Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.88 (Sedih mu sedih ku juga)


__ADS_3

Dinda dan pria hadapannya sedang menikmati makan malam bersama. Setelah mengobrol banyak tentang kehidupan masing-masing, ia semakin kagum dengan sosok pria yang ada di hadapannya. Tinggal selangkah lagi, Dinda akan segera mengakhiri masa jomblonya.


"Aku ke toilet sebentar ya," ucap pria itu.


"Iya, silahkan," ucap Dinda yang terdengar lemah lembut.


Setelah kepegian pria itu. Dinda kembali melanjutkan makannya, namun tiba-tiba fokusnya teralihkan pada ponsel pria itu yang berdering tanda panggilan masuk. Awalnya Dinda hanya membiarkan, tapi setelah ponsel itu kembali berdering untuk ke tiga kalinya, akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat telepon itu.


[Mas kamu dimana, hari ini kitakan harus fitting baju pengantin.]


Deg.


Dinda menjatuhkan garpu yang ada di tangannya. Ia begitu syok saat mendengar suara wanita yang sepertinya calon istri dari pria yang sebentar lagi akan menjadi pacarnya. Ia masih tak percaya, tapi semua ini adalah kenyataan yang harus ia terima.


"Ini si-siapa?"


[Kamu siapa? Dimana calon suami saya!]


Mata Dinda berkaca-kaca karena menahan sesak di dada. Kenapa di saat kebahagiaan sudah di depan mata, ia harus mengetahui fakta jika pria yang ia pilih sudah menjadi milik orang lain. Dengan cepat Dinda mengakhiri panggilan telepon itu. Dan bertepatan dengan itu juga pria itu sudah kembali dari toilet, kembali duduk di hadapan Dinda.


"Ponsel ku kenapa ada di kamu," ucap pria itu saat melihat ponselnya ada di tangan Dinda.


Dinda menegapkan kepalanya, menatap pria yang ada di hadapannya dengan tajam, "Jadi tenyata ... kamu sudah punya calon istri?"


Wajah pria itu tiba-tiba saja menjadi pucat, ia hanya diam tanpa bisa mengatakan apapun. Hal itu membuat Dinda semakin paham meski pria itu tak memberi jawaban padanya. Tanpa pikir panjang Dinda meraih tas tangannya lalu beranjak keluar dari restaurant, di ikuti dengan pria itu.


Aril yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan. Mulai merasa ada yang aneh karena Dinda yang tiba-tiba saja pergi dengan raut wajah penuh kesedihan, tak ingin membuang waktu Aril segera menyusul keluar dari restaurant itu. Di luar restaurant. Dinda melangkah dengan cepat namun langkahnya harus terhenti saat pria itu menarik tangannya.


"Dinda dengarkan aku dulu, aku bisa menjelaskan semuanya," kata pria itu saat berhasil mencegah Dinda pergi.


"Apa yang ingin kamu jelaskan? Semuanya sudah jelas, kamu sebentar lagi akan menikah!" seru Dinda.


"Iya aku memang akan menikah, tapi aku tidak mencintainya lagi, aku menyukai mu," jelas pria itu.


Mendengar ucapan pria itu, Dinda malah semakin emosi. Ucapan pria itu sudah cukup untuk menjelaskan bahwa, pria itu bukanlah pria yang setia dan Dinda tidak suka dengan pria seperti itu. Setelah terdiam sesaat, tiba-tiba saja Dinda melepaskan sepatu yang di belikan pria itu dari kakinya.

__ADS_1


Bug.


Dinda memukulkan pria itu menggunakan sepatu yang kini sudah berpindah dari kaki ke tangannya. Pria itu terlihat mengeluh kesakitan di bagian punggungnya, "Dasar buaya! Bisa-bisanya kamu bilang tidak mencintainya lagi, lalu kenapa kalian akan menikah!" teriak Dinda dengan derai air mata yang saat ini mengalir di wajahnya.


"Dinda aku--"


"Pergi dari sini! Dan ambil sepatu kesempitan ini, aku tidak membutuhkannya lagi," ucap Dinda seraya meleparkan sepatu yang ia pakai kepada pria itu. Ia bahkan tak mau lagi mendengar penjelasan yang hanya akan menyakiti perasaannya.


"Dinda dengarkan aku dulu," ucap pria itu lagi.


"Aku bilang pergi! Atau aku akan mematahkan rahangmu," ancamnya. Pria itu akhirnya menyerah dan memilih pergi meninggalkan Dinda.


Dinda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangisi nasib buruk yang menghinggapinya. Kenapa di umur dua puluh lima tahun, ia belum juga menemukan pria yang tulus mencintainya. Tidak jauh dari sana Aril sedang berdiri seraya mengepalkan tangannya.


Melihat Dinda yang begitu ceria, kini menangis karena seorang laki-laki, benar-benar melukai perasaan Aril, ia tidak rela melihat Dinda menangis seperti ini. Tanpa membuang waktu, ia berlari mengejar pria yang sedang berjalan menuju parkiran.


