
Satu bulan berlalu setelah pernikahan Almira dan Bima. Hari ini akhirnya mereka memutuskan untuk pergi berbulan madu ke sebuah pulau terpencil di negara X. pemandangan laut yang indah menjadi incaran utama keduanya.
Semua barang sudah masuk kedalam bagasi mobil. Sementara Almira masih sibuk melepas rindu dengan kedua keponakannya sebelum pergi selama satu minggu kedepan. Disana juga ada Mama dan Arumi.
"Onty, kayo pegi jangan lama-lama," ucap Vino dengan wajah cemberutnya.
"Iya Onty, nanti capa yang temenin Yona beyi es kim, Mommy kan masih cakit."
Almira dan Arumi hanya bisa terkekeh mendengar perkataan si kembar. Ya, selama masa-masa mengidam Arumi, Vino dan Viona lebih bergantung kepada Almira, Alfaro dan Bima.
Kehamilan kali ini, sangat luar biasa. Arumi sampai harus di infus karena tak bisa memakan apapun. Hari ini infusnya sudah di buka dan perlahan ia sudah bisa makan meski hanya buah-buahan dan susu.
"Selama Onty pergi, Vino sama Viona tidak boleh nakal ya, kasihan Mommy," ucap Almira kepada kedua keponakannya.
"Okey onty!" sahut si kembar secara bersamaan.
"Aduh cucu oma pintar-pintar sekali, nanti pergi sama Oma ke panti lagi, mau?" tanya Mama kepada cucu-cucunya.
"Asyiikk! Mau ke panti Oma di cana banyak teman," ucap Viona yang terlihat sangat antusias.
"beyi mainan sama es kim dulu ya Oma, mau bagi-bagi," ucap Vino.
"Oke bos kecil Oma," ucap Mama seraya mencubit kedua pipi si kembar.
"Mira, maaf aku tidak bisa mengantar kamu ke Bandara," ucap Arumi yang masih terdengar lemah.
"Iya tidak apa-apa kak, semoga setelah aku pulang kakak sudah pulih ya," ucap Almira kemudian berdiri dari tempat duduknya, saat ia melihat Bima dan sang kakak turun dari lantai atas.
Entah apa yang di bicarakan antara Alfaro dan Bima. Hingga membuat semua orang menunggu mereka. Arumi terlihat sangat senang saat melihat suaminya sangat akrab dengan Bima. Setelah semua yang telah terjadi, akhirnya semua bahagia. Termaksud pria yang dulu menjadi penjaga jodoh orang lain.
"Ayo kita berangkat," ajak Bima pada Almira.
Almira beranjak dari tempat duduknya. Mama dan yang lainnya hanya bisa mengantar kedua pengantin baru itu hingga ke depan teras. Selain Alfaro yang harus ke kantor, Arumi yang masih lemah dan Mama yang harus memenuhi janji dengan kedua cucunya.
Mereka bisa mengerti dan berterimakasih karena Alfaro sudah mengatur bulan madu romantis untuk keduanya. Setelah masuk kedalam mobil, Almira melambaikan tangannya untuk terakhir kali sebelum pergi. Vino dan Viona melompat-lompat dan melambaikan tangan sebelum mobil itu melaju dan meninggalkan halaman lalu menghilang dari balik pagar yang tinggi menjulang.
"Semoga setelah pulang, Mira menyusul Rumi hamil," ucap Mama lalu terkekeh sendiri.
"Semoga saja Mah," ucap Arumi lalu ikut tekekeh bersama Mama.
__ADS_1
"Oma, ayo pelgi juga Oma!," rengek Vino.
"Iya Oma ayok!!" Viona pun tak mau kalah.
Alfaro menggedong kedua anaknya, "Anak Daddy harus mandi dulu, pakai baju yang keren sebelum pergi."
"Ayo Mandi sama Mommy," sahut Arumi tiba-tiba.
"Mommy cudah cembuh ya?" tanya Vino dengan polosnya.
"Sedikit sayang," ucap Arumi.
"Oh belum banyak ya Mommy, oke Yona masih sabal kok," ucap Viona.
"Aduh, makin pintar ngomong saja cucu Oma .. ya sudah Oma tunggu di taman belakang, Vino dan Viona mandi dulu," ujar Mama.
"Oke Oma!" sahut keduanya dengan antusias.
Alfaro menggedong kedua anaknya masuk kedalam Mansion lalu di ikuti oleh Arumi dan juga Mama.
~
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Alfaro saat melihat wajah pucat sang istri.
"Tidak apa-apa Mas," ucap Arumi lalu menurunkan satu persatu anaknya dari gendongan sang suami, "Mas tidak ke kantor?"
"Oh itu ... nanti saja," ucap Alfaro.
