Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.84 (Bertemu Dinda)


__ADS_3

Mansion kembali terasa hangat karena meja makan yang dulu begitu sepi, kini semua kursi mulai terisi penuh. Mama yang duduk di tengah-tengah anak dan cucunya, tersenyum bahagia karena akhirnya tak lagi kesepian. Arumi duduk di samping suaminya sementara Bima duduk di samping Almira. Vino dan Viona memilih bermain di halaman belakang bersama dengan Bi Ranti dan pelayan lainnya.


Hari ini rencananya Arumi akan pergi ke kantor untuk memberikan kejutan kepada Dinda, tapi ia kembali bingung karena Vino dan Viona minta untuk jalan-jalan. Sesampainya di Jakarta, sudah begitu banyak rencana yang ingin Arumi lakukan, belum lagi rencana bulan madu yang Mama tawarkan. Entah yang mana yang harus ia dahulukan.


"Sayang kamu jadi ikut ke kantor?" tanya Alfaro tiba-tiba.


"Sepertinya tidak Mas, Vino dan Viona ingin jalan-jalan," jawab Arumi.


"Kak Rumi pergi saja, hari ini aku akan mengambil cuti dan mengajak mereka jalan-jalan," sahut Almira tiba-tiba.


"Iya Rumi, kamu pergilah ... lagi pula ada Almira dan Bima yang akan mengajak anak-anak berjalan-jalan, sekalian pikirkan permintaan Mama malam tadi," sambung Mama lalu mengarahkan pandangan ke Bima yang terlihat kebingungan karena ucapanya, "Bima bisa mengantar mereka jalan-jalan kan, tante ragu kalau Almira hanya sendiri, apalagi Vino dan Viona lagi aktif-aktifnya."


"Oh iya tante," ucap Bima pada akhirnya. Tidak mungkin ia menolak permintaan Mama yang terlihat berharap banyak padanya.


Almira hanya diam, seraya melirik Bima yang duduk di sampingnya. Semenjak kejadian itu ia merasa benar-benar tidak tenang. Selalu saja merasa canggung jika berada di dekat pria yang telah merebut ciuman pertamanya. Sekarang Mama malah meminta agar Bima menemaninya. Entah bagaimana Almira akan melewati sepanjang hari ini bersama Bima.


...***...


"Bagaimana menurut Mas tentang permintaan Mama, yang menginginkan kita untuk pergi bulan madu," ujar Arumi tiba-tiba.


"Aku juga berpikiran sama dengan Mama tapi jika kamu berat untuk meninggalkan anak-anak, kita bawa saja," ujar Alfaro.


"Huh, nanti aku akan mencoba mengatakan pada Vino dan Viona," ujar Arumi lalu kembali menoleh kearah jendela, menatap jalanan yang nampak padat merayap pagi ini.


Arumi dan suami sedang dalam perjalanan ke kantor. Ia benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya. Arumi sudah membayangkan Dinda akan memukulnya karena pergi begitu saja tanpa kabar. Ia rindu menghabiskan waktu bersama sang sahabat. Masa yang mungkin tidak akan bisa lagi terulang.


Masa muda yang ia lewati bersama sang sahabat begitu lekat di Ingatan, tentang bagaimana mereka naik motor bersama, makan sepiring berdua, bernyanyi di tempat karaoke seperti orang kesurupan dan juga menangis bersama. Ingin rasanya mengulang kembali masa yang telah terlewati. Tapi baik Arumi ataupun Dinda mereka sudah sama-sama dewasa dan tentu saja tidak bisa lagi bertingkah konyol seperti dulu.


"Kamu pasti sangat merindukan Dinda ya?" tanya Alfaro, membuat Arumi kembali melihat kearahnya.


"Iya Mas, Bagaimana dia sekarang, apa masih ceroboh seperti dulu?" tanya Arumi.

__ADS_1


"Dinda bekerja dengan cukup baik, meski tak jarang dia dan Aril sering bertengkar karena hal sepele," ujar Alfaro.


"Aku kira mereka sudah menjalani hubungan spesial," ucap Arumi.


"Entahlah ... aku juga tidak tau," ucap Alfaro, lalu membawa Arumi bersandar di bahunya, "Sayang ... kamu masih datang bulan?" tanyanya tiba-tiba.


Arumi berusaha menahan tawanya. Karena sejak malam tadi Alfaro selalu bertanya tentang hal itu. Ia mengerti jika suaminya pasti sangat tersiksa, karena tak bisa menyalurkan hasrat yang terpendam sekian lama. Ia juga sama, ingin merasakan sentuhan sang suami yang dulu membuatnya candu. Tapi apa boleh buat si bulan tiba-tiba saja singgah tanpa di duga.


"Belum Mas," ucap Arumi sambil mengelus dada bidang suaminya. Alfaro kembali menghembuskan nafasnya perlahan, seraya menahan tangan sang istri yang sedang mengelus dadanya hingga membuat hasrat kian membuncah.


