Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.50 (Aril, Dinda dan tas belanja legend)


__ADS_3

Aril memarkirkan mobilnya di depan rumah Dinda. Entah sudah berapa kali ia mencoba menghubungi Dinda namun tak juga ada jawaban, akhirnya Aril memutuskan untuk menjemput asistennya itu di rumah.


Sebenarnya rasa trauma karena tas belanja yang sempat melayang di kepala masih terngiang-ngiang di pikiran Aril. Tapi tidak ada cara lain, ia dan Dinda harus pergi meninjau lokasi pesta hari ini juga sesuai dengan perintah sang Bos.


Lama ia mencoba menyiapkan mental untuk sekedar keluar dari mobil. Aril melangkah menuju teras, suasana nampak sepi, tak ada tanda-tanda aktivitas di pagi hari sang empunya rumah, akhirnya ia memutuskan untuk mengintip di jendela.


Aril melihat kebagian dalam ruangan dari jendela teras yang terbuka. ia bisa mendengar suara radio yang sedang membacakan berita pembacokan seorang maling rambutan di kampung sebelah.


"Ehm!" Sebuah suara dehaman yang tiba-tiba saja terdengar


Suara itu membuat tubuh Aril menjadi kaku, saat dari arah belakang, seseorang memegang bahu kirinya. Dengan ragu-ragu ia berbalik kebelakang, matanya membulat, saat melihat sosok yang berdiri di belakangnya adalah Ibu yang lagi-lagi Ibu baru saja kembali dari pasar, lengkap dengan tas belanja legend yang membuat Aril menelan salivanya sekuat tenaga.


"Ma-maaf Bu, saya bukan mau mengintip, apalagi mau maling seperti berita yang di radio ... saya kesini mau menemui Dinda karena ada pekerjaan yang harus kami selesaikan," jelas Aril dengan kaki yang bergetar hebat.


"Haha.. kenapa muka lu begitu? mau ketemu Dinda, yaelah ngomong begitu aja susah amat si nak Aril." Ibu menepuk-nepuk pundak Aril dengan cukup kuat, cukup untuk membuat Aril meringis kesakitan.


"I-iya Bu."


"Ayok masuk." Ibu menarik tangan Aril masuk kedalam rumah yang ternyata tidak terkunci.


Hal yang benar-benar di luar bayangan Aril. ia sudah membayangkan saat menoleh kebelakang, dan mendapati ibu Dinda di sana, ia akan kembali merasakan tas belanja itu menempel di kepala. Tapi ternyata ia malah di sambut hangat oleh Ibu Dinda.


Sesampainya di dalam, ia langsung di persilahkan duduk oleh Ibu di kursi ruang tamu, di suguhkan kue tradisional yang selalu menjadi teman minum kopi warga sekitar yang kental dengan tradisi.


"Silahkan di minum nak Aril." Ibu meletakkan secangkir kopi dan kue putu Mayang di atas meja.


"Dinda mana ya Bu ... saya tidak melihatnya sejak tadi," ucap Aril dengan suara lembut nan sopan.


"Belum bangun, Dinda bisa tidur dari pagi ampe pagi lagi, kadang ibu kagak ngerti, kenapa tu anak kayak begitu," tutur ibu yang sudah duduk di hadapan Aril.

__ADS_1


Ternyata Aril dan Dinda itu punya kebiasaan yang sama saat libur yaitu tidur sepanjang hari. Sepertinya mereka cocok menjadi partner rebahan.


"Bisa tolong bagunkan Dinda Bu, kami harus segera pergi melakukan survei," pinta Aril.


"Oh iya, bentar yak." Ibu mengarahkan pandangannya ke pintu kamar Dinda yang tak jauh dari ruang tamu, Ibu berdeham, menarik nafas dan siap untuk berteriak.


"Dinda! cepetan bangun, kerja!!!" teriakan ibu terdengar begitu nyaring, membuat telinga Aril berdengung.


Ibu berteriak seperti itu hingga berkali-kali. Ingin rasanya Aril menegur, namun ia tidak akan berani melakukan hal itu, ia hanya bisa menahan diri meski gendang telinganya hampir pecah. Setelah beberapa saat akhirnya pintu kamar itu terbuka, Dinda muncul dari dalam sana, dengan rambut acak-acakan, boxer longgar dan juga kaos oblong berwarna hitam dengan gambar tengkorak. Ya Dinda memang suka begaya swag saat berada di rumah.


