Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.52 (Kesalahpahaman)


__ADS_3

Arumi tak pernah melepaskan pandangannya sampai Alfaro yang sudah duduk di samping Almira. Alfaro terlihat cuek-cuek saja, ia mengambil minuman yang berada di depannya dan meneguknya hingga habis.


"Kak Al kok bisa disini?" tanya Almira bingung.


"Oh itu, tadinya kakak ada pertemuan dengan klien, tapi ternyata batal. Tidak sengaja aku melihat mu disini jadi aku langsung kemari saja," jelas Alfaro kepada adiknya.


"Hah, sebaiknya kakak pulang saja, aku dan Arumi sedang belajar," ucap Almira.


"Kamu tidak kasihan dengan kakakmu ini, biarkan kakak duduk santai dulu,"pinta Alfaro.


"Huftt, ya baiklah."


Arumi hanya diam tak bergeming, saat mendengar pertengkaran dua saudara yang ada di hadapannya. Ia berusaha cuek seraya terus menatap layar laptop itu, rasanya memang sangat aneh saat berada di rumah ia bisa menempel seharian dengan sang suami sementara di luar, ia harus menjaga sikap, pandangan bahkan untuk sekedar terseyum.


...***...


Di lain tempat, Bima dan keluarga sedang menikmati libur akhir pekan di sebuah lokasi wisata yang jarang sekali ia datangi. Liburan yang sederhana namun penuh kehangatan. Mami dan Daddy-nya sibuk berjalan kesana kemari. Sementara ia dan kakaknya sudah tidak sanggup dan memilih duduk di sebuah kursi panjang yang ada di area tempat wisata itu.


Bima membuka sebuah minuman soda, bukan untuknya tapi untuk Bianca yang nampak sangat kelelahan karena mengikuti Daddy dan mami. Mereka begitu iri saat yang muda kalah dengan yang sudah tua tapi masih berjiwa muda.


"Bagaimana dengan Alfaro Wilson, apa kakak tertarik?" tanya Bima seraya menyodorkan minuman itu kepada Bianca.


Bianca meraih kaleng minuman itu dari tangan Bima dan mulai meneguknya. Setelah selesai, ia menoleh kepada sang adik yang menunggu sebuah jawaban darinya.


"Tidak, kamu tau sendiri bagaimana tipe pria yang kakak suka," ucap Bianca kemudian kembali meneguk minuman itu.


"Ya, aku tau kakak mempunyai mimpi memiliki pria yang sederhana yang mampu mengalihkan dunia kakak," ucap Bima.


"Itu kamu tau."


"Terus kenapa kakak berhenti dari dunia modeling, padahal kan laki-laki yang--" Bima tiba-tiba saja menghentikan ucapannya, menatap sang kakak yang saat ini sedang tersenyum kepadanya, "Jangan-jangan kakak sudah punya pacar tanpa memberitahu ku?"


"Surprise! Tadinya aku ingin memberitahu mu saat dia datang ke Indonesia," jelas Bianca.

__ADS_1


"Hah, apa-apaan ini, aku merasa di khianati. Kakak sudah punya pacar dan tidak pernah membetahu ku," ucap Bima yang terlihat kesal namun tetap menggemaskan di mata seorang kakak yang selalu menganggap adiknya seorang bocah laki-laki.


"Maaf, kakak hanya ingin meyakinkan hati sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius, beberapa hari lagi dia akan tiba di Indonesia, untuk bertemu Daddy dan Mami," tutur Bianca.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Alfaro eh maksud ku Kak Alfaro, apa dia sudah tau jika kakak punya pacar?"


"Ya kami sudah bicara empat mata, saat acara makan malam waktu itu dan kamu tahu ternyata dia juga sudah mempunyai wanita yang dia cintai," ucap Bianca.


"Benarkah? Tapi siapa setahu ku saat di kantor Dia tidak pernah membawa seorang wanita."


"Aku juga tidak tahu, yang pasti dia juga akan segera mengenalkan wanita itu kepada Mamanya."


Bianca berdiri dari posisinya, menatap sang adik yang sekarang sedang mendongak keatas untuk melihatnya.


"Ayo kita susul Daddy dan Mami ... ingat obrolan kita yang tadi itu rahasia," ucap Bianca.


