
What's your name dear? (Siapa nama kamu sayang?" tanya Arumi pada bocah laki-laki yang sepertinya umurnya tidak jauh dari Vino dan Viona.
Bocah laki-laki itu tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya, dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Alfaro mendekati Arumi duduk bersimpuh di hadapan bocah laki-laki itu.
"Where are your father and mother? (Dimana ayah dan Ibu kamu?" tanya Alfaro. Namun anak itu tetap tak bergeming.
Arumi dan Alfaro saling menatap. Mereka bingung karena anak itu tidak mau bicara. Sepertinya anak laki-laki itu masih syok. Di tengah kebingungan mereka. Tiba-tiba saja perut bocah laki-laki itu berbunyi. Arumi tersenyum, seraya mengusap punggung tangan anak kecil yang ada di hadapannya.
"You're hungry, aunty and uncle want to eat pizza, do you want to come? (Kamu lapar? tante dan om mau makan pizza, apa kamu mau ikut?)"
Akhirnya bocah laki-laki itu memberi respon dengan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Alfaro menggendongnya, pergi ke restaurant pizaa yang ada di seberang jalan.
~
Di dalam Restaurant pizza. Arumi dan Alfaro tertegun melihat bocah laki-laki itu makan dengan sangat lahap. Masih tanpa bicara, tapi anak laki-laki itu terlihat lebih tenang.
"Kasihan sekali Mas, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Jika dilihat dari penampilannya, sepertinya dia terpisah dari kedua orangtuanya ... setelah selesai makan kita bawa anak ini ke kantor polisi terdekat."
"Iya Mas, ide bagus ... anak ini tampan sekali matanya biru, tapi rambutnya hitam ... apa salah satu dari orang tuanya orang Asia?"
"Bisa jadi ... ayo makan, kamu belum makan satu potong pun."
"Aku kenyang melihat anak ini makan dengan lahap, bagaimana dengan Vino dan Viona di sana ya, apa mereka merindukan aku."
"Aku rasa tidak ... dia lebih menyukai Bima dari pada kita, kadang aku cemburu saat Bima lebih Mengerti anak-anak dari pada aku."
"Mas cemburu? Jangan begitu, itu karena Mas belum lama bersama mereka. Anak-anak pernah bilang, katanya mereka senang bisa punya Daddy setampan Mas Al."
"Tampan ... mereka bilang aku tampan, bagaimana dengan kamu, apa di matamu aku ini tampan?"
"Emm ... bagaimana ya, tentu saja Mas sangat tampan, sampai aku tidak rela jika ada wanita yang memandangi kamu Mas."
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu aku akan memakai topeng mulai besok."
Arumi dan Alfaro tertawa bersama, terlihat begitu lepas, hingga beberapa orang yang ada disana melihat mereka dengan ekspresi wajah bingung. Tawa itu terhenti saat mendengar suara sendawa bocah laki-laki di hadapan mereka.
"Sepertinya dia sudah kenyang," ucap Arumi lalu tersenyum kepada bocah kecil itu.
~
Mereka keluar dari restaurant itu. Arumi menggandeng tangan bocah laki-laki itu, sementara Alfaro menenteng sebuah paper bag berisi pizza yang ia beli untuk bocah yang sampai saat ini mereka tidak tahu siapa namanya.
Lampu jijau berganti merah. Mereka segera menyebrangi jalan. Saat sampai di bahu jalan yang juga di tutupi salju, tiba-tiba saja anak laki-laki itu melepaskan tangannya dari genggaman Arumi.
"Mommy.. Daddy!" teriak bocah laki-laki itu saat melihat kedua orangtuanya.
"Where are you going! (Kamu mau kemana!" teriak Arumi saat melihat anak itu berlari.
Alfaro dan Arumi menyusul anak itu. Langkah mereka terhenti saat bocah itu memeluk dua orang yang berdiri membelakangi mereka. Namun sedetik kemudian mata Alfaro tiba-tiba saja membulat saat melihat wajah pria dan wanita yang ada dihadapannya saat ini.
Ya, orang itu adalah Sarah dan suaminya Hendry.
"Alfaro," ucap Sarah dan Hendry secara bersamaan. Sarah terlihat tak percaya jika yang bediri di hadapannya sekarang adalah mantan suaminya. Mantan suami yang dulu pernah bersumpah akan membunuhnya jika sampai mereka bertemu.
Arumi menatap Alfaro saat mendengar nama Sarah terucap. Ia masih ingat betul nama itu. Naman wanita yang dulu membuat suaminya begitu terpuruk. Apa Arumi cemburu karena Alfaro bertemu mantan? Maka jawabannya adalah tidak, karena ia percaya jika sekarang cinta Alfaro hanya untuknya.
Arumi malah lebih takut jika suaminya tak bisa menahan emosi. Arumi meraih tangan suaminya, lalu menggenggamnya dengan erat. Ia takut suaminya akan berbuat hal yang tidak-tidak yang bisa membahayakan nyawa orang lain.
