
Hari mulai gelap, mobil yang di kendarai Alfaro baru saja sampai di parkiran apartement. anak-anak mereka pun sudah ketiduran karena terlalu lelah bermain di pantai. Dengan sigap Alfaro menggedong Viona sementara Arumi menggedong Vino. Sesampainya di depan unit apartment, Bu Ranti membuka pintu untuk mereka.
"Walah pada ketiduran semua ya Tuan," ucap Bi Ranti saat melihat si kembar dalam gendongan kedua orangtuanya.
"Iya Bi, tadi mampir di pantai ... kalau begitu kami masuk dulu," ucap Alfaro.
"Oh iya silahkan Tuan, Nona," ucap Bi Ranti seraya membuka jalan agar Arumi bisa masuk.
Sesampainya di kamar, Arumi membaringkan Vino secara perlahan, di ikuti Alfaro yang juga ikut membaringkan Viona di samping Vino. Mereka berdiri saling berdampingan, menatap bauh hati mereka yang sekarang tengah tertidur sangat nyenyak.
"Lihatlah, mereka sangat mirip dengan ku, itu pasti karena kamu selalu mengingat ku saat mengadung Vino dan Viona," ucap Alfaro seraya merangkul sang istri.
"Aku yang mengandung mereka selama sembilan bulan, tapi wajahnya malah mirip daddy-nya," ucap Arumi dengan wajah kesalnya.
"Bagaimana kalau kita buat satu lagi, kali ini pasti akan mirip kamu," ucap Alfaro dengan senyum nakalnya.
"A-apa ... maksud Mas, punya anak lagi?" tanya Arumi yang terlihat gugup karena permintaan Alfaro.
"Haha, kamu lucu sekali." Alfaro tekekeh sendiri saat melihat ekspresi wajah Arumi yang terlihat tegang karena ucapanya. Dengan sigap ia membawa Arumi kedalam pelukannya. Terpisah selama empat tahun, membuat ia ingin terus dekat dengan sang istri.
"Mas kok malah ketawa sih, aku serius bertanya," ucap Arumi saat melepaskan pelukan Alfaro darinya.
"Memangnya boleh?" tanya Alfaro.
"Tau ah, aku mau keluar dulu," ucap Arumi. Saat hendak melangkah keluar, Alfaro langsung menarik tangan Arumi agar kembali kehadapannya.
"Jangan pergi aku masih sangat merindukan mu." Alfaro menciumi bagian leher Arumi hingga ke telinga, lalu berlanjut di bagian bibir, ia mencengkram erat pinggang sang istri karena hasrat yang kian menggelora. Di tengah-tengah ketegangan Alfaro. Arumi mendorong tubuhnya agar menjauh.
"Mas jangan disini, nanti anak-anak bangun," ucap Arumi.
"Terus dimana," tanya Alfaro yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.
"Tidak dimana-mana, lagi pula aku sedang datang bulan," ucap Arumi malu-malu lalu melangkah keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Alfaro duduk di tepi ranjang seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Ya, ia sudah tidak bisa menahan dirinya, empat tahun sang junior tidak bertemu empunya, apa lagi saat melihat body sang istri yang kian mantap, bisa di bayangkan bagaimana tersiksanya seorang Alfaro Wilson.
Setelah beberapa saat Alfaro keluar dari dalam kamar untuk mencari keberadaan sang istri. Bertepatan dengan itu juga Bima dan Maminya datang. Arumi masih disana di depan pintu yang sedang terbuka bersama dengan Bima dan Maminya. Bima tersenyum saat melihat Alfaro muncul dari balik pintu, begitu juga dengan Alfaro.
Arumi mengajak Bima dan Maminya untuk duduk di kursi ruang tamu. Terlihat Bima membawa masuk sebuah koper yang tidak asing bagi Alfaro. Koper itu adalah koper milik Alfaro yang ada di rumah orang tua Bima. Saking bahagianya bertemu keluarga kecilnya, ia sampai lupa dengan barang-barangnya.
"Al ini koper kamu, tante pikir kamu pasti memerlukan barang-barang di dalamnya," ucap Mami.
"Oh iya Tante, terimakasih, saya lupa mampir untuk mengambilnya tadi" ucap Alfaro.