Bima berdiri dari posisinya. Menghela nafas yang cukup panjang dan mulai berjalan beriringan dengan sang kakak. Mami dan Daddy pun sudah terlihat, sepertinya mereka harus kembali berlari untuk menyusul kedua orang tua mereka.


...***...


"Kak Al," panggil Almira saat melihat kakaknya terus saja memandangi Arumi.


"Kenapa?" tanya Alfaro saat tersadar dari lamunannya.


"Kakak belum mau pulang, tidak bosan di sini," ucap Almira.


"Pemandangan di sini bagus juga, kakak jadi betah," ucapnya lalu melirik kearah Arumi. Almira mengeryit heran, pemandangan apa yang di maksud sang kakak, di sana hanya ada kursi, meja dan juga kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya yang berada tepat di depan cafe itu.


Arumi tetap diam tanpa bicara, ia kembali fokus ke layar laptop yang berada di hadapannya. Melihat sang istri yang hanya diam, dari bawah meja Alfaro menggerakkan tangan dan langsung menggenggam tangan sang istri dengan erat. Tentu saja Arumi kaget, ia menegapkan kepalanya, menatap sang suami yang saat ini sedang melempar pandangan ke sembarang arah, untuk menghindari tatapan matanya.


"Arumi kamu kenapa?" tanya Almira saat melihat ekspresi wajah Arumi yang tiba-tiba saja berubah menjadi tegang.


"Tidak apa-apa, sampai dimana tadi." Ia kembali fokus ke layar laptop itu. Arumi berusaha melepaskan tangannya namun Kekuatan tangan yang tidak sebanding dengan Alfaro.

__ADS_1


Almira memperhatikan gerak-gerik Arumi dan sang kak yang nampak aneh. Sesaat terbersit dalam benaknya bahwa sang kakak betah berada di sana karena kehadiran Arumi, tapi buru-buru ia menyingkirkan pikirannya itu karena tidak ingin berprasangka terlalu jauh tanpa adanya bukti yang kuat.


"Kak bagaimana dengan kak Bianca, kalian sudah bertemu lagi?" tanya Almira tanpa menoleh dan tetap fokus ke lembaran-lembaran kertas yang ada di hadapannya.


Tubuh Alfaro seketika menjadi kaku. Perlahan ia menggerakkan kepalanya melihat Arumi yang sedang memandangi dengan tatapan tajam menusuk. Ingin rasanya Alfaro menjitak kepala adiknya yang selalu saja berhasil memperburuk keadaan.


Saat genggaman Alfaro mulai merenggang, ia langsung menarik tangannya. Rasanya hati Arumi begitu terusik saat mendengar ucapan Almira yang menyebutkan nama wanita lain. Entah mendapatkan keberanian dari mana, ia tiba-tiba ingin bertanya kepada Almira tentang wanita itu.


"Bianca itu siapa?" tanya Arumi ragu-ragu.


"Oh itu, wanita yang akan di jodohkan dengan Kak Al," ucap Almira dengan santainya.


"Mira, kamu ini bicara apa. Siapa juga yang di jodohkan," tegur Alfaro kepada adiknya.


"Kakak lupa atau bagaimana, makan malam waktu itu--" ucapan Almira terpotong saat sang kakak yang tiba-tiba saja membekap mulutnya dengan sepotong cake sampai memenuhi mulutnya.


Hati Arumi begitu sakit saat mendengar sebuah fakta tentang perjodohan sang suami dengan seorang wanita bernama Bianca. Ia berdiri dari duduknya, rasanya ia tidak bisa untuk berada di sana lebih lama lagi.


"Maaf saya ada urusan mendadak, permisi." Arumi melangkah dengan cepat, meninggalkan kedua kakak beradik yang masih diam di tempat sambil memandangi kepergiannya.


"Dia kenapa tiba-tiba saja," ucap Almira bingung.


Alfaro menghela nafas yang cukup berat, kenapa juga dia lupa menjelaskan masalah itu kepada Arumi. Penyesalan memang selalu datang terlambat, sekarang Arumi sudah terlanjur salah paham kepadanya. Tanpa pikir panjang, Alfaro langsung berdiri, melangkah pergi untuk menyusul sang istri.


"Kak Al mau kemana!" teriak Almira, namun tak di gubris oleh Alfaro.


Maaf atas keterlambatannya ya readers, soalnya mau kekalian update dua bab 🤭


terimakasih atas dukungannya dan selalu setia menunggu, luv luv 😘😘😘


Bersambung 💓


Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2