"Kalau begitu jangan menggoda ku," ucap Alfaro yang terdengar lemas namun hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Arumi.


~


Di tempat yang berbeda, Aril tak bisa konsentrasi bekerja karena Dinda yang terus saja bolak-balik ke depan meja kerjanya. Aril menyesal karena mengatakan bahwa akan ada kejutan untuk Dinda. Baru saja Dinda kembali ke mejanya dan sekarang ia kembali menghapiri Aril.


"Ayolah katakan, kejutan apa yang kamu maksud, hari ini aku tidak ulang tahun kenapa kamu bilang ada kejutan ... atau jangan-jangan aku mau di promosikan, naik jabatan," ujar Dinda yang membuat Aril tak bisa berkata-kata.


"Aku bilang tunggu saja, kenapa kamu tidak bisa sabar sekali," keluh Aril yang mulai terlihat kesal.


"Iya ... sana balik kerja lagi," ucap Aril yang kembali fokus ke meja kerjanya. Namun Dinda bukannya pergi malah duduk di hadapan Aril.


"Oh iya, malam ini aku ada kencan buta dengan seseorang," ucap Dinda yang membuat Aril kembali melihat kearahnya.


"A-apa! Kencan buta?" ucap Aril yang terlihat kaget.


"Iya kenapa? Tidak ada salahnya kan, aku sudah lelah menjadi jomblo, kemana-mana cuma sama kamu dan kamu lagi," ucap Dinda.


Aril terdiam sesaat. Entah kenapa setelah empat tahun, ia sudah banyak melewati waktu bersama Dinda sebagai seorang rekan kerja dan juga teman yang memiliki hobi yang sama yaitu menonton bola dan menonton film bersama. Tapi ia tidak menyangka jika hari ini akan tiba, hari dimana akhirnya Dinda mengatakan bahwa ia akan berkencan dengan seseorang.


"Kamu--"

__ADS_1


Cklek.


Aril tak sempat melanjutkan kata-katanya karena suara pintu terbuka membuat fokusnya dan Dinda teralihkan. Mereka melihat kearah pintu dimana Alfaro berdiri dengan seseorang yang bersembunyi di belakang punggungnya. Aril sudah bisa menebak jika itu adalah Arumi. Sementara Dinda masih terlihat kebingungan.


Perlahan Alfaro melangkah masuk, di ikuti oleh Arumi yang mulai muncul dari persembunyian dan mensejajarkan langkahnya dengan sang suami. Sontak saja Dinda langsung berdiri dari duduknya, menatap Arumi yang semakin mendekat kearahnya. Tubuhnya membeku, sesekali ia mengucek mata untuk memastikan apa yang ada di hadapannya saat ini benar-benar nyata.


"Kok malah bengong, tidak rindu dengan sahabat sendiri," ucap Alfaro tiba-tiba.


"Ini benar-benar Arumi ... Arumi Irawan?" tanya Dinda yang masih terlihat tak percaya.


Arumi mengangguk perlahan dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena merasa haru, ia merentangkan kedua tangannya, untuk menyambut Dinda dengan pelukan. Dinda mulai tak bisa membendung perasaannya, ia langsung memeluk sang sahabat seraya menagis tersedu-sedu.


"Kenapa kamu baru datang sekarang, kamu kemana saja," ucap Dinda sambil terisak, "Sebenarnya aku ingin marah pada mu tapi kenapa aku malah menangis."


Arumi melepaskan pelukannya, mengusap air mata yang membasahi wajah Dinda "Maafkan aku, nanti akan ku ceritakan semua yang sudah aku lewati."


"Oh iya, apa kamu tau ternyata Nona Arumi sudah punya anak," sahut Aril tiba-tiba.


"A-apa, kamu punya anak?" pernyataan Dinda yang langsung di tanggapi dengan anggukan dan senyuman oleh Arumi.


"Namanya Vino dan Viona, besok aku akan mengajaknya kemari," ujar Alfaro.


"Huaaaa... hiks...hiks."


Dinda malah menangis semakin kencang. Arumi dan yang lainnya terlihat bingung karena untuk pertama kali melihat Dinda menangis seperti ini. Apa Dinda terlalu bahagia bertemu Arumi? Langsung saja Aril menghapiri Dinda untuk menenangkannya.


"Hey, tenanglah ... kamu terlalu senang bertemu Nona ya?" tanya Aril.


"Bukan itu ... aku sedih karena ternyata Arumi sudah punya anak disaat aku bahkan belum punya pacar," ucap Dinda sambil terisak-isak.


Aril melepaskan tangannya dari pundak Dinda. Mundur pelahan dan terduduk lemas di kursinya. Dinda memang orang yang susah di tebak. Pada akhirnya Aril menyesal karena sempat merasa prihatin kepada sang asisten. Arumi dan Alfaro berusaha menahan tawa mereka karena melihat ekspresi wajah Aril yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍❤️


__ADS_2