Bug.


Dari arah belakang, Aril menendang bokong pria itu hingga jatuh tersungkur di tanah.


"Siapa kamu!" seru pria itu saat melihat Aril yang tiba-tiba saja menendangnya.


Bug... bug...


Aril mendaratkan pukulan di kedua sisi wajah pria itu, hingga menimbulkan luka memar. Pria itu berusaha bangkit namun lagi-lagi Aril mendaratkan pukulan di wajah pria itu.


"Dasar brensek! Harusnya kamu berpikir dua kali sebelum menyakiti perasaannya!" teriak Aril.


Laki-laki itu ketakutan karena Aril yang sudah di kuasai emosi. Aril menghembuskan nafasnya yang terasa berat, berusaha mengontrol diri agar tidak merugikan diri sendiri. Saat melihat Aril terdiam, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Melihat pria itu berlari ketakutan, Aril hanya diam, karena tidak mau semakin larut dengan emosi.


~


Di sebuah taman yang ada di depan restaurant itu. Dinda melangkah dengan bertelanjang kaki, duduk di sebuah kursi panjang yang ada di sana. Ia menangis tersedu-sedu. Meratapi hal buruk yang baru saja menimpanya. Andai tadi ia tidak tahu jika pria itu akan menikah, pasti ia sudah menjadi orang ketiga di hubungan orang lain.


"Kenapa aku sial sekali, apa aku tidak pantas untuk di cintai," guman Dinda, seraya tertunduk lesu.

__ADS_1


Di tengah kesedihannya. Dinda kembali menegapkan kepala saat ia melihat sepasang kaki tengah berdiri dihadapannya. Dengan mata yang sudah memerah dan sedikit bengkak karena terlalu banyak menangis, ia mendongakkan kepala, melihat pria berjaket hitam yang berdiri di hadapannya.


"A-aril," ucap Dinda saat mengetahui jika orang yang ada di hadapannya saat ini adalah Aril.


Aril hanya diam lalu berlutut di hadapan Dinda. Ia meraih kaki Dinda dan memasangkan sebuah sepatu kets yang ukurannya cukup besar. Ya, sepatu itu adalah milik Aril yang ia ambil dari mobil, ia tahu saat ini Dinda tak memakai sepatu lagi.


"Kenapa kamu bisa disini?" tanya Dinda.


"Aku akan selalu ada di saat-saat terburuk mu ... kaki mu sampai lecet seperti ini, sudah aku bilang jangan pakai sepatu itu," ujar Aril seraya memasangkan sepatu kebesaran itu ke kaki Dinda.


Dinda kembali menangis. Ia menyesal karena tak mendengarkan kata-kata Aril, "Maafkan aku karena tidak mendengar mu, seharusnya aku tidak memakai sepatu itu."


Aril berdiri dari posisinya dan duduk di samping Dinda. Ia mengusap air mata yang membasahi wajah cantik itu. Sekarang Aril sadar jika perasaannya kepada Dinda sudah keluar dari zona pertemanan mereka. Ia tidak rela Dinda bersama pria lain, apalagi di sakiti oleh pria lain.


"Mulai sekarang, kamu tidak boleh menyukai pria lain, cukup lihat aku seorang," ucap Aril seraya menatap Dinda dengan lekat.


"Maksudnya?" tanya Dinda yang terlihat masih bingung.


"Ck, dasar bodoh, begitu saja tidak mengerti," kata Aril sambil mencubit hidung pesek Dinda.


"Ya maksud ku, kenapa aku tidak boleh menyukai pria lain, apa kamu mau aku jadi jomblo abadi!" seru Dinda kesal.


"Kau ini ... apa aku harus menjelaskan secara rinci kalau aku menyukai mu," ucap Aril pada akhirnya. Membuat Dinda membulatkan mata tak percaya.


"Jadi kamu--"


Cup.


Dinda tak lagi sempat meneruskan ucapannya karena Aril yang tiba-tiba mendaratkan ciuman di bibirnya. Darahnya berdesir hebat, ia tidak bisa bergerak dan mulai memejamkan mata. merasakan sensasi yang di tawarkan orang yang tidak ia duga-duga.


Setelah sekian tahun terjebak dalam zona nyaman pertemanan. Akhirnya Aril menyadari perasaannya. Ia mencintai Dinda, ia tidak ingin Dinda menjadi milik orang lain. Malam ini, akhirnya ia mengungkapkan semuanya. Meski ia masih bingung jawaban apa yang akan Dinda berikan nantinya.


Suasana yang begitu hening. Seolah mendukung kedua anak manusia yang saat ini tengah terhanyut dalam ciuman yang kian lama kian menuntut hingga membuat mata kian terpejam, seakan tak mau lepas untuk sekedar mengatur nafas.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍❤️


Hari ini author mau nyapa para readers yang selalu memberikan komentar, hehe lama gk balas komen-komen kakak-kakak semua, 🤗❤️


__ADS_2