
Mobil yang di kendarai Aril sudah sampai di halaman rumah Dinda. Sudah beberapa hari ini, ia selalu datang untuk menjemput Dinda bekerja. Bertepatan dengan kedatangannya, Ibu baru saja datang dari pasar, langsung saja Ibu menghapiri Aril yang hendak melangkah menuju teras rumah.
"Eh udah datang nak Aril, pagi amat."
"Iya Bu, biasa mau jemput Dinda."
"Ayo masuk."
Aril melangkah beriringan dengan calon mertuanya. Beberapa hari ini sikap Ibu sudah lebih baik kepada Aril. Hal yang masih belum di lakukan Aril dan Dinda adalah bertemu dengan kakek dan keluarga besar Dinda. Mereka terkendala pekerjaan yang menumpuk karena Alfaro yang sedang pergi berlibur, jadi semua pekerjaannya di handel oleh Aril dan Dinda.
Sesampainya di dalam, Ibu langsung masuk ke kamar Dinda dan ternyata kamar itu kosong. Ibu kembali menghampiri Aril yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Dinda masih mandi, ayo sarapan dulu, tadi Ibu beli ketoprak di pasar," ajak Ibu.
"Tidak usah Bu, saya sudah sarapan tadi," tolak Aril.
"Kagak baek nolak rejeki, ayo." Ibu menarik tangan Aril agar mengikuti langkahnya pergi ke dapur.
Sesampainya di dapur, Aril duduk di kursi meja makan sederhana yang ada di sana. Ibu mengambil piring dan membuka bungkusan ketoprak lalu di berikan kepada calon menantunya. Aril memperhatikan Ibu yang begitu perhatian kepadanya. Sebagai seorang anak yatim-piatu, ia sudah lupa bagaimana rasanya di perhatikan oleh seorang Ibu, selama ini ia di rawat dan di besarkan oleh kakek, nenek yang sekarang telah tiada.
"Kok bengong ayo makan," ucap Ibu yang saat ini duduk di hadapan Aril.
Aril hanya tersenyum kepada Ibu lalu langsung menyendokkan ketoprak itu kedalam mulutnya. Meski makanannya sederhana tapi ia makan dengan sangat lahap, rasanya begitu enak karena di berikan oleh seorang ibu yang walau galak tapi sangat perhatian kepadanya.
"Ibu sudah datang ya, lihat pisau cukur ketek punya Dinda nggak!!" teriak Dinda tiba-tiba, dari dalam kamar mandi yang berada tak jauh dari meja makan.
Sontak saja Aril langsung mengehentikan makannya karena mendengarkan suara kekasihnya itu. Ibu menggerutu sendiri seraya memijat kepalanya yang tiba-tiba saja merasa pusing, kenapa juga Dinda tiba-tiba saja bertanya tetang pisau cukur di saat Aril sedang berada disana.
"Cari aja sendiri!" teriak Ibu.
Dari dalam kamar Mandi, Dinda yang sudah selesai Mandi dan memakai handuk kimono sebatas lutut, mencoba mencari kembali, pisau cukur itu, namun tak juga menemukannya dimana pun. Akhirnya ia memutuskan keluar dari dalam kamar mandi untuk menghampiri Ibunya.
__ADS_1
"Nggak ada Bu, aku sudah mencarinya kemana-mana, bagaimana ini aku sudah tidak mencukur bulu ketek ku sejak kem--" Dinda mengehentikan langkahnya saat di hadapannya ia melihat Aril sedang duduk di kursi meja makan bersama Ibu, ia diam membisu dengan pipi memerah karena menahan rasa malu saat Aril menatapnya sambil terperangah, sementara Ibu melotot tajam kearahnya.
Mungkin dulu saat ia dan Aril masih berstatus sebagai teman, ia akan cuek saja jika menghadapi situasi seperti ini, tapi sekarang tentu saja ia merasa malu setengah mati. Dinda berusaha menahan rasa malunya, bersikap senormal mungkin di hadapan kekasihnya itu.
"Ka-kamu sudah datang," ucap Dinda yang terlihat salah tingkah, "Ehm, kalau begitu aku bersiap-siap dulu." Dinda berjalan dengan cepat, meninggalkan tempat itu. Mata Aril terus mengikuti Dinda sampai menghilang dari balik tirai pembatas antara dapur dan ruangan lainnya.
