
Aril duduk dihadapan ibu dan Dinda. Ia masih saja fukos ke rotan yang ternyata di jadikan Ibu sebagai penggaruk punggung. Dahinya terus saja berkeringat. Entah sudah berapa lembar tisu yang di pakai Aril. Ibu yang sedang duduk seraya berpangku tangan, memperhatikan Aril dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Sebenarnya di mata ibu, Aril adalah menantu idamannya. Tapi karena mendengar pengakuan Aril, Ibu jadi tergerak untuk mengetahui sedalam apa Aril mencintai anaknya, pengakuan Aril membuat Ibu ingin sedikit jual mahal. Dinda berusaha menahan tawanya saat wajah Aril yang terlihat semakin pucat.
"Jadi intinya nak Aril mau nikahin Dinda, begitu?" tanya Ibu dengan wajah juteknya.
"Se-secepatnya ... saya dan Dinda berencana untuk menikah tiga bulan lagi," jawabnya terbata-bata.
"Boleh aja sih ... tapi--" ucapan Ibu tertahan seraya melirik kesamping dimana Dinda sedang duduk.
"Tapi apaan sih bu," sahut Dinda yang juga penasaran.
"Masa lu kagak tau, sebelum ada orang yang mau jadi bagian keluarga kite, itu harus kenalan dulu sama Engkong, Ncang, Ncing, Mpok, sama abang-abang sepupu elu," tutur Ibu.
Dinda berdiri dari posisinya saat mendengar ucapan Ibu. Ia masih ingat betul bagaimana calon suami sepupunya yang di kerjai habis-habisan oleh Engkongnya.
"Jangan Bu, nikahnya juga masih beberapa bulan lagi, kenalannya nanti-nanti aja ya," ucap Dinda yang sudah berpindah duduk di samping Aril. Rasanya ia tidak rela saat membayangkan Aril di berlumuran lumpur di sawah.
"Eh ngape lu! Justru karena masih lama, nak Aril harus mengenal keluarga kita dari sekarang ... mau nikah kagak sih."
"Ya mau lah Bu tapi--" ucapan Dinda terpotong saat Aril menggenggam tangannya.
"Baiklah Bu, kalau memang itu adalah syarat agar saya di terima di keluarga besar Ibu, saya mau," ujar Aril lugas.
Dinda menatap haru kearah Aril. Dari mana saja ia selama ini. Kenapa baru sekarang ia menyadari jika laki-laki yang dulu hanya ia anggap teman bertengkar, ternyata bisa bersikap gentleman di hadapan Ibu yang garangnya melebihi singa.
"Nah tuh, nak Aril aja kagak keberatan, jadi kapan nak Aril bisa ikut Ibu sama Dinda ke rumah engkong."
...***...
Di belahan bumi yang berbeda. setelah kurang lebih empat belas jam penerbangan dari Jakarta ke London Inggris tanpa harus transit, akhirnya Arumi dan Alfaro sampai di Badar udara Heathrow, London.
__ADS_1
Saat keluar dari Bandara, cuaca dingin langsung begitu terasa. Namun Arumi seakan tak perduli, ia malah terpana melihat salju yang turun dari langit. Ia mengulurkan tangannya, menakap buliran salju yang terjatuh. Akhirnya mimpinya semasa kanak-kanak bisa terwujud.
Tak lama sebuah mobil datang menghampiri mereka, berhenti tepat di hadapan Alfaro dan Arumi. Seseorang pria berperawakan tinggi dengan kepala plotos turun dari mobil dan langsung membungkukkan badannya di hadapan Alfaro dan Arumi.
"Welcome to London, Mr.Wilson and Mrs.Wilson (Selamat datang di London Tuan Wilson dan Nona Wilson)."
"Thank you ... the room I ordered is ready? (Terimakasih ... kamar yang saya pesan sudah siap?)"
"Of course sir, let me take you to the hotel (Tentu saja Tuan, mari saya antar ke hotel)"
Arumi hanya diam seraya memperhatikan suaminya berbicara dengan orang asing itu. Ia mengerti bahasanya, namun yang ia tak mengerti siapa pria bule yang menjemput mereka. Alfaro meraih tangan Arumi,agar berjalan mengikutinya masuk kedalam mobil. Sementara pria bule itu memasukkan koper-koper kedalam bagasi mobil.
"Mas, orang itu siapa?" tanya Arumi saat duduk di samping suaminya.
"Oh itu, dia adalah supir pemilik hotel yang akan kita tempati, kebetulan aku kenal baik dengan pemilik hotel itu kami rekan bisnis," jawab Alfaro seraya memasang sabuk pengaman untuknya dan juga sang istri.
Arumi hanya mengangguk tanda mengerti. Ia terkadang lupa jika suaminya bukan orang biasa, tentu saja kolega bisnisnya ada dimana-mana. Setelah selesai memasukkan barang-barang, supir itu masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan halaman bandara.
