
Alfaro turun dari dalam mobil. Ia tersenyum saat melihat istri dan si kembar menyambut kedatangannya di depan teras Mansion. Vino dan Viona berhambur memeluk Daddy mereka. Alfaro menggedong kedua anaknya, melangkah mendekati sang istri.
"Mas kamu kenapa tidak bilang kalau ada wawancara?" tanya Arumi saat Alfaro berdiri di hadapannya.
"Ini mendadak, aku pikir kamu tidak menonton?" tanya Alfaro.
"Tadi aku ke Mall bersama dengan Bi Ranti dan anak-anak, kamu tahu semua orang memperhatikan aku ... aku jadi malu di lihat seperti tadi," ucap Arumi.
"Iya Daddy, tadi Daddy ada di tv," ujar Vino.
"Ada Yona, Ino sama Mommy juga Dad," sambung Viona.
"Benarkah? Bagaimana apa Daddy tampan saat di televisi?" tanya Alfaro seraya mengelus pucuk kepala kedua anaknya secara bergantian.
"Amazing Daddy," ucap Vino dan Viona secara bersamaan.
"Terimakasih Mas, aku bangga kamu melihat Mas menanggapi semua pertanyaan dengan bijak," ujar Arumi dengan mata berkaca-kaca.
Alfaro mengecup kedua sisi pipi Vino dan Viona secara bergantian. Lalu beralih kepada sang istri namun bukan di pipi atau di dahi, tapi ciuman kilat tepat di bibir. Arumi sampai membulatkan mata, sementara si kembar yang masih polos hanya tertawa melihat wajah mommy mereka yang memerah.
"Mas, kamu apa-apaan sih."
"Kenapa, disini juga tidak ada orang."
"Tapi anak-anak melihatnya."
"Mereka belum mengerti ... ayo kita masuk."
Keluarga kecil itu melangkah masuk kedalam Mansion. Semenjak kemunculan Arumi kembali, setiap hari begitu terasa berwarna bagi Alfaro. Ia ingin membuat setiap momen yang ia lewati bersama keluarga menjadi begitu berarti.
Waktu yang dulu terbuang sia-sia ingin ia bayar dengan kebahagiaan yang tiada habisnya untuk anak dan istri. Bukan hanya berupa materi namun juga perhatian. Wawancara itu juga salah satu cara Alfaro untuk memperjelas status Arumi dan anak-anak. Agar semua orang tahu sumber kebahagiaannya.
Sesampainya di dalam Mama dan Bi Ranti sedang berada di taman belakang. Langsung saja Alfaro, Arumi dan anak-anak melangkah ke taman belakang. Vino dan Viona turun dari gendongan Daddy mereka saat melihat area taman belakang yang sekarang beralih fungsi menjadi taman bermain.
__ADS_1
"Akhirnya kamu pulang juga, Mama sudah menonton wawancara kamu tadi, bagus sekali. Mama bangga sama kamu Al," ucap Mama saat kedatangan anaknya.
"Terimakasih Ma," ucap Alfaro kemudian melihat kesekeliling taman, namun tak juga menemukan Almira, biasanya setelah pulang dari kantor Almira akan menemani Mama di taman belakang, "Almira mana Ma?"
"Oh iya, tadi dia bilang mau reani dengan teman-teman SMA-nya, mungkin dia akan pulang malam."
"Syukurlah kalau dia memberi kabar, jangan sampai dia pulang terlalu malam," ucap Alfaro.
"Iya Al, dia selalu mengabari Mama kok," ucap Mama.
"Kalau begitu, aku titip Vino dan Viona dulu ... ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Arumi," ucap Alfaro.
Arumi yang tadinya fokus melihat kedua anak-anaknya bermain, kini beralih menatap sang suami, "Mau bicara apa Mas?"
"Nanti kamu juga tahu," ucap Alfaro lalu tersenyum penuh arti.
"Ya sudah pergilah, biar Mama dan Bi Ranti yang menjaga Vino dan Viona," ucap Mama saat mengerti situasi bahwa sang putra ingin berdua dengan istrinya.
Sesampainya di lantai dua, Alfaro mengajak Arumi masuk keruang kerjanya. Ia menuntun sang istri duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ia meraih tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop besar lalu di sodorkan kehadapan Arumi.
"Ini apa Mas?" tanya Arumi seraya membolak-balikkan amplop besar itu.
