
Bima baru saja sampai di rumah. Sebelum turun, ia menyempatkan diri untuk menelpon Almira. Setelah beberapa kali mencoba, namun tak juga ada jawaban. Akhirnya ia hanya mengirim pesan singkat untuk sang pujaan. Bima keluar dari dalam mobil, lalu melangkah masuk kedalam rumah.
Sesampainya di dalam, langkahnya terhenti saat Daddy memanggilnya untuk duduk di sofa ruang keluarga. Wajah Daddy nampak sangat serius saat ini. Bima tahu betul jika ini bukanlah sesuatu yang baik. Ia mendekat lalu duduk di samping Daddy.
"Kenapa Dad, serius sekali?"
"Pembukaan cabang perusahaan di Indonesia, sepertinya tidak berjalan baik ... mungkin ini akan memakan waktu yang lebih lama dari perkiraan kamu," ujar Daddy yang terasa begitu berat.
Bima menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa. Setelah yang ia perjuangkan, nyatanya tidak berjalan dengan baik. Lalu bagaimana mimpinya untuk muncul di hadapan Almira dengan segala usaha yang seharusnya sudah berhasil sekarang. Rasanya tidak keren jika ia muncul dengan hasil yang nihil. Begitu banyak waktu yang sudah ia lewatkan tanpa sang pujaan akan terbuang sia-sia, namun akhirnya malah seperti ini.
"Kira-kira kapan semua bisa berjalan Dad?" tanya Bima dengan suara yang terdengar lemah.
"Kemungkinan tahun depan ... Bima, mengembangkan sebuah perusahaan itu tidaklah mudah, apalagi bisnis antar negara itu butuh penyesuaian, jika kamu terburu-buru seperti ini, maka hasilnya akan membuat kamu kecewa," ujar Daddy.
Bima tak lagi memberi respon apapun. Ia memejamkan matanya sejenak. Ya, sejak awal ia terlalu ambisius hingga ia lupa jika semua tidak bisa berjalan dengan instan. Isi kepalanya hanya di penuhi dengan bagaimana caranya bisa secepat mungkin kembali ke pelukan sang pujaan dengan segala pencapaian yang sudah di tangan.
~
Almira baru saja sampai di depan Mansion. Sepanjang perjalanan kepalanya di penuhi dengan fakta yang di beberkan oleh Dave. Rasa bersalah semakin menjadi, membuat pikirannya tak jernih. Ia sampai tidak mendengar jika sejak ternyata tadi Bima menelponnya. Ia bisa sedikit tersenyum saat membaca pesan singkat yang di kirimkan Bima.
[Bagiamana kabar kekasihku hari ini, apa kamu kelelahan hingga tak mengangkat telepon ku? Apapun itu jangan sampai sakit, aku mencintaimu.] Isi pesan Bima.
Almira membalas pesan itu dengan kata-kata yang tidak kalah manisnya. Setelah selesai, ia keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam Mansion. Ia yang tadinya ingin melangkah naik ke lantai atas, mengurungkan niatnya saat melihat Alfaro sedang bermain dengan Vino dan Viona di ruang keluarga.
"Wah sepertinya seru sekali," ucap Almira, berusaha menahan tawanya saat melihat sang kakak yang bertingkah konyol di hadapan si kembar. Sangat kontras jika di bandingkan dengan sifat kakaknya saat berada di kantor.
melihat kedatangan Almira. Alfaro yang tadinya sedang memakai topeng Spiderman, langsung melepaskan topeng itu dari dalam wajahnya, "Kamu sudah pulang?"
"Onty, Daddy sekalang jadi sapidelmen," ujar Vino yang terlihat sangat kegirangan.
"Tapi Daddy punya pedang panjang," ucap Viona.
__ADS_1
"Bahaha, benarkah? Wah Daddy ternyata punya kepribadian lain saat di rumah," ujar Almira yang tak tertawa.
"Kenapa kamu malah tertawa, ini tidak lucu," ucap Alfaro seraya menatap tajam kearah Almira.
"Iya-iya maaf, memangnya kak Arumi, Mama dan Bi Ranti kemana, Kenapa kakak sendiri?" tanya Almira saat melihat rumah terlihat sepi.
"Arumi ikut Mama ke acara Arisan teman-temannya, kalau Bi Ranti sedang keluar ke supermarket yang tak jauh dari sini," ujar Alfaro seraya mendudukkan tubuhnya di atas sofa, setelah sebelumnya duduk di lantai.
"Oh begitu ... sepertinya Mama akan mengajarkan Kak Rumi hidup ala sosialita mulai sekarang," ucap Almira.