Hendry melindungi anak dan istrinya di balik punggung, saat melihat Alfaro menatap tajam kearah mereka. Alfaro melepaskan tangannya dari genggaman sang istri, berjalan perlahan, mendekati dua orang yang nampak sangat ketakutan karena melihat keberadaannya.
"Mas, jangan!" seru Arumi namun tak menyurutkan langkah Alfaro.
Satu langkah ... Dua langkah dan akhirnya Alfaro sampai di hadapan Hendry. Hendry menelan salivanya sekuat tenaga saat kembali melihat tatapan mata tajam itu setelah lima tahun berlalu. Ia pernah babak belur dan hampir mati karena di hajar Alfaro, apa hal itu akan kembali terulang?
Sepertinya tidak, karena saat ini Alfaro malah membungkukkan badannya, menyodorkan paper bag berisi pizza kepada bocah laki-laki yang saat ini sedang memeluk kaki Hendry. Setelah bocah laki-laki itu menerima paper bag pemberiannya, Alfaro kembali menegapkan posisinya lalu tersenyum kepada Hendry.
__ADS_1
"Anak kalian sudah besar," ucap Alfaro kemudian mengulurkan tangannya kepada Hendry, "Apa kabar, lama tidak bertemu." Hendry masih diam mematung, ia kira Alfaro akan kembali menghajarnya, namun yang terjadi malah Alfaro malah mengulurkan tangan, menunggu untuk di sambut. Dengan ragu-ragu Hendry menyambut uluran tangan Alfaro.
"Ba-baik, senang bisa bertemu Anda lagi," ucap Hendry dengan suara bergetar.
Sarah tadinya menutup mata karena ketakutan, ia takut Alfaro akan memukul suaminya. Tapi nyatanya itu semua tidak terjadi. Kini matanya telah terbuka, ia keluar dari persembunyiannya, berdiri di samping sang suami yang saat ini sedang berjabat tangan dengan Alfaro. Bertepatan dengan itu juga Arumi menghapiri sang suami.
Alfaro beralih menatap Sarah yang saat ini juga sedang menatapnya dengan ekspresi ketakutan. Ia bisa paham jika Hendry dan Sarah pasti masih mengingat kejadian di masalalu. Tapi sungguh Alfaro sudah mengikhlaskan semuanya, hatinya tak lagi bergetar saat melihat Sarah. Kini dendam itu telah musnah seiring kebahagiaan baru yang memenuhi hati Alfaro karena memiliki Arumi dalam hidupnya.
"Ternyata bocah laki-laki ini anak kalian, kami menemukannya menangis di pinggir sungai, sungguh kebetulan sekali," ucap Alfaro yang terlihat santai tanpa ada rasa dendam seperti lima tahun yang lalu.
"Terimakasih karena sudah menolong anak kami," ucap Sarah lalu beralih menatap wanita cantik yang berdiri di samping Alfaro, "Wanita ini siapa?"
Alfaro meraih tangan kiri Arumi lalu menggenggamnya dengan erat, "Namanya Arumi, dia adalah istri ku."
Arumi mengulurkan tangan kanannya kehadapan Sarah dan langsung di sambut baik oleh mantan istri suaminya itu, "Salam kenal mbak, saya Arumi."
"Senang bisa bertemu kamu Arumi, kamu cantik sekali," ucap Sarah lalu tersenyum kepada Arumi.
"Terimakasih Mbak, Mbak sarah juga cantik sekali."
Suasana menjadi hening sesaat terasa sedikit canggung dan juga aneh karena pertemuan tidak terduga antara Alfaro, Hendry dan Sarah yang terlibat konflik berat di masa lalu.
"Apa kalian mau mampir ke Apartement kami untuk makan malam bersama," pinta Sarah pada akhirnya.
"Tidak perlu repot-repot mbak, kami mau ke hotel kok," tolak Arumi yang masih merasa canggung.
"Istriku benar, lagi pula ini sudah sore," sambung Alfaro.
"Jangan sungkan, anggap saja sebagai ucapan terimakasih kami karena kalian sudah menolong Abian" sahut Hendry.
Alfaro menoleh kearah Arumi, seolah meminta persetujuan sang istri. Karena jika istrinya merasa tidak nyaman maka ia tidak akan menerima tawaran Sarah dan Hendry. Arumi terseyum kepada suaminya lalu mengangguk perlahan, pertanda jika ia setuju apapun keputusan suaminya.
Masa lalu yang membuat terpuruk, tidak perlu di ingat terlalu larut. Cukup cari kebahagiaan baru yang mampu membuatmu kembali terhanyut hingga lautan kebencian itu perlahan surut. Terbelenggu dalam kebencian hanya akan membuat kebahagiaan yang telah hadir menjadi tiada arti. Saling memaafkan, mengikhlaskan adalah pilihan terbaik untuk Alfaro dan Sarah yang pernah terjebak di satu situasi yang membuat mereka tak menemukan kebahagiaan di dalam pernikahan yang mereka bangun bersama.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