Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.78 (Bima dan segala jasanya)


__ADS_3

Mobil yang di kemudikan Alfaro melaju dengan kecepatan sedang, kedua anaknya duduk di kursi belakang sementara Arumi duduk di sampingnya, genggaman tangan mereka hampir tak pernah terlepas sepanjang perjalanan. Hari ini ia akan mengajak Arumi dan kedua anaknya bertemu dengan keluarga Bima di rumah sakit, tempat Bianca melahirkan.


Sebenarnya Alfaro begitu cemburu saat Arumi menceritakan bagaimana Bima berkorban banyak untuknya. Tapi jika bukan karena Bima, entah apa yang akan terjadi kepada Arumi. Empat tahun yang lalu, Alfaro masih ingat bagaimana Bima menatap matanya dengan tajam seraya berkata, jika Alfaro menyakiti Arumi, orang pertama yang akan merebut Arumi adalah Bima.


Kata-kata itu kembali menghantui pikiran Alfaro. Meski pada kenyataannya. Arumi tetap setia. Tapi ia tahu Bima pasti sangat kecewa kepadanya karena telah membuat Arumi melalui hari-hari yang begitu berat. Ia tidak bisa tenang sebelum menjelaskan semua kepada Bima sekaligus berterimakasih atas apa yang telah di berikan kepada sang istri.


"Mas sebenarnya kita mau kemana?" tanya Arumi saat mobil itu sudah melewati gapura perbatasan antar kota.


"Sebentar lagi kita akan sampai, sabar ya," ucap Alfaro sambil mengusap punggung tangan sang istri.


Arumi kembali bersandar seraya melirik Vino dan Viona yang sedang asik bermain di kursi belakang. Ia begitu penasaran kemana Alfaro akan membawanya, karena ini bukanlah Indonesia melainkan Malaysia, tentu saja ia menjadi semakin penasaran kemana sang suami akan membawanya.


...**...


Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di daerah A. Mobil Alfaro berhenti di parkiran sebuah rumah sakit sesuai alamat yang Albert kirimkan kepadanya malam tadi. Melihat gedung rumah sakit di depannya, Arumi menjadi semakin bingung.


"Mas, kenapa kita kesini, apa ada seseorang yang kamu kenal di rawat disini?" tanya Arumi.


"Nanti kamu juga tau, ayo turun." Alfaro turun telebih dulu untuk menurunkan kedua anaknya yang duduk di kursi belakang. Sementara Arumi masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Bagaimana Arumi tidak kebingungan. Karena sejak awal mereka kembali bertemu, Alfaro belum pernah menjelaskan secara pasti kenapa ia bisa sampai ke tempat itu. Sejak pertemuan mereka, Alfaro hanya ingin mendengar hal apa saja yang di lalui Arumi selama ini tanpa kehadirannya.


Arumi bukan tidak bertanya, tapi jawaban Alfaro yang berkata "Karena takdir yang membawa ku kemari." Jawaban klise yang keluar dari mulut Alfaro membuatnya tak ingin lagi bertanya kenapa sang suami bisa sampai ketempat itu.


~


Langkah Alfaro terhenti di depan pintu kamar perawatan. Dimana Bianca di rawat pasca melahirkan. Vino dan Viona yang di gandeng oleh Daddy mereka, mulai bertanya-tanya kemana mereka akan di bawa.


"Daddy, ini dimana?" tanya Vino sambil menarik-narik ujung kemeja Alfaro.

__ADS_1


"Ini namanya rumah sakit sayang," jelasnya.


"Mas siapa yang sedang sakit?" tanya Arumi yang semakin penasaran.


Alfaro meraih tangan Arumi, membuka pintu itu dan akhirnya Arumi bisa melihat siapa yang sedang berada di ruangan itu. Bianca dan keluarga, tidak terkecuali Bima juga terkejut melihat kedatangan Arumi dan Alfaro. Vino dan Viona tersenyum senang melihat Bima berada di dalam ruangan itu.


"Uncle Bi!" Vino dan Viona berhambur memeluk Bima. tentu saja menyambut dengan senang hati, tapi wajahnya masih nampak kebingungan, bagaimana bisa Arumi bertemu Alfaro.


Alfaro berjalan masuk keruangan itu seraya terus menggenggam tangan Arumi. Semua orang yang ada disana terlihat bingung melihat kedatangan Arumi. Baru saja kemarin Bianca bercerita bahwa Arumi pergi menghilang, tapi sekarang Arumi ada di sana dengan dua anak kembar, yang lebih membuat bingung karena dua bocah kecil itu mengenal Bima.


"A-arumi ... bagaimana kamu bisa disini, bukannya Al bilang kamu menghilang?" tanya Bianca saat Alfaro dan Arumi sudah berada di sisi kanan ranjang.


"Anak-anak ini siapa, kenapa dia mengenal kamu Bima?" tanya Mami bingung.


"Ceritanya panjang Tante ... mereka adalah anak-anak saya," ucap Alfaro kemudian menoleh kepada Bima yang sedang bersama Vino dan Viona, " Bima, bisa kita bicara sebentar?"


"Baiklah, ayo kita bicara," ucap Bima dengan tatapan tajam yang mengarah langsung kepada Al.


