Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.73 ( Menemukan mu kembali)


__ADS_3

Alfaro keluar dari kamarnya dengan penampilan casual namun tetap memancarkan aura karismatik yang luar biasa. Ia melangkah menuju ruang makan dimana keluarga Hartanto sedang menunggunya untuk sarapan bersama.


Saat melewati ruang tengah Alfaro kaget karena melihat semua orang yang ada disana nampak panik karena tiba-tiba saja perut Bianca terasa begitu sakit. Kehamilan Bianca yang sudah memasuki sembilan bulan memang tinggal menghitung hari untuk persalinan.


"Ada apa ini?" tanya Alfaro.


"Sepertinya Bianca akan melahirkan," jawab Albert.


"Kita harus segera kerumah sakit," sahut Mami.


"Kalau begitu saya akan mengatakan pada supir untuk menyiapkan mobil," ujar Alfaro.


"Tidak usah Al, Bima baru saja keluar, dia yang akan membawa mobil," ucap Daddy Bianca.


"Mi, perut Bianca sakit sekali!!" pekik Bianca yang saat ini sedang terbaring di atas sofa.


Tanpa pikir panjang Albert di bantu Daddy dan Alfaro mengangkat tubuh Bianca menuju halaman depan. Suasana saat ini benar-benar panik karena terjadi secara mendadak. Padahal Albert dan Alfaro berencana pergi ke lokasi pembangunan yang akan di beli oleh Albert.


Bertepatan dengan Bianca di angkat keluar, Bima baru saja selesai mengeluarkan mobil dari garasi. Bianca di bawa masuk kedalam mobil disusul Mami dan Daddy. Sementara Albert berbalik melihat Alfaro yang ada di belakangnya.


"Al sepertinya rencana kita hari ini harus di undur," ucap Albert sebelum masuk kedalam mobil.


"Kamu pergilah kerumah sakit, aku yang akan menghendel semuanya, kirimkan saja nomor pihak perusahaan properti itu, aku yang akan kesana sendiri," ujar Alfaro, ia tidak punya waktu untuk berlama-lama di negara itu, pekerjaan di perusahaannya sudah menumpuk jika Albert tidak bisa, ya mau tidak mau Alfaro harus turun tangan sendiri, agar semua urusan cepat selesai.


"Kamu yakin?" tanya Albert lagi.


"Iya aku yakin, aku cukup hafal daerah di negara ini, kamu pergilah kasihan Bianca," ujar Alfaro, sebagai seorang Presedir perusahaan konstruksi, ia sudah biasa mengerjakan proyek di luar negeri termasuk Malaysia jadi tidak heran jika ia sudah tahu seluk beluk negara itu.


"Terimakasih Al, ini kunci mobilnya."


"Iya pergilah," ucap Alfaro sambil meraih kunci mobil itu dari tangan Albert.


Albert berbalik, melangkah masuk kedalam mobil. Akhirnya Alfaro bisa bernafas lega saat mobil itu sudah berlalu pergi. Ia mengusap keningnya yang berkeringat, lalu melangkah menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari teras.

__ADS_1


...***...


Arumi melangkah menuju ruangan atasannya. Pagi ini ia terlihat cantik seperti biasa. Meski sudah memiliki dua anak, tubuhnya tak banyak berubah, hanya perubahan di daerah dada dan bokongnya yang terlihat semakin menonjol. Tak jarang banyak pegawai laki-laki yang menggodanya.


Namun bukan Arumi namanya jika tidak bisa melindungi diri dari mata para buaya darat. Tak jarang sepatunya melayang ke kepala seseorang yang mencoba melecehkannya. Dia wanita tangguh dan percaya diri, melingkup menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anaknya. Bertahan hidup di dunia kejam ini tidaklah mudah namun cukup terbiasa untuk seseorang yang sudah melewati pahit manisnya kehidupan seperti Arumi.


Perlahan Arumi membuka pintu ruangan atasannya sambil mengintip sedikit kedalam. Atasannya menoleh kearah pintu di mana Arumi masih diam tak bergerak, menunggu untuk di panggil masuk.


"Permisi Tuan," ucap Arumi.


"Amanda, masuklah," ucap atasannya.


Arumi melangkah masuk lalu duduk di hadapan atasannya. Ia memperhatikan tumpukan kertas yang berada di atas meja itu. Tiba-tiba saja ia mengingat Alfaro saat sibuk di belakang meja kerja dengan tumpukan kertas di hadapannya.


Apa ini, kenapa aku tiba-tiba saja mengingatnya ... tidak boleh, aku tidak boleh mengingatnya lagi, batin Arumi.


"Amanda," tegur sang Bos saat melihat Arumi melamun.