"Ya ampun! Apa sih bu ini hari libur, dinda nggak kerja," ucap Dinda dengan mata setegah terbuka dan kesadaran yang belum pulih total.


"Astaga, cepet mandi sana, kagak lihat apa, nak Aril udah nungguin!," teriak Ibu saat melihat penampilan Dinda yang benar-benar memalukan.


Dinda membuka matanya lebih lebar, mengucek-ngucek perlahan, hingga pandangan yang awalnya terlihat samar-samar, kini mulai lebih jelas. Ia mundur kebelakang sampai membentur tembok saat pandangan mengarah kepada sekertaris Aril sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.Ya, mungkin Aril sedikit syok saat melihat Dinda dalam bentuk yang jauh dari apa yang ia lihat biasanya.


Setelah sempat tertegun sesaat, seraya memastikan jika orang yang ada di hadapannya benar-benar seketaris Aril akhirnya Dinda berteriak juga. Buru-buru ia lari masuk kedalam kamar mandi. Aril adalah pria pertama yang melihat penampilan terburuknya saat berada di rumah.


Aril menyunggingkan senyumnya, menggelengkan kepala saat melihat tingkah lucu Dinda. Dalam benaknya ia berpikir kenapa masih ada saja wanita seperti Dinda yang unik dan antik di era modernisasi seperti sekarang. Di dalam kamar mandi, Dinda beteriak dalam diam, menyiram wajahnya dengan air dan sesekali memukul kepala, menggerutuki dirinya sendiri.


Kenapa dia muncul tiba-tiba seperti ini sih, batin Dinda.


...***...


Setelah drama pagi hari yang membuat Dinda malu setengah mati. Sekarang mereka sudah sampai di sebuah hotel berbintang, tempat acara ulang tahun perusahaan akan di selenggarakan.


Dinda berjalan dengan jarak dua meter di belakang Aril. Ia benar-benar tidak siap jika harus bersama dengan Aril seharian ini. Langkah Aril dan Dinda terhenti saat seseorang datang menghampiri mereka.


"Selamat datang Tuan?" ucap salah seorang penanggung jawab hotel itu.

__ADS_1


"Apa event organizer sudah datang?" tanya Aril.


"Sudah Tuan, sekarang mereka sedang melakukan tahap awal dekorasi sesuai dengan arahan Anda."


"Bagus." Aril mengangguk perlahan, kemudian menoleh kebelakang di mana Dinda masih sibuk dengan pikirannya sendiri, "Kamu ikut aku ke lokasi," ucap Aril pada Dinda.


Aril kembali melangkah di ikuti dengan Dinda yang senang tiasa mengekor dari belakang. Mereka masuk kedalam lift menuju lantai paling atas hotel itu yang akan menjadi lokasi perayaan ulang tahun WB grup yang ke-5 tahun.


Di dalam lift, lagi-lagi Dinda menjaga jarak, diam tak bergeming sedikitpun.


"Kamu kenapa diam saja, tidak seperti biasanya saat di suruh diam pun kamu tetap akan bicara," ucap Aril tiba-tiba.


"Tidak apa-apa," ucap Dinda dengan singkat.


"Aku akan menganggap tidak pernah melihat penampilan gangster kamu seperti tadi pagi," ucap Aril seraya melirik kearah Dinda yang berada di belakangnya.


"Apa! Gangster?" Dinda tak percaya Aril mengatai penampilannya seperti gangster.


"Ya bukannya lebih mirip penampilan gangster dari pada penampilan seorang wanita," ucap Aril lagi.


"Hah. Ya! saya memang selalu seperti itu saat berada di rumah, selalu tampil apa adanya tidak seperti wanita lain yang selalu menjaga image di hadapan laki-laki, apalagi laki-lakinya seperti anda," tutur Dinda dengan emosi yang menggebu-gebu, dadanya sampai naik turun karena nafas yang tak beraturan.


Aril tak bergeming, ia bahkan tak berbalik melihat kebelakang. Bukan tanpa alasan, tapi saat ini ia sedang berusaha menahan tawa dan senyumnya, karena tingkah Dinda yang selalu berhasil membuatnya tercengang.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


Next siang ini ya hehe, bab kali ini full untuk Dinda dan Aril, setelah itu baru kembali ke kisah Alfaro dan Arumi yang memasuki fase panas dingin. 😁

__ADS_1


__ADS_2