
Di sebuah ruangan yang di dominasi warna white and brown. Seorang laki-laki muda tengah sibuk di belakang meja kerjanya. Tumpukan berkas yang meninggi hingga menutupi kepala sudah menjadi makanan sehari-hari baginya setelah selesai dengan libur panjangnya.
Kemejanya terlipat hingga ke siku, dasi yang melonggar dan juga kancing baju atas yang sudah terbuka. Ia belum pernah pulang sejak kemarin, bekerja bagai kuda demi sebuah ambisi yang menyesakkan dada.
Klek.
Pintu ruangan itu terbuka. Seorang pria masuk dan membulatkan mata. Sang atasan terlihat sangat kacau, ia tau atasannya memang bekerja lembur namun ia tidak menyangka pagi ini atasannya itu belum pernah pulang.
"Tuan Bima belum pulang ke?" tanya pria itu saat duduk di hadapan atasannya.
"Tak lama lagi, kenapa awak ada di sini?" tanya Bima balik dengan mata yang tetap menunduk melihat berkas yang ada di atas mejanya.
"Mami Tuan telefon saya, kata die Tuan tak nak pulang, habis lah badan tu Tuan, asik kerja pun."
"Haaaa...." Bima menghela nafas panjang lalu berdiri dari berdiri dari posisinya, meraih jas yang ada di sandaran kursinya dan juga merapikan kancing baju dan juga dasinya.
"Kalau macam tu, saya balik rumah dulu. Tolong awak kemas semua dokumen ini," ucap Bima lalu tersenyum kepada asistennya itu dan beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
Semenjak telpon malam itu. Ambisi Bima untuk membuat cabang baru di Indonesia semakin kuat. Demi terus bisa melihat seorang wanita yang namanya selalu terngiang-giang. Demi rindu yang secepatnya harus tercurahkan. Dengan kaki yang terus melangkah, Bima mengeluarkan ponselnya dari saku celana, ia tersenyum karena pagi ini ada sepuluh pesan masuk dari sang kekasih, tak ingin semakin mengecewakan ia segera membalas pesan itu.
...***...
Di seberang lautan sana. Arumi sedang memasangkan dasi untuk suaminya. Namun usahanya tidak berjalan lancar karena sang suami yang tak henti-hentinya mencuri-curi kesempatan untuk menciumnya. Untung saja Vino dan Viona sudah turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama Oma dan onty mereka.
"Mas ayolah diam sebentar, ini tidak akan selesai kalau Mas terus seperti ini," ucap Arumi dengan raut wajah kesalnya.
Alfaro tak perduli, ia malah semakin mempererat tangan yang melingkar di pinggang minimalis Arumi, "Hmm... aku sangat tersiksa kalau pagi-pagi seperti ini aku malah menginginkan kamu, padahal aku harus berangkat kerja."
"Huh, lagi? Hampir setiap malam dan Mas mau lagi."
"Kamu membuatku kecanduan."
"Hah, memangnya aku apa sampai membuat kecanduan."
"Rumi, bagaimana kalau kita membeli rumah baru, untuk keluarga kecil kita."
"Apa! Rumah baru ... tidak Mas, aku tidak mau meninggalkan Mama."
__ADS_1
"Mama kan tinggal bersama Almira."
"Mas, semenjak Mama menerima aku sebagai menantunya aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau aku akan merawat Mama seperti Ibuku sendiri ... aku yakin Mama pasti akan sedih jika harus jauh dari cucu-cucunya."
Alfaro terseyum lalu menciumi kepala sang istri berkali-kali, "Bagaimana aku tidak semakin mencintai kamu kalau seperti ini, mempunyai istri yang tidak hanya berwajah cantik tapi juga berhati baik, terimakasih ya sayang," ucap Alfaro kemudian membawa Arumi kedalam pelukannya.
"Iya Mas, tolong jangan membahas hal ini apalagi di depan Mama."
Alfaro melepaskan pelukannya, "Siap Nona Wilson."
Arumi terkekeh geli saat melihat suaminya bertingkah aneh dengan memberi hormat kepadanya. Setelah selesai memasangkan dasi. Arumi dan Alfaro bergandengan tangan keluar dari kamar untuk sarapan bersama dengan Mama, Almira dan juga si kembar Vino dan Viona.
...***...
Di ruang Makan keluarga. Bi Ranti sedang melayani si kembar yang selalu heboh saat sarapan tiba, sementara seorang pelayan lain menuangkan teh untuk Mama. Almira yang sudah duduk di sana sejak tadi terlihat senyum-senyum sendiri karena membaca pesan yang di kirimkan sang kekasih.