"Buka saja, nanti kamu tahu sendiri," ucap Alfaro seraya menggerakkan tangan untuk merangkul Arumi.
Perlahan Arumi membuka amplop itu. Ia memasukkan tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Matanya membulat, percaya tak percaya, saat sekilas ia membaca isi dari kertas yang membuatnya terpaku.
"Aku mau mendaftarkan pernikahan kita, agar resmi di mata hukum, aku minta kamu tanda tangani berkas itu," ujar Alfaro kemudian mencium kepala sang istri.
Arumi masih tertegun sesaat. Terlalu banyak kebahagiaan yang di berikan sang suami semenjak ia kembali. Sampai ia lupa dengan statusnya yang masih istri sirih. Perlahan Arumi mengangkat kepalanya. Menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku bahkan tidak mengingat hal ini," ucap Arumi dengan suara bergetar.
Alfaro menyeka air mata Arumi, "Maafkan aku ... seharusnya dari dulu aku melakukannya, tapi terlalu banyak masalah yang membuat, semuanya tertunda."
__ADS_1
Arumi memeluk suaminya dengan erat. Empat tahun yang lalu, ia bahkan tidak pernah berpikir bahwa lelaki sempurna yang ada di hadapannya ini akan mencintainya, apa lagi untuk meresmikan hubungan mereka di mata hukum. Namun kini kebahagiaan itu amat nyata sampai ia melupakan semua kesedihan di masa lalu.
"Aku sangat bahagia, terimakasih Mas."
"Aku sangat mencintai kamu, aku sangat menyesal karena perbuatan ku di masalalu ... izinkan aku memperbaiki semuanya, aku ingin mengulang semuanya dari awal, bahkan aku ingin mengadakan pesta pernikahan mewah yang dulu tidak aku berikan untuk kamu, sebagai istri ku," ujar Alfaro yang terlihat mulai berkaca-kaca.
"Tidak perlu Mas, untuk apa pesta mewah, jika bersama mu saja aku sudah sangat bahagia," ujar Arumi saat melepaskan pelukannya dari Alfaro.
Alfaro menatap wajah cantik sang istri. Entah kenapa meskipun Arumi berkata jika ia sudah bahagia, tapi Alfaro tetap ingin mengadakan sebuah pesta pernikahan yang sudah tertunda sekian tahun.
"Setelah pernikahan kita terdaftar secara hukum. Aku ingin merayakannya sebagai bentuk syukur ku karena memiliki kamu dan anak-anak kita."
"Tapi Mas--" Ucapan Arumi terpotong saat telunjuk Alfaro menempel di bibirnya.
"Ini adalah caraku mencintai kamu, cara ku menghargai kamu sebagai istri ku ... izinkan aku melepaskan semua penyesalan di masalalu dengan banyak hal yang ingin aku berikan untuk kamu," ucap Alfaro kemudian kembali mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya dan langsung di berikan kepada Arumi.
"Ini apalagi Mas?"
"Mulai sekarang, setengah dari saham yang aku punya, aku ubah menjadi nama kamu dan beberapa aset properti juga aku serahkan kepada kamu," jelas Alfaro lalu kembali memeluk sang istri.
"Tidak perlu sejauh ini Mas, aku tidak bisa menerimanya," ucap Arumi seraya melepaskan pelukan sang suami.
"Aku sudah bilang, biarkan aku melepaskan semua penyesalan ku di masalalu dengan caraku sendiri, terima atau tidak, aku akan tetap melakukannya."
Bibir Arumi bergetar dan akhirnya air mata kembali mengalir deras. Ia tidak tahu harus berkata apa, menolak pun tidak bisa. Ia hanya bisa tertunduk, menangis, seraya menggenggam tangan sang suami dengan erat.
Kehidupan seseorang kadang di uji dengan cobaan yang berturut-turut. Namun siapa yang bisa melewatinya maka akan ada kebahagiaan yang berturut-turut pula. Lelah dengan kenyataan hidup itu boleh, tapi jangan sampai menyerah. Karena hidup terus berjalan, saat kamu berhenti melangkah maka kebahagiaan itu akan semakin jauh dalam pandangan.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote+hadiah juga boleh.
terimakasih atas dukungannya untuk saya, selalu setia menunggu, Terimakasih banyak 🙏😊
__ADS_1