Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.69 (Rasa yang akan tetap sama)


__ADS_3

...Takdir adalah sebuah rahasia alam, agar kita menikmati setiap proses kehidupan, menerima keadaan lalu berdamai dengan kenyataan....


...☘️☘️...


________________________________________________


POV Arumi.


Hari ini aku kembali membuka mata tanpa adanya kamu di sisi ku karena rasa itu telah aku bawa pergi bersama dengan benih yang kau tanam. Tepat hari ini aku disini jauh dari kamu yang tiba-tiba saja menghilang dan melepaskan pautan janji jari kelingking yang membuat hati ku bergetar.


Tak akan pernah lagi kau lihat mentari pagi seraya memelukku. Karena aku telah terselimut kabut. Tak terlihat dalam warna putih yang mengaburkan segalanya. Ya, tidak seorang pun yang mengerti bagaimana perasaan ku saat ini. Apa kau sudah puas, dengan akhir seperti ini? Aku tak juga mendapat jawaban apapun. Karena saat ini hanya kau dan Tuhan yang tahu persis bagaimana perasaan mu.


Aku membenci takdir yang sempat mempermainkan hati. Membuat ku larut dalam buaian sentuhan mu. Tubuh ku sekarang berada di sini jauh dari mu, tapi jiwaku masih tertinggal disana. Kosong, begitulah yang kini aku rasakan. Ini semua salah ku, karena membiarkan kamu bermain-main dengan hatiku.


Di negeri asing ini, aku akan membangun mimpi ku sendiri, menopang hidup demi anak di kandungan, berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah menyerah dan terus berjuang, akan ku buktikan jika wanita yang terbuang ini bukanlah wanita lemah.


POV AUTHOR.


Di negeri seberang, Arumi akhirnya memutuskan memulai hidupnya kembali. Sudah dua minggu ia berada di sana. Sekarang ia dan Bi Ranti tinggal di sebuah Apartement yang di sewakan oleh Bima. Bukan di tengah kota tapi cukup aman untuk bersembunyi dari kenyataan.


Saat ini Arumi sedang berdiri di balkon utama Apartement itu. Menikmati hembusan angin yang menerbangkan rambut panjangnya. Perlahan tangannya menhusap perut yang masih terlihat rata. Hatinya kembali tersayat karena apa yang ia bawa adalah buah cintanya dan Alfaro. Miris memang tapi kenyataan itu harus di telan walau pahit


Tanpa Arumi sadari air matanya kembali menetes, tapi ia segera menghapusnya, berusaha menguatkan diri sendiri. Dari arah belakang, Bima melangkah mendekati Arumi dengan sebuah amplop besar di tangannya. Ia berdiri di samping Arumi lalu menyodorkan map itu dihadapannya. Arumi meraih map itu dengan perasaan campur aduk.


"Amplop ini berisi identitas baru kamu ... apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu ini?" tanya Bima saat menoleh kearah Arumi.

__ADS_1


"Ya, aku sudah melangkah sejauh ini tentu saja aku yakin." Arumi membuka isi amplop besar itu lalu mengeluarkan isinya. Amplop itu berisi identitas barunya negara itu, yang telah berganti nama menjadi Amanda. Nama itu terdengar asing bagi Arumi, namun perlahan ia akan terbiasa.


Tak ingin setengah-setengah membuang masa kelamnya, Arumi membuat identitas palsu demi keamanan ia dan anaknya. Ia takut Mama akan mencarinya dan merebut anaknya kelak. Cukup sudah Arumi yang tahu betapa kejamnya wanita paru baya itu. Ia tidak ingin anak-anaknya mengalami hal yang sama. Sejauh itu ia sudah mempersiapkan semuanya.


"Baiklah kalau begitu, semoga kamu dan Bi Ranti betah disini," ucap Bima.


"Terimakasih Bima ... jika anak ini sudah lahir, aku akan bekerja keras untuk membayar semua yang telah kamu berikan," ucap Arumi yang masih terlihat murung.


"Tidak begitu Rumi ... aku tulus membantu kamu, kita ini teman, jadi kamu tidak perlu merasa terbebani," ucap Bima yang berlawanan dengan kata hatinya.


Meski saat ini Arumi sudah berada di depannya. Tapi tetap saja ia tidak bisa meraihnya. Semua sudah terlambat, celah untuk menelusup masuk kedalam hati Arumi bahkan tidak terlihat. Begitu besar luka yang Alfaro torehkan namun tidak sebanding dengan cinta Arumi untuk Alfaro yang masih begitu kuat.


