
Menjelang siang di gedung utama WB grup. Arumi hendak pergi ke ruangan Aril, dimana hari ini adalah hari pertama bekerja. Setelah selesai merapikan meja yang di penuhi kertas-kertas yang menumpuk.
"Kamu mau kemana?" tanya Bima yang sedang duduk di belakang mejanya.
"Aku ingin pergi ke ruangan Sekertaris Aril, hari ini adalah hari pertama sahabat ku bekerja sebagai asistennya," jelas Arumi.
"Padahal aku ingin mengajak kamu makan siang bersama," ucap Bima.
"Oh begitu ... maaf Bima, mungkin lain kali saja ya."
Tanpa basa-basi yang berkepanjangan, Arumi beranjak pergi dari ruangan itu. Sebenarnya menemui Dinda hanyalah alasan untuk bisa makan siang bersama Alfaro di ruang kerjanya.
...***...
Perlahan pintu ruangan itu terbuka, ia bisa melihat Dinda sedang duduk berhadapan dengan Aril. Dinda tersenyum saat dari ambang pintu, ia melihat Arumi datang dan melambaikan tangan padanya.
"Bagaimana hari pertama kerja?" tanya Arumi saat sudah berada di depan meja Dinda.
"Masih menyesuaikan sih, kamu kesini untuk ketemu aku ya?" tanya Dinda.
"Tentu saja untuk menemui suaminya, bukan kamu," sahut Aril yang terlihat tetap fokus dengan laptopnya.
Dinda mendengus kesal karena Aril yang tiba-tiba saja menyaut.
"Apa benar begitu Rumi?"
"Ahaha ... ya aku memang ingin menemui kamu kok Din, tapi aku juga ingin bertemu dia,"jelas Arumi ragu-ragu.
"Huh kamu ini," ucap Dinda dengan wajah kesalnya.
Krieekk.
Pintu itu kembali terbuka lagi. Kali ini suasana menjadi sedikit menegangkan karena yang muncul dari balik pintu itu adalah Mama dan adik Alfaro. Arumi memegangi ujung blazernya saat tatapan mata Mama langsung tertuju padanya.
Langkah demi langkah wanita paru baya itu semakin mendekati Arumi dengan Almira yang mengikuti dari belakang. Langkah itu terhenti, saat jarak Mama dan Arumi tinggal tersisa dua meter saja. Tatapan mata penuh selidik, kenapa seorang staf biasa bisa berada di ruangan itu, pikir Mama.
"Kamu keponakan Bi Ranti kan?" tanya Mama.
__ADS_1
Arumi menelan salivanya dengan kuat, entahlah aura kejam itu begitu terpancar dari sang mertua. Bibirnya terasa begitu kaku untuk menjawab pertanyaan Mama.
"Iya ma, dia Arumi. Masa Mama lupa," sahut Almira dari arah belakang, lalu melambaikan tangan kepada Arumi, "Hy Rumi." Arumi hanya tersenyum kepada Almira.
"Dimana anak saya?" tanya Mama sambil melirik ke sekertaris Aril yang sekarang beridiri di sampingnya.
"Di dalam ruang kerjanya, Nyonya."
Sebelum beranjak pergi keruangan Alfaro, Mama kembali menatap Arumi dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia tersenyum menyeringai, dengan tatapan mata yang seolah meremehkan Arumi. Tanpa berucap apapun lagi, Mama melangkah melewati Arumi dan masuk kedalam ruang kerja Alfaro.
Almira lebih memilih berada disana. Sudah beberapa hari semenjak obrolan terakhir ia dan Arumi, rasanya ia ingin mengulang lagi obrolan waktu itu, karena menurut Almira, Arumi satu frekuensi dengannya meskipun baru kali pertama mereka bertemu beberapa hari yang lalu.
"Rumi, kita makan siang bersama yuk," ajak Almira.
Arumi terdiam sesaat, menoleh kearah Dinda untuk meminta saran meski hanya lewat kode mata, tapi Dinda langsung mengerti. Anggukkan kepala Dinda membuat Arumi menyetujui permintaan Almira.
"Baiklah, makan dimana?" tanya Arumi.
"Dimana saja, ayo." Almira meraih tangan Arumi, menariknya untuk keluar dari ruangan itu. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu Arumi menoleh kearah pintu yang bertuliskan Presdir room.
Gagal makan siang dengan Mas Al, huh.. malam ini harus masak yang istimewa pokoknya, batin Arumi.
