
Setelah dari bandara Alfaro memutuskan untuk pergi ke taman bermain bersama Mama, istri dan kedua anaknya. Ia memanfaatkan waktu libur untuk ke tempat wisata sesuai permintaan anak-anaknya.
Sesampainya di wahana bermain Alfaro dan keluarga masuk setelah melakukan transaksi pembayaran. Tempat itu menjadi salah satu tujuan wisata favorit keluarga saat akhir pekan. Di sana ada berbagai macam wahana untuk anak-anak, seperti komedi putar, petualang wahana air, badut – badut dan masih banyak lagi. Bahkan orang dewasa juga bisa menikmati wanaha yang memacu adrenalin, seperti hysterian, halilintar, dan masih banyak lagi.
Dengan banyaknya wahana membuat anak-anak seperti Vino dan Viona pasti betah berlama – lama di tempat itu. Terlebih lagi, anak-anak bukan hanya berwisata saja, melainkan juga bermain dengan banyak wahana yang ada di tempat itu.
"Daddy mau naik itu."
"Yona uga Daddy mau naik itu."
Vino dan Viona menunjuk sebuah wahana Komedi putar yang tak jauh tempat mereka berdiri.
"Baiklah, ayo kita naik komedi putar!" Alfaro mengendong kedua anaknya menuju wahana komedi putar yang terlihat cukup ramai di penuhi anak-anak. Arumi dan Mama mengikuti langkah Alfaro.
Saat komedi putar yang di naiki Vino dan Viona mulai berputar. Alfaro yang saat ini menjadi seorang orang tua yang protektif, malah berlari mengikuti laju komedi putar itu, ia sangat takut kedua anaknya jatuh, padahal laju komedi putar itu cukup pelan. Orang-orang yang ada di sana sampai terperangah melihat tingkah konyol Alfaro.
"Aduh, lihat suami Rumi, lucu sekali," ucap Mama yang tak henti-hentinya tertawa.
"Mas sudah, jangan lari lagi!" teriak Arumi namun tak di gubris oleh Alfaro, ia tetap berlari di samping Vino dan Viona yang sedang duduk di atas kuda komedi putar.
"Mas Al tidak perduli Ma."
"Sudah biarkan saja, sudah lama Mama tidak melihat Alfaro bertingkah seperti ini, dulu dia kaku sekali seperti robot.
"Iya Ma, aku senang melihat Mas Al sangat menyayangi anak-anaknya."
Setelah beberapa saat akhirnya komedi putar itu berhenti juga. Alfaro hendak menurunkan Vino dan Viona, tapi kedua anak itu malah menolak.
"Nggak mau, Yona mau lagi."
"Ino juga Daddy, ayo putal lagi."
"A-apa ... lagi," ucap Alfaro dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Lagi! Lagi!" teriak Vino dan Viona secara bersamaan.
Alfaro menghela nafasnya sejenak, berusaha menormalkan diri sebelum kembali berlari, "Ya baiklah, kita putar lagi."
__ADS_1
Sekitar empat kali, Vino dan Viona meminta lagi dan lagi, akhirnya kedua bocah itu setuju untuk turun. Vino dan Viona berlari menghampiri nenek dan Mommy mereka, sementara Alfaro berjalan dengan lemas.
"Kemana lagi kita?" tanya Arumi.
"Terserah kamu saja," ucap Alfaro yang sudah basah karena keringat.
"Ayo jalan lagi, Mama ingin melihat-lihat kesana," tunjuk Mama kearah bazar makanan yang terlihat ramai pengunjung.
~
Setelah membeli cemilan ice cream dan juga gulali, Arumi menarik tangan suaminya kedepan wahana halilintar yang sejak dulu ingin sekali Arumi naiki, hari ini ia ingin sekali menaikinya.
"Mas naik itu ya," ajak Arumi
"Tidak mau, nanti kalau kamu ketakutan bagaimana," tolak Alfaro seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku janji ... ayolah, kapan lagi kita kesini," ucap Arumi memohon.
"Naik saja Al, kapan lagi membuat anak-anak dan istri kamu senang, Mama yang akan menjaga Vino dan Viona di sini."