Bima melangkah lebih dulu, meninggalkan ruangan itu, lalu di ikuti oleh Alfaro. Kini tinggallah Arumi, Bianca, Albert Mami dan Daddy Bianca yang berada di ruangan itu. Mami menghapiri Vino dan Viona yang saat ini sedang duduk di atas sofa. Arumi merasa begitu canggung berada di antara keluarga besar yang terlihat begitu hangat, andai Mama bisa sedikit saja bersikap baik padanya.


"Arumi kemarilah, kenapa berdiri di situ," panggil Bianca.


Arumi melangkah perlahan, duduk di sebuah kursi yang ada di samping Bianca, "Lama tidak bertemu kak Bianca ... kenapa kakak bisa sampai dirawat di sini?" tanya Arumi yang memang belum mengetahui jika Bianca baru saja melahirkan.


"Al belum memberitahu kamu ya, aku baru melahirkan kemarin, anak ku laki-laki," ujar Bianca.


"Benarkah? Selamat ya kak, tapi dimana bayinya?" tanya Arumi seraya melihat sekeliling.


"Sedang di ruangan inkubator, sebentar lagi akan di antar kemari," sahut Albert.

__ADS_1


"Rumi, coba ceritakan kepada kami, kamu kemana saja, dan kenapa anak-anak kamu bisa mengenal Bima," pinta Bianca.


Tiba-tiba suasana menjadi hening, seolah semua orang yang ada di ruangan itu menunggu Arumi untuk menceritakan semua kisahnya. Arumi menarik nafas panjang kemudian mulai menjelaskan semuanya kepada keluarga Bima. Tentang bagaimana Bima yang membatunya selama ini dan juga cerita kelam masa lalu yang sebenarnya begitu berat untuk di ungkapkan.


~


Sementara itu di ujung lorong rumah sakit. Di depan sebuah jendela besar yang mengarah langsung ke jalan raya. Dua orang pria tampan sedang berdiri berdampingan dengan kedua tangan yang sama-sama di lipat kedepan.


"Saya memberi anda kesempatan untuk menjelaskan semuanya, kehadiran anda secara tiba-tiba sangat mengusik saya, apalagi saat saya mengingat bagaimana Arumi menangis karena di tinggalkan suaminya," tutur Bima saat menoleh kearah Alfaro.


Alfaro menoleh kesamping, melihat Bima yang sedang menunggu jawaban darinya, "Hari itu aku mengalami sebuah kecelakaan, kecelakaan yang di mangfaatkan Mama ku untuk membuat Arumi menjauh, menimbulkan fitnah bahwa aku telah pergi meninggalkan istri ku sendiri. Malam tadi aku dan Arumi sudah memutuskan untuk memulai semuanya dari awal lagi ... aku tahu kamu pasti sangat marah saat melihat Arumi menangis karena aku yang tiba-tiba saja menghilang waktu itu ... aku juga masih ingat ucapan mu, yang mengatakan akan merebut Arumi saat aku menyakitinya, sekarang kamu bisa menilai sendiri apa aku seburuk yang kamu bayangkan."


Bima tertegun sesaat. Mengetahui fakta jika semuanya hanyalah kesalahpahaman, membuat ia merasa lega. Namun ada persaan aneh mulai mengusik batinnya. Karena itu berarti ia harus mengubur dalam-dalam harapan yang mulai kembali terbangun sekian tahun. Ia kembali kalah untuk kesekian kalinya. Semuanya terasa percuma mencoba berada diantara dua insan yang cintanya tetap kokoh meski di terpa badai prahara.


"Lalu ... apa anda akan membawa mereka pulang ke tanah air?" tanya Bima pada akhirnya.


"Ya, secepatnya."


Suasana kembali hening. Mereka menatap kearah yang sama, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Kedua pria ini adalah bagian dari cerita hidup Arumi. Meski pada kenyataannya Bima hanya sebagai seorang viguran dalam kisah cinta orang lain.


Alfaro memutar tubuh menghadap ke Bima yang sedang berdiri di sampingnya, "Terimakasih karena kamu sudah menjaga istri ku, Vino dan Viona selama ini, maaf karena aku datang sangat terlambat," ucap Alfaro seraya mengulurkan tangannya, menunggu Bima untuk menyambutnya.


Perlahan Bima mengubah posisinya, berhadapan dengan Alfaro. Di tatapnya sejenak tangan yang saat ini sedang terulur dihadapannya. Entahlah, terasa begitu berat untuk Bima melepaskan semua yang telah ia jaga selama ini. Di luar perasaannya kepada Arumi,Vino dan Viona sudah menjadi bagian dari hidupnya yang begitu ia sayangi layaknya anak sendiri.


Perlahan tangan Bima bergerak, menyambut uluran tangan Alfaro. Jabatan tangan itu sebuah pertanda jika sekarang Alfaro kembali mengambil alih miliknya yang selama ini seolah di titipkan oleh takdir untuk diajaga oleh Bima. Menjaga jodoh orang lain selama bertahun-tahun, itu tidak lah semudah yang di bayangkan, saat perasaan ingin memiliki hanya bisa di pendam dalam hati.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2