"Oh iya pak, ada apa ya?" tanya Arumi saat tersadar dari lamunannya.


"Oh begitu, kapan saya harus berangkat?" tanya Arumi.


"Sekarang juga, Tuan Albert bilang dia akan menelpon saat sudah sampai disana."


"Baik, saya akan segera berangkat," ucap Arumi dengan lugas. Ia sangat berharap tender kali ini akan gol dan tentu saja ia akan mendapatkan bonus lagi.


~


Sesampainya di lokasi, Alfaro mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Susana di tempat yang berlokasi tepat di pinggir pantai itu masih nampak sepi, tidak ada tanda-tanda pihak dari perusahaan properti itu sudah datang. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon nomor yang diberikan Albert padanya.


"Hallo saya sudah sampai di lokasi."


[Sebentar lagi saya sampai, maaf atas keterlambatannya Tuan, saya akan menelpon jika sudah sampai.]

__ADS_1


Panggilan telepon itu terputus begitu saja. Sementara Alfaro masih diam terpaku dengan ponsel yang masih menempel ditelinga. Suara itu terdengar tidak asing, hatinya kembali bergetar, jantungnya berdegup kencang. Suara yang begitu ia rindukan saat mereka saling memadu kasih.


Apa aku merindukannya lagi, sampai aku berhalusinasi bahwa yang menelpon itu Arumi, batin Alfaro.


~


Arumi beranjak turun dari taksi saat sudah sampai di lokasi. Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran dengan supir taksi itu, ia melangkah dengan cepat menuju tempatnya berjanji temu dengan kliennya.


Nafasnya tersengal-sengal saat sudah sampai di pinggir pantai itu. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menelpon klien yang tadi sempat menghubunginya. Ia sangat berharap kliennya itu tidak marah karena ia datang terlambat.


"Hallo Tuan, saya sudah sampai di lokasi. Anda dimana?"


[Berbalik lah, saya ada dibelakang.]


Panggilan telepon itu terputus. Arumi mengeryitkan keningnya heran, kenapa teleponnya terputus padahal ia belum selesai bicara. Tak ingin ambil pusing, perlahan ia berbalik kebelakang sesuai permintaan kliennya itu.


Deg.


Mata Arumi membulat sempurna saat melihat siapa orang yang saat ini berdiri tidak jauh darinya. Ya, mereka kembali beradu pandang setelah sekian lama setelah semua yang telah terlewati dengan sia-sia dan penuh air mata


Hembusan angin sepoi-sepoi, ombak di lautan yang menari-nari menjadi saksi bisu, bertemunya kembali sepasang anak manusia yang sempat di pisahkan oleh takdir. Melewati berbagai ujian hidup dengan tangan yang tak saling menggenggam dan kisah yang terputus karena sebuah kesalahpahaman.


Dulu, empat tahun yang lalu di sebuah pantai Arumi pernah berada di posisi yang sama. Memandangi Alfaro dari jarak seperti sekarang. Ia meminta kepada sang penguasa alam untuk membuat Alfaro tetap disisinya selamanya. Setelah yang ia lewati kini takdir kembali mempertemukan mereka. Lalu apa yang akan Arumi lakukan sekarang? Entahlah, semuanya begitu mendadak, ia tidak siap begitu juga dengan hatinya.


"Ternyata kamu disini," ucap Alfaro dengan lirih dan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, menahan gemuruh di dada. Ia melangkah dengan cepat menghampiri istri yang sangat di rindukan keberadaannya.


Arumi ingin lari namun entah bagaimana kakinya tak mampu bergerak. Tubuhnya membeku saat hati dan pikirannya tak sefrekuensi. Ya, ia rindu sosok suami yang amat dicintai sampai saat ini. Tapi saat mengingat apa yang sudah ia lewati tanpa Alfaro dan juga bagaimana Mama memperlakukannya ia kembali sadar jika hidupnya yang dulu hanyalah sebuah kenangan buruk yang tak ingin kembali terulang.


"Jangan mendekat!" pekik Arumi saat Alfaro hanya berjarak lima langkah darinya.


Alfaro menghentikan langkahnya. Melihat mata Arumi yang memandanginya penuh kebencian. Apa yang telah terjadi hingga Rindu yang sudah siap di lepaskan kini harus kembali tertahan karena sang pemilik Rindu tak menyambutnya dengan baik. Tak ada senyuman apalagi tatapan penuh cinta yang dulu selalu terpancar.


Bersambung 💓

__ADS_1


Malam ini Maunya nulis dua bab untuk para readers tapi author lagi kurang enak badan, kepala pusing, hidup mampet jadi kurang fokus dan butuh istirahat. Semoga setelah istirahat bisa lanjut up lagi ya, doakan author sehat-sehat.


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2