Arumi hanya tersenyum lalu menggadeng kedua anaknya masuk ke dalam kamar mandi. Alfaro masih berdiri disana seraya memandangi sang istri dan si kembar sampai pintu kamar mandi itu tertutup.
Alfaro menghela nafas berat. Ia tahu Arumi tidak baik-baik saja. Sang istri sering kali muntah di tengah malam tanpa membagunkan dirinya. Dalam hati ia berkata, Ternyata seperti ini ketika istri ku sedang hamil, aku berusaha melakukan yang terbaik, tapi ia masih saja merasa canggung untuk bergantung kepada ku, batin Alfaro.
...***...
Setelah Vino dan Viona selesai berpakaian, suara ketukan pintu dari luar tiba-tiba saja terdengar. Alfaro bergerak dengan cepat untuk membuka pintu.
"Vino dan Viona sudah selesai?" tanya Mama kepada Alfaro saat pintu kamar itu sudah terbuka.
"Sudah Ma," jawab Alfaro lalu menoleh kebelakang, "Vino...Viona, Oma sudah mau pergi"
__ADS_1
Vino melompat kegirangan. Mereka berhambur menghampiri Mama. Perlahan Arumi bangkit dari posisinya, berjalan mengahampiri Mama yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Maaf ya Ma, lagi-lagi aku merepotkan Mama," ucap Arumi dengan nada suara lemahnya.
"Kamu ngomong apa sih Rumi, Mama tidak merasa di repotkan kok ... sudah ya Mama mau pergi dulu." Mama beranjak pergi seraya menggadeng kedua cucunya.
Setelah kepegian si kembar. Kini tinggallah Arumi dan Alfaro yang masih berdiri di ambang pintu. Mereka kembali masuk kedalam kamar, Arumi melangkah lebih dahulu, meraih dasi dan jas sang suami. Ia berniat untuk memakaikannya karena sudah beberapa hari ini ia hanya terbaring di atas ranjang tanpa bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
"Kamu mau apa?" tanya Alfaro seraya menahan tangan sang istri yang hendak mengalungkan dasi ke lehernya.
"Mau memasangkan dasi Mas," jawabnya.
Pelahan Alfaro menurun tangan sang istri lalu di genggam dengan erat, "Kamu kenapa? akhir-akhir ini aku perhatikan kamu lebih banyak diam, tak meminta apapun."
Arumi menatap Alfaro dengan wajah cemberut dan air mata yang tertahan, ia melangkah dengan cepat dan langsung memeluk sang suami, "Aku merasa tidak bisa melayani kamu dan anak-anak dengan baik, aku sedih saat melihat Mas yang baru saja pulang kerja tapi harus mengurus anak-anak, aku juga banyak merepotkan Bi Ranti, Mama dan Almira."
Alfaro mengusap punggung sang istri dengan lembut. Ia membaca beberapa artikel di internet yang mengatakan jika seorang wanita hamil akan mengalami perubahan mood yang sangat drastis saat hamil, lebih sensitif dari biasanya. Hal itu juga yang terjadi dengan Arumi saat ini.
"Aku sangat menunggu saat ini, aku senang saat kamu menginginkan sesuatu yang aneh-aneh, aku senang saat memandikan anak-anak, bermain bersama mereka dan aku juga senang saat memijat tekuk leher kamu ketika mual, muntah ... kamu tidak perlu sungkan karena aku ada untuk kamu, bergantung lah kepadaku," ucap Alfaro seraya terus mengelus punggung sang istri.
Pelahan Arumi melepaskan pelukannya, menatap sang suami dengan ekspresi wajah yang sudah lebih baik, ia tersenyum dengan manjanya, "Terimakasih Mas, aku hanya takut kamu lelah dan merasa terbebani."
"Tentu saja tidak ... kalau begitu aku berangkat kerja dulu ya," ucap Alfaro kemudian mencium kening sang istri.
"Mas, aku rindu," ucap Arumi seraya menarik ujung kemeja sang suami.
"A-apa rindu?" tanya Alfaro memastikan.
"Iya aku rindu itu," ucap Arumi lalu mengarahkan pandangan ke bagian bawah perut sang suami.
Glek.
Alfaro menelan salivanya dengan sekuat tenaga. Mood wanita saat sedang hamil benar-benar tidak bisa di tebak, baru saja Arumi merasa sedih dan sekarang malah menginginkan hal yang di luar dugaan.
Ini untuk pertama kalinya sang istri meminta lebih dulu secara terang-terangan, biasanya hanya kode-kode rumit yang susah di pahami. Pagi itu Alfaro kembali menyapa calon buah hatinya setelah satu minggu lebih menahan naluri lelaki yang bergejolak namun tak bisa tersalurkan.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+Komen+vote ya readers 🙏😊😍
__ADS_1