Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.45 (Kena mental)


__ADS_3

Tak lama saat Alfaro pergi. Arumi juga beranjak meninggalkan tempat itu, sepanjang perjalanan menuju ruangannya ia selalu saja tersenyum-senyum sendiri, membayangkan kejadian tadi yang walau sederhana tapi begitu berkesan untuknya. Senyum itu tak lekas hilang bahkan saat ia sudah masuk kedalam lift.


Saat keluar dari dalam lift ia tak sengaja bertemu dengan si ulat bulu. Ya kalian tahu lah, siapa lagi jika bukan Clara yang hendak naik lift itu juga, senyum yang tadinya menghiasi wajah Arumi kini perlahan surut. Clara tak jadi masuk kedalam lift, tatapan sinis itu membuat Arumi tahu jika lagi-lagi ia harus menahan diri dan harus ekstra sabar.


Arumi berusaha cuek, ia melangkah keluar dari lift tanpa memperdulikan Clara. Tapi selalu saja si ulat bulu itu mencari gara-gara dengannya. Clara menghadang langkah Arumi, menatap Arumi dengan tajam seraya berpangku tangan.


"Kebetulan kita bertemu disini, aku ingin menanyakan sesuatu sama kamu," ucap Clara pada Arumi.


"Maaf saya sibuk, permisi." Arumi melangkah melewati Clara, tapi lagi-lagi Clara menarik tangannya agar kembali ke posisi semula. Arumi menghembuskan nafas dengan begitu berat.


"Aku hanya ingin tau, ada hubungan apa kamu dengan Tuan Al? Sejak acara camping itu, dia selalu saja memperhatikan kamu. Dan satu lagi, saat kita pulang dari acara camping, kamu duduk di samping Tuan Al kan? Kenapa kamu boleh duduk di sana sementara sekertarisnya melarang aku," tutur Clara panjang lebar.


"Ya mana aku tau, jangan tanyakan padaku, jika kamu memang penasaran tanyakan langsung saja dengan-nya," ujar Arumi.


Clara maju satu langkah hingga jaraknya dan Arumi begitu dekat, mencengkram kuat lengan arumi dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Kamu jangan berharap terlalu tinggi, kamu itu bukan levelnya, wanita miskin seperti kamu harus tau diri, cuma wanita seperti ku yang pantas untuknya karena kami selevel," bisik Clara.


Tangan Arumi tercengkram erat. Wanita seperti Clara ini memang tidak bisa di hadapi dengan kesabaran. Ia berharap cukup sekali ia bertemu dengan orang seperti ini. Arumi melepaskan cengkraman tangan Clara dari lengannya dengan kasar dan menatap Clara dengan serius.


"Lalu jika aku tidak pantas, apa kamu pikir kamu pantas?"


"Apa!" Clara mendelik tajam kearah Arumi.


"Dada rata, bokong tipis. Apa yang ingin kamu tonjolkan untuk menaklukkannya?" ucapan yang terdengar datar tapi mampu membuat nyali Clara menciut.


Mata Clara membulat sempurna, seluruh tubuhnya bergetar hebat, saat mendengarkan perkataan Arumi yang membuatnya tak bisa berkata-kata karena pada kenyataannya, itu semua fakta. Haduh Senjata makan tuan, salah lawan, jadi kena mental kan.


"Selamat berjuang untuk mendapatkannya, itu juga kalau kamu bisa, semangat." Arumi menepuk pundak Clara dan tersenyum lebar. Clara hanya bisa diam, dan tidak bisa menimpali ucapan Arumi.

__ADS_1


Melihat Clara yang hanya diam dan menatapnya dengan tajam, buru-buru Arumi melangkah pergi, untuk menghindari masalah yang lebih besar jika ia terus meladeni Clara.


"Wanita Sialan!!!" Teriakan Clara menggema sepanjang koridor yang nampak sepi pagi ini.


~


Arumi bisa merasa lega, saat sudah sampai di ruangannya. Ia duduk di belakang meja kerjanya seraya bersandar. Tak lama Bima yang juga baru saja tiba dari menyetor laporan, datang menghampirinya.


"Kamu dari mana saja? Aku menyelesaikannya sendiri."