~
"Mama, kenapa bisa disini?" tanya Alfaro
"Harusnya Mama yang tanya sama kamu, kenapa kamu tidak pulang ke rumah?" tanyanya seraya terus berjalan mendekati meja kerja sang putra.
"Aku menginap di apartemen, karena sudah terlalu larut," jawab Alfaro.
"Baiklah Mama tidak akan memperpanjang masalah ini ... Mama kemari juga ingin mengatakan jika malam nanti kita akan makan malam bersama dengan keluarga Gunawan Hartanto, mantan rekan bisnis mendiang ayah dan kakek kamu," ujar Mama yang kini sudah duduk berhadapan dengan Alfaro.
"Mama dan Almira saja, aku sibuk," ucapnya malas.
"Sekali ini saja, Om Gunawan itu dulu sangat dekat dengan keluarga mendiang kakek dan nenek kamu, hanya makan malam saja kenapa susah sekali. Mama sudah jauh-jauh dari Amerika dan kamu malah seperti ini, kamu sudah tidak menganggap Mama ini sebagai keluarga kamu? Begitu!" oceh Mama yang membuat kepala Alfaro berdenyut pusing.
"Ya-ya baiklah," ucap Alfaro seraya memijat-mijat keningnya, "Jam berapa?"
__ADS_1
"Jam tujuh malam nanti di tertaurant xx."
~
Almira dan Arumi sedang berada di sebuah restaurant yang tak jauh dari kantor. seporsi spaghetti carbonara menjadi menu pilihan Almira, sementara Arumi memilih menu khas Nusantara, yaitu nasi goreng seafood andalannya.
"Rumi, kenapa kamu tadi berada di ruangan itu?"
Glek.
Arumi terlihat kesusahan menelan makanannya, ia langsung meraih air mineral dan meminumnya hingga tersisa setengah saja. Semakin hari, Merahasiakan sesuatu yang begitu besar membuat Arumi seakan terbelenggu dan susah untuk bernafas.
"Ehm ... itu karena teman saya Dinda bekerja sebagai asisten Sekertaris Aril, tadinya saya dan teman saya akan makan siang bersama," jelas Arumi.
"Benarkah, seharusnya kita mengajak teman kamu juga tadi," ucap Almira penuh sesal.
"Apa ada sesuatu yang ingin Nona bicarakan dengan saya?" tanya Arumi tiba-tiba, pasti ada suatu hal yang membuat Almira ingin bertemu dengannya.
"Ah ketahuan ya ... sebenarnya aku ingin meminta bantuan kamu, aku mengalami sedikit kendala dengan skripsi ku, aku sudah mengirimkan email kepada dosen pembimbing ku di Amerika, tapi tak ada respon, apa kamu bisa membatu? Karena jurusan kita ini hampir sama," jelas Almira.
"Boleh saja, saya tidak janji tapi akan berusaha membantu," ucap Arumi lalu tersenyum kepada Almira. Ternyata hanya Mamanya saja yang bermasalah dengan sikap dan tingkah laku, sementara anak-anaknya, Almira dan Alfaro begitu manis dan baik.
"Baiklah, aku akan menemui kamu lagi besok."
...***...
Hari menjelang malam, kantong belanjaan Arumi terisi penuh dengan barang-barang belanjaan, rencananya ia akan memasak makan malam untuknya dan suami. Tapi sepertinya hal itu harus tertunda karena sebuah pesan singkat dari Alfaro.
[Aku ada acara makan malam bersama rekan bisnis mendiang ayah ku, mungkin aku akan pulang larut, jadi tidak bisa makan malam bersama dengan mu, maaf. Jangan lupa makan malam, I love you Istriku.]
Raut wajah Arumi mendadak suram. Tapi ia mencoba mengerti bahwa di dunia ini, pria yang sekarang memulai hubungan dengannya bukanlah pria biasa yang setiap saat harus selalu ada untuknya. Dia adalah seorang pebisnis sukses dengan segala macam kesibukan yang menyita waktu.
Dengan langkah lemas, Arumi memasukkan semua barang belanjaan itu kedalam kulkas. Jika tidak ada Alfaro, mie instan sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perutnya saat lapar.
Bersambung 💓
Kejar setoran bgt ini hehe, biar bisa update walau hanya satu bab. Kisah Arumi akan memasuki fase yang sedikit menegangkan (Jangan kebawa perasaan ya Mak) namun akan ada kejutan dan sebuah pengakuan, Ups keceplosan 🤭😅 patengin terus ya kakak, bunda, adek, Abang readers 🙏😊😍
__ADS_1
Lanjut lagi besok 2 bab, Kalau sempat, 3 bab deh 😁
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