
Menjelang pagi, Alfaro kembali ke Mansion. Ia bahkan tak sempat menikmati sarapan bersama dengan Arumi karena harus berangkat ke kantor. Bi Ranti sudah berada di sana, menyambut kedatangan Alfaro yang baru saja tiba.
Tanpa berkata apapun, ia melanjutkan langkahnya menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Saat sampai di ujung tangga, ia tersentak kaget karena Mama sudah berada di sana, menatapnya tajam sambil berkacak pinggang.
"Dari mana kamu semalaman tidak pulang?" tanya Mama, mendelik tajam kearah Alfaro.
"Aku lembur Ma, jangan bertanya seperti itu. Aku ini bukan anak kecil lagi."
"Kenapa tidak mengabari, Mama kan khwatir," ujar Mama.
"Sudahlah Ma aku sibuk. Aku mau mandi dan berangkat ke kantor," jelas Alfaro kemudian melanjutkan langkahnya, masuk kedalam kamarnya. Mama mendegus kesal karena Alfaro yang selalu saja tak ingin mendengarkan ucapannya.
Dasar anak keras kepala, susah di atur.
~
Di lain tempat, Arumi sudah siap untuk berangkat ke kantor. kemeja sifon di padu-padankan dengan rok span hitam membuat penampilan Arumi terlihat cantik seperti biasa.
Saat ini ia sedang berada di dapur. Di tatapnya sandwich yang ia buat, namun tak sempat di makan oleh Alfaro. Ia pun merasa tidak ***** makan karena hanya sendiri saja di sana.
"Apa aku bawakan ke kantor saja ya,"gumam Arumi.
Tanpa pikir panjang, Arumi memindahkan sandwich itu ke dalam kotak bekal untuk ia berikan kepada Alfaro nanti. Setelah selesai, ia melangkah keluar dari apartement seraya menelpon Dinda yang sudah berjanji akan menjemputnya. Hari ini adalah hari interview Dinda di WB grup.
Bertepatan dengan Arumi yang sudah sampai di halaman depan Apartement, Dinda pun datang menggunakan motor matic andalannya. Arumi merasa senang, karena pada akhirnya akan bekerja di tempat yang sama dengan sahabatnya, Dinda. Dulu sekali semasa awal masuk kuliah, harapan untuk selalu bersama, pernah terucap oleh mereka.
"Maaf lama, belum biasa bangun pagi soalnya," ucap Dinda yang sudah membuka kaca helmnya.
"Hati-hati loh, sekertaris Aril itu galak," ujar Arumi.
"Ck, galakan mana sama ibu ku, haha." Dinda terkekeh sendiri saat mengingat kejadian kemarin.
"Ibu kamu sih jangan di tanya," ucap Arumi.
"Udah ah, yuk naik. Nanti kita telat lagi."
Arumi meraih helm yang di berikan Dinda. Motor itu melaju pergi, meninggalkan halaman Apartement. Tak perlu naik mobil mewah, Arumi lebih suka naik motor, yang bebas dari kemacetan. Ya meski hanya bertindak sebagai penumpang karena ia tidak bisa menyetir motor.
~
Karena menggunakan motor, waktu yang di tempuh pun tak terlalu lama. Akhirnya mereka sudah sampai di halaman depan, WB grup. Saat akan masuk kedalam lobby, entah kebetulan atau apa, Aril juga baru saja tiba, ia menghentikan langkahnya karena hampir menabrak Dinda.
"Wah kebetulan sekali ya," ucap Arumi saat melihat kedatangan Aril. Aril hanya tersenyum tanpa bicara.
"Selamat pagi seketaris Aril," sapa Dinda.
"Oh kamu ikut saya sekarang, ada yang harus saya jelaskan kepada kamu," ucap Aril kepada Dinda.
__ADS_1
"Oh iya baik." Dinda menoleh kepada Arumi yang berdiri di sampingnya, "Rumi, aku duluan ya."
"Tunggu sebentar, aku mau menitipkan sesuatu untuk Tuan Al." Arumi menyodorkan sebuah kotak bekal yang ia ambil dari tasnya kepada Aril.