~
Jadi Arumi tidak perlu repot-repot pergi jauh jika hanya ingin melihat kemegahan Big Ben dan Istana Westminster. Karena kamar yang Alfaro pesan, jendelanya berhadapan langsung dengan Big Ben dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
~
Alfaro mengajak Arumi masuk kedalam kamar yang sudah ia pesan. Tepat di lantai tiga puluh kamar itu berada. Terlihat sangat mewah dengan nuansa modern yang mendominasi. Tak ada perapian saat musim dingin datang. Karena sekarang teknologi makin canggih, pemanas ruangan mampu membuat ruangan menjadi lebih hangat.
"Kamu kedinginan?" tanya Alfaro saat melihat Arumi mengusap kedua lengannya.
"Sedikit, cuaca diuar tadi sangat dingin, mungkin karena aku belum terbiasa, tapi setelah sampai di kamar ini, jauh lebih hangat," jawab Arumi yang saat ini sudah duduk di tepi ranjang.
"Kamu mau mandi air hangat?"
__ADS_1
"Apa ada?" Aku mau, terlalu lama di pesawat membuat ku gerah," ucap Arumi yang terlihat antusias.
"Ayo kita mandi bersama," ajak Alfaro.
"A-apa? Mas duluan saja ... aku malu," ucap Arumi seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya.
Empat tahun terlewati tanpa pergulatan panas. Membuat Arumi seakan kembali menjadi wanita polos yang lupa apa yang harus ia lakukan. Alfaro duduk di samping sang istri, menyibakkan rambut panjang itu hingga kebelakang. Di ciumnya pundak hingga ke leher Arumi. Ia tidak bisa menahan hasratnya lagi, kali ini semua harus tersalurkan tanpa menunda waktu.
Dengan satu gerakan, kini Arumi sudah berada di bawah kungkungan Alfaro, tak bisa bergerak bahkan rasanya bernafas saja begitu susah. Alfaro mendaratkan ciuman di bibir sang istri, membiarkan tangannya menggerayangi setiap inci tubuh Arumi.
Hasrat kian membuncah, saat ciuman itu terlepas, Alfaro melepas paksa baju yang membalut tubuh istrinya, hingga kancing baju itu berhamburan kemana-mana. Alfaro terpana saat melihat gundukan yang setelah empat tahun semakin menantang, besar dan padat.
"Ahhhkk." Suara yang terdengar samar-samar dari mulut Arumi saat dua gundukan kenyal itu di mainkan oleh suaminya.
"Em, Mas ... geli sekali."
Mendengar eluhan sang istri malah membuat Alfaro semakin tertantang. Ia melepaskan seluruh pakaian yang membalut tubuhnya. Arumi memejamkan mata sejenak saat melihat sang junior Alfaro yang tegap bediri. Sudah empat tahun dan ia harus kembali membiasakan diri dengan pemandangan seperti ini, ia rindu tapi ia juga terlihat gugup dan malu-malu.
Alfaro meninggalkan banyak jejak kepemilikan di seluruh bagian leher dan dada sang istri. Ia mengecup seluruh bagian tubuh sang istri, hingga bagian perut. Alfaro melepaskan apa yang tersisa dari tubuh istrinya hingga tak tersisa sehelai benang pun. Alfaro menelan salivanya sekuat tenaga saat melihat pemandangan indah di antara kedua sisi paha Arumi. Pemandangan yang sudah sangat lama tidak ia lihat di saat kesendiriannya.
Tanpa menuda waktu, ia kembali menenggelamkan wajahnya disana. Arumi mengerang dengan tangan yang mencengkram erat ujung bantal yang menyangga kepalanya. Ia mengigit bibir bawahnya karena merasakan sensasi yang begitu lama tidak ia rasakan.
Hari ini semua kembali terulang, rasa itu dan segala sensasi yang di tawarkan membuatnya candu. Setelah beberapa saat Alfaro menegapkan kepalanya, menatap wajah sang istri yang sudah basah karena keringat. Suhu dingin di musim dingin tidak mampu memadamkan hasrat yang kian membara.
"Sayang kamu siap?" tanya Alfaro dengan suara yang terdengar begitu berat.
Arumi mengangguk perlahan, dengan nafas yang tersengal-sengal karena ulah sang suami yang membuatnya mengerang tanpa henti. Tanpa membuang waktu Alfaro mengarahkan sang junior kebagian bawah perut sang istri dan Dalam hitungan detik, akhirnya penyatuan itu kembali mereka rasakan.
Satu kata yang terucap dalam benak Alfaro yaitu luar biasa. Karena terasa begitu sempit dan menjepit. Arumi benar-benar mejaga hak suaminya selama bertahun-tahun dengan baik tanpa pernah berpikir untuk berpaling hanya untuk kepuasan sesaat.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+ komen+vote ya readers, agar author makin semangat menulis, karena kalian adalah sumber semangat ku, ❤️