Mama pun ikut tersenyum karena melihat putri semata wayangnya bahagia, "Ehm, sarapan dulu Mira, hanya dengan melihat ponsel tidak akan membuat kamu kenyang."
"Oh iya Ma," ucap Almira kemudian meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Bertepatan dengan itu juga Arumi dan Alfaro ikut bergabung dengan di meja makan. Alfaro bisa melihat adiknya yang terlihat sangat senang pagi ini.
"Sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga," ucap Alfaro sambil melirik ke Almira.
"Akhirnya ceria lagi, kemarin kamu lemas sekali," ujar Arumi.
"Kak Rumi bisa saja ... aku berangkat duluan ya," ucap Almira kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Alfaro, Arumi dan Mama terkekeh melihat sikap malu-malu Almira yang sangat terlihat jelas.
...***...
Klek.
Bima membuka pintu rumah mewah itu. Seperti biasa suasana nampak sepi. Namun semakin masuk kedalam akhirnya ia bisa melihat Mami dan Bianca yang sedang menggendong anaknya. Melihat kedatangan Bima, Bianca lansung memanggil adik kesayangannya itu.
"Bima sini!" seru Bianca seraya melambaikan tangan, membuat Mami juga menoleh pandangan Bianca.
Bima melangkah mendekati Mami dan juga kakaknya. Sesampainya di sana, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, tubuhnya benar-benar terasa remuk, matanya pun mengantuk.
"Kamu kenapa berkerja sampai pagi seperti ini? Bima kalau kamu sakit bagaimana," sahut Mami dengan raut wajah khwatinya.
__ADS_1
Bima menatap langit-langit ruangan itu dengan mata yang mulai terasa berat, "Aku sedang berjuang dengan kemampuan ku sendiri, demi seseorang."
Mami menghela nafas berat. Sudah beberapa hari ini, ia dan Mama Almira saling menelpon. Ia tidak tahu orang yang dimaksud oleh Bima adalah Almira.
"Maksud kamu Almira kan?"
Bima yang tadinya menatap langit-langit, kini beralih melihat kearah Mami dan juga kakaknya, "Bagaimana Mami bisa tahu?"
"Bagaimana tidak tahu, setiap Hari Mami terleponan dengan Mamanya," sahut Bianca.
"Bima, kalau kamu memang serius dengan Almira, sekarang juga Mami dan Daddy bisa melamar dia untuk kamu," ujar Mami.
Bima memejamkan matanya. Tinggal sedikit lagi. Jika ia menyerah sekarang maka cita-citanya untuk memiliki perusahaan sendiri di Indonesia akan sia-sia, "Tidak Ma, aku ingin muncul di hadapannya setelah aku berhasil membuka cabang perusahaan kita di Indonesia dengan kerja kerasku sendiri."
"Kamu ini selalu saja seperti itu, terus apa gunanya harta orang tua kalau kamu tetap ingin mandiri, berdiri dengan kaki sendiri ... menikah saja dulu, urusan membuka perusahaan baru, itu bisa di bantu Daddy kamu," ucap Mami kesal.
"Mi, sudah jangan marah seperti itu ... Mami seperti tidak kenal Bima saja," ucap Bianca, berusaha menenangkan Maminya.
Bima hanya diam, tanpa menimpali ucapan kakak dan Maminya.
"Mami kesal Bi, dari dulu adik kamu selalu bersikap seperti itu, bekerja sebagai staf biasalah, tidak memakai indentitas asli saat kuliahlah ... sudah tahu cinta tinggal nikah saja. Mami juga tidak enak sama Mama Almira," tutur Mami lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
Bianca menghela nafas panjang seraya memandangi kepegian Maminya lalu kembali melihat Bima, "Mami sepertinya kesal tuh."
"Iya kak, aku tahu ... tapi kakak tahu sendiri kan aku tidak akan goyah."
"Iya kakak tahu ... semoga saja apa yang kamu perjuangkan sekarang berjalan dengan lancar."
"Iya kak, sebentar lagi ... tinggal sebentar lagi aku akan terus berada di sisinya."
"Kalau begitu sekarang pergi bujuk Mami sana, kamu tahu kan apa yang bisa membuat Mami berhenti kesal."
Bima menyunggingkan senyumnya saat mengingat hal konyol yang bisa membuat Maminya kembali tersenyum, "Maksud kakak ... es krim?"
"Iya, apalagi," ucap Bianca lalu kembali terkekeh.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like komen+vote ya readers 🙏