Aril tersenyum saat menerima kotak bekal itu dari Arumi. Seperti yang ia harapkan, hubungan Alfaro dan Arumi semakin hari semakin serius saja. Sepertinya sia-sia saja ia menyimpan surat perjanjian kontrak pernikahan yang sudah tidak ada gunanya lagi. Dinda menyenggol lengan Arumi dengan senyuman penuh arti. Untuk menggoda sang sahabat yang nyatanya sudah benar-benar mencintai laki-laki yang bergelar suami.
Aril kembali melanjutkan langkah, dengan Dinda yang terus mengikutinya dari belakang. Dinda terlihat kesusahan menyeimbangkan langkah dengan Aril yang bergerak begitu cepat dengan kaki panjangnya
Sesampainya di ruang kerja, Aril mempersilahkan Dinda untuk duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengannya. Raut wajah Aril terlihat sangat serius hingga membuat Dinda menjadi semakin gugup.
"Jadi begini ... sebenarnya di perusahaan sedang tidak ada lowongan, karena semua devisi sudah full," jelas Aril.
Raut wajah Dinda seketika berubah menjadi lemas. Ia merasa sia-sia saja malam tadi menggedor-gedor toko pakaian yang sudah tutup, hanya untuk membeli sebuah kemeja putih, Jika pada akhirnya di tolak juga.
"Jadi saya tidak diterima?" tanya Dinda ragu-ragu.
"Seharusnya begitu, tapi ... karena ini adalah permintaan Nona, jadi kamu akan tetap bekerja di sini sebagai asisten saya untuk sementara waktu sampai ada penambahan karyawan," jelas Aril.
Seketika Dinda langsung berdiri dari duduknya, "Akhirnya aku bekerja!" Dinda Melompat-lompat kegirangan sampai ia lupa jika seseorang sedang duduk di depannya. Memandangi dengan rasa tak percaya, kenapa di dunia ini masih ada wanita yang bersifat abstrak seperti Dinda, mungkin itulah yang di pikirkan Aril.
Dinda berhenti melompat saat matanya beradu dengan Aril yang diam mematung seraya memandanginya. Ia pelahan kembali duduk di kursi itu, dengan perasaan malu karena sikap yang belum bisa terkontrol dengan baik.
"Ehm, maaf," ucap Dinda dengan kepala yang tertunduk.
Aril menghela nafas berat dan berusaha memaklumi. Ternyata ibu dan anak sama saja ya. Jika bukan karena Dinda adalah teman Arumi, ia pasti sudah tidak bisa menahan emosinya sekarang.
"Karena meja dan kursi kamu belum di siapkan. Kamu bisa bekerja mulai besok," tutur Aril.
...***...
Alfaro baru saja tiba. Saat akan masuk ke dalam ruang kerjanya, Aril menghapiri dan menyodorkan sebuah kotak bekal kepadanya.
"Apa ini?"
"Dari istri tercinta, sepertinya makanan," jawab Aril.
"Benarkah." Alfaro memeriksa isi kotak bekal itu dan benar saja, isinya adalah sandwich yang tidak sempat ia makan di apartement pagi tadi.
"Kamu tidak memakannya kan?" tanya Alfaro sambil memicingkan matanya.
"Apa, saya ... tentu saja tidak," sangkal Aril.
Tanpa menimpali ucapan Aril. Alfaro melanjutkan langkah menuju ruang kerja dan langsung duduk di kursi kebesarannya. Saat membuka kotak bekal itu dan hendak memakan sandwich, tiba-tiba saja ia teringat Arumi, rasanya pasti akan lebih enak jika sarapan bersama dengan istri. Langsung saja ia mengirimkan pesan singkat kepada Arumi.
~
Arumi sedang sibuk membuat laporan bersama dengan Bima yang duduk dihadapannya seraya memeriksa beberapa berkas sebelum di berikan ke ketua tim perencanaan. Getaran ponsel dari atas meja mengalihkan fokus Arumi, untuk membuka pesan singkat yang di kirimkan Alfaro.
__ADS_1
[Temui aku di atap, sekarang.]
Kenapa dia mengajak bertemu di saat jam kerja seperti ini, batin Arumi.