Alfaro dan Arumi melangkah masuk, sementara Mama duduk di sebuah kursi panjang yang ada depan wahana bersama kedua cucunya yang saat ini tengah fokus menikmati gulali.
Mereka sudah duduk dan memakai sabuk pengaman. Halilintar itu mulai bergerak, awalnya terasa lambat namun semakin lama cepat, Arumi berteriak-teriak kesenangan, sementara sang suami diam membeku dengan wajah pucat dan mata yang membulat.
...**...
Mobil yang dikemudikan Aril berhenti di sebuah rumah di sudut kota metropolitan, Jakarta. Saat turun dari mobil, Aril membantu Ibu mengeluarkan barang-barang dan juga sebuah rantang berisi masakan Ibu.
"Kok sepi Bu, engkong pergi kali ya," ucap Dinda saat melihat pintu rumah yang tertutup.
"Kagak mungkin kosong, kalau iya juga, pasti Ncing lu ada di dalam," ujar Ibu.
Ibu melangkah lebih dulu baru di ikuti oleh Aril dan Dinda. Sesampainya di teras, Ibu mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya terdengar suara sahutan dari dalam. Saat pintu terbuka seorang wanita paru baya muncul dari dalam, wanita itu adalah adik dari Ibu Dinda.
"Ncing!" ucap Dinda yang langsung memeluk tantenya sebentar kemudian melepaskannya.
"Weh tumben amat, pagi-pagi udah disini, mana bawa bungkusan kayanya," ucap Ncing saat melihat rantang yang ada di tangan Ibu.
__ADS_1
"Iya nih, seisi kulkas Mpok masak buat dibawa kemari," ucap Ibu seraya memberikan rantang itu kepada Ncing.
"Harum bener," ucap Ncing kemudian beralih melihat pria yang berdiri di samping Dinda, "Siapa nih? ganteng amat."
"Oh iya kenalin Ncing, namanya Aril calon suami Dinda," ucap Dinda sambil menggandeng tangan Aril.
Aril mengulurkan tangannya kepada Ncing, "Selamat pagi Ncing, perkenalkan saya Aril." Ncing menyambut uluran tangan Aril.
"Hah, calon suami? Belum sah jadi calon kalau belum ketemu Engkong elu," ujar Ncing kepada Dinda
"Itu dia makanya Mpok bawa kemari, sekalian mau ngenalin Aril sama Babe, ngomong-ngomong, Babe kemana?" tanya Ibu.
"Babe ke kampung sebelah, lagi dampingin anak-anak yang ikut atrasi ondel-ondel."
"Apa! Ondel-ondel," ucap Aril tiba-tiba.
"Engkong itu seniman betawi sekaligus pimpinan sanggar ondel-ondel yang ad disini," ucap Dinda.
"Oh begitu ya," ucap Aril yang tiba-tiba saja terlihat pucat.
"masuk dulu dah paling bentar lagi pulang," ucap Ncing sambil membuka pintu lebar-lebar.
Dinda, Aril dan Ibu melangkah masuk kedalam. Saat sampai di dalam, Aril terpana melihat berbagai barang antik yang memenuhi setiap sudut ruangan. Meski rumah itu terlihat sederhana namun isi rumah itu penuh dengan berbagai benda bersejarah, yang mungkin anak milenial masa kini tidak perdulikan lagi.
"Ayo duduk dulu, berdiri mulu nanti pegel," tegur Ncing.
"I-iya Ncing."
Aril melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, menuju sebuah sofa yang ada di ruang sederhana rumah itu. Baru saja Aril duduk di samping Dinda beberapa detik. Tiba-tiba sebuah suara klakson mobil terdengar sangat nyaring.
"Nah itu Engkong lu datang," ucap Ncing yang berdiri di ambang pintu.
Sontak saja Aril, Ibu dan Dinda berdiri dari posisi mereka dan langsung menghapiri Ncing. Aril bisa melihat sebuah mobil pick up membawa beberapa ondel-ondel berukuran besar di bagian belakang. Saat mobil itu berhenti tepat di depan teras, seorang pria tua turun mobil, pria itu memakai pakaian Pansi khas Betawi, wajah yang di hiasi kumis tebal dan juga cincin batu akik yang memenuhi jari-jarinya.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍
__ADS_1