Mungkin aku tidak akan pernah menggantikan posisinya di hati mu, tapi bisa melihatmu kembali tersenyum adalah alasan ku berada disini, batin Bima.


Arumi kembali menatap kertas itu. Mulai hari ini ia akan mengunakan nama Amanda untuk memulai hidup baru, mencari pekerjaan yang layak untuk membiayai calon anaknya kelak. Takdir yang mempermainkannya begitu dahsyat, hingga menempa Arumi menjadi sosok wanita yang kuat.


...***...


Aril keluar dari mobilnya lalu menutup pintu mobil dengan keras. Ia kesal karena tak juga mendapatkan hasil apapun setelah hampir satu minggu mencari. Tadi ia datang ke Mansion untuk melihat camera CCTV, siapa tahu saja ia menemukan sebuah bukti untuk mempermudahnya mencari Arumi.


Tapi ia harus kembali merasa kecewa karena entah bagaimana semua video CCTV saat kepergian Arumi hilang begitu saja. Para petugas keamanan itu berdalih jika kamera CCTV itu memang sudah lama dan harus di ganti. Padahal, Aril tidak tahu saja jika para petugas kemanan dan juga beberapa pelayan sudah dibayar mahal agar tetap bungkam.


~


Perlahan Aril membuka pintu ruang rawat Alfaro. Terlihat Alfaro hanya sendiri disana karena Mama dan Almira pulang ke Mansion untuk beristirahat. Sekarang gilirannya untuk menjaga sang Bos.

__ADS_1


Alfaro duduk di atas ranjang rumah sakit seraya menatap nanar keluar jendela yang terbuka. Cahaya matahari senja ini, menelusup hingga menyilaukan mata. Perlahan Aril berjalan mendekat dengan perasaan campur aduk, ia saja kesal karena tak juga menemukan Arumi, apalagi Alfaro sendiri.


"Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentangnya?" tanya Alfaro saat menoleh kearah Aril.


"Be-belum Tuan, saya juga bingung kemana Nona pergi, saya dan beberapa orang suruhan anda sudah mencari hingga ke sudut kota, namun tak juga menemukan Nona," tutur Aril.


Alfaro mencengkram erat selimut tebal yang menyelimuti kakinya, matanya mulai memanas seperti hati yang kian panas, "Cari ketempat lain, jika tidak disini, cari di luar kota, kalau belum ada juga cari di luar negeri!!!" pekik Alfaro hingga dadanya naik turun karena menahan emosi.


"Ba-baik Tuan, saya akan kembali mencari Nona, Anda tenang saja saya pasti akan menemukannya," ujar Aril.


"Aril," panggil Alfaro yang sudah mulai tenang seraya menatap keluar jendela.


"Ya Tuan?"


Alfaro kembali menoleh kearah Aril yang masih berdiri di posisinya, "Apa aku tidak pantas untuk dicintai? Kenapa setiap wanita yang hadir dalam hidupku selalu pergi dan menghilang begitu saja, apa aku seburuk itu, apa aku bukan pria yang baik?"


Aril diam tertegun, memadangi sang Bos yang menatapnya dengan wajah pucat dan perasaan putus asa yang tergambar jelas. Apa yang harus ia katakan untuk membuat Alfaro tenang. Meski ia memcoba berpikir keras namun tak juga menemukan solusi yang tepat.


Suasana ruangan itu begitu suram. Cahaya lampu tak mampu membuat semuanya menjadi terang benderang karena orang yang menempatinya seakan tak punya semangat hidup di masa yang akan datang.


Aku harap dimanapun kamu berada, kamu dalam keadaan baik-baik saja sampai aku menemukan mu kembali, cintaku akan tetap sama dan aku harap kamu juga begitu, maafkan aku karena tak mendengarkan kamu waktu itu, sesal ku tak lagi berguna karena kamu telah membawa separuh jiwaku pergi, batin Alfaro.


Bersambung 💓


Terimakasih untuk suport yang luar biasa, semoga para kakak-kakak readers menikmati alurnya, meski dengan persaan yang di aduk-aduk, maafken author 🙏 salam cinta Alya Aziz❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Jangan lupa like+Komen+vote sebagai bentuk dukungan untuk author ya 🙏😍❤️


__ADS_2