"Maaf, aku ada sedikit kendala tadi, karena ketua tim bagian keuangan, lagi-lagi mencari masalah dengan ku," tutur Arumi.


"Sebenarnya ada masalah apa sih kamu sama dia?" tanya Bima.


"Dia bilang aku ...." Ucapan Arumi terhenti, saat logikanya mulai bekerja, ia pikir sebaiknya ia tidak memberi tahu Bima, " Entahlah, aku juga tidak tau kenapa."


"Sebaiknya kamu hindari saja dia, jika dia terus menggangu mu, katakan saja padaku, karena ... aku akan selalu ada untuk kamu," tutur Bima.


"Sama-sama. Tapi ucapan ku waktu itu masih berlaku sampai sekarang dan nanti ... aku tidak menunggu, tapi aku akan selalu mengulurkan tangan untuk menyambut kamu," lirih Bima.


Susana tiba-tiba saja menjadi hening. Arumi melepas pandangan matanya dari Bima, melihat kesembarang arah untuk menghindari tatapan mata Bima yang membuat perasaannya menjadi tidak nyaman.


...***...


Siang berganti sore, secara bergantian para karyawan keluar dari gedung utama WB grup. Arumi terseyum saat melihat layar ponsel yang berisikan pesan manis dari suaminya.


[Maaf tidak bisa mengantarkan kamu pulang, karena aku sedang meeting di luar. Sampai jumpa malam nanti, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan istriku. I love you.]


Begitulah isi pesan Alfaro yang membuat jiwa keibuan Arumi meronta-ronta. Sebagai istri yang baik, ia harus memasak hidangan yang enak malam ini. Tanpa pikir panjang, Arumi langsung melangkah pergi, bukan untuk pulang, tapi untuk pergi ke swalayan, membeli beberapa bahan makanan untuk di masak malam ini.

__ADS_1


~


Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, Arumi hampir selesai dengan masakannya. Menu malam ini cukup sederhana, tapi dibuat dengan penuh cinta. Berharap seseorang yang menjadi target utama akan menyukai masakannya.


Tak lama suara bel pintu berbunyi. Arumi pikir ada tamu atau petugas keamanan yang datang. Namun nyatanya, saat melihat layar yang menempel di samping pintu, orang yang berdiri di sana adalah Alfaro. Arumi mengerutkan keningnya heran.


Kenapa dia tidak langsung masuk saja, apa dia lupa kode pintunya, batin Arumi.


Tak ingin larut dalam pikirannya. Arumi segera membuka pintu, agar Alfaro tidak menunggu terlalu lama.


Krieeekk.


Pintu itu terbuka. Alfaro langsung tersenyum saat melihat Arumi dengan penampilan tak seperti biasanya. Rambut panjang yang terikat keatas dan celemek yang menempel di tubuhnya, membuat Alfaro semakin terpesona, hal seperti itu tidak pernah ia lihat dari mantan istrinya yang mungkin menyetuh kompor saj tidak pernah.


"Mas kenapa tidak langsung masuk saja?"


Alfaro melangkah masuk, berjalan mendekat, melingkarkan tangan di pinggang ramping Arumi lalu mengecup lembut kening minimalis itu, "Aku hanya ingin merasakan, bagaimana disambut istri saat pulang kerja."


Apa mantan istrinya tidak pernah menyambut saat pulang kerja, aku ingin bertanya, tapi takut dia akan marah atau sedih, batin Arumi.


"Kamu masak apa? Baunya harum sekali." Alfaro mengedus bau yang membuat perutnya semakin keroncongan.


"Mas lapar? Aku hampir selesai kok."


"Kalau begitu aku mandi dulu."


"Iya Mas." Arumi dan Alfaro berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam erat. Sampai akhirnya harus berpisah saat Alfaro harus masuk ke kamar dan Arumi harus melanjutkan kegiatan masak-memasaknya.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


Terus suport novel ini ya kakak-kakak, bunda-bunda, adek-adek, abang-abang semuanya,🤭 aku sedang mengajukan rekomendasi crazy up, agar novel ini masuk beranda rekomendasi. Jika bisa lolos, aku akan up 3-4 bab perharinya. 😍


__ADS_2