"Bima, tante silahkan duduk," ucap Arumi.
Bima dan Mami duduk berhadapan dengan Arumi dan Alfaro. Ia bisa melihat bagaimana Alfaro yang tak mau melepaskan genggaman tangannya dari Arumi. Sakit? Ya mungkin karena ia masih dalam proses mengikhlaskan. Namun bukan Bima namanya jika tidak bisa menutupi perasaannya sendiri.
Arumi sedang mengobrol dengan Mami, sementara Alfaro dan Bima saling menatap dalam diam. Mereka masih merasa canggung, dan belum terbisa berhadapan dengan situasi seperti ini. Tak lama Bi Ranti datang membawa sebuah nampan berisi beberapa cangkir teh.
"Rumi, si kembar mana?" tanya Mami.
"Yah sayang sekali, tante suka sekali sama anak-anak kalian, lucu," ucap Mami.
"Bagaimana dengan keadaan Bianca Tante?" sahut Alfaro yang sejak tadi hanya diam.
"Dia sudah pulang ke rumah, kondisinya sudah lebih baik ... oh iya dia juga menitip pesan, katanya masalah proyek itu sudah di urus oleh Albert jadi kamu tidak perlu khawatir," ujar Mami.
"Oh baiklah Tante," ucap Alfaro.
Truuuttt trutt.
Getar ponsel mengalihkan fokus Alfaro. Ia meraih ponselnya yang berada di saku celana. Saat melihat layar ponsel, ia mengeryit heran karena tidak biasanya Almira menelpon. Apalagi saat dia sedang di luar negeri seperti ini. Langsung saja ia menerima panggilan telepon itu.
"Ya, kenapa Mira?"
[Kak, Mama masuk kerumah sakit, apa kakak bisa pulang?]
__ADS_1
"Apa!" Alfaro berdiri dari posisinya, raut wajahnya seketika berubah menjadi pucat, "Lalu bagaimana keadaan Mama sekarang?"
[Mama sudah sadar kak dan sudah baikan, tapi Mama ingin bertemu kakak.]
"Baiklah kakak akan pulang besok pagi, karena ini sudah larut malam.]
[Iya kak, aku tunggu.]
Alfaro kembali duduk di samping Arumi saat panggilan telepon itu sudah terputus. Baik Arumi, Bima ataupun Mami. Mereka begitu penasaran apa yang terjadi hingga wajah Alfaro nampak sangat khwatir.
"Mama kenapa Mas?" tanya Arumi
"Mama masuk rumah sakit ... Mama ingin aku pulang secepatnya," jawab Alfaro.
"Astaga, tante ingin sekali ikut menjenguk Mama kamu Al, tapi Bianca tidak bisa di tinggal," ucap Mami dengan raut wajah khawatirnya.
"Tidak apa-apa Tante, saya mengerti."
"Bagaimana kalau Bima saja," ucap Mami, seraya menoleh kesamping, dimana Bima sedang duduk, "Bima kamu ikut ke Indonesia ya, jenguk Mamanya Alfaro," pinta Mami.
"A-apa, Bima? tapi Mi--"
"Sudah jangan banyak tapi-tapi, pokoknya kamu harus ikut ke Indonesia," ujar Mami yang tidak mau di bantah.
Bima tidak pernah bisa membantah Mami. Bahkan di saat Mami memintanya ikut ke Indonesia bersama dengan sepasang suami istri yang membuatnya iri. Ingin rasanya ia mengatakan kepada Mami bahwa ia akan tersiksa jika terus berada antara Alfaro dan Arumi, namun lagi-lagi ia memilih memendam semuanya.
Entah kapan rasa itu akan pergi untuk Bima yang sedang berusaha melupakan cinta pertamanya. Tapi jika memang takdir sudah membuka jalan untuk ia menemukan orang yang bisa mengalihkan dunianya dari Arumi, tentu saja itu tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Karena rasa yang di miliki Bima untuk Arumi cukup dalam, hingga ia rela berkorban untuk kebahagiaan jodoh orang lain.Tapi tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak.
Bersambung 💓
Siapa nih yang minta Mas Bima di jodohkan dengan Almira 😁😁, nih author bukain jalanya semoga aja hati mas Bima bisa berpaling ya hehehe.
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍
__ADS_1