"Kamu kenapa?" tanya Bima saat melihat Arumi menatap layar ponsel dengan sangat serius.
"Tidak ada apa-apa." Arumi langsung berdiri dari posisinya, "Aku ketoilet sebentar." Dengan langkah cepat, Arumi menghilang dar baik pintu ruangan itu.
Bima diam tertegun, tiba-tiba saja teringat kata-kata kakaknya malam tadi. Meskipun Bianca hanya bercanda, entah kenapa ia merasa jika sikap aneh Arumi akhir-akhir ini pasti karena sesuatu dan tidak menutup kemungkinan jika itu karena Arumi sudah menyukai pria lain, kira-kira itulah yang di pikirkan oleh Bima.
~
Arumi menaiki lift hingga lantai paling atas, lalu menaiki anak tangga menuju atap gedung. Sepertinya tempat itu akan menjadi tempat mereka bertemu sekarang. Sesampainya di atas, Dari kejauhan ia bisa melihat Alfaro sedang duduk di sebuah kursi panjang yang ada disana. Seraya menormalkan nafasnya, Arumi bergerak perlahan menghapiri sang suami.
"Duduklah," ucap Alfaro saat melihat kedatangan Arumi.
"Ini belum jam istirahat, kenapa ingin bertemu," ucap Arumi yang sudah duduk di samping Alfaro.
"Karena ini." Alfaro meletakkan kotak bekal itu di tengah-tengah mereka, "Aku ingin sarapan bersama mu."
Arumi tersenyum-senyum sendiri saat mendengar perkataan Alfaro, ya dia juga belum sempat sarapan pagi tadi dan ia tidak menyangka jika Alfaro akan mengajaknya sarapan bersama.
"Baiklah tapi jangan lama, aku harus segera kembali bekerja."
"Iya tidak akan lama." Alfaro menyodorkan sepotong roti isi itu di hadapan mulut Arumi, "Ayo buka mulutmu istriku." Arumi membuka mulut dan langsung mengigit roti itu. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena mendapatkan perlakuan seperti ini dari Alfaro.
Apa aku terlalu bodoh karena masih saja belum percaya jika ini nyata.
Matahari pagi yang menerpa menemani sarapan pagi suami istri itu di atap gedung yang hanya di huni oleh mereka saja. Lebih tepatnya sarapan pagi yang tertunda. Baik Arumi atau pun Alfaro mereka sama-sama terlihat sangat lahap, karena memang tidak menelan apapun sejak pagi.
Hingga pada akhirnya tinggal tersisa satu potong saja. Mungkin karena terlalu lapar, tanpa sadar Arumi mengambil potongan terakhir tanpa menyisakan Alfaro.
"Hey, bukankah potongan terakhir itu untuk pemilik bekal," protes Alfaro.
"Ya memang, aku yang membuatnya jadi akulah pemilik potingan terakhir," ucap Arumi yang baru saja selesai menelan makanannya.
"Hah, kamu bercanda ya? Akulah pemilik bekal ini, kamu hanya membuatnya saja," ucap Alfaro tak mau kalah.
"Mau bagaimana lagi, sudah telanjur aku makan."
Alfaro memperhatikan sudut bibir Arumi yang terdapat bekas saus dari sandwich yang dimakannya. Tanpa pikir panjang Alfaro langsung meraih tekuk leher Arumi, menyesap pelahan bibir itu hingga sisa saus itu hilang dari bibir sang istri.
"Setidaknya aku bisa merasakan saus yang tersisa di bibir mu." Alfaro berajak dari tempat duduknya, "Terimakasih untuk sarapannya pagi ini istri ku, aku turun lebih dulu, sampai jumpa malam nanti." Alfaro mengusap lembut pucuk kepala Arumi lalu melangkah pergi.
Arumi masih diam terpaku disana, seraya memegangi pipi yang merona merah. Kejutan-kejutan kecil yang di berikan Alfaro padanya, membuatnya kian tersadar jika ia benar-benar sudah jatuh cinta.
Bersambung 💓
__ADS_1
Terimakasih untuk semua dukungannya kakak-kakak readers semuanya, aku selalu senyum-senyum sendiri saat baca komen-komen yang membuat ku jadi makin semangat berkarya.
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