam," sahut Bianca.


"Aku masih kenyang kak, aku kembali ke kamar dulu," ucap Bima dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Semuanya nampak heran dengan sikap yang di tunjukkan Bima. Bima tekenal ramah kepada siapapun. Namun hari ini tatapan matanya saja sudah lain dari biasanya. Tak ingin berprasangka buruk, Alfaro memilih kembali duduk dan menikmati hidangan yang khusus di masak untuknya.


"Kenapa dia, apa dia kelelahan," ucap Bianca yang terus memandangi kepergian adiknya.


"Entahlah, Mami juga bingung, sudah beberapa tahun ini, Bima sering pulang malam dan dia juga sering sekali ke daerah xx," ujar Mami.


"Apa mungkin dia punya pacar Mi," ucap Bianca menerka-nerka.


"Bisa jadi, Daddy juga berpikir begitu," ujar Daddy tiba-tiba.


Alfaro tak bergeming dan memilih menghabiskan makanannya dengan cepat. Tubuhnya benar-benar lelah dan butuh istirahat sebelum mulai beraktivitas esok hari.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2