"Entahlah, biarkan saja ... selama Arumi merasa nyaman dan tidak keberatan," ujar Alfaro.
"Daddy ayo main lagi," regek Vino.
"Ayo Daddy pakai topeng ini lagi," pinta Viona.
Melihat kedua keponakannya itu merengek kepada sang Kakak. Itu pertanda jika Almira harus segera beranjak pergi dari sana. Untuk memberikan waktu ayah dan anak itu menghabiskan waktu bersama.
"Kalau begitu aku naik ke atas dulu ya kak," ucap Almira sambil berdiri dari posisinya.
~
Setelah selesai makan malam bersama keluarga. Bima memilih duduk di balkon kamarnya dengan di temani secangkir kopi, sebagai penghangat suasana. Andai sekarang Almira ada di sampingnya, ia tidak akan membutuhkan kopi itu lagi, karena pelukan sang kekasih yang lebih hangat dan nyaman.
Bima membuka pesan yang di kirimkan oleh Almira. Ia semakin merindukan kekasihnya itu karena Almira tidak hanya mengirimkan pesan tertulis namun juga voice note. Di tengah rasa frustasinnya saat ini, suara Almira adalah obat yang paling mujarab. Langsung saja Bima mencoba untuk menelpon Almira.
"Bima," ucap Bianca yang tiba-tiba saja datang. Membuat Bima mematikan panggila telepon yang bahkan belum sempat tersambung.
"Kakak kenapa bisa kesini, bagaimana dengan si kecil."
"Dia sudah tidur bersama papanya," ucap Bianca yang mengambil posisi duduk di samping sang adik, "Daddy bilang, usaha kamu tidak berjalan dengan baik ya?"
__ADS_1
Bima menundukkan kepalanya, "Sepertinya begitu kak, ini semua salahku karena tidak sabar dengan proses, padahal banyak sekali dukungan dari kak Albert, Daddy dan juga kak Alfaro yang sudah siap mengerjakan gedung perusahaan ku nanti, tapi sepertinya aku harus lebih sabar," ujar Bima.
"Lalu bagaimana, apa sudah memberitahu Almira tentang hal ini?" tanya Bianca.
"Haaa." Bima menghela nafas yang cukup panjang, "Belum, aku takut dia akan kecewa dengan ku."
"Jangan takut, toh sejak awal Almira sudah menerima kamu, meski kamu belum berhasil meraih mimpi mu itu," ujar Bianca seraya menepuk pundak adiknya.
"Iya kak, akan aku pikirkan nanti."
"Kamu tahu, aku selalu mendukung apapun keputusan kamu." Bianca meraih gelas berisi kopi milik Bima dan mulai menyeruputnya. Melihat sang kakak, Bima biasa-biasa saja karena memang mereka selalu berbagi berbagai hal, termasud secangkir kopi untuk berdua.
Bianca mengeluarkan ponselnya dari dalam saku piyama yang ia pakai. Saat membuka sosial media, matanya membulat seketika saat melihat foto yang di pasang oleh salah satu kolega bisnisnya. Ya, foto itu adalah foto Almira, dan Dave adalah salah satu rekan bisnis Bianca dan Albert.
"Ini bukannya Almira," gumam Bianca.
Bima yang berada di samping sang kakak, mendengar samar-samar saat kakaknya menyebutkan nama Almira, "Kakak bilang apa tadi?"
Sontak saja Bianca langsung menyembunyikan ponselnya itu kebelakang, "Ti-tidak ada apa-apa."
Bima tahu persis saat sang kakak sedang berbohong. Tanpa menunggu lama, ia berdiri dari posisinya dan langsung merebut ponsel itu dari tangan Bianca. Bianca hanya bisa pasrah saat tak bisa mempertahankan ponsel itu.
Bima diam terpaku saat melihat wajah cantik kekasihnya di terpampang di media sosial milik seorang laki-laki. Yang lebih membuat Bima terbakar cemburu karena caption di foto itu yang bertuliskan, "Mood booster ku" dengan tanda emoticon love berwarna merah muda.
Bima mengembalikan ponsel itu kembali kepada sang kakak. Bianca mulai terlihat khwatir dengan ekspresi wajah Bima yang tiba-tiba saja berubah. Tanpa mengatakan apapun, Bima melangkah masuk kedalam kamar.
"Bima kamu mau kemana!" seru Bianca.
Bima menghentikan langkahnya, berbalik dan kembali memandangi sang kakak, "Tolong pesankan aku tiket, besok aku akan pergi ke Indonesia."
"Apa! Indonesia?"
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+votenya readers 🙏😊😍