Sesampainya di dalam kamar, Dinda langsung mengunci pintu dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia berteriak seraya menutupi wajahnya dengan bantal.
Bagaimana aku harus menghadapinya nanti, aku malu sekali, batin Dinda.
~
Setelah melewati momen-momen memalukan di pagi hari, Dinda dan Aril saat ini sedang dalam perjalanan ke kantor. Jika biasanya Dinda tak berhenti bicara sepanjang jalan, kali ini ia hanya diam dan terus memandang ke luar jendela. Aril sadar jika kekasihnya itu pasti sedang merasa malu karena kejadian pagi ini.
"Kamu kenapa diam, biasanya juga mengoceh sepanjang jalan," tanya Aril saat melirik ke samping dimana Dinda sedang duduk.
"Jangan pura-pura tidak tahu dan jangan di bahas lagi, aku sedang sangat malu sekarang," ucap Dinda yang terdengar datar lalu kembali menatap keluar jendela mobil.
...***...
Di tempat yang berbeda, Almira sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Kedua keponakannya Vino dan Viona mengikutinya terus hingga ke teras depan. Almira merasa kasihan tapi mau bagaimana juga ia harus berangkat bekerja hari ini.
Almira mensejajarkan tubuhnya dengan Vino dan Viona, "Sayang onty kerja dulu ya, cuma sebentar kok."
"Onty kelja dimana, Yona mau ikut onty."
"Ino juga, bosan di lumah telus."
Almira menghela nafas lalu tersenyum kepada Vino dan Viona. Ia bingung bagaimana cara menjelaskan kepada mereka karena beberapa hari ini ia sudah libur beberapa hari untuk menemani Vino dan Viona. Di tengah kebingungannya, Bima keluar bersama dengan Mama, menghampiri Almira dan si kembar.
"Mira, kok belum berangkat?" tanya Mama.
__ADS_1
Almira menoleh kebelakang seraya kembali menegapkan badannya, "Ini Ma, Vino dan Viona ingin ikut, tapi kalau mereka ikut aku takut tidak bisa menjaganya.
Mama mengahampiri Vino dan Viona, "Cucu-cucu Oma, hari ini main sama Oma, Uncle dan Bi Ranti saja ya."
"Now, mau ikut onty!" ucap Vino dan Viona secara bersamaan.
Almira dan Mama saling menatap dalam kebingungan mereka masing-masing. Sepertinya Vino dan Viona sudah bosan berada di rumah. Melihat hal itu, Bima melangkah mendekati Vino dan Viona yang mulai cemberut.
"Baiklah, kalau begitu kita pergi ke tempat kerja onty Mira ya, tapi Vino dan Viona tidak boleh berlari-larian saat disana," ucap Bima yang saat ini berlutut dihadapan si kembar.
"Asiikkk." Vino dan Viona bersorak gembira, karena mendengar ucapan Bima.
"Bima, kamu tidak perlu repot-repot, disini ada Mama dan Bi Ranti yang bisa mengajak mereka jalan-jalan," ucap Almira kepada Bima.
Bima berdiri dari posisinya, menghadap kearahnya Almira yang saat ini sedang menatapnya, "Tidak apa-apa, aku sudah lama tidak berkunjung ke perusahaan, ingin menyapa ketua tim perencanaan, sekalian mengajak Vino dan Viona jalan-jalan."
Almira tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya tersenyum seraya terus menatap Bima. Mama yang ada di antara mereka, sejak tadi memperhatikan, dari cara keduanya saling menatap, Mama bisa merasakan jika Almira dan Bima mempunyai rasa ketertarikan satu sama lain.
"Ma, kami berangkat ya," ucap Almira.
"Oh iya, hati-hati di jalan."
Almira mencium tangan Mama di ikuti oleh Bima dan si kembar. Setelah mobil yang di kemudikan Bima pergi meninggalkan halaman Mansion. Mama mengambil ponsel yang ada di saku bajunya, sepertinya ia akan menelpon seseorang.
"Hallo, apa kabar jeng Nisa," ucap Mama saat panggilan telepon itu sudah tersambung.
[Hallo jeng, saya baik, bagaimana Bima disana, Tidak merepotkan kan?]
"Oh tidak sama sekali, malah sepertinya sebentar lagi kita akan menjadi besan," ucap Mama seraya berjalan masuk kedalam Mansion.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote + hadiah ya readers, 🙏😊😍❤️